Latest Post

Rumah Rasulullah saw (alasantri.com) - Keberhasilan nabi Muhammad saw sebagai panutan ummat bukan sekedar dalam peranannya sebagai pemimpin agama, namun Rasulullah saw adalah pribadi yang dapat ditauladani dalam semua bidang yang pernah beliau jalani. Beliau adalah saudagar yang sukses, guru penyayang, panglima yang gagah berani, hakim yang adil, dan negarawan yang cakap.

rumah rasulullah
Replika rumah Rasulullah saw

Nabi Muhammad saw merupakan personifikasi dari al-Quran, karenanya Aisyah ra ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, beliau menjawab:

كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak Rasulullah saw adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Nabi Muhammad saw memiliki kepribadian istimewa yang membedakannya dengan orang lain. Kepribadian itu disebabkan pada diri beliau telah terhimpun semua keutamaan dan Allah swt melindungi beliau dari segala sifat nista. Allah berfirman dalam al-Qur'an:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sungguh engkau (Muhammad) berada di atas tataran akhlak yang agung.” (Al-Qalam. 68:4)

Al-Abrasyi menjelaskan karakteristik idealitas nabi, bahwa: “Dalam hal keberaniannya, beliau seperti Nabi Musa as, beliau penuh kasih sayang bagaikan Nabi Harun as, penyabar seperti Nabi Ayyub as, pelopor seperti Nabi Daud as, agung bagaikan Nabi Sulaiman as, sederhana seperti Nabi Yahya as, cinta kasih beliau seperti Nabi Isa as.”.

Kini setelah 1400 tahun berlalu, umat Islam tak lagi bisa bermuwajahah dan melihat langsung sosok paling agung yang pernah berjalan di muka bumi ini. Kita hanya mampu berimajinasi membayangkan wajah mulia beliau ketika sirah dan sejarah beliau dibacakan. Sabda-sabda beliau memang masih dapat kita baca, namun kerinduan akan tuntunan visual yang menggambarkan kehidupan mulia Nabi saw tak bisa terpenuhi.

Dalam upaya untuk mengobati kerinduan kita pada Nabi saw juga untuk memberikan gambaran kesederhanaan hidup beliau, sebuah lembaga di Arab Saudi membangun replika rumah Rasulullah saw di Madinah. Replika rumah Rasulullah ini dibuat berdasarkan petunjuk dari sejumlah hadist dan kitab-kitab, hingga menjadi sepersis mungkin dengan keadaan aslinya ketika Nabi dan ummul mu'minin A'isyah ra hidup di dalamnya.

[youtube src="ImHj6IfGaAg"/]

Seluruh dinding rumah itu terbuat dari bata mentah yang direkatkan dengan lempung, atap terbuat dari pelepah daun kurma. Dan perabot di dalamnya jauh dari kesan mewah. Lebih jelasnya, silahkan lihat video yang kami sematkan di atas. (elf)

Kegunaan utama kosmetik tentu untuk berhias. Seorang muslimah sangat dianjurkan berhias dan tampil cantik di depan suaminya. Namun apakah perlu menggunakan kosmetik saat sholat? Benarkah kosmetik berbahaya untuk keabsahan sholat? Insya Allah artikel berikut akan menjawabnya.

kosmetik berbahaya untuk sholat

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa sholat adalah tiang Agama. Tidak sempurna iman seseorang ketika ia tidak mengerjakan sholat, karena sholat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Allah berfirman dalam surah al-Ankabut ayat 45:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Lantas apa hubungannya dengan kosmetik berbahaya bagi keabsahan sholat atau tidaknya? Sebenarnya memang sangat erat kaitan kosmetik dengan sah tidaknya sholat Anda. Pertama, karena sebagian kosmetik menggunakan bahan yang dilarang dalam Islam. (Baca: Fiqih Kosmetik: Cantik dengan Cicak, Bolehkah?). Maka seorang muslimah harus selektif dalam memilih kosmetik yang ia kenakan. Karena jika menggunakan zat dan bahan-bahan yang najis, maka haram digunakan berhias dan membuat sholat tidak sah. Baginda nabi saw bersabda:

لا تُقْبل صلاةٌ بغير طهور
Tidaklah diterima sholat tanpa bersuci (HR. Muslim)

Ke-dua, jika pun kosmetik Anda berbahan dasar zat yang suci dan halal, maka terkadang kosmetik Anda dapat mencegah datangnya air ke kulit saat berwudhu.

Kulit wajah, kedua tangan hingga siku-siku termasuk kuku jari-jari Anda, rambut kepala dan kedua kaki Anda adalah bagian yang harus tersentuh air saat berwudhu.

Penggunaan kosmetik yang tebal, atau berbahan dasar minyak yang berlawanan dengan air berpotensi menghalangi air untuk menyentuh bagian-bagian itu. Ini akan menyebabkan wudhu Anda tidak sah.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan masalah ini dalam kitab al-Majmu':
إذا كان على بعْضِ أعضائِه شمعٌ أو عجينٌ أو حنَّاء أو أشباه ذلك، فمنع وصولَ الماء إلى شيْءٍ من العضو - لَم تصحَّ طهارتُه، سواءٌ كثُر ذلك أم قلَّ
Jika di atas anggota badan yang wajib dibasuh ketika wudhu terdapat resin, adonan tepung, daun inai atau benda semisalnya, sehingga dapat mencegah bertemunya air dengan anggota tersebut, maka tidak sah wudhunya. Baik benda yang menempel pada anggota wudhu itu sedikit atau banyak, hukumnya sama.

Bukan berarti muslimah dilarang berhias ketika sholat. Larangan berhias itu hanya ketika ditujukan untuk lelaki selain suami. Jika Anda merasa perlu berhias, maka pakailah kosmetik halal yang tidak mengandung bahan-bahan najis, dan berhiaslah setelah Anda berwudhu bukan sebelumnya. Allahu a'lamu bis shawab. (elf)

Musibah bajir Garut telah mengejutkan kita beberapa hari yang lalu? Sekali lagi, bangsa ini diuji oleh Allah swt, akankah kita semakin dekat dan mengingatNya, ataukah malah menjauh dariNya (na'udzubillah). Semoga Allah memberikan pahala bagi mereka yang terkena musibah dan menggantikan kehilangan mereka dengan yang lebih baik.

pon pes al qodar pasca banjir Garut

Di balik musibah banjir bandang Garut, tentu akan banyak kisah keajaiban yang menunjukkan kebesaran Allah swt. Dan diantaranya adalah kisah pon pes salaf Al-Qodar yang tetap berdiri di tengah-tengah bangunan dan infrastruktur lain yang ambruk diterjang air.

Bangunan pondok pesantren salaf Al-Qodar berlokasi kurang lebih 10 meter dari bibir sungai Cimanuk, tepatnya di Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota Teu Regrog-regrog.

Dinukil dari Poros Garut, Rabu (21/9/2016), pendiri dan pemimpin Pon Pes Al-Qodar KH. Abdul Qadar Rusman (54) mengatakan “Berkat pertolongan Allah SWT, pesantren kami tidak tersentuh bencana banjir bandang sungai Cimanuk.”

Pengasuh dan santri Al-Qodar memang patut bersyukur lantaran pesantren itu tetap berdiri tegak, padahal suasana di sekitarnya sudah porak poranda. Bahkan sebuah jembatan yang menjadi penghubung ke pesantren pun ambruk tak tahan derasnya air banjir Garut itu.

Kyai Abdul Qodar mengimbau masyarakat untuk bersikap arif dalam menghadapi musibah ini. “Allah sedang menegur kita, dan pasti ada hikmahnya.” jelas pak kyai.

Ketika ditanya apa hikmah di balik musibah banjir Garut ini, kyai Abdul Qodar menjawab “Agar kita peduli terhadap alam, terutama untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, menggalakkan reboisasi agar hutan tetap rimbun dan ijo-ijo royo.”

KH. Abdul Qodar lantas menandaskan dengan membacakan firman Allah swt, Ayat 23 surat Thaha,
لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى
“Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

Subhanallah. Sungguh Allah telah memperlihatkan pada kita sebagian tanda-tanda kuasaNya. Banjir Garut dan selamatnya Pon Pes Al-Qodiriyah merupakan salah-satu bukti kuasaNya. (Elf)

Kitab kuning adalah simbol dari tradisi intelektual pondok pesantren, bagi para kyai dan santri yang pernah belajar dipesantren terutama pesantren salaf kitab klasik ini sudah tidak asing lagi.

kitab kuning

Jenis kitab ini sudah diajarkan sejak dahulu oleh pemuka-pemuka Islam di Indonesia bahkan saat pertama kali Islam masuk Indonesia. Kitab kuning merupakan sebuah istilah untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang hanya berlatar belakang Ahlu Sunnah Waljamaah (ASWAJA) dan biasa digunakan sebagai mata pelajaran oleh beberapa pesantren salaf atau madrasah Diniyah. Dan bukan sembarang orang bisa menulis kitab ini, kitab kuning merupakan karya Para Ulama Salafus Shalih yang sangat ahli dalam mentafsiri Al-Qur'an dan Hadits tak hanya itu beliau juga jago dalam bidang gramatika Arab dan ilmu fiqh.

Kitab klasik ini disebut kitab kuning karna kertasnya berwarna kuning. Hanya kebetulan saja pada waktu itu kertasnya berwarna kuning, lantaran zaman dahulu mungkin belum ada jenis kertas seperti zaman sekarang yang beraneka ragam warna. Barang kali di masa lalu yang tersedia memang warna kuning saja. Kemudian dicetak dengan alat cetak sederhana jika dibandingkan dengan mesin cetak zaman sekarang sudah jauh berbeda, dengan lay-out dan tata letak yang monoton, kaku dan sangat tidak nyaman dibaca. Bahkan kitab-kitab itu seringkali kita temukan tanpa dijilid, melainkan hanya dilipat saja dan diberi sampul dengan kertas yang lebih tebal yang biasa kita sebut dengan kurasan.

Para pemerhati pesantren pada umumnya mendefinisikan kitab kuning dengan definisi lebih rinci, mereka mengatakan bahwa termasuk kitab-kitab kuning adalah:

  1. Ditulis oleh ulama-ulama luar dan dijadikan pedoman oleh ulama-ulama Indonesia secara turun temurun.
  2. Ditulis oleh ulama-ulama indonesia sebagai karya tulis yang tidak dikomersialkan
  3. Ditulis oleh para ulama sebagai syarah atau hasiyah dari kitab karya ulama terdahulu

Dewasa ini, kitab-kitab klasik sudah banyak ditemukan memakai kertas putih dan dicetak dengan rapi namun soal harga tentu kitab klasik dengan kertas putih relatif mahal karna lebih nyaman dibaca. Dari segi tampilan, kitab kuning zaman sekarang tidak kalah menariknya dengan penampilan buku-buku yang lain, seperti kitab kuning yang dicetak dari percetakan Dar al Fikri, Dar al Kutub dan Haramain.

Sebutan kitab kuning hanya bisa ditemukan di Indonesia di negara lain kitab kuning disebut dengan kitab qodimah dan kitab yang baru ditulis oleh ulama zaman sekarang disebut kitab ashriyah.

Di beberapa pesantren kitab kuning juga dikenal dengan sebutan “kitab gundul”. Ini karena lafadz-lafadz yang ada dalam kitab tersebut tidak memiliki harakat, bahkan tidak ada maknanya sama sekali. Tidak seperti kitab sekarang yang sudah banyak kita temukan diberi makna dan harakat sampai terjemahan dengan menggunakan bahasa jawa yang ditulis dengan Arab pegon.

Karena saking kunonya, model kitab dan gaya penulisannya kini hanya bisa ditemukan di pesantren yang masih kental dengan kesalafanya seperti pondok Ploso, Lirboyo, Sarang dan Sidogiri.

Karena kitab kuning ini tidak berharakat dan tidak memiliki makna gandul untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan tentang ilmu gramatika Arab (Nahwu dan Shorof). Dan pada akhirnya, kita akan mudah memahami sumber pokok hukum Islam, ya'ni al-Quran dan al-Hadist. (Jbl)

Pondok pesantren adalah tempat mempelajari ilmu-ilmu agama, namun tak sedikit pesantren yang menerapkan sistem kekinian yang diadopsi dari pendidikan modern. Dari dua latar belakang pendidikan yang umum ada pada pesantren itu, pondok pesantren terbagi menjadi 2, pesantren salaf dan pesantren modern.

pesantren salaf dan pesantren modern

Pesantren salaf ialah pesantren yang memakai sistem tradisional yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama sama sekali tidak mengajarkan ilmu umum. Sedangkan pesantren modern ialah pesantren yang menerapkan sistem pendidikan yang diadopsi dari sistem pendidikan modern dan materi yang diajarkan merupakan kombinasi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Biasanya pondok modern lebih menekankan pada kemampuan berbicara dengan bahasa asing sedangkan pesantren salaf lebih menekankan pada kemampuan penguasaan kitab kuno atau kitab kuning (karya ulama-ulama salaf). Contoh pesantren salaf yang masih menerapkan sistem tradisional adalah Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri, Sedangkan contoh pondok modern adalah Pondok pesantren Gontor.

Pondok Pesantren Salaf

Pondok pesantren salaf adalah format pendidikan asli dari pesantren sejak Wali Songo pertama kali mendirikanya. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف yang artinya kuno (tradisional) karna metode yang dipakai diadopsi dari ulama-ulama shalihin terdahulu (salafunas shalihin) yang juga merupakan metode yang diterapkan oleh wali songo.

System Belajar Mengajar

Pondok pesantren salaf pada umumnya memiliki 2 metode yaitu metode sorogan dan metode klasik. Sorogan adalah metode belajar mengajar dengan cara santri membaca kitab yang dikaji di depan ustadz atau kyai. Sedangkan weton adalah kyai atau ustadz membaca kitab yang dikaji dengan bahasa jawa sedang santri menyimak, mendengarkan dan memberi makna pada kitab tersebut. Metode sorogan ini merupakan metode klasik dan paling tradisional yang ada sejak pertama kali lembaga pesantren didirikan oleh Wali Songo dan masih tetap eksis dan ada sampai detik ini.

Selain dua metode di atas, pesantren salaf juga menerapkan sistem madrasah diniyah. Metode pembelajaran dalam madrasah diniyah hampir sama dengan sistem belajar yang diterapkan oleh sekolah modern. Hanya saja ilmu yang diajarkan mayoritas adalah tentang agama.

Daftar pondok pesantren yang masih menggunakan metode salaf

Beberapa di antara pondok yang menggunakan sistem salaf ini adalah:
  1. Pondok pesantren Lirboyo Kediri, Jatim
  2. Pondok pesantren Al-Falah Ploso, Kediri
  3. Pondok pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jateng.
  4. Pondok pesantren MIS, Sarang, Rembang.
  5. Pondok pesantren MUS, Sarang, Rembang.
  6. Pondok pesantren Langitan, Tuban
  7. Pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan
  8. Pondok pesantren Cidahu, Pandeglang, Banten
  9. Pondok pesantren Putri Salafiyah, Bangil, Jatim

Anda bisa membantu kami dengan menambahkan di kotak komentar apabila ada pon pes salaf murni yang belum masuk daftar di atas.

Pondok Pesantren Modern

Pondok modern adalah cabang dari pondok salaf. Metode ini pertama kali dipopulerkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo yang kemudian oleh pesantren lain diduplikasi dengan memakai label modern. Pondok Modern disebut juga dengan Pondok kholaf (modern) sebagai cabang dari pondok salaf.


System Belajar Mengajar

Pondok modern pada umumnya juga memakai sistem klasik (salaf). Namun, ilmu agama dan umum sama-sama dipelajari. Selain itu, pesantren modern lebih menekankan santrinya pada penguasaan dialog (muhadasah) berbahasa asing (Arab dan Inggris). Adapun penguasaan kitab kuning kurang ditekankan.

Sebagian dari pesantren modern ada yang memakai kurikulum sendiri seperti pesantren Gontor. Sedangkan sebagian yang lain memakai kurikulum pemerintah.

Daftar pondok pesantren modern

Pondok pesantren yang mengadopsi sistem kholaf (modern) antara lain:
  1. Pondok pesantren. Gontor, Ponorogo
  2. Pondok pesantren. Queen Ploso, Kediri
  3. Pondok pesantren. Ar-Risalah, Lirboyo, Kediri
  4. Pondok pesantren. Tebu-ireng, Jombang
  5. Pondok pesantren. An Najiyah, Sidosermo, Surabaya

Anda bisa membantu kami menambahkan nama pondok modern lain dengan cara menulis dikolom komentar. (Jbl)

Kisah tentang Mbah Dalhar ini saya dapatkan dari Kyai Zaimudin Badrussoleh, Purwoasri, Kediri. Mbah kyai Dalhar Watucongol Magelang, ketika itu menjadi salah satu "jujugan ngaji santri doeloe," sebab termasuk salah satu Kyai ahli hikmah dari jawa tengah yang sangat dihormati dan disegani.

mbah kyai dalhar
Mbah Kyai Dalhar Watucongol

Menurut penuturan Kyai Zaimuddin, Mbah Dalhar yg merupakan Abahnya Mbah Mad Watucongol ini termasuk kyai yang galak dan tegas. Banyak santri yg takut menatap wajah mulia beliau, karena kuatir disorot oleh "Ketajaman mata hati" beliau. Namun sikap galak dan tegas itu tidak menyurutkan semangat para santri untuk "tabarrukan" pada Mbah Kyai Dalhar. Bahkan dalam tradisi pesantren ada istilah semakin sering dimarahi dan ditegur oleh Kyai, sama halnya diiringi doa oleh Kyai.

Konon disamping beliau jago ngaji kitab juga pakar ilmu hikmah, riyadloh, thoriqoh. Ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah Mbah Kyai Dalhar peroleh dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Tak mengherankan jika banyak kalangan pesantren baik kyai maupun santri yang mengambil sanad ijazah dalail, hizb, wirid, bahkan sanad thariqah Syadzali dari Mbah Dalhar Nahrowi ini.

Tercatat beberapa santri yang menimba ilmu di Gunungpring ini diantaranya Kiai Ma'shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek (Ploso).

Keteladanan yang bisa diambil dari sosok mbah Dalhar adalah beliau termasuk darah biru kraton yogyakarta tapi tak pernah "kemaruk/sombong" dengan kebangsawanannya. Kiai Dalhar lahir di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang. Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H / 12 Januari 1870. Nama kecilnya adalah Nahrowi, nama pemberian orang tuanya. Nasab Mbah Kiai Dalhar tersambung pada trah Raja Mataram, Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Beliau termasuk kyai yang istiqomah mulang ngaji seperti leluhurnya di Mlangi (Mbah Nur Iman). Termasuk tidak suka menonjolkan darah ningratnya juga nitis dari Mbah Nur Iman. Sehingga tidak mengherankan jika prinsip laku ngaji ini dilestarikan oleh putra dan santri-santri beliau. Hidupnya diabdikan untuk melayani ummat dan membantu para pejuang kemerdekaan.

Ketika era perjuangan melawan kompeni, selain Kyai Subchi parakan, peran Kiai Dalhar juga sangat vital. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma', doa dan ijazah kekebalan, serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa.

Ketika beliau wafat para peziarah berebut menandu keranda hingga naik ke atas gunung pring. Mbah Kiai Dalhar wafat tanggal 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959. Beliau dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol Magelang, berdekatan dengan Mbah Gus Jogorekso.


penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.