Ketika Para Sufi Terjerat Cinta, Mengaruh Bahtera Meredam Asmara

Cinta adalah penyakit murahan, namun obatnya sangatlah mahal. Sajak dari al-Buhturi, pujangga legendaris Dinasti Abbasiyah itu, dikutip oleh Ibnul Jauzi saat menguraikan kiat-kiat untuk menyembuhkan penyakit asmara. Cukup panjang lebar Ibnul Jauzi menulis tema tersebut dalam kitabnya Dzammul-Hawa. Namun, inti dari uraian beliau bermuara pada satu hal, yaitu: putuskanlah mata rantai sebab yang menumbuhkan benih-benih cinta itu.

Bahtera cinta

Sebagaimana lumrahnya penyakit-penyakit yang lain, asmara yang sudah sampai ke tingkat akut juga sangat sulit disembuhkan. Biasanya, asmara yang seperti ini berakhir dengan kegilaan atau bahkan berujung pada kematian. Misalnya, yang terjadi dalam kisah Qais al-Majnun dan Laila dari Bani Amir.

Cinta yang masih baru tumbuh atau masih berwujud benih-benih, cenderung lebih mudah dihentikan. Jika dipelihara, maka akan semakin mengakar dan semakin sulit dihilangkan. Ada hal-hal yang menyebabkan cinta makin menguat, sebagaimana ada pula hal-hal yang menyebabkan cinta makin melemah. Maka, hindarilah yang pertama dan lakukanlah yang kedua.

Pada umumnya, mula-mula cinta tumbuh dari pandangan mata. Tandanya adaLah munculnya perasaan berbungah-bungah ketika mata melihat obyek yang dianggap indah. Menurut ajaran syariat, pandangan pertama yang tidak disengaja memang tidak termasuk dosa, namun bila pandangan tersebut dilanjutkan, maka dicatat sebagai dosa dan keburukan. Sebab, pandangan pertama yang Langsung dihentikan memang jarang sekali menimbulkan ketertarikan. Lain halnya jika pandangan tersebut dilanjutkan. Kalaupun ada perasaan tertarik saat pandangan pertama, maka hal itu sangatlah mudah dihentikan. Perasaan tersebut akan hilang secara otomatis dengan cara tidak mengulanginya dengan pandangan kedua, ketiga dan seterusnya.

Namun, jika pandangan mata tersebut dibiarkan berlarut-Larut, maka ketertarikan asmara akan terus berlanjut. Semakin sering diulangi, maka akan semakin mengakar di dalam hati. Pada tingkat ini, cinta Lebih sulit dihentikan. Diperlukan sedikit pemaksaan untuk ghadhdhul-bashar atau menjauhkan pandangan mata darinya, seraya terus menghadirkan perasaan dan pikiran mengenai akibat buruk yang akan ditanggung di kemudian hari.

Jika asmara itu telah menjadi bagian inti dari isi hati dan pikiran, sehingga bayangan orang yang dicintai terpahat dengan sangat kuat, selalu hadir dalam setiap waktu dan sangat sulit dihilangkan dari benak, maka cara penyembuhannya adalah dengan tauthinun-nafsi alal-ya'si minhu (membuat hatimu putus asa untuk bertemu atau mendapatkan sesuatu darinya). Caranya dengan menjauh sejauh-jauhnya. Sebab, dengan menjauh, maka akan muncul perasaan sulit untuk memiliki, bertemu dan semacamnya.

Perlu diketahui bahwa unsur dasar dari cinta adalah perasaan ingin memiliki. Sangat jarang, ada orang yang ingin memiliki sesuatu yang tidak mungkin atau sangat sulit dia peroleh. Oleh karena itu, sangat jarang ada orang yang jatuh cinta kepada putri raja, karena mereka punya pikiran tidak mungkin memilikinya. IniLah yang dimaksud oleh Ali bin Sahi al-Ashbihani, salah satu pemuka sufi di Isfahan, dalam ucapannya:
التمست الراحة فوجدتها في اليأس
Aku mencari ketenangan, ternyata aku temukan dalam keputus-asaan.

Pertemuan ibarat tetesan air yang terus menyuburkan pohon asmara. Maka, menjauh merupakan solusi paling tepat untuk membuat pohon itu menjadi kering, sedikit demi sedikit, lalu mati. Sebagai sebuah perasaan, cinta tak ubahnya kesedihan, kemarahan, dan lain sebagainya. Perjalanan waktu akan membuat perasaan-perasaan tersebut menjadi semakin mengecil, hari demi hari, asalkan tidak ada hal-hal yang menyulutnya untuk berkobar kembali.

Ada sebagian orang beranggapan bahwa pertemuan dengan orang yang dicintai merupakan obat penyembuh kepedihan asmara. Nalar yang mereka gunakan adalah kenyataan bahwa perpisahan justru membuat rindu semakin membara; berarti bertemu merupakan cara untuk memadamkan rindu.

Sepintas, pandangan ini sepertinya benar, namun hakikatnya sangatlah salah. Memang benar, bertemu dengan orang yang dicintai dapat menenangkan gejolak rindu, tapi itu hanya untuk sementara. Pertemuan ibarat candu. Fungsinya bukanlah untuk menyembuhkan luka, tapi hanya membuat luka itu tidak terasa. Setelah 'candu' itu habis, maka sakitnya akan terasa kembali, malah ditambah dengan sakitnya ketagihan terhadap 'candu' tersebut. Dan, begitulah seterusnya. Ibarat orang haus, lalu dia meminum tuak. Hausnya hilang untuk sementara. Namun, setelah itu dia akan semakin haus, ditambah dengan dahaga kecanduan terhadapnya.

Pernikahan merupakan ikatan yang paling jitu untuk semakin mempererat cinta dan mengabadikannya

Imam al-GhazaLi menyatakan dalam Ihya' Ulumiddin: "Sifat kikir hanya bisa hilang dengan cara memaksakan diri untuk bersedekah. Hal itu sebagaimana asmara, tidak akan bisa hilang kecuali dengan cara menjauhi orang yang dicintai dan pergi dari tempat tinggalnya. Ketika sudah memaksakan diri untuk pergi menjauh serta sabar menahan diri dalam jangka waktu tertentu, maka lambat laun hatinya akan merasa tenang (dan tidak sedih berpisah) dari dia."

Jika cara menjauh masih belum bisa memadamkan gejolak asmaranya, maka satu-satunya cara adalah menikahi dia jika memungkinkan. Bahkan, menikah bisa dijadikan sebagai pilihan pertama, jika segala sesuatunya sudah kondusif. Nikah adalah obat yang paling manjur untuk memadamkan asmara. OLeh karena itu, Rasulullah swa bersabda: "Bagi dua orang yang saling mencintai, tidak ada sesuatu yang melebihi pernikahan." (HR Ibnu Majah)

Ada dua pendapat mengenai maksud dari Hadis ini. Al-Munawi dalam at-Taisir menyatakan bahwa maksud sabda tersebut adalah "Tidak ada obat bagi asmara yang lebih baik daripada pernikahan". Sedangkan, Mulla Ali al-Qari dalam Misykat dan as-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Ibni Majah berpendapat bahwa maksud dari Hadis tersebut adalah "Pernikahan merupakan ikatan yang paling jitu untuk semakin mempererat cinta dan mengabadikannya."

Jika menikah masih sangat sulit diwujudkan, maka saran dari Ibnu al-Jauzi adalah memohon kepada Allah agar memudahkan jalannya menuju pelaminan, seraya bersungguh-sungguh menahan diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Jika bersungguh-sungguh insya Allah akan ada jalan keluar. Boleh jadi, Allah akan memberikan jalan yang tidak disangka-sangka, jalan yang tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran. Dalam Dzammul-Hawa, Ibnul Jauzi menyuguhkan banyak bukti sejarah. Ia menuliskan berlembar-lembar kisah tentang keajaiban doa dari orang-orang yang bersabar menahan asmara. Wa man sya'a fal-yuraji'hu.

Ahmad Dairobi/BS
Buletin Sidogiri Edisi 99, Rabiul Awal 1436 H.

Mengadili FPI Dengan Adil

FPI, atau Front Pembela Islam, gerakan dan tindakannya selalu menuai kontroversi. Yang teranyar, FPI bersitegang dengan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahya Purnama atau yang lebih akrab dipanggil Ahok. Bahkan boleh jadi FPI vs Ahok ini adalah duel terpanas, sebab Ahok adalah Gubernur DKI pertama yang secara resmi mengajukan pembubaran FPI ke pemerintah.

mengadili FPI

Maka menyikapi FPI, masyarakat dan umat Islam pun terbelah; antara pro dan kontra. Lho, kok bisa? Bukankah FPI adalah ormas pengawal syariat Islam? Lantas, bagaimana mestinya kita mendudukkan FPI secara adil?

Mengurai Problem FPI

AD/ART FPI telah sesuai dengan aturan amar makruf nahi mungkar dalam Islam, dan tak bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia dan aturan apapun yang berlaku di negeri ini.

Mengapa FPI Bermasalah?

Di sini kita tidak akan masuk pada diskursus perihal amar makruf nahi mungkar yang selama ini menjadi ciri khas Front Pembela Islam (FPI). Karena bagaimanapun, FPI sendiri dibidani oleh para ulama dan habaib yang tentunya sudah memiliki pengetahuan mumpuni soal itu, dan tentu mereka telah merumuskan aturan-aturan itu ke dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) mereka.

Dalam hal ini, kerap kali Habib Rizieq Shihab menjelaskan pada khalayak bahwa AD/ART mereka telah sesuai dengan aturan amar makruf nahi mungkar dalam Islam, dan tak bertentangan dengan Undang-Undang RepubLik Indonesia dan aturan apapun yang berlaku di negeri ini, dan itulah sebabnya kenapa FPI terdaftar secara resmi di Kementerian Dalam Negeri RI sejak lama tanpa ada masalah apapun.

Jika demikian halnya, lalu di mana letak masalah FPI itu sendiri? Tentu, jawaban dari pertanyaan ini bisa kita dapatkan dari sisi-sisi yang berbeda-beda, sebagai berikut. Pertama, bahwa FPI sebagai organisasi masyarakat tentu berbasis massa. Dalam setiap kegiatannya, FPI mengandalkan gerakan massa dalam jumlah besar. Maka ketika terjadi sedikit insiden dan tindakan berbau anarkis, tak berarti FPI tak punya aturan atau memang sengaja anarkis. Namun layaknya watak gerakan massa, memang lumrah terjadi provokasi dari sebagian oknum, yang kemudian menyuLut emosi lebih banyak orang di dalamnya.

Tindakan anarkis pada sebagian suporter sepak bola, adalah gambaran pembanding yang mungkin bisa saja membuat kita punya penilaian berbeda, bahwa apa yang terjadi dengan gerakan FPI adalah hal yang sesungguhnya wajar saja. Aksi suporter anarkis yang kemudian menyulut kerusuhan, tak berarti klub dan PSSI tak punya aturan-aturan soal tata tertib suporter, namun sekali lagi masalahnya kembali pada gerakan massa yang memang mudah terbakar jika ada oknum yang menyulut api di dalamnya. Insiden semacam ini juga lumrah terjadi pada gerakan kampanye partai politik dan lain sebagainya.

Kedua, faktor media massa. Kita tahu bahwa umumnya media yang berkembang di Indonesia adalah media sekular-liberal, yang menginginkan kebebasan tanpa sekat, sehingga ormas seperti FPI jelas dianggap sebagai musuh yang menghalangi kebebasan itu. Maka, betapapun, misalnya, objek yang disasar FPI adalah objek yang melanggar undang-undang di Indonesia, namun media massa ramai-ramai mengesankan seakan pihak yang bersalah adalah FPI.

Hal semacam ini bisa terjadi hampir dalam setiap kasus. Misalnya, FPI berdemontrasi supaya pemerintah segera menutup lokalisasi ilegal yang jelas melanggar undang-undang, menjual miras di tempat-tempat yang tak memiliki izin yang juga jelas melanggar undang-undang. Tentu, dalam hal ini pihak yang mesti didukung adalah FPI, karena mereka membantu pemerintah dalam hal terealisasinya amanat undang-undang.

Namun, begitu FPI mendapatkan perlawanan dari para preman pro-lokalisasi dan pro-miras, kemudian secara spontan dan wajar FPI balik menyerang guna melindungi diri, lalu pers meliput dan memberitakan jika FPI berbuat anarkis. Pers tak mau tahu seperti apa proses rumit yang dilakukan FPI sebelum demontrasi. Pers juga tak tahu menahu siapa yang berbuat ulah sebelumnya. Pers terlanjur gandrung mengidentikkan FPI dengan ormas anarkis. Ketika klaim pers semacam ini berlangsung sekian lama dan masuk ke bawah sadar masyarakat sejak lama, akhirnya muncul kesan bahwa FPI memang ormas bermasalah dan layak dibredel.

Ketiga, sebagai ormas yang konsisten melakukan amar makruf nahi mungkar, tentu ada pihak-pihak elit yang resah dengan kehadiran ormas semacam ini. Bahkan, FPI tentu tak luput dari pantauan khusus Amerika. Kita tahu, ketika terjadi bentrok antara FPI dan ormas liberal beberapa tahun silam, Kedubes AS di Jakarta ikut berkomentar, padahal kasus ini tak ada kaitannya dengan urusan Luar negeri (AS). Ini sepenuhnya insiden dalam negeri biasa, semacam tawuran antar-suporter sepak bola, lalu kenapa Kedubes AS dan presiden perlu ikut bicara?

Para kiai pengasuh pesantren itu laksana para petani yang tengah bercocok tanam, sedangkan FPI bertugas sebagai pembasmi hamanya. Jadi di sini harus ada pembagian tugas. Tak boleh bercocok-tanam semua, juga tak boleh menjadi pembasmi hama semua.

Dengan melihat hal ini, maka tak terlalu mengejutkan jika kemudian sementara pengamat ada yang mengatakan, bahwa FPI sudah disusupi orang-orang luar untuk menghancurkan FPI itu sendiri. Itu artinya, kepentingan elit sudah ikut bermain di dalam.

Maka bukannya tidak mungkin jika oknum yang sering berbuat ulah di dalam FPI itu adalah orang-orang yang diselundupkan oleh aktor-aktor tertentu ke dalam tubuh FPI, untuk menghancurkan FPI itu sendiri. Ia bertugas meyakinkan pemerintah bahwa FPI adalah organisasi anarkis yang layak dibredel secepatnya.

Siapa Butuh FPI?

Siapapun yang membaca tulisan di atas, tentu akan terlintas dalam benaknya bahwa uraian di atas sangat apologis. Maka baiklah di sini saya akan mengemukakan tanya: Apakah kita butuh pada FPI? Jawabannya adalah, jika kita percaya bahwa unsur dakwah itu tidak saja amar makruf tapi juga nahi mungkar, maka secara jujur harus kita katakan bahwa kita butuh pada ormas semacam FPI. Tentu, adalah benar jika dakwah dengan power adalah tugas pemerintah, tapi jika pemerintahnya sekular, apakah kita harus diam saja? Sebaliknya, apakah selama ini FPI melakukan nahi mungkar dengan power? Jika ya, maka power apa? Bukankah yang selama ini dilakukan hanya menyampaikan aspirasi secara massal dan sesuai undang-undang (hanya saja FPI, dalam nahi mungkarnya, berhadapan dengan problem sebagaimana uraian di atas)?

Dalam kasus Ahok, misalnya, bagaimanapun ajaran Islam yang muktabar tak memungkinkan seorang non-Muslim sebagai pemimpin bagi umat Islam. Tapi ketika umat Islam diam seribu bahasa akan hal itu, siapa yang berani dengan lantang menolak Ahok? Seperti yang kita tahu, mereka adalah FPI. Jika ormas semacam FPI tidak angkat suara, maka bagaimana umat awam tahu bahwa memilih pemimpin non-Muslim itu tak diperbolehkan? Jika FPI tak angkat bicara, maka boleh jadi setelah Jakarta, kelak daerah-daerah lain di Indonesia akan dipimpin oleh non-Muslim.

Jika demikian, apakah kita mesti mengikuti gerakan dakwah semacam FPI? Jawabannya tentu tidak. Dalam hal ini, Habib Rizieq Shihab pernah berkata, bahwa para kiai pengasuh pesantren itu laksana para petani yang tengah bercocok tanam, sedangkan FPI bertugas sebagai pembasmi hamanya. Jadi di sini harus ada pembagian tugas. Tak boleh bercocok-tanam semua, juga tak boleh menjadi pembasmi hama semua.

Namun bagaimanapun, setidaknya bagi penulis, pilihannya bukan apakah kita setuju dengan FPI atau tidak? Pertanyaan yang tepat adalah: apakah kita akan pro pada ormas pembela Islam, ataukah pro para ormas sekular-liberal anti-IsLam yang pro Barat?

Moh. Achyat Ahmad
Buletin Sidogiri Edisi 99, Rabiul Awal 1436 H.

Hikmah 2: Salik Tidak Patut Memilih Maqamnya Sendiri

hikmah hikam ke 2

Iradatuka al-tajrid ma'a iqamatillahi iyyaka fi al-asbab minas syahwah al-khafiyyah.
Wa iradatuka al-asbab ma'a iqamatillahi iyyaka fi al-tajrid inhithat an al-himmah al-aliyyah.

Kehendakmu untuk berada dalam maqam tajrid ketika Allah menempatkanmu dalam maqam asbab adalah termasuk syahwat yang tersamar.
Dan kehendakmu kepada asbab ketika Allah menempatkanmu pada maqam tajrid adalah terperosok jatuh dari cita-cita luhur.


Syarah / Penjelasan

Asbab adalah melakukan kasab untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan duniawi. Sedangkan tajrid adalah meninggalkan kasab dan usaha memperoleh kebutuhan dan keinginan duniawi.

Barang siapa ditempatkan oleh Allah dalam maqam asbab (tempat di mana ia harus bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan duniawi), kemudian ia ingin keluar dari maqam tersebut, maka keinginan itu adalah syahwat yang tersamarkan.

Disebut "syahwat" karena ia tidak merasa tentram dan tidak menerima tempat/maqam yang telah dipilih Allah untuknya. Dan dikatakan "tersamar" karena sebenarnya ia bermaksud taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah, namun yang terjadi malahan ia melancangi kehendak Allah dan kurang tata krama dalam menginginkan tempat yang tidak patut bagi derajatnya.

Tanda bahwa Allah telah menempatkan seseorang dalam maqam asbab ialah dia berdiam lama (mudawamah) di tempat itu dan telah menghasilkan buah dari maqam asbab tersebut. Dengan sekira dalam kesibukan-kesibukan kasab ia menemukan keselamatan agamanya, ia terselamatkan dari rasa menginginkan harta benda orang lain, menjadi ringan baginya untuk menolong fakir miskin, dan faedah-faedah harta lainnya yang berhubungan dengan kemaslahatan agama.

Dan barang siapa berada dalam maqam tajrid -tempat di mana ia mencurahkan waktu-waktunya untuk mengingat Allah dan beribadah pada-Nya tanpa terganggu dengan kesibukan kasab dan mencari nafkah-, kemudian ia berkeinginan meninggalkan maqam tersebut untuk menempati maqam asbab, maka ia telah jatuh terperosok dari cita-cita luhur (himmah aliyah) dan juga berbuat lancang kepada Allah.

Ibnu Ata'illah As Sakandari menyebut orang ini jatuh terperosok dari himmah aliyah karena sesungguhnya tajrid itu adalah derajat yang tinggi. Allah SWT hanya menempatkan orang-orang khawas (spesial) dari hamba-hambaNya yang telah ma'rifat dan bertauhid saja di tempat ini. Maka keluar dari tajrid merupakan kejatuhan dari sebuah martabat tinggi yang hanya mampu dicapai orang-orang tertentu menuju tempat umum yang bisa dicapai siapapun.

Di antara tanda-tanda bahwa Allah telah menempatkan seorang hamba di maqam tajrid adalah: hatinya tetap merasa tenang di saat dalam keadaan kekurangan, dan Allah memudahkan baginya pintu rezeki dari jalan yang tak disangka.

Dalil al-Qur'an

Kewajiban seorang salik adalah berdiam diri di tempat di mana Allah SWT menempatkannya di sana, dan seyogyanya ia tidak keluar dari maqam itu dengan menuruti nafsunya belaka sehingga ia terjatuh dalam keputus asaan. Na'udzu billah.

Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS Al-Israa': 80)

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Mengenal Tokoh Sunni Indonesia: K.H. Sirajuddin Abbas

K.H. Sirajuddin bin Abbas bin Abdil Wahab, lahir di Bengkawas, kabupaten Agam, kota Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Mei 1905 – meninggal 5 Agustus 1980 pada usia 75 tahun, adalah seorang ulama, politisi dan menteri Republik Indonesia.

K.H. Sirajuddin Abbas

Sirajuddin Abbas dikenal sebagai seorang ulama madzhab Syafi'i dan tokoh penting Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Beliau juga sempat menerima amanah sebagai Menteri Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I dengan masa bakti mulai tanggal 30 Juli 1953 hingga 12 Agustus 1955.

Sebagai seorang alim ulama, beliau dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan aqidah mazhab Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni) dan mazhab Syafi'i dalam bidang furu' (ilmu fikih).

Sejak usia 5 tahun di tahun 1910-1913, Sirajuddin Abbas memulai pendidikan agamanya dari orangtuanya sendiri. Beliau belajar membaca Al-Qur'an kepada ibunya, yang kemudian dilanjutkan belajar kitab berbahasa arab kepada ayah beliau, Syeikh Haji Abbas di Ladang Lawas. Di antara tahun tersebut, dituturkan bahwa beliau juga belajar di pesantren-pesantren Syeikh Haji Husein Pakan Senayan, dan Tuanku Imran Limbukan Pajakumbuh, Sumatera Barat.

Pada usia 15 tahun (1920 M hingga 1923), beliau mendalami ilmu agama di pesantren Syeikh Haji Abdul malik, Gobah Ladang Lawas, Bukit Tinggi.

Rasa dahaga pada pengetahuan agama yang lebih mendalam menuntun beliau pergi merantau di kota suci Makkah. Selama enam tahun (1927 - 1933) beliau mendalami ilmu agama di Makkah. Dalam kesempatan itu beliau juga memanfaatkan sela-sela waktu belajar untuk menunaikan ibadah haji di tiap tahunnya hingga 7 kali berturut-turut. Kemudian Pada tahun 1930 beliau diangkat menjadi staf sekretariat pada konsulat Belanda di Mekkah.

Di antara guru-guru beliau selama belajar di Makkah adalah:

  1. Syeikh Sa'id Yamani, Mufti Mazhab Syafi'i. Kitab yang dipelajari adalah Kitab al-Mahalli.
  2. Syeikh Husein al Hanafi, Mufti Mazhab Hanafi. Darinya beliau mempelajari kitab Shahih Bukhari.
  3. Syeikh Ali al Maliki, Mufti Mazhab Maliki. Kitab yang dikaji adalah Kitab Al Furuq, merupakan kitab di bidang Ushul Fiqih.
  4. Syeikh Umar Hamdan, seorang ulama Mazhab Maliki. Kitab yang dipelajari adalah Al Muwatta, karya Imam Malik.
  5. Beliau juga belajar Bahasa Inggris dari guru asal Tapanuli bernama Ali Basya.
Sepulang dari Makkah pada tahun 1933, Sirajuddin Abbas menimba pelbagai ilmu kepada Guru Besar Maulana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukit Tinggi. Kemudian beliau pulang ke kampung halamannya di Minangkabau untuk meneruskan perjuangan ayahnya, mengajar di pesantren-pesantren yang ada di Minangkabau.

Tiga tahun setelah kepulangannya dari Mekkah K.H. Sirajuddin Abbas mulai dikenal sebagai muballigh muda yang potensial sehingga memikat hati para ulama Tarbiyah Indonesia, sebuah organisasi keagamaan yang ada di Bukittinggi. Tak berselang lama, beliau pun terpilih sebagai ketua umum Tarbiyah Indonesia dalam kongres ketiga organisasi tersebut di Bukittinggi pada tahun 1936.

Karya tulis K.H. Sirajuddin Abbas

K.H. Sirajuddin Abbas sangat aktif menulis, banyak judul buku yang telah beliau hasilkan. Sebagian karya beliau ditulis dalam bahasa Arab dan sebagian dalam bahasa Indonesia.

Karya-karya beliau yang berbahasa Arab adalah:
  1. Sirajul Munir, (Fiqih 2 jilid).
  2. Bidayatul Balaghah, (Bayan).
  3. Khulasah Tarikh Islami, (Sejarah Islam).
  4. Ilmul Insya'.
  5. Sirajul Bayan fi Fihrasati Ayatil Qur'an.
  6. Ilmun Nafs.
Karya-karya tersebut beliau tulis dari tahun 1933-1937, kitab No.2 dan No.3 sudah dicetak berulang-ulang.

Dalam bahasa Indonesia antara lain
  1. I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah.
  2. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i.
  3. 40 masalah agama-Jilid I.
  4. 40 masalah agama-Jilid II.
  5. 40 masalah agama-Jilid III.
  6. 40 masalah agama-Jilid IV.
  7. Kumpulan soal jawab keagamaan.
  8. Kitab fiqih ringkas.
  9. Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.
  10. Thabaqatus Syafi'iyah.
Setelah cukup banyak mewariskan ilmu sepanjang masa hidupnya dalam buku-bukunya, K.H. Sirajuddin Abbas menutup usianya yang telah mencapai 75 tahun. Beliau wafat pada 5 Agustus 1980 setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo akibat serangan jantung yang ia derita. Saat pemakaman tampak perhatian warga yang begitu besar. Jasad beliau dimakamkan di pemakman Tanah Kusir Jakarta Selatan, yang dihadiri wakil presiden Republik Indonesia Adam Malik. Semoga Allah merahmati beliau dan memberikan manfaat ilmu beliau untuk kita semua. Amin.

Sumber. id.wikipedia.org

Fatwa Sesat Kyai Yang Salah Sasaran

Seorang kyai muda asal Surabaya berencana untuk menyempurnakan rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji. Tidak seperti sekarang yang harus antri belasan tahun lamanya, di tahun 2006 itu kaum muslimin Indonesia masih relatif mudah jika berniat untuk melaksanakan haji. Kontan beberapa sahabat dan jamaah kyai itu berniat menyertai beliau untuk bersama-sama pergi ke tanah suci. "Mumpung kyai sendiri yang berangkat, kapan lagi kita dapat bimbingan ibadah gratis?" Begitulah kira-kira yang mereka fikirkan.

fatwa sesat kyai

Setibanya di kota suci Makkah, sang kyai tinggal bersama 3 sahabat karibnya. Salah seorang sahabat kyai ini (sebut saja namanya Adong) begitu memanfaatkan waktu-waktunya bersama sang kyai. Apapun yang berkaitan dengan rukun, syarat, atau segala hal seputar haji selalu ia tanyakan terlebih dahulu kepada kyainya.

Suatu ketika, disaat bapak kyai sedang asik muthala'ah mempelajari fatwa dan pendapat ulama' seputar ritual dan kesempurnaan haji, Adong nyeletuk bertanya "Yai, menurut sampean lebih afdhol mana antara jubah putih atau coklat?". Tanpa memalingkan pandangannya dari kitab Al-Idhah fi Manasik al-Haj wa al-Umrah, beliau menjawab "putih". "Mengapa putih kyai?" lanjut Adong. Masih asyik dengan bacaannya, kyai menjawab "sebab, putih adalah warna utama menurut nabi SAW. Lihat saja disini, dari imam masjid sampai raja Fahd sendiri, jubah yang mereka pakai berwarna putih."

Malam itu sehabis jamaah sholat Isya' di Masjid al-Haram, pak kyai datang dengan menenteng bungkusan. Sahabat-sahabat beliau yang penasaran segera mengerumuni beliau. "pak yai habis belanja?" tanya seorang teman. "Iya" jawab beliau. "Coba lihat pak kyai.." Adong dengan sopan mengulurkan tangan, ingin tahu apa isi bungkusan tersebut.

Begitu berhasil membongkar belanjaan sang kyai, muka Adong tampak sangat kecewa. "Loh, pak yai beli jubah coklat? Padahal tadi saya pingin sekali jubah warna coklat, tapi sampean suruh saya beli yang warna putih. Ini fatwa menyesatkan namanya!". Pak kyai sedikit kebingungan, tapi cepat beliau menjawab "Kalo saya, jubah warna putih kan sudah banyak pak. Jadi boleh lah beli yang coklat".

Melihat itu, jamaah lain tersenyum cekikikan. "Pak Adong, makanya kalau minta fatwa yang jelas dong! Biar jawaban kyai bisa tepat sasaran." Hahaha. (Elfa)

Pedahuluan Terjemah Hikam Ibnu Athaillah As Sakandari

Bismillahirahmanirrahim,

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ala rasulillah, wa ala alihi wa shahbihi wa man walah. Wa ba'du.

Setelah saya mengikuti sawir Hikam yang rutin diadakan ORISSA (Oganisasi Remaja Islam Sidosermo SurabayA) dua minggu sekali, ada terbesit keinginan untuk menulis apa yang saya dapatkan dari kegiatan sawir tersebut. Mulanya, saya ingin asatidz dan kiai yang saya anggap lebih ahli untuk menuliskan terjemah Hikam sebagai hasil dari kegiatan sawir itu. Namun rasa sungkan kepada mereka dan takut mengganggu waktu beliau-beliau yang sudah cukup padat itulah yang membuat saya memberanikan diri menuliskan terjemah Hikam di blog komunitas santri ini. Toh jika ada dirasa salah dan kurang tepatnya, mereka dengan ringan hati akan memberikan koreksi.

Harapan saya, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, santriyin santriyat, kaum muslimin, serta pembaca yang mencari pencerahan yang terkandung dalam untaian kata-kata bijak ulama' sufi. Semoga pula usaha menerjemahkan kitab Hikam ini menjadi amal kebajikan yang berbalas berlipat-lipat kebaikan di akhirat kelak. Amin.

Sekilas tentang penulis Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

Nama lengkap beliau adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athaillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili (1260 M - 1309 M / 658 H - 709 H). Mulanya, karena kefanatikan Ibnu Athaillah pada ilmu fiqih, beliau mengingkari kebenaran tasawuf dan memusuhi ulama-ulama sufi. Hingga pada suatu kesempatan, Ibnu Athaillah bertemu dengan sayyidi Abul Abbas al-Mursi. Pertemuan itu sangat berkesan bagi Ibnu Athaillah hingga beliau menyadari kebenaran ilmu tasawuf dan menjadi murid kesayangan al-Mursi.

Sepeninggal gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi tahun 686 H, Ibnu Athaillah menggantikannya sebagai mursyid tariqah Syadziliah. Tugas ini beliau emban tanpa meninggalkan tugas mengajar di kota Iskandariah. Setelah pindah ke Kairo, beliau bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Dan termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah.

Masjid Ibnu Ataillah As Sakandari

Murid dan kitab karangan Ibnu Athaillah

Beliau mempunyai banyak murid yang kemudian menjadi ahli fiqih dan tasawwuf, di antaranya adalah Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah syaikh Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro.

Sebagai seorang ulama, Ibn Athaillah meninggalkan banyak karangan kitab. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Sayangnya, beberapa kitab karangan beliau hilang jejaknya. Namun di antara kitab karya beliau, kitab Hikam yang paling masyhur dan banyak dikenal.

Hikam Ibnu Athaillah

Sesuai namanya yang berarti beberapa hikmah, kitab Hikam berisi kumpulan kata mutiara (hikmah) yang keseluruhannya berjumlah 264 hikmah (selain tulisan Ibnu Athaillah yang ditujukan untuk sahabat-sahabat beliau, dan do'a serta munajat beliau yang juga mengandung banyak sekali hikmah).

Untaian kata hikmah dalam kitab ini begitu indahnya, sehingga Ibnu Ajibah dalam kitab Iyqadh al-Himam menceritakan bahwa seorang faqih yang dikenal dengan nama Al Banani berkata: "Hikam Ibnu Athaillah laksana wahyu. Andai sholat diperkenankan menggunakan selain al Qur'an, tentu akan dibacakan kata-kata Hikam."

Terjemah Hikam dalam blog AlaSantri.com

Dalam terjemahan kitab Hikam ini, saya banyak merujuk keterangan dari syarah Hikam karya Ibnu Abbad ar Rundi dan Abdullah bin Hijazi al Syarqawi sebagai rujukan utama. Opini dan pendapat pribadi saya tekan seminimal mungkin, sehingga maksud dari pesan-pesan Ibnu Athaillah tetap terjaga keasliannya.

Saya menyadari bahwa penelitian saya yang singkat menyimpan berbagai kekurangan. Karenanya, komentar, saran dan masukan berbagai pihak sungguh sangat saya harapkan.

Akhir kata, wa billahi at-taufiq wa al-hidayah.
Wassalamu'alaikum wr wb.

sumber:
Muhammad Abdul Maqsud Haykal dalam pengantar Syarah Hikam li Ibn Abbad ar Rundi, Markaz al-Ahram cet. 1, Kairo 1988 M. | WikiWand.com | ar.wikipedia.org | en.wikipedia.org


penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Hikmah 1: Tanda Manusia Bergantung Pada Amal

mutiara hikam, hikmah 1

Min alamatil i'timad ala al-amal nuqshanur raja' inda wujudiz zalal
Sebagian dari tanda-tanda manusia yang mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan ketika berbuat kesalahan (zalal).

Syarah / Penjelasan

Bergantung dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah adalah sifat arifin (orang-orang yang mengenal Allah), sedangkan bergantung dan mengandalkan sesuatu pada selain Allah adalah sifat orang-orang bodoh yang lupa kepada Allah.

Hamba Allah yang ma'rifat itu tenggelam dalam lautan tauhid. Sehingga bagi mereka, khauf (takut pada Allah) dan raja' (berharap pada rahmat Allah) selalu sama dalam keadaan apapun. Ketika mereka beramal dan beribadah, maka yang mereka saksikan adalah jalannya ketentuan takdir dan campur tangan Allah, sehingga ibadah mereka tidak akan mampu menambah pengharapan pada rahmat Allah (raja'). Pun demikian ketika mereka terperosok dalam sebuah kesalahan. Yang mereka saksikan adalah kuasa Allah, sehingga kesalahan itu tak akan menambah rasa khauf dan tidak pula mengurangi rasa raja'.

Bukan berarti arifun itu tidak takut berbuat dosa, atau tidak berharap akan pahala. Mereka pun punya perasaan khauf dan raja'. Namun, ketakutan mereka pada siksa Allah sama besarnya ketika mereka berbuat dosa atau sedang melaksanakan ibadah. Dan harapan mereka (akan rahmat Allah) tidak akan berkurang ketika terjadi salah, sebagaimana juga tidak bertambah ketika mereka beramal kebaikan.

Dalil al-Qur'an dan Hadits

Maksud dari Ibnu Athaillah rahimahullah dalam kata hikmah ini adalah mendorong hamba Allah untuk tidak berpegang pada amal perbuatannya, namun melihat segala sesuatunya sebagai anugerah Allah. Sehingga seorang pendosa tidak akan mudah berputus asa pada rahmat Allah, tetapi selalu berharap akan kasih sayang Allah SWT.

Yang demikian itu sebagaimana firman Allah "Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Asy Syura: 25)

Nabi bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga dikarenakan amal perbuatan kalian. Sahabat bertanya, apakah engkau juga ya rasul Allah? Nabi berkata; Aku juga. Tetapi Allah telah meliputi diriku dengan rahmat-Nya". (HR. Bukhari Muslim).

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.