Latest Post

Senin 12 Rabiul Awal 14 abad silam. Lahir sosok termulia pembawa agama Islam. Kehadirannya sebagai rahmat bagi semesta alam. Mengentas manusia dari era jahiliyah suram. Era di mana manusia tenggelam dalam kelam. Era ketika kekejian mangakar akut kuat menghujam. Ketika kejahatan membudaya merajalela siang dan malam. Dialah Muhamad sang cahaya yang tak akan pernah padam.
Nama-nama Nabi
Rasulullah saw. memiliki beragam nama nan indah. Beragamnya nama ini menunjukkan kemuliaan Baginda Nabi saw, tersebab beliau memiliki sedemikian banyak sifat-sifat agung lagi terpuji. Al-Imam an-Nawawi dalam karya beliau, Tahdzibul-Asma' wal-Lughat, mengutip penjelasan dari Ibnul-'Arabi dalam karya beliau ‘Aridhatul-Ahwadzi fi Syarhit-Tirmidzi, yang mengutip pernyataan sebagian ahli sufi, bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Baginda Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Keindahan Nama-nama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

Edisi Cinta Nabi


Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im bin Adiy ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku memiliki beberapa nama: Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “al- Mahi”, di mana melalui aku Allah menghapuskan kekafiran, aku adalah “al-Hasyir”, di mana mandsia digiring ke padang mahsyar setelah aku, dan aku adalah “al-‘Aqib”, di mana tak ada nabi lagi setelah aku.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ia berkata: Aku berjumpa dengan Nabi saw. dijalan Madinah, lalu beliau bersabda: “Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “Nabi Rahmat”, “Nabi Tobat”, aku adalah “al-Muqaffi” (mengikuti jejak langkah para nabi sebelumnya), aku adalah “al-Hasyir”, dan “Nabi al-Malahim” (Nabi yang suka berjihad)”.

Dalam at-Tahdzib juga diterangkan, bahwa dalam al-Quran, Allah swt. menyebut Nabi saw. dengan nama “Rasul”, “Ummi”, “Syahid”, “Mubasysyir”, “Nadzir”, “Da'iyan Ilallahi biidznihi”, “Sirajan Munira”, “Ra'ufan Rahima”, “Mudzakkir”, “Ja'alahu Rahmatan wa Ni'matan wa Hadiya”.

Al-Imam an-Nawawi berkata, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Namaku di dalam al-Quran ialah “Muhammad”, di dalam Injil ialah “Ahmad”, di dalam Taurat ialah “Uhid”. Disebut Uhid karena aku menjauhkan umatku dari neraka Jahanam”.

Dalam kitab yang sama, al-Imam an-Nawawi menambahkan keterangan dengan menukil dari Ibnu Asakir, bahwa nama Baginda Nabi yang lain adalah “al-Fatih”, “Thaha”, “Yasin”, '“Abdullah”, “Khatimul-Anbiya”.
[next]
Al-Imam al-Qusthulani dalam al-Mawdhib dan al-Bajuri dalam Hasyiyah asy-Syama’il mencatat keterangan Syekh Husain bin Muhammad ad-Damaghani dalam karyanya Syauqul-Arus wa Unsun-Nuqus, yang mengutip dari Ka'b al-Ahbar, bahwa ia berkata: “Nama Nabi bagi penduduk surga adalah “Abdul-Karim”. Nama Nabi bagi penduduk Arasy adalah “Abdul-Hamid”. Nama Nabi bagi para malaikat adalah “Abdul-Majid”. Nama Nabi bagi para nabi adalah ‘“Abdul-Wahhab”. Nama Nabi bagi kalangan setan adalah “Abdul-Qahhar”. Nama Nabi bagi kalangan jin adalah “Abdur-Rahim”. Nama Nabi di gunung adalah “Abdul-Khaliq”. Nama Nabi di daratan adalah “Abdul-Qadir”. Nama Nabi di lautan adalah “Abdul-Muhaimin”. Nama Nabi bagi ikan-ikan adalah “Abdul-Quddus”. Nama Nabi bagi serangga adalah “Abdul-Ghiyats”. Nama Nabi bagi binatang liar adalah “Abdur-Razzaq”. Nama Nabi bagi binatang buas adalah “Abdus-Salam”. Nama Nabi bagi binatang ternak adalah “Abdul-Mu’min”. Nama Nabi bagi burung-burung adalah “Abdul-Ghaffar”. Nama Nabi dalam kitab Taurat adalah “Mu’dzu-mu’dzu” (konon artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam kitab Injil adalah “Thaba-thaba” (artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebelum diturunkan kitab Taurat adalah “Aqib”. Nama Nabi dalam kitab Zabur adalah “Faruq”. Nama Nabi bagi Allah adalah “Thaha” dan “Yasin”. Nama Nabi bagi orang-orang mukmin adalah “Muhammad” saw.

Al-Imam Khatimatul-Huffazh Jalaluddin as-Suyuthi menulis risalah khusus bertajuk “al-Bahjah as-Saniyyah fil-Asma’ an-Nabawiyyah". Dalam karyanya tersebut, as-Suyuthi mencatat sekitar lima ratus nama bagi Baginda Nabi saw. Sedangkan al-Imam al-Qusthulani dalam “al-Mawabib al-Ladunniyyah” yang mengutip dari “Ahkamul-Our’an” karya Ibnul-Arabi, menyatakan bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Namun, sesungguhnya yang dimaksudkan oleh al-Qusthulani di atas adalah sifat-sifat. Karena setiap sifat yang dimiliki oleh Baginda Nabi secara otomatis juga menjadi nama bagi beliau. Jika demikian halnya, maka tidak terlalu berlebihan jika disebutkan bahwa Nabi saw. memiliki banyak nama, bahkan sampai seribu nama atau lebih sekalipun.

Dalam kitab yang sama, al-Qusthulani mencatat ulang penjelasan al-Imam as-Sakhawi dalam “al-Qaul al-Badi”, Qadhi 'Iyadh dalam “asy- Syifa”, Ibnu al-'Arabi dalam “al-Qabas” dan “al-Ahkam”, Ibnu Sayyidin-Nas dan para ulama lain berkenaan dengan nama-nama Nabi, maka diketahui ada lebih dari empat ratus nama yang kemudian beliau susun sesuai dengan huruf hijaiyah. Dua ratus satu nama di antaranya juga dikutip oleh al-Imam al-Juzuli (nisbat pada desa Juzulah, termasuk bagian dari suku Barbar) dalam “Dala’ilul-Khairat”.

Adapun nama Baginda Nabi saw. yang paling utama adalah “Muhammad”. Al-Qusthulani mengatakan, bahwa Allah menamai Nabi dengan nama “Muhammad” ini dua ribu tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam as, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Anas ra.
[next]
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ka‘b al-Ahbar, bahwa Nabi Adam as berwasiat kepada putra beliau, Syits as: “Putraku, kamu adalah khalifah penggantiku sepeninggalku. Laksanakan tugas kekhilafahan ini dengan penuh ketakwaan dan berpeganglah pada tali yang kokoh. Dan setiap kali kamu berzikir kepada Allah, sebutlah pula nama ‘Muhammad’ di sisi nama-Nya. Karena aku melihat nama ‘Muhammad’ tertulis di tiang-tiang Arasy. Kemudian aku mengelilingi langit-langit, dan tak kutemukan satu tempat pun di langit yang tak tertulis nama ‘Muhammad’. Tuhanku juga telah menempatkan aku di surga, lalu aku tak melihat gedung dan kamar di surga itu melainkan tertulis pula nama ‘Muhammad’. Aku juga melihat nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat. Maka perbanyaklah menyebut namanya, karena para malaikat menyebut namanya di setiap saat.”

Nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat

Maka para ulama mengatakan, bahwa semestinya umat Islam tidak melewatkan pemberian nama “Muhammad” atau “Ahmad” pada nama-nama mereka. Karena dalam sebuah Hadis Qudsi Allah berfirman yang artinya, “Aku bersumpah atas Diri-Ku sendiri, bahwa Aku tidak akan memasukkan orang yang bernama ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’ ke dalam neraka.”

Al-Imam ad-Dailami juga meriwayatkan dari Sayyidina Ali bahwa “Tidaklah setiap hidangan dihidangkan di sebuah rumah, lalu dihadirkan pada hidangan itu orang yang bernama Muhammad atau Ahmad, melainkan Allah akan mensucikan rumah itu dua kali sehari.”

Moh. Achyat Ahmad
BuletinSidogiri Edisi 99 Rabiul Aawal 1436 H.

Sore itu, saya sowan kepada salah satu santri Alm KH Manshur (1885-1964), beliau ipar Kyai abdul karim lirboyo, sekaligus guru Gus Maksum. Saya didongengi kiprah KH Manshur ketika mbabat alas, syiar agama dan bermasyarakat. Santri itu bernama Mbah Zaenuri usianya sekarang 70an.

KH Manshur Kalipucung Blitar
Makam KH Manshur Kalipucung Blitar

"Mbah, bagaimana kisah KH Manshur bermasyarakat?" tanyaku.
Mbah zen dengan menyulut rokoknya lalu berkata:" Kyai Manshur hidup dengan masyarakat biasa-biasa saja, meskipun kala itu ada Abangan dan PKI".
Aku pun bertanya dengan penasaran:" Biasa-biasa bagaimana? Koq terkesan mboten berjuang atau melawan?!" Mbah zen tersenyum, lalu berkisah:

"Doeloe, Dikampung Kalipucung ini ada tiga kelompok, pertama Santri, kedua PKI, ketiga Abangan. Nah, yang sering "melecehkan dan menghina" islam adalah PKI. Semisal, ketika santri berangkat sholat atau ngaji, dihadang lalu dilecehkan (bahasa sekarang dinistakan) dengan ucapan-ucapan merendahkan Islam yg membangkitkan amarah para santri. Selanjutnya santri-santri ini lapor KH Manshur yang dikenal suwuk serta gemblengannya. Bagaimanakah sikap KH Manshur?! Marahkah beliau, Islam dilecehkan oleh PKI?". "Lantas bagaimana Mbah?! Tanyaku semakin penasaran dan berharap KH. Manshur mengobrak abrik sarang PKI dengan kesaktiannya.

Mbah zen, sejenak nyeruput kopinya, sambil menghela nafas, dia lanjutkan: KH. Manshur dawuh: "biarkan saja, tidak perlu diurusi, yang penting kalian tetap istiqomah sholat berjamaah dan mengaji. Semoga mereka (PKI) mendapatkan hidayah atas kejahilannya, dan jika memang tidak mendapatkan hidayah, semoga anak keturunannya mendapat hidayah, sehingga nyantri disini". Mbah zen menambahkan: " Sekarang terbukti, bahwa dawuh KH Manshur diijabahi Allah, anak keturunan PKI disini semua masuk Islam dan Nyantri pada KH. Manshur." Mungkin ini yang dimaksud "Innal hasanaat yudzhibna assayyiaat (perbuatan baik bisa menghapus keburukan) dengan cara yang elegan tanpa melancarkan jurus silatnya."

penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Sya'ban ra. adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang kurang populer jika dibanding sahabat-sahabat beliau yang lain. Kisah ini bermula dari kebiasaan unik yang Sya'ban ra. lakukan, yakni setiap kali dia masuk ke masjid dia selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid guna beri'tikaf sambil menunggu sholat jama'ah dimulai. Hal ini ia lakukan bukan agar dia bisa duduk sambil bersandar (seperti yang biasa orang lakukan di jaman sekarang), melainkan karna ia tak mau ibadahnya diganggu orang lain atau takut mengganggu ibadah orang lain.

penyesalan sya'ban

Nabi Muhammad dan para sahabat sudah faham betul dengan kebiasaan unik Sya'ban yang selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid setiap mau sholat berjamaah. Hingga suatu pagi saat Nabi Muhammad saw. mau sholat shubuh berjamaah beliau tak melihat Sya'ban diposisi biasanya, beliau bertanya pada sahabat yang hadir, adakah yang melihat Sya'ban?

Namun tak satupun dari sahabat yang hadir melihat Sya'ban. Nabi Muhammad menunda jamaah untuk menunggu kehadiran Sya'ban, namun karena lama ditunggu ia tak juga datang akhirnya beliau memutuskan untuk memulai jamaah sholat subuh karena takut kesiangan.

Setelah selesai jamaah, Nabi bertanya "Apa ada dari kalian yang mengetahui kabar Sya'ban?". Lagi-lagi tak satupun sahabat yang menjawab, Nabi pun bertanya lagi "Adakah dari kalian yang tau dimana Sya'ban tinggal?", salah seorang sahabat menjawab bahwa ia tau persis dimana Sya'ban tinggal.

Karena rasa khawatir Nabi Muhammad saw. meminta diantarkan ke rumah Sya'ban saat itu juga. Ternyata perjalanan yang beliau dan rombongan tempuh dengan berjalan kaki amat jauh hingga akhirnya beliau beserta rombonganya sampai kerumah Sya'ban.

Sesampainya di rumah yang dituju, Nabi Muhammad saw. mengucapkan salam lalu keluarlah seorang wanita membalas salam beliau.

"Apa benar ini rumah Sya'ban?" Tanya sang Rasulullah.
Wanita itu menjawab "iya benar, saya istrinya"
"Kalau boleh tau, dimana Sya'ban sekarang? Bisakah aku bertemu denganya?"

Dengan berlinangan air mata wanita tersebut menjawab: "Sya'ban baru saja meninggal ya Rasulullah". "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun". Subhanallah!, ternyata dia sudah meninggal, oleh karena itu dia tidak sholat shubuh berjamaah.

Setelah mempersilahkan Rasululloh saw. masuk, wanita itu bertanya, "Ya Rasululloh, kami terkejut saat sebelum Sya'ban menghembuskan nafas terakhirnya ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda-beda, kami sekeluarga tidak tau apa maksudnya.

“Apa saja kalimat yang Sya'ban ucapkan sambil berteriak?" tanya Rasululloh saw.
Wanita tersebut menjawab, dimasing-masing teriakannya ia mengucapkan:
“Ah, kenapa kurang jauh.”
“Ah, kenapa bukan yang baru.”
“Ah, kenapa tidak semuanya.”

Kemudian Rasululloh Saw membacakan ayat dalam surat Qaaf ayat: 22, yang artinya:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami angkat hijab yang menutupi matamu, hingga penglihatanmu pada saat itu sangat tajam” (Qs. Qaaf:22)

Ternyata, saat sebelum ajal menjemput Sya’ban ra, Allah mengangkat hijab yang menutupi matanya, sehingga ia dipertontonkan adegan kesehariannya saat dia pulang-pergi ke masjid guna sholat lima waktu berjamaah. Perjalanan yang ia tempuh sambil jalan kaki sekitar 3 jam jelas bukanlah suatu jarak yang dekat. Dalam tayangan itu ia juga diperlihatkan pahala yang ia dapat untuk setiap langkah kakinya menuju masjid. Ia dapat melihat seperti apa surga tempatnya kelak. Kemudian saat itu dia berkata: “Ah, kenapa kurang jauh”. Ada penyesalan dalam hati Sya’ban r.a, kenapa rumahnya kurang jauh hingga pahala yang ia peroleh dan surga tempatnya tinggal lebih indah.

Kemudian Sya’ban ra. melihat adegan dimana ia hendak keluar ke masjid untuk sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia baru membuka pintu, tiba-tiba angin yang sangat dingin berhembus seolah menusuk tulak rusuknya. Setelah itu ia masuk lagi ke kamarnya untuk memakai satu baju lagi agar tidak kedinginan di perjalananya.

Sya’ban r.a dengan sengaja memakai pakaian yang bagus di bagian dalam dan pakaian yang jelek di bagian luar. Ia berpikir dalam hati, seandainya nanti diperjalanan ia terkena kotoran maka sudah tentu pakaian luarnya yang terkena, sehingga saat sampai dimasjid ia bisa melepasnya dan sholat berjamaah dengan menggunakan baju bagian dalam yang bersih dan lebih bagus.

Namun di tengah perjalanannya ke masjid, ia melihat seseorang yang sedang telentang sambil menggigil kedinginan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia pun tak tega melihatnya, lalu bergegas membuka baju bagian luarnya dan dipakaikan pada orang tersebut serta menolongnya untuk bersama-sama ke masjid guna melaksanakan sholat berjamaah.

Lalu Sya’ban ra. diperlihatkan keindahan surga yang ia dapat sebagai ganjaran dari baju jeleknya yang ia pakaikan pada orang tersebut. Kemudian saat itu dia berteriak dan berkata lagi: “Ah, kenapa bukan yang baru!" Sesalnya. Jika baju jelek yang ia pakaikan saja bisa mendapat pahala yang begitu besar sebagai balasanya, apalagi jika baju yang baru.

Kemudian, Sya’ban ra. diperlihatkan lagi sebuah adegan saat ia mau sarapan dengan roti yang biasa dimakan dengan cara mencelupkanya ke secangkir susu hangat. Yang sudah pernah Haji mungkin sudah tau ukuran roti Arab sekitar 3 kali lipat ukuran roti di Indonesia pada umumnya. Saat ia baru saja mau melahap roti tsb, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pengemis yang muncul di depan pintunya meminta agar diberi sedikit roti karena lebih dari 3 hari perutnya belum terisi makanan. Tak tega melihat pengemis tersebut kelaparan, Sya’ban ra. lalu memotong roti itu menjadi 2 bagian dan secangkir susu itupun ia bagi dua.

Akhirnya mereka berdua makan dan minum dengan roti dan susu itu. Allah swt. memperlihatkan pahala dan ganjaran dari perbuatan itu serta surga yang indah tempat ia tinggal kelak. Saat melihat semua itu, Sya'ban lagi-lagi berteriak sambil berkata: “Ah, kenapa tidak semuanya.” rasa sesal kembali dirasakan oleh Sya’ban ra. jika saja ia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, sudah pasti ia akan mmemperoleh surga yang jauh lebih indah.

Masyaallah!, Sya’ban tidak menyesal atas perbuatannya, tapi ia menyesal mengapa tidak mengoptimalkan perbutannya. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah singkat ini, sehingga bisa lebih optimal dalam mengisi dan menggunakan sisa waktu yang diberikan oleh Allah swt. Aamiin.. (Jbl)

Khadrotus Syaikh KH. Raden Munir Abdurrahman adalah sosok ulama yang penuh dengan kesahajaan dan kesederhanaan hidup. Ini tergambar ketika pada pelaksanaan Haflah di Ponpes Nadwatul lshaqiyah di desa Jambu Burneh Bangkalan. Syi'ir fenomenal yang berjudul Qod Hana terlantun. Bahkan tidak jarang para alumni sepuh meneteskan airmata seakan Kiai Munir hadir di tengah-tengah hadirin yang berdiri.

Syaikh KH. Raden Munir Abdurrahman

Murid Syaikhona Kholil Al Bangkalani

Pada zaman pra kemerdekaan, di sebuah desa kecil bernama Jambu yang terletak di Kabupaten Bangkalan, Kiai Abdurahman dan istri merasakan kebahagiaan yang tak terhingga ketika bayi mungil yang kemudian di beri nama Munir lahir, tepatnya pada hari Jumat 27 Ramadhan 1307 H yang bertepatan dengan 19 Agustus 1891 M. Semua keluarga Kiai Abdurahman turut bercita di dalem beliau yang terletak di samping Masjid jami' desa setempat.

Di masa yang serba terbatas bukan berarti membuat Kiai Munir Abdurrahman kecil berdiam diri, bahkan ia lebih menonjol dari anak seusianya dalam keilmuannya. Ketika berusia 6 tahun, beliau sudah mulai mengaji pada sang ayahanda, Syaikh Abdurahman Malik.

Kehausan akan ilmu semakin tampak ketika sudah dalam usia 9 tahun, Kiai Munir Abdurrahman sudah meninggalakan kelembutan kasih sayang orang tua untuk nyantri pada Syaikhona Muhammad Kholil Al Bangkalani selama Empat tahun. Yakni, hingga pada pada tahun 1321 H/1905 M.

Remaja yang Haus Ilmu

Kehausan beliau dalam mencari ilmu seakan tak pernah berhenti, himmah yang tertancap di sanubari beliau begitu menggebu-gebu dengan tak jenuh terus mengaji pada Ulama-ulama besar di tanah Madura. Puncaknya ketika Kiai Munir Abdurrahman memulai pengembaraan panjang dengan berhijroh ke tanah Hijaz Mekah untuk mengais samudra ilmu. Padahal pada saat itu usia Kiai Munir masih relatif sangat muda. Baru 14 tahun.

Selama Dua tahun di Mekah, Kiai Munir Abdurrahman menghabiskan keseharian beliau mengaji pada para ulama-ulama yang mengajar di emperan Masjidil Haram yang menjadi tempat paling favorit ketika saat itu untuk para pelajar yang haus akan ilmu Allah SWT. Kiai Munir juga mengaji kepada pamannya, Syaikh Abdul Karim Muhyidin.

Sedatangnya dari Mekah, beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan nyantri yang kedua kalinya pada Syaikhona Kholil selama 3 tahun. Sesudah mondok beliau pun kembali ke tanah suci Mekah dan menetap di tanah Hijaz Mekah selama 12 tahun.

Kiai Abdurahman Hasan yang termasuk cucu dari Kiai Munir dalam kitab ringkas berjudul Tarjamatus Syaikh Munir Abdurahman Malik menceritakan bahwa, Kiai Munir di Mekah mengaji pada para Ulama-ulama masyhur Masjidil Haram. Seperti Syaikh Ahmad Rohn, Syaikh Hamdan At Tunisy, Syaikh Sa'id Al Yamani (yang termasuk salah satu Mufti Syafi'iyah di Mekah pada saat itu), juga pada Syaikh jamal Malik, dan para Aimmatul Ulama Mekah Al Harom dan Madinah Al Munawaroh.

Menyebarkan Ilmu di tanah air

Setelah belasan tahun menimba ilmu di Mekah, beliau membantu sang ayahanda menyebarkan ilmu Allah SWT. di Madura, khsusnya di Bangkalan. Kiai Munir baru mendirikan Pesantren ketika ayah beliau wafat di Harot Quban Mekah. Yang menarik, dalam membina santri beliau tidak sendirian, karena segenap keluarga turut membantu dalam mengembangkan pesantren. Seperti Syaikh Mukhtar Utsman dan Syaikh Subki. Prinsip dan semboyan beliau dan keluarga adalah:

بالاتحاد ينال المراد
“Dengan bersatu, apa yang diharapkan akan tercapai”

Pesantren didikan Kiai Munir itulah yang menjadi salah satu pesantren berpengaruh di bangkalan setelah Ponpes Syaikhona Kholil pada masa itu. Bahkan, menurut cerita dari keluarga, Soekarno sebelum menjadi Presiden, pernah ngaji kepada beliau setelah mereka bertemu di konferensi Ulama se Jawa yang diadakan di Jakarta.

Pujangga Pulau Seribu Langgar

Di samping mendidik para santri di pesantren yang terletak di depan masjid Jambu, Kiai Munir adalah seorang yang terkenal dengan kealiman, berbudi luhur dan ahli politik, beliau juga termasuk Ulama yang piawai membuat gubahan-gubahan syi'ir dalam bahasa Arab dan bahasa daerah. Tidak jarang masyarakat menyebut beliau sebagai satu-satunya sastrawan atau pujangga yang ada di Bangkalan pada saat itu.

Beliau adalah seorang yang terkenal dengan kealiman, berbudi luhur dan ahli politik, beliau juga termasuk Ulama yang piawai membuat gubahan-gubahan syi'ir dalam bahasa Arab dan bahasa daerah.

Sering kali beliau melagukan karya syi'irnya dalam irama-irama yang merdu di berbagai kesempatan. Semua itu beliau lakukan hanya untuk menyebarkan syiar agama dan menyerukan tegaknya panji-panji Islam. Karya-karya gubahannya yang mengajak ke jalan Allah-lah yang menegaskan bahwa, salah satu dakwah beliau terselip dalam keindahan-keindahan sastra.

Salah satu gubahan syi'ir terkenal beliau yang sampai saat ini sering dikumandangkan di setiap acara di Ponpes Nadwatul lshaqiyah, lebih-lebih ketika perayaan Haflah Akhirus Sanah salah satu pesantren tertua di Bangkalan itu adalah syiir berjudul Qodhana (Telah Tiba). Tidak jarang para alumni sepuh meneteskan airmata seakan Kiai Munir hadir di tengah-tengah hadirin yang semuanya berdiri ketika syiir itu terlantun. Bisa di katakan beliau termasuk salah satu Pujangga di Pulau Seribu Langgar Madura dari kalangan Ulama sepuh.

Produktivitas Ulama yang Allamah

Yang paling mengagungkan dari sosok Kiai Munir adalah, produktivitas beliau dalam menuangkan keilmuan dalam beberapa kitab yang ditulis. Karya-karya itu menunjukkan kalau tangan mulia beliau selalu bergerak seperti aliran sungai, tak berhenti menyumbangsih pengetahuan untuk generasi-generasi Islam setelah beliau.

Di Madura, hanya beberapa Ulama yang mengabadikan keilmuannya dalam sebuah kitab. Salah satunya adalah Kiai Munir yang karyanya sudah menjadi kurikulum di Madrasah Ibnu Malik Ponpes Nadwatul lshaqiyah, yang sekarang di asuh oleh dua cucu beliau. KHR. Lutfi Hasyim dan KHR. Abdul Malik Hasyim.

Beberapa karya beliau yang ditemukan adalah:
  • Shofwatul Jinan fi Fadhaili Dzikril Mannan
  • Isyraq Sana al Badr fi Mas'alah al Qadr
  • Tadzakkur al Khairah li Ahl al Khairah
  • Rafiq al Marfuq fi Ahkam al Masbuq
  • Nur al Wahhaj fi Qisshah al Isra' wa al Mi'raj
  • dan banyak lagi.

Robithotul lshaqiyah

Pada tahun 1357 H/1941 M. beliau mendirikan jam'iyah keluarga yang diberi nama Robithotul lshaqiyah. Ikatan keluarga itu memakai lshaqiyah, dikarenakan Kiai Munir masih keturunan dari Maulana lshaq ayahanda Sunan Giri.

Kiai Munir membentuk Jam'iyah ini semata-mata hanya untuk menghasilkan terbentuknya suatu perkumpulan yang saling bahu membahu menghidupkan ilmu-ilmu agama dan menegakkan perintah syari'at Allah dan RasulNya di tanah Bangkalan.

Kewibawaan beliau

Cucu beliau Kiai Malik Hasyim bercerita, “Saking tawadlu'nya orang-orang Burneh dan sekitarnya. Ketika melewati jalan raya Jambu, masyarakat turun dari kendaraannya mulai dari tengginah (tempat tinggi yang menjadi batas antara desa Jambu dan Langkap). Padahal, tempat itu berjarak kurang lebih setengah kilo meter. Tidak jarang sandal yang mereka kenakan akan dilepas. Ini tak lain karena wibawa dan kecintaan masyarakat kepada Kiai Munir.” Padahal lanjut beliau, itu adalah jalan desa, masih beberapa puluh meter dari dalem beliau.

Para Kiai pun Tersentak

Pada masanya, Kiai Munir memang sering melantunkan beberapa syi'ir dan lagu-lagu di atas panggung. Ini membuat beberapa Kiai di bangkalan merasa kurang setuju dengan yang beliau lakukan. Bahkan terkadang ada beberapa pernyataan yang mencolok dengan ketidak senangan dengan Kiai Munir. Para Kiai tersentak ketika pada peringatan wafatnya, Khadrotus Syaikh Muh. Utsman Al lshaqi mengatakan dengan tegas kalau, Syaikh Munir itu termasuk waliyullah.

Allah menyamarkan para waliNya diantara hamba-hambaNya. Sebagaimana Dia menyamarkan ridloNya disisi orang yang taat kepadaNya, dan menyamarkan murkaNya di sisi orang yang maksiat kepadaNya

Mungkin, patut kita renungkan salah satu perkataan beliau yang mengandung makna yang sangat dalam, maqolah beliau tertuang dalam kitab Tarjamatus Syaikh Munir Abdurahman Malik, beliau berkata : “Allah menyamarkan para kekasihNya (Wali) diantara hamba-hambaNya. Sebagaimana Dia menyamarkan ridloNya disisi orang yang taat kepadaNya, dan menyamarkan murkaNya di sisi orang yang maksiat kepadaNya”.

Karomah Kiai Munir Abdurrahman

Masyarakat Jambu dan sekitarnya dibikin terpukau bukan hanya karena kedalaman ilmu Kiai Munir. Tapi juga kemampuan satu-satunya Kiai di kecamatan Burneh selatan dalam hal-hal yang tak kasat mata, dibuktikan dengan karomah-karomah dan keanehan beliau yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Wajar bila kemudian banyak penduduk berkeyakinan bahwa beliau mempunyai maqom (derajat) tinggi.

Sering Kiai Minanurrohman Al lshaqi, mertua dari KH. Abdullah Munif Langitan bercerita, suatu ketika Kiai Munir dipanggil sang Ibu. “Cung, aku pingin jajan dari Mekah.” Kata Ibu beliau setelah kiai Munir menghadap. “Enggi.” (iya : Madura) jawab Kiai Munir penuh ta'dzim atas keinginan dari ibunda tercinta. Lantas Kiai Munir hanya berjalan mengelilingi dapur, dengan ijin Allah, di tangan beliau sudah ada Tamis, kurma dan makanan-makanan ringan dari Mekah yang masih hangat.

Mangkatnya generasi emas Bangkalan

Tanah Jambu bergetar dengan dzikir, berkelabu dengan isak tangis, berkabut dengan rasa sedih tak terkata ketika Al Karim dipanggil keharibaan Allah Ta'ala, pada hari Selasa ba'da Dhuhur jam Dua kurang seperempat (01:45), tanggal 25 RobiusTsani 1382 H. Yang bertepatan pada tahun 1962 M. Semoga Allah memperbanyak orang seperti beliau. Amin ya Robbal Alamin.

KakiLangit Edisi 38 (Juni-Juli) 2010

Sejak tahun 2015 lalu Presiden Jokowi meresmikan Hari Nasional Santri jatuh pada tanggal 22 Oktober, peresmian ini di gelar di Masjid Istiqlal Jakarta dengan disaksikan para kyai dan ribuan santri.

hari santri nasional
KH. Hasan Mutawakkil Alallah Memimpin Apel Hari Santri Nasional
di Pesantren Zainul Hasan Genggong

Dipilihnya tanggal 22 Oktober ini untuk mengenang jasa para ulama dan santri. Pada tanggal yang sama di tahun 1945, para ulama yang dipimpin oleh K.H Hasyim Asyari saat itu membuat sebuah gerakan yang disebut dengan Resolusi Jihad N.U tujuannya untuk mengusir tentara sekutu yang membonceng pasukan Belanda kembali ke Indonesia.

Dalam rangka mengenang jasa para ulama dan santri inilah, Presiden Jokowi resmi mendeklarasikan Hari Nasional Santri pada tanggal 22 Oktober.

Untuk merayakan Hari Santri, Pondok pesantren dari berbagai daerah menyelenggarakan berbagai macam acara, di antaranya dengan berziarah bersama, tahlil bersama dan Apel Santri.

Apel Santri adalah perkumpulan para santri dari satu daerah di suatu tempat dengan berbaris rapi dan membentuk sebuah lingkaran sambil membaca teks Resolusi Jihad NU dan mengucapkan ikrar santri. Berikut ini adalah isi dari Resolusi Jihad NU:

Resolusi Jihad NU

  1. Setiap muslim di Indonesia baik muda, tua bahkan miskin sekalipun wajib ikut berperang melawan tentara sekutu yang ingin merebut kemerdekaan Indonesia.
  2. Setiap orang yang mati dalam perang kemerdekaan adalah Syuhada' (mati syahid).
  3. Siapapun yang membantu dan menolong tentara sekutu di anggap memecah belah persatuan dan kesatuan indonesia oleh karena itu harus dihukum mati.

Dan dibawah ini adalah teks dari ikrar santri:

Ikrar Santri

بسم الله الرحمن الرحيم
اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Kami Santri Republik Indonesia, berikrar :
  1. Berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai dan tradisi islam ASWAJA.
  2. Bertanah air satu, tanah air Indonesia, berideologi negara satu, ideologi Pancasila, berkonstitusi undang-undang dasar 1945 dan berkebudayaan Bhineka Tunggal Ika.
  3. Selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.
  4. Ikut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, lahir dan batin untuk seluruh rakyat Indonesia
  5. Siap berdiri di depan melawan siapapun yang merongrong Pancasila serta pantang menyerah, pantang putus asa dalam mengawal cita-cita proklamasi kemerdekaan dan semangat resolusi jihad NU.

لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Nah sobat diatas adalah acara yang di selenggarakan Pondok Pesantren yang kami survey dari berbagai daerah, apa acara yang diselenggarakan pondok pesantrenmu dalam memperingati HSN??

Selamat Hari Santri Nasional!!! (Jbl)

Hari santri yang jatuh pada tanggal 22 0ktober kali ini sangatlah meriah sekali. Pasalnya selain harinya yang di“keramatkan” oleh warga nahdliyin, terutama kalangan santri juga kegiatannya kali ini sangatlah penuh dengan nuansa nasionalisme dan juga agamisme sekali.

hari santri nasional

Nasionalisme karena hari santri yang jatuh pada 22 0ktober ini diperingati dengan upacara di daerah-daerah di Indonesia. Ditambah lagi karena hari itu juga peringatan resolusi jihad yang dicetuskan oleh sang pioneer organisasi muslim terbesar didunia Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ary yang mewajibkan bagi seluruh warga Jawa-Madura agar berjihad segenap wujud Hubbul Wathan Minal Iman. Resolusi jihad tersebut berimplikasi pada hari nasional yang tak kalah penting yaitu hari pahlawan.

Kemudian dari sisi agamis, hari santri yang kedua kali ini (22 oktober 2016) juga diisi dengan gerakan 1 milyar lebih Shalawat Nariyah yang dilantunkan oleh kalangan nahdliyin serempak di Indonesia dan 24 negara cabang istimewa lainnya. Dan gerakan 1 milyar sholawat nariyah terbesar terjadi di Pon Pes. Lirboyo Kediri yang mana dihadiri oleh ketua umum PBNU pusat yaitu KH. Sa'id Agil Siroj. Tercatatlah 30.000 lebih jamaah yang turun kelapangan Pp. Lirboyo Kediri ini dari semua kalangan sehingga seakan-akan Lirboyo dibanjiri lautan manusia api / nariyah.

Dan pertanyaan yang terlintas dihati saya adalah mengapa gerakan untuk mengisi kegiatan hari santri kali ini adalah membaca shalawat nariyah yang mencapai jumlah yang jaripun tak sanggup menghitung? Dan kenapa juga kok tidak shalawat ibrahimiyah yang dirilis sendiri oleh rasulullah?. Setelah itu saya mencoba otak atik otak saya dengan mencari di berbagai leteratur yang ada dan hasilnya sungguh mengejutkan bagi saya.

Saya menemukan sebuah ungkapan bahwasannya shalawat nariyah merupakan sebuah shalawat yang nggak gemen-gemen. Dan hanya warga nahdliyin saja yang kental dengan jenis shalawat ini. Bukti yang nyata bahwa shalawat ini juga ikut andil dalam menghantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Melalui ijazah para kiai NU pada kegiatan gemblengan baik fisik maupun non fisik berisi agar membaca shalawat ini sebanyak banyaknya. “Wocoen sholawat iki cah kaping papat jejer papat” mungkin itu adalah suatu ungkapan dari salah seorang kiai yang pernah saya dengar. Maksudnya adalah agar membaca shalawat ini sebanyak 4 baris 4, yaitu 4444. Dan ijazah ini sangat masyhur sekali dikalangan warga nahdliyin terutama para anggota Banser, Anshor, Hizbullah dan sebagainya.

Selain itu, shalawat yang dirilis oleh as-Syaikh al-Imam al-Qurthubi ini juga mengandung khasiat yang banyak sekali. Sangking banyaknya sehingga ada oknum yang tidak suka sehingga mengklaim ada unsur kemusyrikan dalam shalawat yang memiliki nama lain shalawat tafrijiyyah ini. Tapi dengan adanya klaim itu tak melunturkan semangat bershalawat bagi warga Nahdliyin serta semangat gerakan mahabbah terhadap rasul.

penulis
Sirojul Azmin
Penulis adalah santri Pondok Pesantren. Al-Hikmah Purwoasri, Kediri.
# Dari Santri Untuk Santri Dalam Rangka Memperingati Hari Santri #

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget