Latest Post

Alkisah pada suatu malam, Syaikh Jalaluddin Ar-Rumi mengundang Gurunya, Syaikh Syamsuddin At-Tabrizi ke rumahnya. Syaikh Syamsuddin yang merupakan seorang Mursyid pun menerima undangan tersebut dan segera pergi menuju kediaman Maulana. Setelah semua hidangan makan malam disuguhkan, Syaikh Syams berkata pada Maulana Rumi;
Jalaluddin Ar-Rumi
“Apakah kau menyediakan untukku sebuah minuman ?”. (yang beliau maksud : khamr / arak )

Maulana Rumi terkejut mendengar permintaan gurunya, “apa anda menyukai arak?’ tanya beliau.
“Iya”, jawab Syaikh Syamsuddin.

Maulana Rumi kaget mendengar jawaban Gurunya itu lalu berkata ,”maaf, saya tidak mengetahui tentang hal ini”.

“karena kau sudah mengetahuinya. Maka segera sediakan arak untukku”.

“Saat waktu malam seperti ini, dari mana saya bisa mendapatkan arak untuk anda?” tanya Maulana Rumi.

“Mintalah salah satu khadammu membelinya untukku” perintah Syaikh Syamsuddin .

“Kalau seperti itu kehormatanku di depan para hadamku akan hilang” terang Maulana Rumi.

“Kalau memang begitu, maka kau pergilah sendiri keluar membeli arak untukku ” pintanya lagi.

“Semua orang dikota ini mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli arak sendiri?”.

“Kalau kau masih menganggapku aku sebagai gurumu, kau harus segera menyediakan arak yang aku inginkan. Tanpa arak, aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur malam ini”.

Karena kecintaan Maulana Rumi pada gurunya, akhirnya beliau segera memakai jubahnya sambil menyembunyikan sebuah botol di balik jubahnya dan pergi menuju ke tempat pemukiman kaum Nasrani.

Saat sebelum beliau masuk ke pemukiman Nasrani, tidak ada satu orang pun yang berpikir macam-macam terhadap beliau, namun ketika beliau masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang yang ada disekitar beliau terkejut dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti beliau dari belakang.

Orang-orang itu melihat Maulana Rumi memasuki sebuah kedai arak. Beliau terlihat mengisi arak pada sebuah botol minuman kemudian beliau sembunyikan botol tersebut di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu beliau terus diikuti oleh orang-orang yang jumlahnya semakin banyak. Hingga beliau sampai di depan masjid tempat dimana beliau menjadi imam sholat masyarakat kota setempat.

Tiba-tiba salah satu dari orang-orang yang mengikuti beliau berteriak dengan lantang; "Ayyuhan Nas, Maulana Jalaluddin Ar-Rumi yang setiap hari menjadi imam shalat kalian baru saja menuju kedai dari perkampungan Nasrani dan membeli arak!!!”.

Orang itu mengatakan itu sambil menyingkap jubah yang dikenakan oleh Maulana Rumi. Orang-orang yang melihat botol itu dikeluarkan dari jubah Maulana terkejut sambil berkata. “Orang yang selama ini mengaku sebagai ahli zuhud dan kalian menganggapnya sebagai panutan ini telah membeli arak dari permukiman Nasrani dan hendak membawanya pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang mulai bergantian meludahi muka Maulana Rumi dan memukulinya hingga serban yang beliau kenakan di kepala jatuh ke leher.

Melihat Maulana Rumi hanya diam saja saat dipukuli tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini Maulana Rumi telah menipu dan membohongi mereka tentang takwa dan zuhud yang diajarkannya. Mereka tanpa kasihan terus dan terus memukuli Maulana Rumi sampai ada yang berniat untuk membunuhnya.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Syaikh Syamsuddin Tabrizi; “Wahai orang-orang yang tak tahu malu. Kalian telah mefitnah seorang yang alim, faqih dan zuhud dengan tuduhan minum arak, ketahuilah bahwa isi dari botol yang dibawa oleh Rumi dari pemukiman Nasrani adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih tidak percaya:

“isi botol ini bukan cuka, ini jelas arak”. Syaikh Syams segera mengambil botol dan membuka penutupnya. Beliau meneteskan isi dari botol tersebut di tangan orang-orang supaya menciumnya. Mereka sangat terkejut karena isi dari botol itu memang cuka. Mereka langsung memukuli kepala mereka sendiri sambil bersimpuh di kaki Maulana Rumi. Mereka saling berebut untuk meminta maaf dan menciumi tangan Maulana Rumi hingga dengan pelan-pelan satu demi satu dari mereka.

Maulana Rumi berkata pada Syaikh Syamsuddin, “Malam ini anda telah membuatku terjebak dalam masalah yang sangat besar sampai kehormatan dan nama baikku rusak. Apa maksud dari semua ini?”.

“Agar kau tau bahwa kehormatan yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan dari orang-orang awam seperti mereka ini adalah sesuatu yang abadi? Padahal kau tau sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman berisi arak saja semua penghormatan itu lenyap dan mereka langsung meludahi dan memukuli kepalamu bahkan hampir saja salah seorang dari mereka membunuhmu. Inilah kehormatan yang selama ini selalu kau perjuangkan dan pada akhirnya lenyap dalam waktu yang singkat.

Maka dari itu bertawakkallah pada yang tidak tergoyahkan oleh zaman dan tidak terpatahkan oleh perubahan waktu. (Jbl)

Da'i asal Indonesia, Shamsi Ali yang merupakan imam masjid di New York Amerika menginisiasi dan mengkordinasi 'Aksi Bela Islam' di kota New York, Senin (20/2/2017) kemarin. Aksi Bela Islam New York ini untuk menentang kebijakan Presiden Trump yang anti-Islam.
Aksi Bela Islam New York
Dalam pesan di fb-nya Imam Shamsi Ali menuliskan kesuksesan aksi tersebut. "Alhamdulillah, dengan izin Allah dan kerja keras semua yang terlibat, rally dengan tema 'Hari ini saya juga seorang Muslim' (I AM A MUSLIM TOO) berjalan dengan sukses di New York. Peserta yang membludak di lima blok di Time Square, jantung kota New York itu diperkirakan mencapai 7 - 10 ribu peserta. Selain tokoh-tokoh agama besar New York, hadir juga tokoh-tokoh Hollywood seperti Russell Simmons, juga anggota dewan kota New York, bahkan Walikota New York de Blasio."

"Sebagai koordinator utama pelaksanaan acara ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada saudara-saudara non Muslim yang dengan tegas dan tanpa ragu memberikan dukungan dan pembelaan terhadap komunitas Muslim. Saya menyebutkan dukungan mereka sebagai bentuk wajah konstitusi yang sesungguhnya. Alhamdulillah!"

#AksiBelaIslam di New York ini didukung walikota Bill de Blasio dan tokoh lintas agama.

Insya Allah polisi New York tidak akan mengkriminalisasi Imam Shamsi Ali. Uang donasi juga tak akan dipermasalahkan...

Beda cerita dengan sebuah negeri antah-berantah.

Sumber: Portal Islam

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar menyebut ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang mengutip Surat Al Maidah ayat 51 saat kunjungan ke Kepulauan Seribu, terindikasi penyesatan terhadap umat Islam.
KH. Miftachul Akhyar - sidang Ahok
“Ada kata-kata jangan percaya, artinya orang yang sudah percaya diajak tidak percaya terhadap ayat ini. Sehingga ada penyesatan terhadap umat yang semula beriman meyakini, berakibat tidak beriman dan tidak meyakini,” kata Kyai Miftach saat memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan penodaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 21 Februari 2017.

Ahok mengutip Surat Al Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Saat itu, Ahok menyampaikan kepada penduduk setempat bahwa program budidaya ikan kerapu akan terus berjalan meskipun ia tidak lagi menjadi gubernur. Berikut petikan kalimat Ahok.

“Kan, bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem gitu loh. Itu hak Bapak-Ibu, ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa. Karena ini kan hak pribadi Bapak-Ibu. Program ini jalan saja. Jadi Bapak-Ibu enggak usah merasa enggak enak. Dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok,” ujar Ahok dalam pidatonya.

Dalam sidang Ahok ke-11 itu, KH. Miftachul Akhyar mengatakan, ucapan Ahok tersebut juga terindikasi hukum penistaan terhadap Al Quran dan ulama. Sebab, menurut dia, kata ‘pakai’ dalam pidato Ahok ditujukan kepada ulama yang biasa menyampaikan penafsiran Surat Al-Maidah. “Bagi mereka yang bukan ulama ya mendapat ilmu dari ulama,” kata ahli agama itu.

Selain itu, menurut Kyai Miftach, Ahok dianggap melakukan penistaan karena dalam ucapannya ada kata-kata ‘jangan percaya’, ‘dibodohi’, dan ‘dibohongi pakai Surat Al-Maidah’. Kyai Miftach juga menyatakan bahwa Ahok tidak boleh menafsirkannya lantaran tidak memiliki kompetensi dan bukan beragama Islam. “Jelas tidak boleh karena bukan ahlinya,” ujarnya. Di persidangan, Miftahul Ahyar juga menyebut kata ‘aulia’ dalam Surat Al-Maidah ayat 51 dapat diartikan sebagai pemimpin.

Sumber: Panjimas

Senin 12 Rabiul Awal 14 abad silam. Lahir sosok termulia pembawa agama Islam. Kehadirannya sebagai rahmat bagi semesta alam. Mengentas manusia dari era jahiliyah suram. Era di mana manusia tenggelam dalam kelam. Era ketika kekejian mangakar akut kuat menghujam. Ketika kejahatan membudaya merajalela siang dan malam. Dialah Muhamad sang cahaya yang tak akan pernah padam.
Nama-nama Nabi
Rasulullah saw. memiliki beragam nama nan indah. Beragamnya nama ini menunjukkan kemuliaan Baginda Nabi saw, tersebab beliau memiliki sedemikian banyak sifat-sifat agung lagi terpuji. Al-Imam an-Nawawi dalam karya beliau, Tahdzibul-Asma' wal-Lughat, mengutip penjelasan dari Ibnul-'Arabi dalam karya beliau ‘Aridhatul-Ahwadzi fi Syarhit-Tirmidzi, yang mengutip pernyataan sebagian ahli sufi, bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Baginda Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Keindahan Nama-nama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

Edisi Cinta Nabi


Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im bin Adiy ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku memiliki beberapa nama: Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “al- Mahi”, di mana melalui aku Allah menghapuskan kekafiran, aku adalah “al-Hasyir”, di mana mandsia digiring ke padang mahsyar setelah aku, dan aku adalah “al-‘Aqib”, di mana tak ada nabi lagi setelah aku.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ia berkata: Aku berjumpa dengan Nabi saw. dijalan Madinah, lalu beliau bersabda: “Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “Nabi Rahmat”, “Nabi Tobat”, aku adalah “al-Muqaffi” (mengikuti jejak langkah para nabi sebelumnya), aku adalah “al-Hasyir”, dan “Nabi al-Malahim” (Nabi yang suka berjihad)”.

Dalam at-Tahdzib juga diterangkan, bahwa dalam al-Quran, Allah swt. menyebut Nabi saw. dengan nama “Rasul”, “Ummi”, “Syahid”, “Mubasysyir”, “Nadzir”, “Da'iyan Ilallahi biidznihi”, “Sirajan Munira”, “Ra'ufan Rahima”, “Mudzakkir”, “Ja'alahu Rahmatan wa Ni'matan wa Hadiya”.

Al-Imam an-Nawawi berkata, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Namaku di dalam al-Quran ialah “Muhammad”, di dalam Injil ialah “Ahmad”, di dalam Taurat ialah “Uhid”. Disebut Uhid karena aku menjauhkan umatku dari neraka Jahanam”.

Dalam kitab yang sama, al-Imam an-Nawawi menambahkan keterangan dengan menukil dari Ibnu Asakir, bahwa nama Baginda Nabi yang lain adalah “al-Fatih”, “Thaha”, “Yasin”, '“Abdullah”, “Khatimul-Anbiya”.
[next]
Al-Imam al-Qusthulani dalam al-Mawdhib dan al-Bajuri dalam Hasyiyah asy-Syama’il mencatat keterangan Syekh Husain bin Muhammad ad-Damaghani dalam karyanya Syauqul-Arus wa Unsun-Nuqus, yang mengutip dari Ka'b al-Ahbar, bahwa ia berkata: “Nama Nabi bagi penduduk surga adalah “Abdul-Karim”. Nama Nabi bagi penduduk Arasy adalah “Abdul-Hamid”. Nama Nabi bagi para malaikat adalah “Abdul-Majid”. Nama Nabi bagi para nabi adalah ‘“Abdul-Wahhab”. Nama Nabi bagi kalangan setan adalah “Abdul-Qahhar”. Nama Nabi bagi kalangan jin adalah “Abdur-Rahim”. Nama Nabi di gunung adalah “Abdul-Khaliq”. Nama Nabi di daratan adalah “Abdul-Qadir”. Nama Nabi di lautan adalah “Abdul-Muhaimin”. Nama Nabi bagi ikan-ikan adalah “Abdul-Quddus”. Nama Nabi bagi serangga adalah “Abdul-Ghiyats”. Nama Nabi bagi binatang liar adalah “Abdur-Razzaq”. Nama Nabi bagi binatang buas adalah “Abdus-Salam”. Nama Nabi bagi binatang ternak adalah “Abdul-Mu’min”. Nama Nabi bagi burung-burung adalah “Abdul-Ghaffar”. Nama Nabi dalam kitab Taurat adalah “Mu’dzu-mu’dzu” (konon artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam kitab Injil adalah “Thaba-thaba” (artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebelum diturunkan kitab Taurat adalah “Aqib”. Nama Nabi dalam kitab Zabur adalah “Faruq”. Nama Nabi bagi Allah adalah “Thaha” dan “Yasin”. Nama Nabi bagi orang-orang mukmin adalah “Muhammad” saw.

Al-Imam Khatimatul-Huffazh Jalaluddin as-Suyuthi menulis risalah khusus bertajuk “al-Bahjah as-Saniyyah fil-Asma’ an-Nabawiyyah". Dalam karyanya tersebut, as-Suyuthi mencatat sekitar lima ratus nama bagi Baginda Nabi saw. Sedangkan al-Imam al-Qusthulani dalam “al-Mawabib al-Ladunniyyah” yang mengutip dari “Ahkamul-Our’an” karya Ibnul-Arabi, menyatakan bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Namun, sesungguhnya yang dimaksudkan oleh al-Qusthulani di atas adalah sifat-sifat. Karena setiap sifat yang dimiliki oleh Baginda Nabi secara otomatis juga menjadi nama bagi beliau. Jika demikian halnya, maka tidak terlalu berlebihan jika disebutkan bahwa Nabi saw. memiliki banyak nama, bahkan sampai seribu nama atau lebih sekalipun.

Dalam kitab yang sama, al-Qusthulani mencatat ulang penjelasan al-Imam as-Sakhawi dalam “al-Qaul al-Badi”, Qadhi 'Iyadh dalam “asy- Syifa”, Ibnu al-'Arabi dalam “al-Qabas” dan “al-Ahkam”, Ibnu Sayyidin-Nas dan para ulama lain berkenaan dengan nama-nama Nabi, maka diketahui ada lebih dari empat ratus nama yang kemudian beliau susun sesuai dengan huruf hijaiyah. Dua ratus satu nama di antaranya juga dikutip oleh al-Imam al-Juzuli (nisbat pada desa Juzulah, termasuk bagian dari suku Barbar) dalam “Dala’ilul-Khairat”.

Adapun nama Baginda Nabi saw. yang paling utama adalah “Muhammad”. Al-Qusthulani mengatakan, bahwa Allah menamai Nabi dengan nama “Muhammad” ini dua ribu tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam as, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Anas ra.
[next]
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ka‘b al-Ahbar, bahwa Nabi Adam as berwasiat kepada putra beliau, Syits as: “Putraku, kamu adalah khalifah penggantiku sepeninggalku. Laksanakan tugas kekhilafahan ini dengan penuh ketakwaan dan berpeganglah pada tali yang kokoh. Dan setiap kali kamu berzikir kepada Allah, sebutlah pula nama ‘Muhammad’ di sisi nama-Nya. Karena aku melihat nama ‘Muhammad’ tertulis di tiang-tiang Arasy. Kemudian aku mengelilingi langit-langit, dan tak kutemukan satu tempat pun di langit yang tak tertulis nama ‘Muhammad’. Tuhanku juga telah menempatkan aku di surga, lalu aku tak melihat gedung dan kamar di surga itu melainkan tertulis pula nama ‘Muhammad’. Aku juga melihat nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat. Maka perbanyaklah menyebut namanya, karena para malaikat menyebut namanya di setiap saat.”

Nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat

Maka para ulama mengatakan, bahwa semestinya umat Islam tidak melewatkan pemberian nama “Muhammad” atau “Ahmad” pada nama-nama mereka. Karena dalam sebuah Hadis Qudsi Allah berfirman yang artinya, “Aku bersumpah atas Diri-Ku sendiri, bahwa Aku tidak akan memasukkan orang yang bernama ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’ ke dalam neraka.”

Al-Imam ad-Dailami juga meriwayatkan dari Sayyidina Ali bahwa “Tidaklah setiap hidangan dihidangkan di sebuah rumah, lalu dihadirkan pada hidangan itu orang yang bernama Muhammad atau Ahmad, melainkan Allah akan mensucikan rumah itu dua kali sehari.”

Moh. Achyat Ahmad
BuletinSidogiri Edisi 99 Rabiul Aawal 1436 H.

Sore itu, saya sowan kepada salah satu santri Alm KH Manshur (1885-1964), beliau ipar Kyai abdul karim lirboyo, sekaligus guru Gus Maksum. Saya didongengi kiprah KH Manshur ketika mbabat alas, syiar agama dan bermasyarakat. Santri itu bernama Mbah Zaenuri usianya sekarang 70an.

KH Manshur Kalipucung Blitar
Makam KH Manshur Kalipucung Blitar

"Mbah, bagaimana kisah KH Manshur bermasyarakat?" tanyaku.
Mbah zen dengan menyulut rokoknya lalu berkata:" Kyai Manshur hidup dengan masyarakat biasa-biasa saja, meskipun kala itu ada Abangan dan PKI".
Aku pun bertanya dengan penasaran:" Biasa-biasa bagaimana? Koq terkesan mboten berjuang atau melawan?!" Mbah zen tersenyum, lalu berkisah:

"Doeloe, Dikampung Kalipucung ini ada tiga kelompok, pertama Santri, kedua PKI, ketiga Abangan. Nah, yang sering "melecehkan dan menghina" islam adalah PKI. Semisal, ketika santri berangkat sholat atau ngaji, dihadang lalu dilecehkan (bahasa sekarang dinistakan) dengan ucapan-ucapan merendahkan Islam yg membangkitkan amarah para santri. Selanjutnya santri-santri ini lapor KH Manshur yang dikenal suwuk serta gemblengannya. Bagaimanakah sikap KH Manshur?! Marahkah beliau, Islam dilecehkan oleh PKI?". "Lantas bagaimana Mbah?! Tanyaku semakin penasaran dan berharap KH. Manshur mengobrak abrik sarang PKI dengan kesaktiannya.

Mbah zen, sejenak nyeruput kopinya, sambil menghela nafas, dia lanjutkan: KH. Manshur dawuh: "biarkan saja, tidak perlu diurusi, yang penting kalian tetap istiqomah sholat berjamaah dan mengaji. Semoga mereka (PKI) mendapatkan hidayah atas kejahilannya, dan jika memang tidak mendapatkan hidayah, semoga anak keturunannya mendapat hidayah, sehingga nyantri disini". Mbah zen menambahkan: " Sekarang terbukti, bahwa dawuh KH Manshur diijabahi Allah, anak keturunan PKI disini semua masuk Islam dan Nyantri pada KH. Manshur." Mungkin ini yang dimaksud "Innal hasanaat yudzhibna assayyiaat (perbuatan baik bisa menghapus keburukan) dengan cara yang elegan tanpa melancarkan jurus silatnya."

penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Sya'ban ra. adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang kurang populer jika dibanding sahabat-sahabat beliau yang lain. Kisah ini bermula dari kebiasaan unik yang Sya'ban ra. lakukan, yakni setiap kali dia masuk ke masjid dia selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid guna beri'tikaf sambil menunggu sholat jama'ah dimulai. Hal ini ia lakukan bukan agar dia bisa duduk sambil bersandar (seperti yang biasa orang lakukan di jaman sekarang), melainkan karna ia tak mau ibadahnya diganggu orang lain atau takut mengganggu ibadah orang lain.

penyesalan sya'ban

Nabi Muhammad dan para sahabat sudah faham betul dengan kebiasaan unik Sya'ban yang selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid setiap mau sholat berjamaah. Hingga suatu pagi saat Nabi Muhammad saw. mau sholat shubuh berjamaah beliau tak melihat Sya'ban diposisi biasanya, beliau bertanya pada sahabat yang hadir, adakah yang melihat Sya'ban?

Namun tak satupun dari sahabat yang hadir melihat Sya'ban. Nabi Muhammad menunda jamaah untuk menunggu kehadiran Sya'ban, namun karena lama ditunggu ia tak juga datang akhirnya beliau memutuskan untuk memulai jamaah sholat subuh karena takut kesiangan.

Setelah selesai jamaah, Nabi bertanya "Apa ada dari kalian yang mengetahui kabar Sya'ban?". Lagi-lagi tak satupun sahabat yang menjawab, Nabi pun bertanya lagi "Adakah dari kalian yang tau dimana Sya'ban tinggal?", salah seorang sahabat menjawab bahwa ia tau persis dimana Sya'ban tinggal.

Karena rasa khawatir Nabi Muhammad saw. meminta diantarkan ke rumah Sya'ban saat itu juga. Ternyata perjalanan yang beliau dan rombongan tempuh dengan berjalan kaki amat jauh hingga akhirnya beliau beserta rombonganya sampai kerumah Sya'ban.

Sesampainya di rumah yang dituju, Nabi Muhammad saw. mengucapkan salam lalu keluarlah seorang wanita membalas salam beliau.

"Apa benar ini rumah Sya'ban?" Tanya sang Rasulullah.
Wanita itu menjawab "iya benar, saya istrinya"
"Kalau boleh tau, dimana Sya'ban sekarang? Bisakah aku bertemu denganya?"

Dengan berlinangan air mata wanita tersebut menjawab: "Sya'ban baru saja meninggal ya Rasulullah". "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun". Subhanallah!, ternyata dia sudah meninggal, oleh karena itu dia tidak sholat shubuh berjamaah.

Setelah mempersilahkan Rasululloh saw. masuk, wanita itu bertanya, "Ya Rasululloh, kami terkejut saat sebelum Sya'ban menghembuskan nafas terakhirnya ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda-beda, kami sekeluarga tidak tau apa maksudnya.

“Apa saja kalimat yang Sya'ban ucapkan sambil berteriak?" tanya Rasululloh saw.
Wanita tersebut menjawab, dimasing-masing teriakannya ia mengucapkan:
“Ah, kenapa kurang jauh.”
“Ah, kenapa bukan yang baru.”
“Ah, kenapa tidak semuanya.”

Kemudian Rasululloh Saw membacakan ayat dalam surat Qaaf ayat: 22, yang artinya:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami angkat hijab yang menutupi matamu, hingga penglihatanmu pada saat itu sangat tajam” (Qs. Qaaf:22)

Ternyata, saat sebelum ajal menjemput Sya’ban ra, Allah mengangkat hijab yang menutupi matanya, sehingga ia dipertontonkan adegan kesehariannya saat dia pulang-pergi ke masjid guna sholat lima waktu berjamaah. Perjalanan yang ia tempuh sambil jalan kaki sekitar 3 jam jelas bukanlah suatu jarak yang dekat. Dalam tayangan itu ia juga diperlihatkan pahala yang ia dapat untuk setiap langkah kakinya menuju masjid. Ia dapat melihat seperti apa surga tempatnya kelak. Kemudian saat itu dia berkata: “Ah, kenapa kurang jauh”. Ada penyesalan dalam hati Sya’ban r.a, kenapa rumahnya kurang jauh hingga pahala yang ia peroleh dan surga tempatnya tinggal lebih indah.

Kemudian Sya’ban ra. melihat adegan dimana ia hendak keluar ke masjid untuk sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia baru membuka pintu, tiba-tiba angin yang sangat dingin berhembus seolah menusuk tulak rusuknya. Setelah itu ia masuk lagi ke kamarnya untuk memakai satu baju lagi agar tidak kedinginan di perjalananya.

Sya’ban r.a dengan sengaja memakai pakaian yang bagus di bagian dalam dan pakaian yang jelek di bagian luar. Ia berpikir dalam hati, seandainya nanti diperjalanan ia terkena kotoran maka sudah tentu pakaian luarnya yang terkena, sehingga saat sampai dimasjid ia bisa melepasnya dan sholat berjamaah dengan menggunakan baju bagian dalam yang bersih dan lebih bagus.

Namun di tengah perjalanannya ke masjid, ia melihat seseorang yang sedang telentang sambil menggigil kedinginan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia pun tak tega melihatnya, lalu bergegas membuka baju bagian luarnya dan dipakaikan pada orang tersebut serta menolongnya untuk bersama-sama ke masjid guna melaksanakan sholat berjamaah.

Lalu Sya’ban ra. diperlihatkan keindahan surga yang ia dapat sebagai ganjaran dari baju jeleknya yang ia pakaikan pada orang tersebut. Kemudian saat itu dia berteriak dan berkata lagi: “Ah, kenapa bukan yang baru!" Sesalnya. Jika baju jelek yang ia pakaikan saja bisa mendapat pahala yang begitu besar sebagai balasanya, apalagi jika baju yang baru.

Kemudian, Sya’ban ra. diperlihatkan lagi sebuah adegan saat ia mau sarapan dengan roti yang biasa dimakan dengan cara mencelupkanya ke secangkir susu hangat. Yang sudah pernah Haji mungkin sudah tau ukuran roti Arab sekitar 3 kali lipat ukuran roti di Indonesia pada umumnya. Saat ia baru saja mau melahap roti tsb, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pengemis yang muncul di depan pintunya meminta agar diberi sedikit roti karena lebih dari 3 hari perutnya belum terisi makanan. Tak tega melihat pengemis tersebut kelaparan, Sya’ban ra. lalu memotong roti itu menjadi 2 bagian dan secangkir susu itupun ia bagi dua.

Akhirnya mereka berdua makan dan minum dengan roti dan susu itu. Allah swt. memperlihatkan pahala dan ganjaran dari perbuatan itu serta surga yang indah tempat ia tinggal kelak. Saat melihat semua itu, Sya'ban lagi-lagi berteriak sambil berkata: “Ah, kenapa tidak semuanya.” rasa sesal kembali dirasakan oleh Sya’ban ra. jika saja ia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, sudah pasti ia akan mmemperoleh surga yang jauh lebih indah.

Masyaallah!, Sya’ban tidak menyesal atas perbuatannya, tapi ia menyesal mengapa tidak mengoptimalkan perbutannya. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah singkat ini, sehingga bisa lebih optimal dalam mengisi dan menggunakan sisa waktu yang diberikan oleh Allah swt. Aamiin.. (Jbl)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget