Hikmah 2: Salik Tidak Patut Memilih Maqamnya Sendiri

hikmah hikam ke 2

Iradatuka al-tajrid ma'a iqamatillahi iyyaka fi al-asbab minas syahwah al-khafiyyah.
Wa iradatuka al-asbab ma'a iqamatillahi iyyaka fi al-tajrid inhithat an al-himmah al-aliyyah.

Kehendakmu untuk berada dalam maqam tajrid ketika Allah menempatkanmu dalam maqam asbab adalah termasuk syahwat yang tersamar.
Dan kehendakmu kepada asbab ketika Allah menempatkanmu pada maqam tajrid adalah terperosok jatuh dari cita-cita luhur.


Syarah / Penjelasan

Asbab adalah melakukan kasab untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan duniawi. Sedangkan tajrid adalah meninggalkan kasab dan usaha memperoleh kebutuhan dan keinginan duniawi.

Barang siapa ditempatkan oleh Allah dalam maqam asbab (tempat di mana ia harus bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan duniawi), kemudian ia ingin keluar dari maqam tersebut, maka keinginan itu adalah syahwat yang tersamarkan.

Disebut "syahwat" karena ia tidak merasa tentram dan tidak menerima tempat/maqam yang telah dipilih Allah untuknya. Dan dikatakan "tersamar" karena sebenarnya ia bermaksud taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah, namun yang terjadi malahan ia melancangi kehendak Allah dan kurang tata krama dalam menginginkan tempat yang tidak patut bagi derajatnya.

Tanda bahwa Allah telah menempatkan seseorang dalam maqam asbab ialah dia berdiam lama (mudawamah) di tempat itu dan telah menghasilkan buah dari maqam asbab tersebut. Dengan sekira dalam kesibukan-kesibukan kasab ia menemukan keselamatan agamanya, ia terselamatkan dari rasa menginginkan harta benda orang lain, menjadi ringan baginya untuk menolong fakir miskin, dan faedah-faedah harta lainnya yang berhubungan dengan kemaslahatan agama.

Dan barang siapa berada dalam maqam tajrid -tempat di mana ia mencurahkan waktu-waktunya untuk mengingat Allah dan beribadah pada-Nya tanpa terganggu dengan kesibukan kasab dan mencari nafkah-, kemudian ia berkeinginan meninggalkan maqam tersebut untuk menempati maqam asbab, maka ia telah jatuh terperosok dari cita-cita luhur (himmah aliyah) dan juga berbuat lancang kepada Allah.

Ibnu Ata'illah As Sakandari menyebut orang ini jatuh terperosok dari himmah aliyah karena sesungguhnya tajrid itu adalah derajat yang tinggi. Allah SWT hanya menempatkan orang-orang khawas (spesial) dari hamba-hambaNya yang telah ma'rifat dan bertauhid saja di tempat ini. Maka keluar dari tajrid merupakan kejatuhan dari sebuah martabat tinggi yang hanya mampu dicapai orang-orang tertentu menuju tempat umum yang bisa dicapai siapapun.

Di antara tanda-tanda bahwa Allah telah menempatkan seorang hamba di maqam tajrid adalah: hatinya tetap merasa tenang di saat dalam keadaan kekurangan, dan Allah memudahkan baginya pintu rezeki dari jalan yang tak disangka.

Dalil al-Qur'an

Kewajiban seorang salik adalah berdiam diri di tempat di mana Allah SWT menempatkannya di sana, dan seyogyanya ia tidak keluar dari maqam itu dengan menuruti nafsunya belaka sehingga ia terjatuh dalam keputus asaan. Na'udzu billah.

Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS Al-Israa': 80)

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Mengenal Tokoh Sunni Indonesia: K.H. Sirajuddin Abbas

K.H. Sirajuddin bin Abbas bin Abdil Wahab, lahir di Bengkawas, kabupaten Agam, kota Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Mei 1905 – meninggal 5 Agustus 1980 pada usia 75 tahun, adalah seorang ulama, politisi dan menteri Republik Indonesia.

K.H. Sirajuddin Abbas

Sirajuddin Abbas dikenal sebagai seorang ulama madzhab Syafi'i dan tokoh penting Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Beliau juga sempat menerima amanah sebagai Menteri Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I dengan masa bakti mulai tanggal 30 Juli 1953 hingga 12 Agustus 1955.

Sebagai seorang alim ulama, beliau dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan aqidah mazhab Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni) dan mazhab Syafi'i dalam bidang furu' (ilmu fikih).

Sejak usia 5 tahun di tahun 1910-1913, Sirajuddin Abbas memulai pendidikan agamanya dari orangtuanya sendiri. Beliau belajar membaca Al-Qur'an kepada ibunya, yang kemudian dilanjutkan belajar kitab berbahasa arab kepada ayah beliau, Syeikh Haji Abbas di Ladang Lawas. Di antara tahun tersebut, dituturkan bahwa beliau juga belajar di pesantren-pesantren Syeikh Haji Husein Pakan Senayan, dan Tuanku Imran Limbukan Pajakumbuh, Sumatera Barat.

Pada usia 15 tahun (1920 M hingga 1923), beliau mendalami ilmu agama di pesantren Syeikh Haji Abdul malik, Gobah Ladang Lawas, Bukit Tinggi.

Rasa dahaga pada pengetahuan agama yang lebih mendalam menuntun beliau pergi merantau di kota suci Makkah. Selama enam tahun (1927 - 1933) beliau mendalami ilmu agama di Makkah. Dalam kesempatan itu beliau juga memanfaatkan sela-sela waktu belajar untuk menunaikan ibadah haji di tiap tahunnya hingga 7 kali berturut-turut. Kemudian Pada tahun 1930 beliau diangkat menjadi staf sekretariat pada konsulat Belanda di Mekkah.

Di antara guru-guru beliau selama belajar di Makkah adalah:

  1. Syeikh Sa'id Yamani, Mufti Mazhab Syafi'i. Kitab yang dipelajari adalah Kitab al-Mahalli.
  2. Syeikh Husein al Hanafi, Mufti Mazhab Hanafi. Darinya beliau mempelajari kitab Shahih Bukhari.
  3. Syeikh Ali al Maliki, Mufti Mazhab Maliki. Kitab yang dikaji adalah Kitab Al Furuq, merupakan kitab di bidang Ushul Fiqih.
  4. Syeikh Umar Hamdan, seorang ulama Mazhab Maliki. Kitab yang dipelajari adalah Al Muwatta, karya Imam Malik.
  5. Beliau juga belajar Bahasa Inggris dari guru asal Tapanuli bernama Ali Basya.
Sepulang dari Makkah pada tahun 1933, Sirajuddin Abbas menimba pelbagai ilmu kepada Guru Besar Maulana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukit Tinggi. Kemudian beliau pulang ke kampung halamannya di Minangkabau untuk meneruskan perjuangan ayahnya, mengajar di pesantren-pesantren yang ada di Minangkabau.

Tiga tahun setelah kepulangannya dari Mekkah K.H. Sirajuddin Abbas mulai dikenal sebagai muballigh muda yang potensial sehingga memikat hati para ulama Tarbiyah Indonesia, sebuah organisasi keagamaan yang ada di Bukittinggi. Tak berselang lama, beliau pun terpilih sebagai ketua umum Tarbiyah Indonesia dalam kongres ketiga organisasi tersebut di Bukittinggi pada tahun 1936.

Karya tulis K.H. Sirajuddin Abbas

K.H. Sirajuddin Abbas sangat aktif menulis, banyak judul buku yang telah beliau hasilkan. Sebagian karya beliau ditulis dalam bahasa Arab dan sebagian dalam bahasa Indonesia.

Karya-karya beliau yang berbahasa Arab adalah:
  1. Sirajul Munir, (Fiqih 2 jilid).
  2. Bidayatul Balaghah, (Bayan).
  3. Khulasah Tarikh Islami, (Sejarah Islam).
  4. Ilmul Insya'.
  5. Sirajul Bayan fi Fihrasati Ayatil Qur'an.
  6. Ilmun Nafs.
Karya-karya tersebut beliau tulis dari tahun 1933-1937, kitab No.2 dan No.3 sudah dicetak berulang-ulang.

Dalam bahasa Indonesia antara lain
  1. I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah.
  2. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i.
  3. 40 masalah agama-Jilid I.
  4. 40 masalah agama-Jilid II.
  5. 40 masalah agama-Jilid III.
  6. 40 masalah agama-Jilid IV.
  7. Kumpulan soal jawab keagamaan.
  8. Kitab fiqih ringkas.
  9. Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.
  10. Thabaqatus Syafi'iyah.
Setelah cukup banyak mewariskan ilmu sepanjang masa hidupnya dalam buku-bukunya, K.H. Sirajuddin Abbas menutup usianya yang telah mencapai 75 tahun. Beliau wafat pada 5 Agustus 1980 setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo akibat serangan jantung yang ia derita. Saat pemakaman tampak perhatian warga yang begitu besar. Jasad beliau dimakamkan di pemakman Tanah Kusir Jakarta Selatan, yang dihadiri wakil presiden Republik Indonesia Adam Malik. Semoga Allah merahmati beliau dan memberikan manfaat ilmu beliau untuk kita semua. Amin.

Sumber. id.wikipedia.org

Fatwa Sesat Kyai Yang Salah Sasaran

Seorang kyai muda asal Surabaya berencana untuk menyempurnakan rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji. Tidak seperti sekarang yang harus antri belasan tahun lamanya, di tahun 2006 itu kaum muslimin Indonesia masih relatif mudah jika berniat untuk melaksanakan haji. Kontan beberapa sahabat dan jamaah kyai itu berniat menyertai beliau untuk bersama-sama pergi ke tanah suci. "Mumpung kyai sendiri yang berangkat, kapan lagi kita dapat bimbingan ibadah gratis?" Begitulah kira-kira yang mereka fikirkan.

fatwa sesat kyai

Setibanya di kota suci Makkah, sang kyai tinggal bersama 3 sahabat karibnya. Salah seorang sahabat kyai ini (sebut saja namanya Adong) begitu memanfaatkan waktu-waktunya bersama sang kyai. Apapun yang berkaitan dengan rukun, syarat, atau segala hal seputar haji selalu ia tanyakan terlebih dahulu kepada kyainya.

Suatu ketika, disaat bapak kyai sedang asik muthala'ah mempelajari fatwa dan pendapat ulama' seputar ritual dan kesempurnaan haji, Adong nyeletuk bertanya "Yai, menurut sampean lebih afdhol mana antara jubah putih atau coklat?". Tanpa memalingkan pandangannya dari kitab Al-Idhah fi Manasik al-Haj wa al-Umrah, beliau menjawab "putih". "Mengapa putih kyai?" lanjut Adong. Masih asyik dengan bacaannya, kyai menjawab "sebab, putih adalah warna utama menurut nabi SAW. Lihat saja disini, dari imam masjid sampai raja Fahd sendiri, jubah yang mereka pakai berwarna putih."

Malam itu sehabis jamaah sholat Isya' di Masjid al-Haram, pak kyai datang dengan menenteng bungkusan. Sahabat-sahabat beliau yang penasaran segera mengerumuni beliau. "pak yai habis belanja?" tanya seorang teman. "Iya" jawab beliau. "Coba lihat pak kyai.." Adong dengan sopan mengulurkan tangan, ingin tahu apa isi bungkusan tersebut.

Begitu berhasil membongkar belanjaan sang kyai, muka Adong tampak sangat kecewa. "Loh, pak yai beli jubah coklat? Padahal tadi saya pingin sekali jubah warna coklat, tapi sampean suruh saya beli yang warna putih. Ini fatwa menyesatkan namanya!". Pak kyai sedikit kebingungan, tapi cepat beliau menjawab "Kalo saya, jubah warna putih kan sudah banyak pak. Jadi boleh lah beli yang coklat".

Melihat itu, jamaah lain tersenyum cekikikan. "Pak Adong, makanya kalau minta fatwa yang jelas dong! Biar jawaban kyai bisa tepat sasaran." Hahaha. (Elfa)

Pedahuluan Terjemah Hikam Ibnu Athaillah As Sakandari

Bismillahirahmanirrahim,

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ala rasulillah, wa ala alihi wa shahbihi wa man walah. Wa ba'du.

Setelah saya mengikuti sawir Hikam yang rutin diadakan ORISSA (Oganisasi Remaja Islam Sidosermo SurabayA) dua minggu sekali, ada terbesit keinginan untuk menulis apa yang saya dapatkan dari kegiatan sawir tersebut. Mulanya, saya ingin asatidz dan kiai yang saya anggap lebih ahli untuk menuliskan terjemah Hikam sebagai hasil dari kegiatan sawir itu. Namun rasa sungkan kepada mereka dan takut mengganggu waktu beliau-beliau yang sudah cukup padat itulah yang membuat saya memberanikan diri menuliskan terjemah Hikam di blog komunitas santri ini. Toh jika ada dirasa salah dan kurang tepatnya, mereka dengan ringan hati akan memberikan koreksi.

Harapan saya, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, santriyin santriyat, kaum muslimin, serta pembaca yang mencari pencerahan yang terkandung dalam untaian kata-kata bijak ulama' sufi. Semoga pula usaha menerjemahkan kitab Hikam ini menjadi amal kebajikan yang berbalas berlipat-lipat kebaikan di akhirat kelak. Amin.

Sekilas tentang penulis Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

Nama lengkap beliau adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athaillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili (1260 M - 1309 M / 658 H - 709 H). Mulanya, karena kefanatikan Ibnu Athaillah pada ilmu fiqih, beliau mengingkari kebenaran tasawuf dan memusuhi ulama-ulama sufi. Hingga pada suatu kesempatan, Ibnu Athaillah bertemu dengan sayyidi Abul Abbas al-Mursi. Pertemuan itu sangat berkesan bagi Ibnu Athaillah hingga beliau menyadari kebenaran ilmu tasawuf dan menjadi murid kesayangan al-Mursi.

Sepeninggal gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi tahun 686 H, Ibnu Athaillah menggantikannya sebagai mursyid tariqah Syadziliah. Tugas ini beliau emban tanpa meninggalkan tugas mengajar di kota Iskandariah. Setelah pindah ke Kairo, beliau bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Dan termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah.

Masjid Ibnu Ataillah As Sakandari

Murid dan kitab karangan Ibnu Athaillah

Beliau mempunyai banyak murid yang kemudian menjadi ahli fiqih dan tasawwuf, di antaranya adalah Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah syaikh Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro.

Sebagai seorang ulama, Ibn Athaillah meninggalkan banyak karangan kitab. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Sayangnya, beberapa kitab karangan beliau hilang jejaknya. Namun di antara kitab karya beliau, kitab Hikam yang paling masyhur dan banyak dikenal.

Hikam Ibnu Athaillah

Sesuai namanya yang berarti beberapa hikmah, kitab Hikam berisi kumpulan kata mutiara (hikmah) yang keseluruhannya berjumlah 264 hikmah (selain tulisan Ibnu Athaillah yang ditujukan untuk sahabat-sahabat beliau, dan do'a serta munajat beliau yang juga mengandung banyak sekali hikmah).

Untaian kata hikmah dalam kitab ini begitu indahnya, sehingga Ibnu Ajibah dalam kitab Iyqadh al-Himam menceritakan bahwa seorang faqih yang dikenal dengan nama Al Banani berkata: "Hikam Ibnu Athaillah laksana wahyu. Andai sholat diperkenankan menggunakan selain al Qur'an, tentu akan dibacakan kata-kata Hikam."

Terjemah Hikam dalam blog AlaSantri.com

Dalam terjemahan kitab Hikam ini, saya banyak merujuk keterangan dari syarah Hikam karya Ibnu Abbad ar Rundi dan Abdullah bin Hijazi al Syarqawi sebagai rujukan utama. Opini dan pendapat pribadi saya tekan seminimal mungkin, sehingga maksud dari pesan-pesan Ibnu Athaillah tetap terjaga keasliannya.

Saya menyadari bahwa penelitian saya yang singkat menyimpan berbagai kekurangan. Karenanya, komentar, saran dan masukan berbagai pihak sungguh sangat saya harapkan.

Akhir kata, wa billahi at-taufiq wa al-hidayah.
Wassalamu'alaikum wr wb.

sumber:
Muhammad Abdul Maqsud Haykal dalam pengantar Syarah Hikam li Ibn Abbad ar Rundi, Markaz al-Ahram cet. 1, Kairo 1988 M. | WikiWand.com | ar.wikipedia.org | en.wikipedia.org


penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Hikmah 1: Tanda Manusia Bergantung Pada Amal

mutiara hikam, hikmah 1

Min alamatil i'timad ala al-amal nuqshanur raja' inda wujudiz zalal
Sebagian dari tanda-tanda manusia yang mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan ketika berbuat kesalahan (zalal).

Syarah / Penjelasan

Bergantung dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah adalah sifat arifin (orang-orang yang mengenal Allah), sedangkan bergantung dan mengandalkan sesuatu pada selain Allah adalah sifat orang-orang bodoh yang lupa kepada Allah.

Hamba Allah yang ma'rifat itu tenggelam dalam lautan tauhid. Sehingga bagi mereka, khauf (takut pada Allah) dan raja' (berharap pada rahmat Allah) selalu sama dalam keadaan apapun. Ketika mereka beramal dan beribadah, maka yang mereka saksikan adalah jalannya ketentuan takdir dan campur tangan Allah, sehingga ibadah mereka tidak akan mampu menambah pengharapan pada rahmat Allah (raja'). Pun demikian ketika mereka terperosok dalam sebuah kesalahan. Yang mereka saksikan adalah kuasa Allah, sehingga kesalahan itu tak akan menambah rasa khauf dan tidak pula mengurangi rasa raja'.

Bukan berarti arifun itu tidak takut berbuat dosa, atau tidak berharap akan pahala. Mereka pun punya perasaan khauf dan raja'. Namun, ketakutan mereka pada siksa Allah sama besarnya ketika mereka berbuat dosa atau sedang melaksanakan ibadah. Dan harapan mereka (akan rahmat Allah) tidak akan berkurang ketika terjadi salah, sebagaimana juga tidak bertambah ketika mereka beramal kebaikan.

Dalil al-Qur'an dan Hadits

Maksud dari Ibnu Athaillah rahimahullah dalam kata hikmah ini adalah mendorong hamba Allah untuk tidak berpegang pada amal perbuatannya, namun melihat segala sesuatunya sebagai anugerah Allah. Sehingga seorang pendosa tidak akan mudah berputus asa pada rahmat Allah, tetapi selalu berharap akan kasih sayang Allah SWT.

Yang demikian itu sebagaimana firman Allah "Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Asy Syura: 25)

Nabi bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga dikarenakan amal perbuatan kalian. Sahabat bertanya, apakah engkau juga ya rasul Allah? Nabi berkata; Aku juga. Tetapi Allah telah meliputi diriku dengan rahmat-Nya". (HR. Bukhari Muslim).

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Konsep Sekuler Menebar Ideologi Materialistis

Sekuler merupakan sebuah ideology yang memisahkan antara daulah (negara) dengan kanisah (gereja). Ya, awal mulanya sekuler terjadi di dunia barat. Bagi sang Sekuler, ada ‘terbesit’ tidak puas dengan otoriter gereja (pada waktu itu). Pihak Kristen yang terus ‘bergandengan’ tangan dan menjadi landasan kebijakan pihak daulah (kenegaraan, red). Hal ini, yang menjadi benih sekuler ditumbuhkan. Rasa tidak puas dan merasa paling benar dan tidak butuh patuh pada petuah kanisah.

sekuler

Gerakan penebaran benih pemisahan ini sangat bergejolak, baik memunculkan ideology yang sangat bertentangan dengan gereja seperti Aristoteles yang menyatakan bumi itu bulat karena (bagi gereja) bumi itu datar, atau pun berbagai macam ideology lainnya. Tidak cukup disitu, gerakan pemisahan ini pun direalisasikan dalam bentuk lain, baik itu menghasut dan sebagainya.

Kemudian apa yang terjadi? Mereka berhasil. Coba kita menilik Turki, Kemal Attaturk berhasil meruntuhkan Turki Ottoman, Dia pun menebarkan sekularisme. Rakyat dihasut agar membenci kerajaan, umat muslim pun dipecah belah.

Kalau kita teliti, sebenarnya Sekularisme itu dibangun dengan ambisi yang besar. Ambisi berdasarkan ideologi materialistis yang bertujuan untuk memiliki kuasa dan harta. Ambisi ini tidak akan padam meskipun kekuasaan dan harta itu telah terkumpul. Sekularisme juga dibangun dari ‘gerakan bawah tanah’. Ya, sebuah gerakan protes rakyat yang anti pemerintahan.

Lantas, apa dampak dari pemisahan antara pemerintahan dengan gereja? Dampaknya sungguh sangat luar biasa. Diantaranya adalah:

1. Pemisahan individu dari individu lainnya

Sekuler ‘sukses’ menumbuhkan benih egois antara satu individu dengan individu lain. Ya, bahkan kita tidak jarang menyaksikan ‘pemandangan’ ini atau ‘bed view’ pada masyarakat perkotaan modern.

Pemukiman kota tidak mengenal satu tetangga ke tetangga lain. Ya, memang suatu pemandangan yang tidak wajar dan jauh dari ‘ruh keindonesiaan’ yaitu ruh gotong royong, dan jelas jauh dari ruh keislaman, Allah berfirman, “Sesungguhnya mukmin adalah bersaudara, dan perbaikilah persaudaraan kalian” (QS. alhujurat:10).

Tidak cukup disitu, ada lagi yang baru yaitu ‘generasi merunduk’. Yups, generasi pemuda yang hanya mencatut matanya di depan layar ponsel. Entah, merunduk itu membaca SMS, mengupdate status FB, mentweet temannya dan sebagainya. Ya, merunduk tentunya tidak akan menghiraukan satu sama lain. Sebuah pemandangan aneh bukan? Lantas, siapakah yang menciptakan mereka menjadi generasi merunduk? Ataukah rakyat kota benar-benar berubah menjadi masyarakat egois?

2. Pemisahan lawan jenis

Pergerakan sekuler tidak cukup disitu, mereka mencoba memisahkan satu lawan ke lawan jenis yang lainnya. Kaum Adam dipisahkan dengan kaum Hawa. Maksud pemisahan disini adalah pemisahan dari arti ‘ruh kemanusiaan’ dan fitrah manusia. Kalaupun kedua jenis ini berinteraksi, mereka hanya berinteraksi dengan dasar syahwat belaka. Ketika hal ini dijadikan mainpoint, maka hanya interaksi yang dilandaskan kenikmatan duniawi saja yang dipikirkan. Kenikmatan yang hanya sekejap. Hubungan bebas, pacaran dan interaksi haram lainnya akan tumbuh subur. Dampak negatif dari fenomena ini sangatlah jelas dan mencengangkan, HIV, AIDS, broken home dan seterusnya. Dampak yang tentu sangat tidak kita inginkan.

Hal ini sangat berbeda dengan teori Islam tentang interaksi Adam-Hawa. Dr. Muhammad Said Ramdlan Buti dalam karyanya “Al Mar’ah” menyebutkan, bahwa tujuan yang lebih penting dalam interaksi Adam-Hawa (dalam hal ini adalah menikah) ialah tercapainya kehidupan terarah, kedewasaan, menciptakan ‘hawa’ mawaddawah wa rahmah, serta menumbuhkan benih-benih yang ‘siap’ menjadi estafet Adam-Hawa itu sendiri.

3. Dan terakhir, Pemisahan agama dan negara

Ini adalah rentetan sebuah gerakan ‘non interaksi’ yang digairahkan oleh kaum sekuler. Mereka mencoba menggiring kesebuah ‘peradaban’ yang memaksakan pemisahan antara negara dan agama. Agama dan negara dijadikan seolah bertentangan, yang berakibat dikotomi dan pengkotakan satu sama lain. Agama hanya mempunyai wilayah di masjid, surau, madrasah, atau pun wilayah lainnya yang sangat jauh dari wilayah negara. Negara hanya berdiri dengan undang-undang kenegaraan bukan undang-undang keagaaman.

Yang pasti akan terjadi adalah; negara menjadi ‘liar’ dengan undang-undang dan logika manusia. Sementara agama hanya terbatas berkutat di urusan surau, masjid dan madrasah. Undang-undang pun dibuat jauh dari undang-undang syariat Islam. Maka, tidak jarang yang dicetuskan adalah undang-undang yang bertolak belakang dengan agama. Misal, undang-undang larangan poligami bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Padahal, agama tidak pernah melarang itu, baik PNS atau pun Non PNS, iya bukan?

Lantas timbul sebuah pertanyaan, “Kenapa sekuler terus menggurita dan merambah dunia Islam, toh padahal ideology sekuler muncul di dunia Kristen?”. Tentu ini adalah sebuah fenomena tersindiri. Ya, fenomena tertular virus sekuler. Sebenarnya, umat Islam tidak harus mengikuti ‘trend’ sekuler yang sudah menggurita itu, tapi lebih dari itu, umat muslim harus bersatu padu untuk saling mengingatkan satu sama lain. Watawashoubil haqqi watawashoubisshobr.

Fenomena sekuler memaksa kita untuk menela’ah pedoman hidup kita, Alqur’an. Allah berfirman, “Mereka melupakan Allah, dan Allah telah melupakan mereka” (QS. Attaubah: 67), atau pun ayat yang lainnya, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, Karena lantas Allah melupakan diri kalian” (QS. Alhasyr:19). Dua ayat ini jelas memberikan indikasi bahwa sebenarnya bukan kita yang melupakan Allah, tapi Allah lah yang akan meninggalkan kita. Berbanding lurus bukan? Ya, Sebuah pemandangan ‘lurus’. Jika kita melupakan Allah, maka Allah pun akan melupakan kita.

Jadi, dengan kita melupakan dan meninggalkan Allah, maka Allah lah yang akan meninggalkan kita. Dan setelah kita meninggalkan Allah, yang terjadi kita akan menjadi terasing. Terasing dengan terisolasi antar individu, terisolasi antar Adam-Hawa, dan terisolasi antara korelasi agama-negara.

Dan terakhir, setelah kita melihat berbagai macam fenomena sekuler yang menggurita, Alqur’an pun menyindirnya. Maka, untuk menanggulanginya adalah hanya dengan mendekatkan diri pada Allah, patuh pada perintah dan laranganNya. Dan jimat terpenting adalah, “tidak pernah menganggap ideology itu bagus selain ideology Islam, dan tidak lupa terus menfilterisasi berbagai macam ideology yang ada”. Allah berfirman, “Hari ini, aku telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan bagi kalian nikmatku, dan aku rela islam menjadi agama kalian” (QS. Almaidah:3). Wallahu a’lam bisshowab.

Nb. Artikel ini ditulis setelah mengikuti kuliah umum Alhabib Prof. Abdullah Baharun (Rektor Al-Ahgaf). Tentunya dengan perubahan dan penambahan.

penulis
Muhammad Ufi Ishbar Naufal
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di Madrasah Diniyah, Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

Metode Rantai Emas Untuk Pengentasan Kemiskinan

Gold Chain Method for Building Economic Poor
( Metode Rantai Emas Untuk Pengentasan Kemiskinan)
Oleh : Muhammad Ufi Ishbar Naufal
Identitas terkadang penting dan memberikan dampak ‘positif’ pada sebuah revolusi. Tapi, tidak pada santri. Dan santri layak untuk tetap ‘PeDe’ dengan identitasnya dan terus melaju ikut membangun sebuah roda emas dari kemiskinan. Dan dari pesantren, kita berjaya!
(penulis)

A. Prolog

Manusia lahir di dunia ini lengkap dengan berbagai macam kebutuhan. Dan kebutuhan itu menjadi lazim adanya. Mulai kebutuhan yang bersifat primer (kebutuhan pokok) seperti sandang, pangan dan papan (tempat tinggal), kebutuhan sekunder, dan ada kebutuhan tersier.

Semenjak bayi, manusia membutuhkan bubur sebagai konsumsinya, baju, pampers dan sebagainya. Pelajar membutuhan uang saku, buku, dan ada yang lainnya. Orang tua dan semua manusia membutuhkan sesuatu yang disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

Alqur’an ‘menyindir’ hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Ali-Imron (14):
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dr. Isa Abduh membagi kebutuhan (Need) manusia menjadi dua. Yaitu kebutuhan umum (hajah ammah) dan kebutuhan tertentu (Hajah Khossoh). Hajah Khossoh adalah kebutuhan yang diperlukan bagi individu atau anggota keluarga tertentu, seperti makanan pokok, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Adapun Hajah ammah merupakan sebuah kebutuhan yang lingkupnya lebih luas lagi. Seperti menjaga keamanan sebuah negara dan atau sebuah populasi, kesehatan umum, menyeimbangkan harga pasar dan sebagainya.[1]

Setelah secara ‘emosi’ manusia itu membutuhkan banyak hal untuk memenuhi kebutuhannya, maka tidak dapat memungkiri mereka akan bertindak ‘anarkis’ dan bahkan jahat untuk memenuhi kebutuhannya tadi. Maka tidak asing kita melihat pencurian, perampokan, dan sikap anarkis lainnya yang didasari untuk memenuhi ambisinya dalam mencapai tarjetnya.[2]

Abu Zidan Elmakarim menuturkan bahwa harta bisa merusak diri seseorang, imannya, dan lain sebagainya.[3] Allah menjelaskan tentang hal ini dengan menuturkan cerita tentang Karun yang diadzab dengan dibenamkan ke dalam bumi[4], dan atau kisah-kisah yang lainnya. Begitu pula sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh albazzaz. Nabi menuturkan akan bahaya fakir, tapi beliau pun lebih mengkhawatirkan umatnya yang berkecukupan. Karena beliau tidak mau fenomena adzab di jaman terdahulu menimpa pada umatnya.[5]

Setelah kita menyadari akan bahaya sebuah kemiskinan, maka kita akan mencoba untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengidentifikasikan sumber kemiskinan itu sendiri. Karena kemiskinan bukan sebuah ‘harga mati’ yang tidak bisa dirubah. Tapi kita harus selalu berupaya untuk mengubahnya dengan terus bertawakal dan berdoa.[6] Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur arab badui setelah diketahui menelantarkan untanya, dia berkomentar tentang tawakkal pada unta tadi. Dan nabi menegurnya dengan mengikat untanya dulu kemudian bertawakal.[7]

A.1. Studi Kasus

potret kemiskinan di Indonesia
Indonesia adalah negara kaya. Mempunyai berbagai jenis pepohonan, perkebunan, perhutanan, dan sebagainya. Indonesia pun diapit oleh dua samudera, hindia dan pasifik. Dan tentunya, kekayaan laut pun sangat melimpah.

Akan tetapi, masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th. XIV, 1 Juli 2011 Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen). Adapun No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 persen).[8]

Dan sekitar 88 persen penduduk Indonesia adalah muslim. Dari data tersebut, sekitar 35 persen diantaranya adalah jamaah Nahdatul Ulama’ (NU). Dengan kata lain, jumlah warga NU sebanyak 71,14 juta jiwa dari populasi penganut Islam sebanyak 203,28 juta jiwa.[9]

Diasumsikan, sekitar 30% dari warga NU atau sebanyak 21,34 juta berada dalam kategori miskin. Angka kemiskinan warga NU tersebut paling tidak mencapai 65,6% dari jumlah penduduk miskin yang diklaim pemerintah pada tahun 2009 yaitu sebesar 32,53 juta jiwa.[10]

Dari problem view tadi, kita bisa melihat betapa ‘mirisnya’ kaum nahdliyyin, yang lumrahnya diasumsikan sebagai kaum santri. Tentunya, problem view ini tidak bisa dibiarkan menggelinding dan pasrah begitu saja atas nama tawakal. Namun kita sendiri yang harus berusaha sekuat tenaga untuk mengubah, sementara setelah itu, kita akan tawakal dan pasrah padaNya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Arra’d : 11). Dengan tegas, Allah menyindiri akan perintah untuk berusaha, tapi tidak lupa untuk tidak menyampingkan berdoa.

A.II Faktor Penyebab Kemiskinan

Faktor penyebab kemiskinan, diantaranya adalah:

  1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang lemah
  2. SDM sangat dibutuhkan seseorang dalam pengentasan kemiskinan. Karena, ide, kreasi, inovasi dan sebagainya itu muncul dari potensi seseorang. Dan SDM yang lemah ini mempengaruhi untuk bersikap ‘bodoh’ dan acuh tak acuh akan situasi dirinya. SDM lemah juga mendorong seseorang untuk bersikap pasrah dan tawakal. Dan tentunya dengan gaya pikir lemah akan menimbulkan gaya hidup pasrah dan acuh tak acuh akan kemiskinan. Ini berakibat sulit untuk keluar dari kubang kemiskinan.

  3. Produktivitas dan gairah kerja rendah
  4. Diantara penyebab kemiskinan adalah produktivitas dan etos kerja yang rendah. Indonesia memiliki banyak sumber daya alam. Akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan produktivitas dan etos kerja yang tinggi, maka sumber daya alam itu pun tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Dan jelas, maka pengentasan kemiskinan akan jauh dari harapan.

  5. Kurangnya lapangan pekerjaan
  6. Lapangan pekerjaan menjadi mutlak dibutuhkan. Karena dengan tersedianya lapangan pekerjaan maka seseorang mempunyai ‘harapan’ dan ‘andaian’ untuk bangkit dari keterpurukan. Apalagi, bagi seseorang yang kurang memiliki berbagai macam kreativitas. Dan kurangnya lapangan pekerjaan menjadi salah satu penyebab merebaknya kemiskinan.

B. Uraian judul

B.1. Arti kata

  • Gold artinya adalah emas, kencana[11].
  • Chain artinya adalah rantai[12].
  • Method artinya yaitu cara, metode[13].
  • Building yang terdiri dari patron kata dasar build dan tambahan ing artinya adalah pembangunan[14].
  • Economic artinya adalah masalah-masalah ekonomi[15].
  • Dan Poor artinya adalah miskin atau melarat[16].
Dari arti di atas, berarti Gold Chain Method (disingkat GC Method) adalah sebuah gerakan ‘rantai’ emas untuk mengentaskan problem-problem kemiskinan. Dikatakan rantai, karena didalam metode GC Method ini, akan ada sebuah keterikatan dan rantai antara satu anggota ke anggota lain, dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Dan mainstream dari GC metode adalah kesejehteraan berantai dari satu anggota ke anggota lain. Yang akhirnya tercipta kesejahteraan umum atau maslahah ‘ammah. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

C. Penjelasan GC Method

C.1. Pembangunan BFC ( Building of Financial Capital)

BFC atau Building of Financial Capital adalah pembangunan dan penggalian modal. Tahap awal ini sangat urgen. Karena, suatu kemustahilan dalam sebuah pergerakan ekonomi tidak diawali dan didasari dengan modal. Dan tentunya, tidak cukup dengan ‘modal’ berani atau semangat. Tapi lebih penting dari itu, dibutuhkan modal berupa financial.

Adapun metode BFC bisa berupa :
  • Pengumpulan Modal dari anggota
  • Pengumpulan modal dari anggota ini bisa berupa penarikan sejumlah uang yang sama dan dikelola secara bersama. Dan ini berupa akad syirkah. Dan dalam program GC method ini yang lebih diutamakan adalah pengumpulan dana dari banyak anggota.
  • Modal dari Bank dan atau lembaga simpan pinjam
  • Pengumpulan dana dari bank atau lembaga simpan pinjam ini berupa meminjam atau hutang sejumlah uang pada bank, dan setelah itu dikelola.
Tapi, penulis lebih menitikberatkan BFC dari anggota. Karena jika modal dari bank, maka akan mengalami banyak hal yang tidak menguntungkan, diantaranya adalah bunga dan kerugian ditanggung perorangan. Berbeda dengan penarikan modal dari anggota. Maka, kerugian ditanggung bersama, dan suku bunga pun tidak ada. Dan sifat kekeluargaan dalam GC method ini lebih dikedepankan.

C.2. Rancangan Usaha (Effort Planning)

Tahap Effort Planning atau disingkat (EP) ini dilakukan setelah tahap awal yaitu modal sudah tersedia. Tahap EP ini dilakukan dengan membidik bisnis yang memang berpeluang, baik secara financial atau keuntungan bersama secara keanggotaan.

EP ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, dan asal bidik saja. Karena, akan berdampak fatal. Tapi, bukan berarti tidak berani membidik atau bergerak. Lebih dari itu, EP harus melihat peluang dan efesiensi suatu planning record atau planning usaha. Dan dalam makalah ini akan dijelaskan tentang EP berupa usaha budidaya lele yang akan dijelaskan berikut ini.

C.3. Rancangan Marketing (Marketing Planning)

Step ini tidak jauh pentingnya dari step-step sebelumnya, karena marketing-selling ini sangat dibutuhkan oleh sebuah bisnis. Dan tentunya, GC Method mempunyai trik untuk marketing ini. Dan diantara caranya adalah sebagai berikut :
  • Octopus Marketing (OcMarket)Atau (Gurita pemasaran)
  • Kita tahu, bahwasanya organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi besar, dengan pengikut yang banyak. Dan Indonesia memiliki penduduk yang besar. Oleh karena itu, ini adalah pangsa pasar yang sangat menggiurkan. Tentunya, tidak harus pangsa pasar adalah Nahdliyin (warga NU), tapi jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar pun sangat menguntungkan bagi sebuah usaha. Adapun OcMarket atau Octopus Marketing (Gurita Pemasaran) adalah metode pemasaran yang melakukan selling kepada konsumen secara langsung, atau pun dapat melakukan perekrutan untuk menjadi tengkulak.
  • Star Marketing Planning (Smar-P)
  • Star Marketing Planning adalah sebuah perencanaan Bintang pemasaran. Dikatakan bintang, karena produsen akan menjual sendiri. Dan planning ini bisa berdampak positif dan negative. Adapun dampak positifnya adalah:
    • Produsen bisa mengatur harga pasar sendiri.
    • Produsen mampu mendapatkan untung lebih, karena tidak harus memikirkan harga ‘di tangan kedua’, dan konsumen bisa langsung menikmati harga dari produsen.
    • Produsen bisa lebih kreatif dan lebih mendengarkan suara konsumen, karena terjadi kontak langsung dengan konsumen.
    Dan, dampak negativnya adalah:
    • Metode ini sangat menguras waktu dan melelahkan, karena produsen disamping dipaksa memikirkan produksi, juga dipaksa menguras tenaga untuk marketing-selling.
    • Berdampak negative jika tidak diimbangi dengan relasi dan affiliate yang kuat untuk marketing.
    • Metode ini pun sangat berbahaya jika tidak diimbangi dengan ‘fitrah’ manusiawi, karena produsen mampu memonopoli harga dan barang produksinya.

D. Studi Pendalaman, Aplikasi dan Pengayaan dari Gold Chain Method

Setelah kami jelaskan view of basic Gold Chain method, maka kami perlu lebih spesifikasi lagi dengan pengayaan dan aplikasi pada sebuah usaha. Dan usaha yang menjadi ‘proyek’ kami adalah budidaya lele. Adapun step-stepnya sebagai berikut:

Step One : Pendanaan dan permodalan

Step one ini, yaitu pendanaan dan pencarian modal. Dalam step ini, bisa dilakukan melalui iuran dari beberapa orang kaya, dan selanjutnya mereka menjadi investor. Dan akad dalam syari’ahnya adalah akad syirkah. Investor ini bisa hanya memberikan sejumlah dana untuk diolah oleh orang lain, atau pun mereka bisa ikut nimbrung dalam usaha ini. Atau step ini dapat dilakukan melalui hutang pada bank.

Step Two : Effort Planning

Setelah dana itu telah tersedia, kita melangkah step two, yaitu effort planning. Dalam budidaya lele, kita bisa melakukan banyak planning untuk melakukan sebuah usaha, diantaranya:
  1. Lele dapat dijual per ekor, yang selanjutnya bisa diolah menjadi pecel lele, pepes lele dan seterusnya.
  2. Lele dapat diolah menjadi abon lele
  3. Lele dapat diolah menjadi kerupuk lele
  4. Lele dapat diolah pula menjadi bakso lele.

Step three : Marketing Planning

Tentunya, permasalahan selanjutnya adalah marketing-selling. Karena pemasaran produk begitu penting, maka menjadi keharusan bagi sebuah usaha untuk memiliki marketing system yang baik dan rapi.

Untuk pemasaran ikan lele ini sangatlah menarik. Karena, disamping ikan lele bisa diolah menjadi pecel lele yang sangat digemari oleh banyak kalangan, lele pun bisa diolah menjadi abon lele atau krupuk lele sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Adapun pemasarannya menggunakan metode OcMarket seperti yang telah kami singgung diatas, maka bisa dilakukan dengan:
  1. Perekrutan ‘anak’ OcMarket
  2. Hal ini, dilakukan dengan perekrutan anggota untuk menjadi marketing atau menjadi seller. Anggota yang direkrut bisa dari warga NU atau non-NU. Dan tentunya, perekrutan ini dipilih dengan anggota yang memiliki ‘syarat-syarat’ bekerja, seperti memiliki dedikasi dan potensi seller, memiliki ‘rasa’ giat yang tinggi, dan sebagainya. Perekrutan ini sangat penting, dan sangat efektif jika bergabung dengan instansi ormas seperti NU. Karena misalnya, NU cabang Sumatera bisa mengorganisir, mendata, dan mengontrol warganya yang menjadi ‘anak’ dari OcMarket. Mendata dengan mengontrol warganya yang memerlukan lapangan pekerjaan dan memang ‘layak’ untuk bekerja, mengontrol warganya tadi dengan selalu menilik dan mempelajari kinerjanya. Tentunya, produksi yang akan dinikmati dan dipasarkan untuk NU cabang Sumatra bukan pecel lele, tapi krupuk lele ataupun abon lele. Karena, jika berupa pecel lele dengan mengirim atau mengekspor lele, maka akan berefek samping berat, diantaranya adalah takut busuk atau pun rusak.
  3. Marketing dengan Star Marketing Planning method
  4. Dalam hal ini, maka kita akan menyediakan produksi lele, baik berupa seekor lele utuh, atau pun abon lele, krupuk lele dan berbagai macam lainnya. Dan kita akan menjadi produsen tunggal atau star marketing, dan akan didatangi para tengkulak atau pun konsumen kecil-kecilan. Akan tetapi, dalam GC Method, kita akan menerapkan dua hal marketing ini, baik itu Octopus Marketing atau pun Star Marketing Planning. Karena, hal ini sangat berguna bagi kelancaran produksi.

E. Epilog

Kemiskinan adalah sebuah fenomena, dan musibah nasional bahkan global. Tidak hanya pemerintah yang terus dituntut untuk mengentaskan dan mengatasinya. Tapi lebih dari itu, setiap individu dan atau kelompok untuk terus berusaha mencoba membenahinya. Apalagi sebagai orang muslim, kita harus mencoba membenahi dan membantu saudara kita yang miskin.

Syeikh Yahya Bin Syarofuddin Annawawi dalam kitab minhaj menuturkan untuk menolak kemadharatan orang muslim, baik itu berupa membantu dalam kemiskinan dan atau lainnya. Dan beliau menjelaskan bahwa ini pun termasuk fardlu kifayah[17].

Setelah kita sadar akan banyaknya kebutuhan keseharian (daily need) maka pemenuhan kebutuhan menjadi mutlak adanya. Dan pengentasan kemiskinan pun menjadi pokok.

Melalui GC Method, kita mencoba melakukan ‘gebrakan’ dengan membangkitkan etos kerja, dan tentunya akan berdampak pada kebangkitan perekonomian, terutama bagi kaum santri. GC Method ini pun tidak terus mengedepankan duniawiy dengan menanggalkan ukhrowiy. Tapi lebih dari itu, BEP terus memadukan dua hal ini. Karena duniawiy dan ukhrowiy adalah ibarat dua mata uang yang tidak memungkinkan untuk dipisahkan.

Tidak terlalu mengedepankan duniawi dengan membantu mencarikan win solution bagi sesama anggota, atau lainnya. Membantu dengan menyediakan lapangan pekerjaan melalui perekrutan menjadi anak OcMarket, atau pun bisa menyediakan lapangan pekerjaan dengan menjadi bagian dari produksi.

GC Method adalah sebuah metode dan aplikasinya dalam mengentaskan kemiskinan dan economic problem dalam masyarakat, terutama bagi kaum Nahdliyin. GC Method adalah sebuah ‘proyek’ yang sederhana dan tidak muluk-muluk, karena GC Method sangat mudah untuk dilakukan. Kalau pun dirasakan sulit, itu tidak lain disebabkan dari organisir yang kurang tepat atau pun sebab-sebab lainnya.

Dan akhirnya, dengan GC Method kita akan membangun sebuah ‘peradaban perekonomian’ yang dihalalkan oleh agama, dan menjadi sebuah kemandirian ekonomi pesantren yang jaya.


Setelah melihat Gold Chain ini, maka diharapkan dapat mengurangi dan ataupun membantu mengentaskan kemiskinan, dan tercipta lapangan usaha. Baik itu lapangan usaha yang tersedia melalui EP (Effort Planning) atau MP (Marketing Planning). Dan dengan mendapatkan pekerjaan, maka kemiskinan itu dengan sendirinya dapat teratasi. Wallahu a’lam.

penulis
Muhammad Ufi Ishbar Naufal
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di Madrasah Diniyah, Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

[1] Abduh, Dr. Isa. Iqtishod al islamiy madhal wa manhaj. Hal 65.
[2] Alkharsyi, Abdussalam. Fiqh al fuqoro wal masakin vi alkitab wa alsunnah. Hal.470. cet. Dar el muayad.1423 H.
[3] Elmakarim, Zidan Abul. Binaul iqtishod vi el-islam min elqur’an wa elsunnah. Hal. 67. Cet. Dar elturots. 1378H/1959M.
[4] Q.S. Al-Qashash : 76 - 82.
[5] Tatay, Muhammad. Idlohul ma’aniy alkhofiyyah vi al-arba’in annawawiyah. Hal. 395. Dar el wafa. 1998 M.
[6] Elawadliy, Dr. Raf’at elsayyid. Al-Dlowabit elsyar’iyah lil iqtishod. Hal. 34
[7] Idem. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
[8] Menurut BPS (Badan Pusat Statistik).
[9] http://masjidjami.com/info/pbnu-targetkan-1000-bmt-di-seluruh-indonesia.html
[10] Idem
[11] Echols, M. John. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia.
[12] Idem
[13] Idem
[14] Idem
[15] Idem
[16] Idem
[17] Annawawi, Abi zakariya yahya bin syaraf. Minhajuttolibin. Hal. 518.