Oktober 2015

Syarah al-Durrah al-'Arudhiyyah (شرح الدرة العروضية) ditulis oleh seorang ulama' Kurdistan, Syaikh Nuri bin Baba Ali al-Kardaghi (1956). Beliau seorang ulama' dan penyair yang cukup produktif. Karya-karya beliau mencakup ilmu Nahwu, Shorof, Arudh, dan tentu saja syair yang ditulis dalam bahasa Kurdi, Persi, dan Arab.

Syarah al-Durrah al-Arudhiyyah

Karya-karya syair syaikh Nuri tidak pernah dibukukan semasa hidup beliau. Namun pada tahun 1972, syair-syair syaikh Nuri yang tersebar di berbagai majalah dan surat kabar berhasil dikumpulkan dan dibukukan secara khusus.

Adapun nadhom al-Durrah al-'Arudhiyyah adalah karya syaikh Muhammad Ma'ruf bin Mustofa bin Ahmad al-Nudihi al-Syaharzuri al-Barzanji al-Syafi'i (1838). Seorang ulama' dan dosen di universitas Sulaymaniyah Irak, yang dikenal mengabdikan hidupnya untuk kepentingan ilmu agama.

Jami’ Ad-Durus Al-‘Arabiyyah (جامع الدروس العربية) ini terkenal di kalangan santri penuntut ilmu Nahwu. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama’ dan penyair berkebangsaan Lebonon yang cukup produktif, yaitu Syeikh Mushtafa bin Muhammad Salim Al-Ghulayaini.

Jami al-Durus al-Arabiyah

Kitab Jami’ Ad-Durus Al-‘Arabiyyah ini mengunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bagi para santri yang baru mempelajari ilmu Nahwu dan bahasa Arab. Syeikh Mushtafa dalam kitab ini kerap mengutib syair dan syawahid Arabiyah sebagai contoh-contoh kejadian bahasa realistis di bumi Arab, sehingga tidak aneh jika kitab ini pada tahun 1986 telah naik cetak ulang yang ke-21.

Kitab Jami’ Ad-Durus terbagi dalam tiga juz pembahasan disertai syawahid syair karya Muhammad Haurai, sehingga dapat pula dikatakan bahawa kitab Jami’ Ad-Durus ini termasuk ensiklopedia nahwu dan shorof.

Suatu ketika, kelas 2 Ibtida' di mana saya berkhidmat untuk menyampaikan materi Nahwu menjadi heboh dan ramai sekali. Masalahnya, sebuah pertanyaan iseng berubah menjadi teka-teki yang hampir mustahil dijawab oleh Santriyat yang baru saja mengenal Nahwu itu.


Pertanyaannya: Mengapa Zaid selalu jadi fa'il, dan Amr terus menjadi maf'ul? Pertanyaan ini sudah mengundang berbagai macam jawaban yang sebenarnya tidak salah juga. Namun, dalam tradisi pesantren, menjawab sebuah so'al yang dilontarkan dalam kelas diniyah harus didasari oleh sebuah ibarot (referensi), sehingga santri terbiasa berpendapat tidak sekedar menggunakan ra'yu pribadi namun juga berpedoman pada qaul para ulama'.

Sayangnya, santriyat Hikmatul Banat li Ahlin Najiyah kelas 2 ibtida' ini belum menemukan referensi kuat. Sehingga belum ada jawaban yang disepakati kebenarannya.

Mereka belum mengetahui bahwa pertanyaan serupa pernah dilontarkan seorang menteri Turki, dan mengakibatkan ratusan ulama' dipenjara sehingga madrasah-madrasah pun menjadi sepi.

Karena mencari kesalahan Amr, ratusan ulama' Turki dipenjarakan

Dalam kitab An-Nadharat karya Syaikh Musthafa Luthfi Al-Manfalti (I/307), disebutkan bahwa Daud Pasya, seorang menteri dalam pemerintahan Daulah Utsmaniyah Turki, ingin belajar Bahasa Arab. Lalu dia mendatangkan salah seorang ulama untuk mengajarinya. Setiap kali sang guru menjelaskan i’rab rafa’ dan nashab atau fa’il dan maf’ul, ia mencontohkan dengan lafadz “Dharaba Zaidun Amran”, yang berarti Zaid memukul Amr.

Sang Menteri lalu bertanya: “Apa salah Amr sampai-sampai Zaid memukulnya tiap hari?, Apakah Amr punya kedudukan lebih rendah dari pada Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan Amr tidak bisa membela diri?”. Daud Pasya menanyakan ini sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan sangat marah.

Guru menjawab :"Tuanku, tidak ada yang memukul dan tidak ada yang dipukul!. Ini hanya contoh saja yang dibuat ulama Nahwu untuk memudahkan belajar kaidah-kaidah Nahwu”.

Sang Menteri tidak puas dengan jawaban tersebut. Di puncak kemarahannya, ia perintahkan ulama yang telah menjadi gurunya itu untuk dikurung dalam penjara.

Kemudian Daud Pasya memerintahkan bawahannya untuk memanggil ulama Nahwu lainnya. Ia menanyakan pertanyaan tersebut kepada mereka. Jawaban mereka sama, hingga banyak ulama' Turki dipenjara akibat jawaban yang tidak dapat memuaskan hatinya. Tak seberapa lama kemudian penjara pun menjadi penuh oleh para ulama, dan madrasah-madrasah semakin sepi ditinggal pengajar.

Permasalahan ini membuat Daud Pasya melalaikan tugas-tugas kenegaraan yang seharusnya mengedepankan kemaslahatan masyarakat umum, hingga akhirnya ia berfikir untuk mengutus anak buahnya mengundang ulama-ulama Nahwu dari Baghdad. Mereka pun datang menghadiri udangan Menteri dipimpin seorang ulama yang paling alim, cerdas, cakap, dan cerdik.

Di hadapan para ahli Nahwu Baghdad ini, Daud Pasya kembali bertanya: “Wahai ulama' Baghdad, apa salah Amr hingga ia selalu dipukul Zaid?”

Ulama yang paling alim dari para ulama Baghdad tersebut tanpa gentar maju menjawab pertanyaan sang Menteri: “Kesalahan Amr adalah karena ia telah mencuri wawu yang seharusnya menjadi milik Anda”.

Ia menunjuk huruf wawu dalam lafadz Amr setelah huruf ro’ (عمرو). Ia menjelaskan jawabannya: “Dan huruf wawu ini lah yang saharusnya ada dalam lafadz Daud. Lihat! Wawu lafadz Daud hanya satu (داود), yang seharusnya ada dua (داوود)!”. Karena itu, ulama Nahwu memberikan wewenang pada Zaid untuk memukul Amr sebagai hukuman atas perbuatan nya.

Mendengar jawaban itu, Sang menteri benar-benar puas dan memuji ulama tersebut. Ia menawarkan hadiah, apa saja yang anda kehendaki. Namun ulama itu menjawab: “Aku hanya memohon agar para ulama yang anda penjarakan segera dibebaskan”.

Sang Menteri mengabulkannya, seluruh ulama' Turki dibebaskan dari penjara. Ia juga memberikan banyak hadiah kepada para ulama Baghdad yang dianggap sudah berjasa tersebut.

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Tahun baru Islam yang hari ini dirayakan umat Muslimin seluruh dunia, sebenarnya adalah produk politik yang dikeluarkan semasa kekhalifahan sayyidina Umar bin Khattab RA. Mulanya beliau mengeluarkan keputusan ini atas dorongan motivasi perbaikan manajemen sistem kenegaraan yang saat itu dirasa membingungkan. Lebih jelasnya, baca sampai selesai artikel yang kami tulis ini.


Sejarah perumusan kalender Islam

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul-Baari (VII/268), menyebutkan secara rinci runutan kelahiran penanggalan Hijriyah tersebut. Beliau meriwayatkan bahwa setelah 2 setengah tahun Umar RA menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada tahun ke 17 Hijriyah, Khalifah mendapat surat yang dikirimkan oleh salah satu gubernurnya, yaitu Abu Musa al-Asy'ari. Sang Gubernur mengadukan kebingungannya; karena banyak surat sayyidina Umar yang datang ke beliau tapi tidak ditandai dengan tanggal.

Dalam rak Abu Musa RA terdapat banyak surat kenegaraan penting, namun beliau (Abu Musa al-Asy'ari) merasa bingung menentukan mana surat yang baru dan mana yang lama, mana perintah terbaru dan mana perintah yang sudah lewat. Karena itu beliau meminta kepada sayyidina Umar untuk membuat sebuah penanggalan resmi agar tidak terjadi lagi kebingungan di antara pejabat bawahannya.

Aduan Abu Musa akhirnya membuat sayydina Umar RA memanggil semua staf dan orang-orang pentingnya untuk berdiskusi merumuskan dan memformulasikan sebuah kalender penanggalan agar tidak lagi ada yang merasa kebingungan. Selain itu juga, penanggalan akan sangat membantu kinerja para staf, gubernur, serta kaum muslimin secara lebih luas.

Kesepakatan tahun baru Islam

Dalam diskusi tersebut, disepakati bahwa kaum muslimin harus memiliki standarisasi penanggalan demi terciptanya kemaslahatan bersama. Namun, mereka masih berselisih dalam menentukan kapan tahun pertama itu dimulai dalam penanggalan Islam nanti?

Ada suara yang mengusulkan tahun pertama sebaiknya dimulai di tahun Gajah; tahun dimana Nabi SAW lahir. Ada juga yang berpendapat di tahun wafatnya Nabi. Dan tidak sedikit yang memiliki ide di tahun Nabi diangkat menjadi Rasul Allah, waktu dimana wahyu pertama kali turun. Dan tentu juga terdapat usulan supaya dihitung mulai tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah.

Dari 4 opsi tersebut, Amirul Mu'minin sayyidina Umar RA memutuskan untuk memulai hitungan tahun di tahun hijrahnya Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah sesuai usulan dan rekomendasi sayyidina Utsman dan Ali RA.

Tahun kelahiran dan tahun diangkatnya baginda menjadi Rasul tidak dipilih, karena memang ketika itu mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir, dan kapan wahyu pertama kalinya turun.

Sedangkan tahun wafatnya baginda Nabi SAW, sayyidina Umar menolak menjadikannya sebagai awal tahun karena di tahun tersebut kaum muslimin sangat berduka.

Akhirnya Amirul Mu'minin memilih tahun hijrahnya Nabi; selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah Nabi juga dianggap sebagai pembeda antara yang haqq dan yang bathil, serta menjadi tonggak awal kebangkitan dan kejayaan umat Islam setelah sebelumnya tertindas dan hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Itulah mengapa kalender Islam dinamakan kalender Hijriyah; karena yang menjadi acuan awalnya ialah tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

Muslimin bukan yang pertama memakai kalender Qamariyah

At-Taqwim al-Qamari (Kalender Bulan) sejatinya sudah digunakan jauh sebelum masa Nabi SAW. Dinamakan Qamariyah, karena perhitungan tanggalnya didasarkan peredaran bulan (qamar). Dan metode penanggalan ini sudah dipakai oleh bangsa Arab sejak ratusan dekade.

Bangsa Arab pra Islam (Jahiliyah) sudah mengenal nama-nama bulan Rabi' al-Awwal, Rabi' al-Tsani, Rajab dan sebagainya. Jadi jelas sudah bahwa nama-nama bulan dalam kalender Islam bukan berasal dari wahyu. Tentang nama-nama bulan dalam kalender Hijriah akan kita bahas dalam artikel selanjutnya (Insya Allah).

Muharram sebagai bulan pertama Hijriyah

Setelah dicapai kesepakatan tahun Nabi Hijrah sebagai tahun pertama. Musyawirin berselisih pendapat dalam penetuan bulan yang menjadi awal tahun Hijriyah.

Tentu ada yang menawarkan bulan Rabi' al-Awwal sebagai bulan pertama tahun Hijriyah. Karena di bulan itu Nabi SAW berhijrah. Akan tetapi sayyidina Umar RA memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama pada susunan tahun Hijriyah. Keputusan itu beliau ambil selain karena rekomendasi sayyidian Utsman RA, juga karena alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabi' al-Awwal, akan tetapi muqadimah (permulaan) hijrah terjadi sejak di bulan Muharram.

Umar bin Khattab RA mengatakan bahwa wacana hijrah itu sudah muncul setelah beberapa sahabat Anshar membai'at Nabi, dan bai'at itu terjadi di penghujung bulan dzul-hijjah. Semangat bai'at itulah yang kemudian mengantarkan Nabi dan sahabat kaum Muhajirin untuk berhijrah. Dan bulan yang muncul setelah Dzul-hijjah ialah bulan Muharram. Karena itu beliau memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah.

Kesimpulan dan penutup

Penghitungan tahun Hijriyah secara resmi memang dimulai pada era Khulafa'ur Rasyidin ke-2. Tidak ditemukan ada riwayat apapun yang mengatakan bahwa perhitungan kalender ini petunjuk langsung dari baginda Nabi Muhammad SAW ataupun wahyu Allah. Benar pula jika masyarakat Arab Jahiliyah sudah mengenal metode penanggalan Qamariyah yang juga digunakan dalam penanggalan Hijriyah.

Namun bukan berarti salah jika kita menyebut kalender Hijriyah sebagai kalender Islam. Karena sistem penanggalan ini juga digunakan dalam aturan ritual peribadatan kaum Muslimin, seperti penentuan ibadah puasa Ramadhan, Shalat Ied, Zakat dan Haji. Bahkan penentuan usia baligh pun didasarkan pada hitungan Qamariyah bukan Syamsiyah.

jadi, masihkah ada yang berpendapat penanggalan Hijriyah adalah bid'ah? Bagaimana pendapat antum?

Riset yang dilakukan oleh sekelompok imuwan Inggris menegaskan bahwa poligami dapat memperpanjang usia pelakunya hingga 12% melebihi lelaki lain yang tidak menikah atau monogami. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa poligami merangsang kebahagiaan, memperbaiki kondisi profesional dan material.

Penelitian ini dipublikasikan dalam pertemuan tahunan International Society for Behavioral Ecology di Ithaca, New York, Amerika Serikat.

Para peneliti dari Universitas Sheffield melaporkan "Seorang pria yang menikahi dua wanita, lebih mampu merasa nyaman dan memiliki rasa percaya diri lebih besar, hingga dapat meraih rencana dan impian."

Para peneliti menyimpulkan bahwa "poligami merupakan rahasia panjang umur dan kebahagiaan masyarakat terdahulu." Kesimpulan ini berdasarkan data-data milik Organisasi Kesehatan Dunia yang memaparkan statistik kesehatan masyarakat di negara-negara yang mengizinkan perkawinan poligami.

Salah seorang peneliti, Lance Workman, spesialis psikologi dari Bath Spa University of British, mengatakan "Semua itu (kesehatan dan panjang usia) dikarenakan Anda memiliki lebih dari satu istri yang merawat Anda. Seperti yang kita tahu bahwa pria yang menikah lebih merasa bahagia dan berpotensi memiliki usia lebih panjang daripada yang tidak menikah".

Virpi Lummaa, ahli ekologi dari Inggris menjelaskan bahwa pria yang berpoligami masih memiliki kualitas alat reproduksi yang baik bahkan sampai berusia 80 tahun. Hal inilah yang diperkirakan memperpanjang usia pria tersebut. Pria poligami akan lebih panjang umur berkaitan dengan faktor sosial dan genetika. Pria tersebut akan terus berjuang menghidupi anak-anak dan istrinya sehingga kemungkinan ia akan lebih baik dalam menjaga kesehatannya.

“Inti dari penelitian ini mengemukakan bahwa kemungkinan para pria poligami dapat lebih panjang umur hanya jika ia bisa memperhatikan dan memperlakukan semua istri dan anaknya dengan adil,” ujar Wilson, seorang antropolog dari Cornell University di Ithaca, New York.

Via. Alyaum.com

Setelah seorang lelaki berhasil mempersunting wanita shalihah idamannya, tak lagi ada yang ia inginkan melebihi ilmu amalan memperlancar rezeki. Sehingga dengan mudah ia akan membangun rumah tangga harmonis yang mengundang ketentraman dan kasih sayang.

Rezeki yang mengalir lancar merupakan kunci hadirnya kebahagiaan, sebuah alasan untuk istri menghargai suami, jaminan pendidikan dan masa depan anak-anak sehingga terwujudlah Baiti Jannati, rumahku adalah sorgaku.

Meski tujuan pernikahan bukan semata-mata hanya pemenuhan hasrat jasmaniah belaka, namun juga terdapat dimensi ketaatan ibadah di dalamnya. Namun, keinginan untuk mendapatkan rezeki yang melimpah adalah sah-sah saja, dan diperbolehkan dalam agama.

Memang tak sepenuhnya benar jika dikatakan bahwa rezeki yang banyak merupakan kunci kebahagiaan rumah tangga. Bahagia tidak bisa diukur dengan materi belaka. Betapa banyak mereka yang dari luar kelihatan berkecukupan harta, tapi memendam kepedihan yang tersembunyi. Namun rezeki sebenarnya bukan sekedar tumpukan materi. Karena itulah lelaki yang sanggup membahagiakan istrinya, maka ia telah menguasai ilmu amalan memperlancar rezeki.

Kebahagiaan istri memperlancar rezeki

Rezeki sebenarnya bukan cuma makanan yang kita makan, minuman yang kita minum, pakaian yag disandang, ataupun rumah yang ditinggali. Namun rezeki adalah segala hal yang membuat kita merasa bersyukur kepadaNya. Maka, jika dikatakan kebahagiaan istri dapat memperlancar rezeki suami, cukup rasional. Inilah alasannya:
  1. Istri yang bahagia menjalani hidup dengan positif.
  2. Istri yang bahagia dipenuhi rasa syukur dan ini akan menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan rumah tangga, termasuk rezeki.
  3. Istri yang bahagia akan senantiasa mendoakan suaminya, doa yang ikhlas dari hati yang dalam agar suaminya dilindungi dalam setiap langkah dan dipermudah jalan rezekinya.
  4. Istri yang bahagia akan menjadi partner yang menyenangkan bagi suami, membuat suami tenang untuk bekerja dan mencari rezeki bagi keluarga.
  5. Istri yang bahagia akan menjadi pendukung utama suaminya bukan hanya di saat susah tetapi di saat sedih dan menghadapi masalah.
  6. Istri yang bahagia dapat diandalkan suaminya untuk mendidik anak-anak yang bahagia. Anak-anak yang bahagia akan menjadi anak-anak yang saleh, berbakti dan berguna bagi masyarakat.
  7. Istri yang bahagia menjadi tanda bahwa suami memperlakukan istri dengan baik. Allah menyukai hambanya yang berbuat baik. Orang baik rezekinya juga baik.
Demikianlah alasan mengapa Anda perlu membahagiakan istri. Buat apa sih suami banting tulang mencari rezeki, mengucurkan keringat tanpa lelah kalau tidak mampu membuat istri bahagia? Wahai para istri berterima kasihlah pada Allah dan juga pada suamimu atas semua rezeki Allah yang membahagiakan hatimu dengan senantiasa taat pada perintah Allah dan perintah suami (yang tidak bertentangan dengan perintahNya).

Haji Badri dari Indonesia mengundang kekaguman masyarakat Islam di Saudi Arabia lantaran dianggap berhasil mengamalkan tauladan Rasulullah saw. Bapak berusia 53 tahun itu tak lelah menggendong ibunya selama ritual ibadah Haji tahun 1436 H (2015) ini.


Tauladan Rasulullah

Media lokal 'Al Madinah' menyebut Haji Badri sebagai Uwais Al-Qorni dari Indonesia karena baktinya yang luar biasa terhadap ibunya.

Uwais Al-Qorni adalah seorang ulama' dari golongan Tabi'in yang pernah diceritakan oleh Rasulullah saw sendiri. Bahkan beliau memerintahkan sahabatnya untuk meminta do'a dari Uwais.

Khalifah Umar Bin Khatab ra meriwayatkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir (Uwais Al-Qarni) bersama serombongan dari Yaman. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Jama'ah Haji yang telah mengharumkan nama bangsa ini menunaikan ibadah Haji bersama ibundanya yang telah sepuh berusia 85 tahun. Mulai dari berangkat dari rumah di Indonesia hingga menuntaskan pelaksanaan Rukun Haji, beliau tidak terlihat lelah merawat, menggendong ibunya kemananapun sampai saat ini.

Semoga beliau dan ibundanya diberikan Haji Mabrur, senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin. Keberhasilan beliau dalam mentauladani Rasulallah saw menjadi insporasi bagi kita semua.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget