November 2015

Kitab Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfadh al-Minhaj (مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج) merupakan kitab fiqh madzhab Syafi'i karya al-Imam Syams al-Din Muhammad ibn Ahmad al-Khotib al-Syirbini (977H). Kitab ini merupakan uraian (syarah) untuk kitab Minhaj al-Thalibin karya Imam al-Nawawi yang dianggap sangat penting dalam perkembangan fiqh madzhab Syafi'i.

Mughni al-Muhtaj

Kitab Mughni al-Muhtaj ini mendapat sambutan yang luar biasa besar dalam dunia Islam, kerana dalam mengurai kata-kata Minhaj yang sulit difahami, pengarang menggunakan bahasa yang ringkas namun padat akan ma'na sehingga menjadikannya mudah dimengerti. Selain itu, al-Khotib al-Syirbini juga membahasakan topik dengan menarik.

Pandangan-pandangan fiqh al-Khotib al-Syirbini diyakini merupakan pendapat mu'tamad dalam mazhab Syafi‘i. Yaitu pandangan-pandangan beliau mengenai sesuatu permasalahan yang tidak disentuh dalam karya-karya al-Imam Ibn Hajar al-Haytami, al-Imam Syams al-Din al-Ramli dan al-Shaykh Zakariyya al-Ansari.

Sekuler merupakan sebuah ideology yang memisahkan antara daulah (negara) dengan kanisah (gereja). Ya, awal mulanya sekuler terjadi di dunia barat. Bagi sang Sekuler, ada ‘terbesit’ tidak puas dengan otoriter gereja (pada waktu itu). Pihak Kristen yang terus ‘bergandengan’ tangan dan menjadi landasan kebijakan pihak daulah (kenegaraan, red). Hal ini, yang menjadi benih sekuler ditumbuhkan. Rasa tidak puas dan merasa paling benar dan tidak butuh patuh pada petuah kanisah.

sekuler

Gerakan penebaran benih pemisahan ini sangat bergejolak, baik memunculkan ideology yang sangat bertentangan dengan gereja seperti Aristoteles yang menyatakan bumi itu bulat karena (bagi gereja) bumi itu datar, atau pun berbagai macam ideology lainnya. Tidak cukup disitu, gerakan pemisahan ini pun direalisasikan dalam bentuk lain, baik itu menghasut dan sebagainya.

Kemudian apa yang terjadi? Mereka berhasil. Coba kita menilik Turki, Kemal Attaturk berhasil meruntuhkan Turki Ottoman, Dia pun menebarkan sekularisme. Rakyat dihasut agar membenci kerajaan, umat muslim pun dipecah belah.

Kalau kita teliti, sebenarnya Sekularisme itu dibangun dengan ambisi yang besar. Ambisi berdasarkan ideologi materialistis yang bertujuan untuk memiliki kuasa dan harta. Ambisi ini tidak akan padam meskipun kekuasaan dan harta itu telah terkumpul. Sekularisme juga dibangun dari ‘gerakan bawah tanah’. Ya, sebuah gerakan protes rakyat yang anti pemerintahan.

Lantas, apa dampak dari pemisahan antara pemerintahan dengan gereja? Dampaknya sungguh sangat luar biasa. Diantaranya adalah:

1. Pemisahan individu dari individu lainnya

Sekuler ‘sukses’ menumbuhkan benih egois antara satu individu dengan individu lain. Ya, bahkan kita tidak jarang menyaksikan ‘pemandangan’ ini atau ‘bed view’ pada masyarakat perkotaan modern.

Pemukiman kota tidak mengenal satu tetangga ke tetangga lain. Ya, memang suatu pemandangan yang tidak wajar dan jauh dari ‘ruh keindonesiaan’ yaitu ruh gotong royong, dan jelas jauh dari ruh keislaman, Allah berfirman, “Sesungguhnya mukmin adalah bersaudara, dan perbaikilah persaudaraan kalian” (QS. alhujurat:10).

Tidak cukup disitu, ada lagi yang baru yaitu ‘generasi merunduk’. Yups, generasi pemuda yang hanya mencatut matanya di depan layar ponsel. Entah, merunduk itu membaca SMS, mengupdate status FB, mentweet temannya dan sebagainya. Ya, merunduk tentunya tidak akan menghiraukan satu sama lain. Sebuah pemandangan aneh bukan? Lantas, siapakah yang menciptakan mereka menjadi generasi merunduk? Ataukah rakyat kota benar-benar berubah menjadi masyarakat egois?

2. Pemisahan lawan jenis

Pergerakan sekuler tidak cukup disitu, mereka mencoba memisahkan satu lawan ke lawan jenis yang lainnya. Kaum Adam dipisahkan dengan kaum Hawa. Maksud pemisahan disini adalah pemisahan dari arti ‘ruh kemanusiaan’ dan fitrah manusia. Kalaupun kedua jenis ini berinteraksi, mereka hanya berinteraksi dengan dasar syahwat belaka. Ketika hal ini dijadikan mainpoint, maka hanya interaksi yang dilandaskan kenikmatan duniawi saja yang dipikirkan. Kenikmatan yang hanya sekejap. Hubungan bebas, pacaran dan interaksi haram lainnya akan tumbuh subur. Dampak negatif dari fenomena ini sangatlah jelas dan mencengangkan, HIV, AIDS, broken home dan seterusnya. Dampak yang tentu sangat tidak kita inginkan.

Hal ini sangat berbeda dengan teori Islam tentang interaksi Adam-Hawa. Dr. Muhammad Said Ramdlan Buti dalam karyanya “Al Mar’ah” menyebutkan, bahwa tujuan yang lebih penting dalam interaksi Adam-Hawa (dalam hal ini adalah menikah) ialah tercapainya kehidupan terarah, kedewasaan, menciptakan ‘hawa’ mawaddawah wa rahmah, serta menumbuhkan benih-benih yang ‘siap’ menjadi estafet Adam-Hawa itu sendiri.

3. Dan terakhir, Pemisahan agama dan negara

Ini adalah rentetan sebuah gerakan ‘non interaksi’ yang digairahkan oleh kaum sekuler. Mereka mencoba menggiring kesebuah ‘peradaban’ yang memaksakan pemisahan antara negara dan agama. Agama dan negara dijadikan seolah bertentangan, yang berakibat dikotomi dan pengkotakan satu sama lain. Agama hanya mempunyai wilayah di masjid, surau, madrasah, atau pun wilayah lainnya yang sangat jauh dari wilayah negara. Negara hanya berdiri dengan undang-undang kenegaraan bukan undang-undang keagaaman.

Yang pasti akan terjadi adalah; negara menjadi ‘liar’ dengan undang-undang dan logika manusia. Sementara agama hanya terbatas berkutat di urusan surau, masjid dan madrasah. Undang-undang pun dibuat jauh dari undang-undang syariat Islam. Maka, tidak jarang yang dicetuskan adalah undang-undang yang bertolak belakang dengan agama. Misal, undang-undang larangan poligami bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Padahal, agama tidak pernah melarang itu, baik PNS atau pun Non PNS, iya bukan?

Lantas timbul sebuah pertanyaan, “Kenapa sekuler terus menggurita dan merambah dunia Islam, toh padahal ideology sekuler muncul di dunia Kristen?”. Tentu ini adalah sebuah fenomena tersindiri. Ya, fenomena tertular virus sekuler. Sebenarnya, umat Islam tidak harus mengikuti ‘trend’ sekuler yang sudah menggurita itu, tapi lebih dari itu, umat muslim harus bersatu padu untuk saling mengingatkan satu sama lain. Watawashoubil haqqi watawashoubisshobr.

Fenomena sekuler memaksa kita untuk menela’ah pedoman hidup kita, Alqur’an. Allah berfirman, “Mereka melupakan Allah, dan Allah telah melupakan mereka” (QS. Attaubah: 67), atau pun ayat yang lainnya, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, Karena lantas Allah melupakan diri kalian” (QS. Alhasyr:19). Dua ayat ini jelas memberikan indikasi bahwa sebenarnya bukan kita yang melupakan Allah, tapi Allah lah yang akan meninggalkan kita. Berbanding lurus bukan? Ya, Sebuah pemandangan ‘lurus’. Jika kita melupakan Allah, maka Allah pun akan melupakan kita.

Jadi, dengan kita melupakan dan meninggalkan Allah, maka Allah lah yang akan meninggalkan kita. Dan setelah kita meninggalkan Allah, yang terjadi kita akan menjadi terasing. Terasing dengan terisolasi antar individu, terisolasi antar Adam-Hawa, dan terisolasi antara korelasi agama-negara.

Dan terakhir, setelah kita melihat berbagai macam fenomena sekuler yang menggurita, Alqur’an pun menyindirnya. Maka, untuk menanggulanginya adalah hanya dengan mendekatkan diri pada Allah, patuh pada perintah dan laranganNya. Dan jimat terpenting adalah, “tidak pernah menganggap ideology itu bagus selain ideology Islam, dan tidak lupa terus menfilterisasi berbagai macam ideology yang ada”. Allah berfirman, “Hari ini, aku telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan bagi kalian nikmatku, dan aku rela islam menjadi agama kalian” (QS. Almaidah:3). Wallahu a’lam bisshowab.

Nb. Artikel ini ditulis setelah mengikuti kuliah umum Alhabib Prof. Abdullah Baharun (Rektor Al-Ahgaf). Tentunya dengan perubahan dan penambahan.

penulis
Muhammad Ufi Ishbar Naufal
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di Madrasah Diniyah, Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

Gold Chain Method for Building Economic Poor
( Metode Rantai Emas Untuk Pengentasan Kemiskinan)
Oleh : Muhammad Ufi Ishbar Naufal
Identitas terkadang penting dan memberikan dampak ‘positif’ pada sebuah revolusi. Tapi, tidak pada santri. Dan santri layak untuk tetap ‘PeDe’ dengan identitasnya dan terus melaju ikut membangun sebuah roda emas dari kemiskinan. Dan dari pesantren, kita berjaya!
(penulis)

A. Prolog

Manusia lahir di dunia ini lengkap dengan berbagai macam kebutuhan. Dan kebutuhan itu menjadi lazim adanya. Mulai kebutuhan yang bersifat primer (kebutuhan pokok) seperti sandang, pangan dan papan (tempat tinggal), kebutuhan sekunder, dan ada kebutuhan tersier.

Semenjak bayi, manusia membutuhkan bubur sebagai konsumsinya, baju, pampers dan sebagainya. Pelajar membutuhan uang saku, buku, dan ada yang lainnya. Orang tua dan semua manusia membutuhkan sesuatu yang disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

Alqur’an ‘menyindir’ hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Ali-Imron (14):
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dr. Isa Abduh membagi kebutuhan (Need) manusia menjadi dua. Yaitu kebutuhan umum (hajah ammah) dan kebutuhan tertentu (Hajah Khossoh). Hajah Khossoh adalah kebutuhan yang diperlukan bagi individu atau anggota keluarga tertentu, seperti makanan pokok, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Adapun Hajah ammah merupakan sebuah kebutuhan yang lingkupnya lebih luas lagi. Seperti menjaga keamanan sebuah negara dan atau sebuah populasi, kesehatan umum, menyeimbangkan harga pasar dan sebagainya.[1]

Setelah secara ‘emosi’ manusia itu membutuhkan banyak hal untuk memenuhi kebutuhannya, maka tidak dapat memungkiri mereka akan bertindak ‘anarkis’ dan bahkan jahat untuk memenuhi kebutuhannya tadi. Maka tidak asing kita melihat pencurian, perampokan, dan sikap anarkis lainnya yang didasari untuk memenuhi ambisinya dalam mencapai tarjetnya.[2]

Abu Zidan Elmakarim menuturkan bahwa harta bisa merusak diri seseorang, imannya, dan lain sebagainya.[3] Allah menjelaskan tentang hal ini dengan menuturkan cerita tentang Karun yang diadzab dengan dibenamkan ke dalam bumi[4], dan atau kisah-kisah yang lainnya. Begitu pula sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh albazzaz. Nabi menuturkan akan bahaya fakir, tapi beliau pun lebih mengkhawatirkan umatnya yang berkecukupan. Karena beliau tidak mau fenomena adzab di jaman terdahulu menimpa pada umatnya.[5]

Setelah kita menyadari akan bahaya sebuah kemiskinan, maka kita akan mencoba untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengidentifikasikan sumber kemiskinan itu sendiri. Karena kemiskinan bukan sebuah ‘harga mati’ yang tidak bisa dirubah. Tapi kita harus selalu berupaya untuk mengubahnya dengan terus bertawakal dan berdoa.[6] Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur arab badui setelah diketahui menelantarkan untanya, dia berkomentar tentang tawakkal pada unta tadi. Dan nabi menegurnya dengan mengikat untanya dulu kemudian bertawakal.[7]

A.1. Studi Kasus

potret kemiskinan di Indonesia
Indonesia adalah negara kaya. Mempunyai berbagai jenis pepohonan, perkebunan, perhutanan, dan sebagainya. Indonesia pun diapit oleh dua samudera, hindia dan pasifik. Dan tentunya, kekayaan laut pun sangat melimpah.

Akan tetapi, masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th. XIV, 1 Juli 2011 Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen). Adapun No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 persen).[8]

Dan sekitar 88 persen penduduk Indonesia adalah muslim. Dari data tersebut, sekitar 35 persen diantaranya adalah jamaah Nahdatul Ulama’ (NU). Dengan kata lain, jumlah warga NU sebanyak 71,14 juta jiwa dari populasi penganut Islam sebanyak 203,28 juta jiwa.[9]

Diasumsikan, sekitar 30% dari warga NU atau sebanyak 21,34 juta berada dalam kategori miskin. Angka kemiskinan warga NU tersebut paling tidak mencapai 65,6% dari jumlah penduduk miskin yang diklaim pemerintah pada tahun 2009 yaitu sebesar 32,53 juta jiwa.[10]

Dari problem view tadi, kita bisa melihat betapa ‘mirisnya’ kaum nahdliyyin, yang lumrahnya diasumsikan sebagai kaum santri. Tentunya, problem view ini tidak bisa dibiarkan menggelinding dan pasrah begitu saja atas nama tawakal. Namun kita sendiri yang harus berusaha sekuat tenaga untuk mengubah, sementara setelah itu, kita akan tawakal dan pasrah padaNya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Arra’d : 11). Dengan tegas, Allah menyindiri akan perintah untuk berusaha, tapi tidak lupa untuk tidak menyampingkan berdoa.

A.II Faktor Penyebab Kemiskinan

Faktor penyebab kemiskinan, diantaranya adalah:

  1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang lemah
  2. SDM sangat dibutuhkan seseorang dalam pengentasan kemiskinan. Karena, ide, kreasi, inovasi dan sebagainya itu muncul dari potensi seseorang. Dan SDM yang lemah ini mempengaruhi untuk bersikap ‘bodoh’ dan acuh tak acuh akan situasi dirinya. SDM lemah juga mendorong seseorang untuk bersikap pasrah dan tawakal. Dan tentunya dengan gaya pikir lemah akan menimbulkan gaya hidup pasrah dan acuh tak acuh akan kemiskinan. Ini berakibat sulit untuk keluar dari kubang kemiskinan.

  3. Produktivitas dan gairah kerja rendah
  4. Diantara penyebab kemiskinan adalah produktivitas dan etos kerja yang rendah. Indonesia memiliki banyak sumber daya alam. Akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan produktivitas dan etos kerja yang tinggi, maka sumber daya alam itu pun tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Dan jelas, maka pengentasan kemiskinan akan jauh dari harapan.

  5. Kurangnya lapangan pekerjaan
  6. Lapangan pekerjaan menjadi mutlak dibutuhkan. Karena dengan tersedianya lapangan pekerjaan maka seseorang mempunyai ‘harapan’ dan ‘andaian’ untuk bangkit dari keterpurukan. Apalagi, bagi seseorang yang kurang memiliki berbagai macam kreativitas. Dan kurangnya lapangan pekerjaan menjadi salah satu penyebab merebaknya kemiskinan.

B. Uraian judul

B.1. Arti kata

  • Gold artinya adalah emas, kencana[11].
  • Chain artinya adalah rantai[12].
  • Method artinya yaitu cara, metode[13].
  • Building yang terdiri dari patron kata dasar build dan tambahan ing artinya adalah pembangunan[14].
  • Economic artinya adalah masalah-masalah ekonomi[15].
  • Dan Poor artinya adalah miskin atau melarat[16].
Dari arti di atas, berarti Gold Chain Method (disingkat GC Method) adalah sebuah gerakan ‘rantai’ emas untuk mengentaskan problem-problem kemiskinan. Dikatakan rantai, karena didalam metode GC Method ini, akan ada sebuah keterikatan dan rantai antara satu anggota ke anggota lain, dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Dan mainstream dari GC metode adalah kesejehteraan berantai dari satu anggota ke anggota lain. Yang akhirnya tercipta kesejahteraan umum atau maslahah ‘ammah. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

C. Penjelasan GC Method

C.1. Pembangunan BFC ( Building of Financial Capital)

BFC atau Building of Financial Capital adalah pembangunan dan penggalian modal. Tahap awal ini sangat urgen. Karena, suatu kemustahilan dalam sebuah pergerakan ekonomi tidak diawali dan didasari dengan modal. Dan tentunya, tidak cukup dengan ‘modal’ berani atau semangat. Tapi lebih penting dari itu, dibutuhkan modal berupa financial.

Adapun metode BFC bisa berupa :
  • Pengumpulan Modal dari anggota
  • Pengumpulan modal dari anggota ini bisa berupa penarikan sejumlah uang yang sama dan dikelola secara bersama. Dan ini berupa akad syirkah. Dan dalam program GC method ini yang lebih diutamakan adalah pengumpulan dana dari banyak anggota.
  • Modal dari Bank dan atau lembaga simpan pinjam
  • Pengumpulan dana dari bank atau lembaga simpan pinjam ini berupa meminjam atau hutang sejumlah uang pada bank, dan setelah itu dikelola.
Tapi, penulis lebih menitikberatkan BFC dari anggota. Karena jika modal dari bank, maka akan mengalami banyak hal yang tidak menguntungkan, diantaranya adalah bunga dan kerugian ditanggung perorangan. Berbeda dengan penarikan modal dari anggota. Maka, kerugian ditanggung bersama, dan suku bunga pun tidak ada. Dan sifat kekeluargaan dalam GC method ini lebih dikedepankan.

C.2. Rancangan Usaha (Effort Planning)

Tahap Effort Planning atau disingkat (EP) ini dilakukan setelah tahap awal yaitu modal sudah tersedia. Tahap EP ini dilakukan dengan membidik bisnis yang memang berpeluang, baik secara financial atau keuntungan bersama secara keanggotaan.

EP ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, dan asal bidik saja. Karena, akan berdampak fatal. Tapi, bukan berarti tidak berani membidik atau bergerak. Lebih dari itu, EP harus melihat peluang dan efesiensi suatu planning record atau planning usaha. Dan dalam makalah ini akan dijelaskan tentang EP berupa usaha budidaya lele yang akan dijelaskan berikut ini.

C.3. Rancangan Marketing (Marketing Planning)

Step ini tidak jauh pentingnya dari step-step sebelumnya, karena marketing-selling ini sangat dibutuhkan oleh sebuah bisnis. Dan tentunya, GC Method mempunyai trik untuk marketing ini. Dan diantara caranya adalah sebagai berikut :
  • Octopus Marketing (OcMarket)Atau (Gurita pemasaran)
  • Kita tahu, bahwasanya organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi besar, dengan pengikut yang banyak. Dan Indonesia memiliki penduduk yang besar. Oleh karena itu, ini adalah pangsa pasar yang sangat menggiurkan. Tentunya, tidak harus pangsa pasar adalah Nahdliyin (warga NU), tapi jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar pun sangat menguntungkan bagi sebuah usaha. Adapun OcMarket atau Octopus Marketing (Gurita Pemasaran) adalah metode pemasaran yang melakukan selling kepada konsumen secara langsung, atau pun dapat melakukan perekrutan untuk menjadi tengkulak.
  • Star Marketing Planning (Smar-P)
  • Star Marketing Planning adalah sebuah perencanaan Bintang pemasaran. Dikatakan bintang, karena produsen akan menjual sendiri. Dan planning ini bisa berdampak positif dan negative. Adapun dampak positifnya adalah:
    • Produsen bisa mengatur harga pasar sendiri.
    • Produsen mampu mendapatkan untung lebih, karena tidak harus memikirkan harga ‘di tangan kedua’, dan konsumen bisa langsung menikmati harga dari produsen.
    • Produsen bisa lebih kreatif dan lebih mendengarkan suara konsumen, karena terjadi kontak langsung dengan konsumen.
    Dan, dampak negativnya adalah:
    • Metode ini sangat menguras waktu dan melelahkan, karena produsen disamping dipaksa memikirkan produksi, juga dipaksa menguras tenaga untuk marketing-selling.
    • Berdampak negative jika tidak diimbangi dengan relasi dan affiliate yang kuat untuk marketing.
    • Metode ini pun sangat berbahaya jika tidak diimbangi dengan ‘fitrah’ manusiawi, karena produsen mampu memonopoli harga dan barang produksinya.

D. Studi Pendalaman, Aplikasi dan Pengayaan dari Gold Chain Method

Setelah kami jelaskan view of basic Gold Chain method, maka kami perlu lebih spesifikasi lagi dengan pengayaan dan aplikasi pada sebuah usaha. Dan usaha yang menjadi ‘proyek’ kami adalah budidaya lele. Adapun step-stepnya sebagai berikut:

Step One : Pendanaan dan permodalan

Step one ini, yaitu pendanaan dan pencarian modal. Dalam step ini, bisa dilakukan melalui iuran dari beberapa orang kaya, dan selanjutnya mereka menjadi investor. Dan akad dalam syari’ahnya adalah akad syirkah. Investor ini bisa hanya memberikan sejumlah dana untuk diolah oleh orang lain, atau pun mereka bisa ikut nimbrung dalam usaha ini. Atau step ini dapat dilakukan melalui hutang pada bank.

Step Two : Effort Planning

Setelah dana itu telah tersedia, kita melangkah step two, yaitu effort planning. Dalam budidaya lele, kita bisa melakukan banyak planning untuk melakukan sebuah usaha, diantaranya:
  1. Lele dapat dijual per ekor, yang selanjutnya bisa diolah menjadi pecel lele, pepes lele dan seterusnya.
  2. Lele dapat diolah menjadi abon lele
  3. Lele dapat diolah menjadi kerupuk lele
  4. Lele dapat diolah pula menjadi bakso lele.

Step three : Marketing Planning

Tentunya, permasalahan selanjutnya adalah marketing-selling. Karena pemasaran produk begitu penting, maka menjadi keharusan bagi sebuah usaha untuk memiliki marketing system yang baik dan rapi.

Untuk pemasaran ikan lele ini sangatlah menarik. Karena, disamping ikan lele bisa diolah menjadi pecel lele yang sangat digemari oleh banyak kalangan, lele pun bisa diolah menjadi abon lele atau krupuk lele sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Adapun pemasarannya menggunakan metode OcMarket seperti yang telah kami singgung diatas, maka bisa dilakukan dengan:
  1. Perekrutan ‘anak’ OcMarket
  2. Hal ini, dilakukan dengan perekrutan anggota untuk menjadi marketing atau menjadi seller. Anggota yang direkrut bisa dari warga NU atau non-NU. Dan tentunya, perekrutan ini dipilih dengan anggota yang memiliki ‘syarat-syarat’ bekerja, seperti memiliki dedikasi dan potensi seller, memiliki ‘rasa’ giat yang tinggi, dan sebagainya. Perekrutan ini sangat penting, dan sangat efektif jika bergabung dengan instansi ormas seperti NU. Karena misalnya, NU cabang Sumatera bisa mengorganisir, mendata, dan mengontrol warganya yang menjadi ‘anak’ dari OcMarket. Mendata dengan mengontrol warganya yang memerlukan lapangan pekerjaan dan memang ‘layak’ untuk bekerja, mengontrol warganya tadi dengan selalu menilik dan mempelajari kinerjanya. Tentunya, produksi yang akan dinikmati dan dipasarkan untuk NU cabang Sumatra bukan pecel lele, tapi krupuk lele ataupun abon lele. Karena, jika berupa pecel lele dengan mengirim atau mengekspor lele, maka akan berefek samping berat, diantaranya adalah takut busuk atau pun rusak.
  3. Marketing dengan Star Marketing Planning method
  4. Dalam hal ini, maka kita akan menyediakan produksi lele, baik berupa seekor lele utuh, atau pun abon lele, krupuk lele dan berbagai macam lainnya. Dan kita akan menjadi produsen tunggal atau star marketing, dan akan didatangi para tengkulak atau pun konsumen kecil-kecilan. Akan tetapi, dalam GC Method, kita akan menerapkan dua hal marketing ini, baik itu Octopus Marketing atau pun Star Marketing Planning. Karena, hal ini sangat berguna bagi kelancaran produksi.

E. Epilog

Kemiskinan adalah sebuah fenomena, dan musibah nasional bahkan global. Tidak hanya pemerintah yang terus dituntut untuk mengentaskan dan mengatasinya. Tapi lebih dari itu, setiap individu dan atau kelompok untuk terus berusaha mencoba membenahinya. Apalagi sebagai orang muslim, kita harus mencoba membenahi dan membantu saudara kita yang miskin.

Syeikh Yahya Bin Syarofuddin Annawawi dalam kitab minhaj menuturkan untuk menolak kemadharatan orang muslim, baik itu berupa membantu dalam kemiskinan dan atau lainnya. Dan beliau menjelaskan bahwa ini pun termasuk fardlu kifayah[17].

Setelah kita sadar akan banyaknya kebutuhan keseharian (daily need) maka pemenuhan kebutuhan menjadi mutlak adanya. Dan pengentasan kemiskinan pun menjadi pokok.

Melalui GC Method, kita mencoba melakukan ‘gebrakan’ dengan membangkitkan etos kerja, dan tentunya akan berdampak pada kebangkitan perekonomian, terutama bagi kaum santri. GC Method ini pun tidak terus mengedepankan duniawiy dengan menanggalkan ukhrowiy. Tapi lebih dari itu, BEP terus memadukan dua hal ini. Karena duniawiy dan ukhrowiy adalah ibarat dua mata uang yang tidak memungkinkan untuk dipisahkan.

Tidak terlalu mengedepankan duniawi dengan membantu mencarikan win solution bagi sesama anggota, atau lainnya. Membantu dengan menyediakan lapangan pekerjaan melalui perekrutan menjadi anak OcMarket, atau pun bisa menyediakan lapangan pekerjaan dengan menjadi bagian dari produksi.

GC Method adalah sebuah metode dan aplikasinya dalam mengentaskan kemiskinan dan economic problem dalam masyarakat, terutama bagi kaum Nahdliyin. GC Method adalah sebuah ‘proyek’ yang sederhana dan tidak muluk-muluk, karena GC Method sangat mudah untuk dilakukan. Kalau pun dirasakan sulit, itu tidak lain disebabkan dari organisir yang kurang tepat atau pun sebab-sebab lainnya.

Dan akhirnya, dengan GC Method kita akan membangun sebuah ‘peradaban perekonomian’ yang dihalalkan oleh agama, dan menjadi sebuah kemandirian ekonomi pesantren yang jaya.


Setelah melihat Gold Chain ini, maka diharapkan dapat mengurangi dan ataupun membantu mengentaskan kemiskinan, dan tercipta lapangan usaha. Baik itu lapangan usaha yang tersedia melalui EP (Effort Planning) atau MP (Marketing Planning). Dan dengan mendapatkan pekerjaan, maka kemiskinan itu dengan sendirinya dapat teratasi. Wallahu a’lam.

[1] Abduh, Dr. Isa. Iqtishod al islamiy madhal wa manhaj. Hal 65.
[2] Alkharsyi, Abdussalam. Fiqh al fuqoro wal masakin vi alkitab wa alsunnah. Hal.470. cet. Dar el muayad.1423 H.
[3] Elmakarim, Zidan Abul. Binaul iqtishod vi el-islam min elqur’an wa elsunnah. Hal. 67. Cet. Dar elturots. 1378H/1959M.
[4] Q.S. Al-Qashash : 76 - 82.
[5] Tatay, Muhammad. Idlohul ma’aniy alkhofiyyah vi al-arba’in annawawiyah. Hal. 395. Dar el wafa. 1998 M.
[6] Elawadliy, Dr. Raf’at elsayyid. Al-Dlowabit elsyar’iyah lil iqtishod. Hal. 34
[7] Idem. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
[8] Menurut BPS (Badan Pusat Statistik).
[9] http://masjidjami.com/info/pbnu-targetkan-1000-bmt-di-seluruh-indonesia.html
[10] Idem
[11] Echols, M. John. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia.
[12] Idem
[13] Idem
[14] Idem
[15] Idem
[16] Idem
[17] Annawawi, Abi zakariya yahya bin syaraf. Minhajuttolibin. Hal. 518.

penulis
Muhammad Ufi Ishbar Naufal
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di Madrasah Diniyah, Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي) dilahirkan di Tunisia 27 Mei 1332. Keluarganya berasal dari Hadramaut, Yaman. Karena itulah Hadrami dinisbatkan kepada beliau.

Ibnu Khaldun
Monumen Ibn Khaldun di Tunisia
Sumber: ar.WikiPedia.org

Keluarga Khaldun pindah ke Spanyol pada saat permulaan penaklukan Islam. Selama empat abad setelah itu, keluarga Khaldun menetap di Seville dan dalam kondisi kaya raya.

perkebunan milik keluarga Khaldun
Bangunan dan perkebunan yang pernah menjadi milik keluarga Khaldun di Seville
Sumber: ar.WikiPedia.org

Namun, penaklukan oleh orang-orang Kristen menyebabkan banyak orang Arab Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Afrika. Dan beberapa waktu sebelum penguasaan Seville oleh Ferdinand III atas Leon dan Castille, keluarga Khaldun pindah ke Tunisia.

Pengungsi-pengungsi dari Spanyol jauh lebih berbudaya dan berpendidikan daripada penduduk asli Afrika Utara. Ayah sang ahli sejarah ini segera menjadi ahli hukum dan bekerja dengan tekun mempelajari fiqh, Ketuhanan serta sastra, hingga ia menjadi kurban dari wabah yang sangat ditakuti, Kematian Hitam (Black Death).

Setelah beliau mendapatkan pendidikan cukup yang berupa menghafal Al-Quran, bahasa Arab, puisi dan ilmu hukum, Ibnu Khaldun mulai terjun ke dalam kehidupan masyarakat pada usia dua puluh tahun. Ia menjadi sekretaris Sultan Fez di Maroko.

Masjid tempat Ibnu Khaldun ngaji
Masjid di Tunisia tempat Ibnu Khaldun kecil menimba ilmu
Sumber: ar.WikiPedia.org

Beberapa tahun kemudian, Ibn Khaldun pergi ke Spanyol dan bekerja pada Sultan Granada (غرناطة) yang kemudian mengirimnya sebagai duta kepada Pedro yang kejam, raja Castille (Peter the Cruel).

kerajaan Granada
Kerajaan Granada, Spanyol
Sumber: ar.WikiPedia.org

Di Seville beliau sangat tersentuh hingga menangis ketika melihat monumen kekuasaan nenek moyangnya. Karena cerdas, maka raja Kristen menawarkan padanya bahwa ia akan mengembalikan wilayah keluarganya bila Ibnu Khaldun bersedia bekerjasama dengan raja itu. Ibn Khaldun menolak, ia mengatakan: "Aku akan selalu setia kepada nenek moyangku, adat-istiadat mereka, kaumku dan kepada Islam. Aku tak akan pernah menjadi Kristen dan tidak pula aku mengharap anak-anak dan cucu-cucuku tumbuh sebagai orang-orang Kristen!"

Kemudian Ibnu Khaldun kembali ke Afrika Utara bersama keluarganya dan berkhalwat hidup menyendiri di Qal’at Ibn Salamah, istana yang terletak di Tehret, Algeria. Selama empat tahun beliau berkhalwat untuk menulis Kitab Mukaddimah dan sejarah umum dunia, yang kemudian dirampungkan penulisannya di Tunisia. Berbarengan dengan itu ia menyibukkan diri belajar dan memberi kuliah di masjid Universitas Zaituna, Tunisia.

Ibnu Khaldun kemudian memutuskan untuk pergi haji ke tanah suci Makkah ketika tragedi terbesar dalam hidup beliau memukulnya; kapal yang membawa keluarganya dari Tunisia menuju Mesir hancur karena badai di laut dan memusnahkan segala miliknya, yaitu "kekayaan, kebahagiaan dan anak-anak."

Gagal melaksanakan ibadah haji di tahun itu, beliau bermukin di Mesir dan bekerja sebagai ketua pengadilan di pengadilan hukum Maliki. Ibnu Khaldun banyak mencari kedamaian dalam salat-salat yang dilakukannya, dan dengan membaca Al-Quran. Setelah bekerja tiga tahun sebagai ketua pengadilan, beliau melanjutkan hajinya yang tertunda. Kemudian kembali dari Arab menuju Mesir, dengan maksud ingin hidup tenang.

Tetapi, kesedihan kembali menjumpainya, paling menyedihkan di antara semuanya. Ketika Damaskus diancam serangan Mongol yang liar itu, Ibn Khaldun termasuk salah satu yang terdaftar untuk diikat di tembok kota untuk memperundingkan perjanjian dengan Timurlane.

Raja penakluk itu heran melihat penampilan ahli sejarah ini dan sangat terkesan ketika Ibn Khaldun membacakan beberapa bagian dari sejarah umumnya yang menyangkut pengisapan liar oleh tentara Timurlane, dan memintanya memeriksa bila ada kesalahan yang mungkin telah dibuatnya dalam catatan sejarahnya! Timurlane bahkan menawarkan pada Ibn Khaldun sebuah kedudukan yang kemudian ditolaknya. Ketika bangsa Mongol menguasai Damaskus, dialah yang menyelamatkan banyak jiwa tak bersalah.

Setelah pulang ke Mesir, Ibn Khaldun sekali lagi ditunjuk sebagai Ketua Pengadilan di Pengadilan Syari’ah di Kairo, kedudukan yang masih dipegangnya ketika beliau meninggal dunia pada usia 73 tahun (19 Maret 1406). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan manfaat ilmunya kepada kita semua.

Tuduhan Kritikus kepada Ibnu Khaldun

gambar Ibnu Khaldun dalam mata uang Tunisia
gambar Ibnu Khaldun dalam mata uang 10 Dinar Tunisia

Karena perasaan iri dan dengki serta perpindahan kerja yang sering terjadi pada Ibnu Khaldun dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya, beberapa kritikus modern tertentu telah menuduhnya kurang patriotis. Tetapi, pembaca harus ingat bahwa patriotisme, seperti yang dimengerti oleh umumnya masyarakat di zaman ini, tidak dikenal dalam Islam. Untuk satu tanah air, Ibn Khaldun pasti selalu setia, yaitu "Darul Islam" atau tempat kebudayaan Islam. (Elfa)

Sumber. WikiPedia, Pengantar dalam kitab Mukaddimah

Muqaddimah Ibnu Khaldun (مقدمة ابن خلدون) sebenarnya adalah sebuah pengantar dari kitab Al-'Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-‘Akbar. Tetapi uniknya, Muqaddimah ini lah yang justeru lebih dikenal secara luas dari pada kitab Al-'Ibar itu sendiri. Kitab Muqaddimah ini pula yang mengharumkan nama Ibnu Khaldun.

Muqaddimah Ibnu Khaldun

Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332 – meninggal 19 Maret 1406 pada usia 73 tahun). Beliau adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi.

Proses penulisan kitab ini dilakukan oleh Ibnu Khaldun saat beliau khalwat selama empat tahun di Qal’at Ibn Salamah, istana yang terletak di negeri Banu Tajin. Selama masa menyepi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.

sumber. WikiPedia

Seorang menteri kabinet Kerja yang cukup kondang datang memenuhi undangan di sebuah acara halaqah yang diadakan di sebuah pesantren besar di Jawa Timur. Bapak menteri tersebut diharapkan untuk berkenan memberikan sambutan atas selesainya pembangunan gedung laboratorium komputer yang dibangun dari dana bantuan pemerintah pusat.

keutamaan sholat tahajjud

Setelah satu persatu sambutan disampaikan oleh mereka yang mendapatkan kehormatan, kini tibalah saatnya pemandu acara mempersilahkan Bapak Menteri untuk memberikan sambutannya. Sebagai mana acara-acara formal lainnya, Pak Menteri memulai sambutannya dengan salam, hamdalah, dan sholawat. Cukup lancar hingga beliau sampai pada kalimat yang sangat menarik perhatian hadirin.

“Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,” katanya. “Meskipun para Kiai yang hadir di sini ahli tahajjud siang-malam, belum tentu lebih mulia dari seorang geek yang ahli di bidang teknologi,” lanjutnya dengan sangat berapi-api. Parahnya, seolah tidak merasa sungkan, pernyataan itu terus diulang-ulang oleh Pak Menteri.

Kontan, hadirin menjadi sedikit geger dengan pernyataan yang seolah meremehkan keutamaan sholat tahajjud tersebut. Menit berikutnya para Kiai satu persatu meninggalkan ruang undangan. Mereka enggan mendengarkan sambutan Pak Menteri yang konon rajin puasa Senin-Kamis itu.

Setelah diselidiki, ternyata para Kiai bukannya merasa tersinggung karena Pak Menteri seolah sudah meremehkan keutamaan sholat tahajjud, ataupun peranan para kiai dalam memajukan kualitas pendidikan anak bangsa. Para Kiai tak mampu lagi menahan tawa karena Pak Menteri salah ucap. “Mana ada Tahajjud siang-malam,” ujar seorang Kiai sambil tertawa terpingkal-pingkal. (Elfa)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget