Desember 2015

Seorang kyai muda asal Surabaya berencana untuk menyempurnakan rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji. Tidak seperti sekarang yang harus antri belasan tahun lamanya, di tahun 2006 itu kaum muslimin Indonesia masih relatif mudah jika berniat untuk melaksanakan haji. Kontan beberapa sahabat dan jamaah kyai itu berniat menyertai beliau untuk bersama-sama pergi ke tanah suci. "Mumpung kyai sendiri yang berangkat, kapan lagi kita dapat bimbingan ibadah gratis?" Begitulah kira-kira yang mereka fikirkan.

fatwa sesat kyai

Setibanya di kota suci Makkah, sang kyai tinggal bersama 3 sahabat karibnya. Salah seorang sahabat kyai ini (sebut saja namanya Adong) begitu memanfaatkan waktu-waktunya bersama sang kyai. Apapun yang berkaitan dengan rukun, syarat, atau segala hal seputar haji selalu ia tanyakan terlebih dahulu kepada kyainya.

Suatu ketika, disaat bapak kyai sedang asik muthala'ah mempelajari fatwa dan pendapat ulama' seputar ritual dan kesempurnaan haji, Adong nyeletuk bertanya "Yai, menurut sampean lebih afdhol mana antara jubah putih atau coklat?". Tanpa memalingkan pandangannya dari kitab Al-Idhah fi Manasik al-Haj wa al-Umrah, beliau menjawab "putih". "Mengapa putih kyai?" lanjut Adong. Masih asyik dengan bacaannya, kyai menjawab "sebab, putih adalah warna utama menurut nabi SAW. Lihat saja disini, dari imam masjid sampai raja Fahd sendiri, jubah yang mereka pakai berwarna putih."

Malam itu sehabis jamaah sholat Isya' di Masjid al-Haram, pak kyai datang dengan menenteng bungkusan. Sahabat-sahabat beliau yang penasaran segera mengerumuni beliau. "pak yai habis belanja?" tanya seorang teman. "Iya" jawab beliau. "Coba lihat pak kyai.." Adong dengan sopan mengulurkan tangan, ingin tahu apa isi bungkusan tersebut.

Begitu berhasil membongkar belanjaan sang kyai, muka Adong tampak sangat kecewa. "Loh, pak yai beli jubah coklat? Padahal tadi saya pingin sekali jubah warna coklat, tapi sampean suruh saya beli yang warna putih. Ini fatwa menyesatkan namanya!". Pak kyai sedikit kebingungan, tapi cepat beliau menjawab "Kalo saya, jubah warna putih kan sudah banyak pak. Jadi boleh lah beli yang coklat".

Melihat itu, jamaah lain tersenyum cekikikan. "Pak Adong, makanya kalau minta fatwa yang jelas dong! Biar jawaban kyai bisa tepat sasaran." Hahaha. (Elfa)

Bismillahirahmanirrahim,

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ala rasulillah, wa ala alihi wa shahbihi wa man walah. Wa ba'du.

Setelah saya mengikuti sawir Hikam yang rutin diadakan ORISSA (Oganisasi Remaja Islam Sidosermo SurabayA) dua minggu sekali, ada terbesit keinginan untuk menulis apa yang saya dapatkan dari kegiatan sawir tersebut. Mulanya, saya ingin asatidz dan kiai yang saya anggap lebih ahli untuk menuliskan terjemah Hikam sebagai hasil dari kegiatan sawir itu. Namun rasa sungkan kepada mereka dan takut mengganggu waktu beliau-beliau yang sudah cukup padat itulah yang membuat saya memberanikan diri menuliskan terjemah Hikam di blog komunitas santri ini. Toh jika ada dirasa salah dan kurang tepatnya, mereka dengan ringan hati akan memberikan koreksi.

Harapan saya, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, santriyin santriyat, kaum muslimin, serta pembaca yang mencari pencerahan yang terkandung dalam untaian kata-kata bijak ulama' sufi. Semoga pula usaha menerjemahkan kitab Hikam ini menjadi amal kebajikan yang berbalas berlipat-lipat kebaikan di akhirat kelak. Amin.

Sekilas tentang penulis Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

Nama lengkap beliau adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athaillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili (1260 M - 1309 M / 658 H - 709 H). Mulanya, karena kefanatikan Ibnu Athaillah pada ilmu fiqih, beliau mengingkari kebenaran tasawuf dan memusuhi ulama-ulama sufi. Hingga pada suatu kesempatan, Ibnu Athaillah bertemu dengan sayyidi Abul Abbas al-Mursi. Pertemuan itu sangat berkesan bagi Ibnu Athaillah hingga beliau menyadari kebenaran ilmu tasawuf dan menjadi murid kesayangan al-Mursi.

Sepeninggal gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi tahun 686 H, Ibnu Athaillah menggantikannya sebagai mursyid tariqah Syadziliah. Tugas ini beliau emban tanpa meninggalkan tugas mengajar di kota Iskandariah. Setelah pindah ke Kairo, beliau bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Dan termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah.

Masjid Ibnu Ataillah As Sakandari

Murid dan kitab karangan Ibnu Athaillah

Beliau mempunyai banyak murid yang kemudian menjadi ahli fiqih dan tasawwuf, di antaranya adalah Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah syaikh Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro.

Sebagai seorang ulama, Ibn Athaillah meninggalkan banyak karangan kitab. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Sayangnya, beberapa kitab karangan beliau hilang jejaknya. Namun di antara kitab karya beliau, kitab Hikam yang paling masyhur dan banyak dikenal.

Hikam Ibnu Athaillah

Sesuai namanya yang berarti beberapa hikmah, kitab Hikam berisi kumpulan kata mutiara (hikmah) yang keseluruhannya berjumlah 264 hikmah (selain tulisan Ibnu Athaillah yang ditujukan untuk sahabat-sahabat beliau, dan do'a serta munajat beliau yang juga mengandung banyak sekali hikmah).

Untaian kata hikmah dalam kitab ini begitu indahnya, sehingga Ibnu Ajibah dalam kitab Iyqadh al-Himam menceritakan bahwa seorang faqih yang dikenal dengan nama Al Banani berkata: "Hikam Ibnu Athaillah laksana wahyu. Andai sholat diperkenankan menggunakan selain al Qur'an, tentu akan dibacakan kata-kata Hikam."

Terjemah Hikam dalam blog AlaSantri.com

Dalam menerjemahkan kitab Hikam ini, saya banyak merujuk keterangan dari syarah Hikam karya Ibnu Abbad ar Rundi dan Abdullah bin Hijazi al Syarqawi sebagai rujukan utama. Opini dan pendapat pribadi saya tekan seminimal mungkin, sehingga maksud dari pesan-pesan Ibnu Athaillah tetap terjaga keasliannya.

Saya menyadari bahwa penelitian saya yang singkat menyimpan berbagai kekurangan. Karenanya, komentar, saran dan masukan berbagai pihak sungguh sangat saya harapkan.

Akhir kata, wa billahi at-taufiq wa al-hidayah.
Wassalamu'alaikum wr wb.

sumber:
Muhammad Abdul Maqsud Haykal dalam pengantar Syarah Hikam li Ibn Abbad ar Rundi, Markaz al-Ahram cet. 1, Kairo 1988 M. | WikiWand.com | ar.wikipedia.org | en.wikipedia.org


penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

mutiara hikam, hikmah 1

Min alamatil i'timad ala al-amal nuqshanur raja' inda wujudiz zalal
Sebagian dari tanda-tanda manusia yang mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan ketika berbuat kesalahan (zalal).

Syarah / Penjelasan

Bergantung dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah adalah sifat arifin (orang-orang yang mengenal Allah), sedangkan bergantung dan mengandalkan sesuatu pada selain Allah adalah sifat orang-orang bodoh yang lupa kepada Allah.

Hamba Allah yang ma'rifat itu tenggelam dalam lautan tauhid. Sehingga bagi mereka, khauf (takut pada Allah) dan raja' (berharap pada rahmat Allah) selalu sama dalam keadaan apapun. Ketika mereka beramal dan beribadah, maka yang mereka saksikan adalah jalannya ketentuan takdir dan campur tangan Allah, sehingga ibadah mereka tidak akan mampu menambah pengharapan pada rahmat Allah (raja'). Pun demikian ketika mereka terperosok dalam sebuah kesalahan. Yang mereka saksikan adalah kuasa Allah, sehingga kesalahan itu tak akan menambah rasa khauf dan tidak pula mengurangi rasa raja'.

Bukan berarti arifun itu tidak takut berbuat dosa, atau tidak berharap akan pahala. Mereka pun punya perasaan khauf dan raja'. Namun, ketakutan mereka pada siksa Allah sama besarnya ketika mereka berbuat dosa atau sedang melaksanakan ibadah. Dan harapan mereka (akan rahmat Allah) tidak akan berkurang ketika terjadi salah, sebagaimana juga tidak bertambah ketika mereka beramal kebaikan.

Dalil al-Qur'an dan Hadits

Maksud dari Ibnu Athaillah rahimahullah dalam kata hikmah ini adalah mendorong hamba Allah untuk tidak berpegang pada amal perbuatannya, namun melihat segala sesuatunya sebagai anugerah Allah. Sehingga seorang pendosa tidak akan mudah berputus asa pada rahmat Allah, tetapi selalu berharap akan kasih sayang Allah SWT.

Yang demikian itu sebagaimana firman Allah "Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Asy Syura: 25)

Nabi bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga dikarenakan amal perbuatan kalian. Sahabat bertanya, apakah engkau juga ya rasul Allah? Nabi berkata; Aku juga. Tetapi Allah telah meliputi diriku dengan rahmat-Nya". (HR. Bukhari Muslim).

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget