2016

Senin 12 Rabiul Awal 14 abad silam. Lahir sosok termulia pembawa agama Islam. Kehadirannya sebagai rahmat bagi semesta alam. Mengentas manusia dari era jahiliyah suram. Era di mana manusia tenggelam dalam kelam. Era ketika kekejian mangakar akut kuat menghujam. Ketika kejahatan membudaya merajalela siang dan malam. Dialah Muhamad sang cahaya yang tak akan pernah padam.
Nama-nama Nabi
Rasulullah saw. memiliki beragam nama nan indah. Beragamnya nama ini menunjukkan kemuliaan Baginda Nabi saw, tersebab beliau memiliki sedemikian banyak sifat-sifat agung lagi terpuji. Al-Imam an-Nawawi dalam karya beliau, Tahdzibul-Asma' wal-Lughat, mengutip penjelasan dari Ibnul-'Arabi dalam karya beliau ‘Aridhatul-Ahwadzi fi Syarhit-Tirmidzi, yang mengutip pernyataan sebagian ahli sufi, bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Baginda Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Keindahan Nama-nama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

Edisi Cinta Nabi


Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im bin Adiy ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku memiliki beberapa nama: Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “al- Mahi”, di mana melalui aku Allah menghapuskan kekafiran, aku adalah “al-Hasyir”, di mana mandsia digiring ke padang mahsyar setelah aku, dan aku adalah “al-‘Aqib”, di mana tak ada nabi lagi setelah aku.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ia berkata: Aku berjumpa dengan Nabi saw. dijalan Madinah, lalu beliau bersabda: “Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “Nabi Rahmat”, “Nabi Tobat”, aku adalah “al-Muqaffi” (mengikuti jejak langkah para nabi sebelumnya), aku adalah “al-Hasyir”, dan “Nabi al-Malahim” (Nabi yang suka berjihad)”.

Dalam at-Tahdzib juga diterangkan, bahwa dalam al-Quran, Allah swt. menyebut Nabi saw. dengan nama “Rasul”, “Ummi”, “Syahid”, “Mubasysyir”, “Nadzir”, “Da'iyan Ilallahi biidznihi”, “Sirajan Munira”, “Ra'ufan Rahima”, “Mudzakkir”, “Ja'alahu Rahmatan wa Ni'matan wa Hadiya”.

Al-Imam an-Nawawi berkata, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Namaku di dalam al-Quran ialah “Muhammad”, di dalam Injil ialah “Ahmad”, di dalam Taurat ialah “Uhid”. Disebut Uhid karena aku menjauhkan umatku dari neraka Jahanam”.

Dalam kitab yang sama, al-Imam an-Nawawi menambahkan keterangan dengan menukil dari Ibnu Asakir, bahwa nama Baginda Nabi yang lain adalah “al-Fatih”, “Thaha”, “Yasin”, '“Abdullah”, “Khatimul-Anbiya”.
[next]
Al-Imam al-Qusthulani dalam al-Mawdhib dan al-Bajuri dalam Hasyiyah asy-Syama’il mencatat keterangan Syekh Husain bin Muhammad ad-Damaghani dalam karyanya Syauqul-Arus wa Unsun-Nuqus, yang mengutip dari Ka'b al-Ahbar, bahwa ia berkata: “Nama Nabi bagi penduduk surga adalah “Abdul-Karim”. Nama Nabi bagi penduduk Arasy adalah “Abdul-Hamid”. Nama Nabi bagi para malaikat adalah “Abdul-Majid”. Nama Nabi bagi para nabi adalah ‘“Abdul-Wahhab”. Nama Nabi bagi kalangan setan adalah “Abdul-Qahhar”. Nama Nabi bagi kalangan jin adalah “Abdur-Rahim”. Nama Nabi di gunung adalah “Abdul-Khaliq”. Nama Nabi di daratan adalah “Abdul-Qadir”. Nama Nabi di lautan adalah “Abdul-Muhaimin”. Nama Nabi bagi ikan-ikan adalah “Abdul-Quddus”. Nama Nabi bagi serangga adalah “Abdul-Ghiyats”. Nama Nabi bagi binatang liar adalah “Abdur-Razzaq”. Nama Nabi bagi binatang buas adalah “Abdus-Salam”. Nama Nabi bagi binatang ternak adalah “Abdul-Mu’min”. Nama Nabi bagi burung-burung adalah “Abdul-Ghaffar”. Nama Nabi dalam kitab Taurat adalah “Mu’dzu-mu’dzu” (konon artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam kitab Injil adalah “Thaba-thaba” (artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebelum diturunkan kitab Taurat adalah “Aqib”. Nama Nabi dalam kitab Zabur adalah “Faruq”. Nama Nabi bagi Allah adalah “Thaha” dan “Yasin”. Nama Nabi bagi orang-orang mukmin adalah “Muhammad” saw.

Al-Imam Khatimatul-Huffazh Jalaluddin as-Suyuthi menulis risalah khusus bertajuk “al-Bahjah as-Saniyyah fil-Asma’ an-Nabawiyyah". Dalam karyanya tersebut, as-Suyuthi mencatat sekitar lima ratus nama bagi Baginda Nabi saw. Sedangkan al-Imam al-Qusthulani dalam “al-Mawabib al-Ladunniyyah” yang mengutip dari “Ahkamul-Our’an” karya Ibnul-Arabi, menyatakan bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Namun, sesungguhnya yang dimaksudkan oleh al-Qusthulani di atas adalah sifat-sifat. Karena setiap sifat yang dimiliki oleh Baginda Nabi secara otomatis juga menjadi nama bagi beliau. Jika demikian halnya, maka tidak terlalu berlebihan jika disebutkan bahwa Nabi saw. memiliki banyak nama, bahkan sampai seribu nama atau lebih sekalipun.

Dalam kitab yang sama, al-Qusthulani mencatat ulang penjelasan al-Imam as-Sakhawi dalam “al-Qaul al-Badi”, Qadhi 'Iyadh dalam “asy- Syifa”, Ibnu al-'Arabi dalam “al-Qabas” dan “al-Ahkam”, Ibnu Sayyidin-Nas dan para ulama lain berkenaan dengan nama-nama Nabi, maka diketahui ada lebih dari empat ratus nama yang kemudian beliau susun sesuai dengan huruf hijaiyah. Dua ratus satu nama di antaranya juga dikutip oleh al-Imam al-Juzuli (nisbat pada desa Juzulah, termasuk bagian dari suku Barbar) dalam “Dala’ilul-Khairat”.

Adapun nama Baginda Nabi saw. yang paling utama adalah “Muhammad”. Al-Qusthulani mengatakan, bahwa Allah menamai Nabi dengan nama “Muhammad” ini dua ribu tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam as, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Anas ra.
[next]
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ka‘b al-Ahbar, bahwa Nabi Adam as berwasiat kepada putra beliau, Syits as: “Putraku, kamu adalah khalifah penggantiku sepeninggalku. Laksanakan tugas kekhilafahan ini dengan penuh ketakwaan dan berpeganglah pada tali yang kokoh. Dan setiap kali kamu berzikir kepada Allah, sebutlah pula nama ‘Muhammad’ di sisi nama-Nya. Karena aku melihat nama ‘Muhammad’ tertulis di tiang-tiang Arasy. Kemudian aku mengelilingi langit-langit, dan tak kutemukan satu tempat pun di langit yang tak tertulis nama ‘Muhammad’. Tuhanku juga telah menempatkan aku di surga, lalu aku tak melihat gedung dan kamar di surga itu melainkan tertulis pula nama ‘Muhammad’. Aku juga melihat nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat. Maka perbanyaklah menyebut namanya, karena para malaikat menyebut namanya di setiap saat.”

Nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat

Maka para ulama mengatakan, bahwa semestinya umat Islam tidak melewatkan pemberian nama “Muhammad” atau “Ahmad” pada nama-nama mereka. Karena dalam sebuah Hadis Qudsi Allah berfirman yang artinya, “Aku bersumpah atas Diri-Ku sendiri, bahwa Aku tidak akan memasukkan orang yang bernama ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’ ke dalam neraka.”

Al-Imam ad-Dailami juga meriwayatkan dari Sayyidina Ali bahwa “Tidaklah setiap hidangan dihidangkan di sebuah rumah, lalu dihadirkan pada hidangan itu orang yang bernama Muhammad atau Ahmad, melainkan Allah akan mensucikan rumah itu dua kali sehari.”

Moh. Achyat Ahmad
BuletinSidogiri Edisi 99 Rabiul Aawal 1436 H.

Sore itu, saya sowan kepada salah satu santri Alm KH Manshur (1885-1964), beliau ipar Kyai abdul karim lirboyo, sekaligus guru Gus Maksum. Saya didongengi kiprah KH Manshur ketika mbabat alas, syiar agama dan bermasyarakat. Santri itu bernama Mbah Zaenuri usianya sekarang 70an.

KH Manshur Kalipucung Blitar
Makam KH Manshur Kalipucung Blitar

"Mbah, bagaimana kisah KH Manshur bermasyarakat?" tanyaku.
Mbah zen dengan menyulut rokoknya lalu berkata:" Kyai Manshur hidup dengan masyarakat biasa-biasa saja, meskipun kala itu ada Abangan dan PKI".
Aku pun bertanya dengan penasaran:" Biasa-biasa bagaimana? Koq terkesan mboten berjuang atau melawan?!" Mbah zen tersenyum, lalu berkisah:

"Doeloe, Dikampung Kalipucung ini ada tiga kelompok, pertama Santri, kedua PKI, ketiga Abangan. Nah, yang sering "melecehkan dan menghina" islam adalah PKI. Semisal, ketika santri berangkat sholat atau ngaji, dihadang lalu dilecehkan (bahasa sekarang dinistakan) dengan ucapan-ucapan merendahkan Islam yg membangkitkan amarah para santri. Selanjutnya santri-santri ini lapor KH Manshur yang dikenal suwuk serta gemblengannya. Bagaimanakah sikap KH Manshur?! Marahkah beliau, Islam dilecehkan oleh PKI?". "Lantas bagaimana Mbah?! Tanyaku semakin penasaran dan berharap KH. Manshur mengobrak abrik sarang PKI dengan kesaktiannya.

Mbah zen, sejenak nyeruput kopinya, sambil menghela nafas, dia lanjutkan: KH. Manshur dawuh: "biarkan saja, tidak perlu diurusi, yang penting kalian tetap istiqomah sholat berjamaah dan mengaji. Semoga mereka (PKI) mendapatkan hidayah atas kejahilannya, dan jika memang tidak mendapatkan hidayah, semoga anak keturunannya mendapat hidayah, sehingga nyantri disini". Mbah zen menambahkan: " Sekarang terbukti, bahwa dawuh KH Manshur diijabahi Allah, anak keturunan PKI disini semua masuk Islam dan Nyantri pada KH. Manshur." Mungkin ini yang dimaksud "Innal hasanaat yudzhibna assayyiaat (perbuatan baik bisa menghapus keburukan) dengan cara yang elegan tanpa melancarkan jurus silatnya."

penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Sya'ban ra. adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang kurang populer jika dibanding sahabat-sahabat beliau yang lain. Kisah ini bermula dari kebiasaan unik yang Sya'ban ra. lakukan, yakni setiap kali dia masuk ke masjid dia selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid guna beri'tikaf sambil menunggu sholat jama'ah dimulai. Hal ini ia lakukan bukan agar dia bisa duduk sambil bersandar (seperti yang biasa orang lakukan di jaman sekarang), melainkan karna ia tak mau ibadahnya diganggu orang lain atau takut mengganggu ibadah orang lain.

penyesalan sya'ban

Nabi Muhammad dan para sahabat sudah faham betul dengan kebiasaan unik Sya'ban yang selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid setiap mau sholat berjamaah. Hingga suatu pagi saat Nabi Muhammad saw. mau sholat shubuh berjamaah beliau tak melihat Sya'ban diposisi biasanya, beliau bertanya pada sahabat yang hadir, adakah yang melihat Sya'ban?

Namun tak satupun dari sahabat yang hadir melihat Sya'ban. Nabi Muhammad menunda jamaah untuk menunggu kehadiran Sya'ban, namun karena lama ditunggu ia tak juga datang akhirnya beliau memutuskan untuk memulai jamaah sholat subuh karena takut kesiangan.

Setelah selesai jamaah, Nabi bertanya "Apa ada dari kalian yang mengetahui kabar Sya'ban?". Lagi-lagi tak satupun sahabat yang menjawab, Nabi pun bertanya lagi "Adakah dari kalian yang tau dimana Sya'ban tinggal?", salah seorang sahabat menjawab bahwa ia tau persis dimana Sya'ban tinggal.

Karena rasa khawatir Nabi Muhammad saw. meminta diantarkan ke rumah Sya'ban saat itu juga. Ternyata perjalanan yang beliau dan rombongan tempuh dengan berjalan kaki amat jauh hingga akhirnya beliau beserta rombonganya sampai kerumah Sya'ban.

Sesampainya di rumah yang dituju, Nabi Muhammad saw. mengucapkan salam lalu keluarlah seorang wanita membalas salam beliau.

"Apa benar ini rumah Sya'ban?" Tanya sang Rasulullah.
Wanita itu menjawab "iya benar, saya istrinya"
"Kalau boleh tau, dimana Sya'ban sekarang? Bisakah aku bertemu denganya?"

Dengan berlinangan air mata wanita tersebut menjawab: "Sya'ban baru saja meninggal ya Rasulullah". "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun". Subhanallah!, ternyata dia sudah meninggal, oleh karena itu dia tidak sholat shubuh berjamaah.

Setelah mempersilahkan Rasululloh saw. masuk, wanita itu bertanya, "Ya Rasululloh, kami terkejut saat sebelum Sya'ban menghembuskan nafas terakhirnya ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda-beda, kami sekeluarga tidak tau apa maksudnya.

“Apa saja kalimat yang Sya'ban ucapkan sambil berteriak?" tanya Rasululloh saw.
Wanita tersebut menjawab, dimasing-masing teriakannya ia mengucapkan:
“Ah, kenapa kurang jauh.”
“Ah, kenapa bukan yang baru.”
“Ah, kenapa tidak semuanya.”

Kemudian Rasululloh Saw membacakan ayat dalam surat Qaaf ayat: 22, yang artinya:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami angkat hijab yang menutupi matamu, hingga penglihatanmu pada saat itu sangat tajam” (Qs. Qaaf:22)

Ternyata, saat sebelum ajal menjemput Sya’ban ra, Allah mengangkat hijab yang menutupi matanya, sehingga ia dipertontonkan adegan kesehariannya saat dia pulang-pergi ke masjid guna sholat lima waktu berjamaah. Perjalanan yang ia tempuh sambil jalan kaki sekitar 3 jam jelas bukanlah suatu jarak yang dekat. Dalam tayangan itu ia juga diperlihatkan pahala yang ia dapat untuk setiap langkah kakinya menuju masjid. Ia dapat melihat seperti apa surga tempatnya kelak. Kemudian saat itu dia berkata: “Ah, kenapa kurang jauh”. Ada penyesalan dalam hati Sya’ban r.a, kenapa rumahnya kurang jauh hingga pahala yang ia peroleh dan surga tempatnya tinggal lebih indah.

Kemudian Sya’ban ra. melihat adegan dimana ia hendak keluar ke masjid untuk sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia baru membuka pintu, tiba-tiba angin yang sangat dingin berhembus seolah menusuk tulak rusuknya. Setelah itu ia masuk lagi ke kamarnya untuk memakai satu baju lagi agar tidak kedinginan di perjalananya.

Sya’ban r.a dengan sengaja memakai pakaian yang bagus di bagian dalam dan pakaian yang jelek di bagian luar. Ia berpikir dalam hati, seandainya nanti diperjalanan ia terkena kotoran maka sudah tentu pakaian luarnya yang terkena, sehingga saat sampai dimasjid ia bisa melepasnya dan sholat berjamaah dengan menggunakan baju bagian dalam yang bersih dan lebih bagus.

Namun di tengah perjalanannya ke masjid, ia melihat seseorang yang sedang telentang sambil menggigil kedinginan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia pun tak tega melihatnya, lalu bergegas membuka baju bagian luarnya dan dipakaikan pada orang tersebut serta menolongnya untuk bersama-sama ke masjid guna melaksanakan sholat berjamaah.

Lalu Sya’ban ra. diperlihatkan keindahan surga yang ia dapat sebagai ganjaran dari baju jeleknya yang ia pakaikan pada orang tersebut. Kemudian saat itu dia berteriak dan berkata lagi: “Ah, kenapa bukan yang baru!" Sesalnya. Jika baju jelek yang ia pakaikan saja bisa mendapat pahala yang begitu besar sebagai balasanya, apalagi jika baju yang baru.

Kemudian, Sya’ban ra. diperlihatkan lagi sebuah adegan saat ia mau sarapan dengan roti yang biasa dimakan dengan cara mencelupkanya ke secangkir susu hangat. Yang sudah pernah Haji mungkin sudah tau ukuran roti Arab sekitar 3 kali lipat ukuran roti di Indonesia pada umumnya. Saat ia baru saja mau melahap roti tsb, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pengemis yang muncul di depan pintunya meminta agar diberi sedikit roti karena lebih dari 3 hari perutnya belum terisi makanan. Tak tega melihat pengemis tersebut kelaparan, Sya’ban ra. lalu memotong roti itu menjadi 2 bagian dan secangkir susu itupun ia bagi dua.

Akhirnya mereka berdua makan dan minum dengan roti dan susu itu. Allah swt. memperlihatkan pahala dan ganjaran dari perbuatan itu serta surga yang indah tempat ia tinggal kelak. Saat melihat semua itu, Sya'ban lagi-lagi berteriak sambil berkata: “Ah, kenapa tidak semuanya.” rasa sesal kembali dirasakan oleh Sya’ban ra. jika saja ia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, sudah pasti ia akan mmemperoleh surga yang jauh lebih indah.

Masyaallah!, Sya’ban tidak menyesal atas perbuatannya, tapi ia menyesal mengapa tidak mengoptimalkan perbutannya. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah singkat ini, sehingga bisa lebih optimal dalam mengisi dan menggunakan sisa waktu yang diberikan oleh Allah swt. Aamiin.. (Jbl)

Khadrotus Syaikh KH. Raden Munir Abdurrahman adalah sosok ulama yang penuh dengan kesahajaan dan kesederhanaan hidup. Ini tergambar ketika pada pelaksanaan Haflah di Ponpes Nadwatul lshaqiyah di desa Jambu Burneh Bangkalan. Syi'ir fenomenal yang berjudul Qod Hana terlantun. Bahkan tidak jarang para alumni sepuh meneteskan airmata seakan Kiai Munir hadir di tengah-tengah hadirin yang berdiri.

Syaikh KH. Raden Munir Abdurrahman

Murid Syaikhona Kholil Al Bangkalani

Pada zaman pra kemerdekaan, di sebuah desa kecil bernama Jambu yang terletak di Kabupaten Bangkalan, Kiai Abdurahman dan istri merasakan kebahagiaan yang tak terhingga ketika bayi mungil yang kemudian di beri nama Munir lahir, tepatnya pada hari Jumat 27 Ramadhan 1307 H yang bertepatan dengan 19 Agustus 1891 M. Semua keluarga Kiai Abdurahman turut bercita di dalem beliau yang terletak di samping Masjid jami' desa setempat.

Di masa yang serba terbatas bukan berarti membuat Kiai Munir Abdurrahman kecil berdiam diri, bahkan ia lebih menonjol dari anak seusianya dalam keilmuannya. Ketika berusia 6 tahun, beliau sudah mulai mengaji pada sang ayahanda, Syaikh Abdurahman Malik.

Kehausan akan ilmu semakin tampak ketika sudah dalam usia 9 tahun, Kiai Munir Abdurrahman sudah meninggalakan kelembutan kasih sayang orang tua untuk nyantri pada Syaikhona Muhammad Kholil Al Bangkalani selama Empat tahun. Yakni, hingga pada pada tahun 1321 H/1905 M.

Remaja yang Haus Ilmu

Kehausan beliau dalam mencari ilmu seakan tak pernah berhenti, himmah yang tertancap di sanubari beliau begitu menggebu-gebu dengan tak jenuh terus mengaji pada Ulama-ulama besar di tanah Madura. Puncaknya ketika Kiai Munir Abdurrahman memulai pengembaraan panjang dengan berhijroh ke tanah Hijaz Mekah untuk mengais samudra ilmu. Padahal pada saat itu usia Kiai Munir masih relatif sangat muda. Baru 14 tahun.

Selama Dua tahun di Mekah, Kiai Munir Abdurrahman menghabiskan keseharian beliau mengaji pada para ulama-ulama yang mengajar di emperan Masjidil Haram yang menjadi tempat paling favorit ketika saat itu untuk para pelajar yang haus akan ilmu Allah SWT. Kiai Munir juga mengaji kepada pamannya, Syaikh Abdul Karim Muhyidin.

Sedatangnya dari Mekah, beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan nyantri yang kedua kalinya pada Syaikhona Kholil selama 3 tahun. Sesudah mondok beliau pun kembali ke tanah suci Mekah dan menetap di tanah Hijaz Mekah selama 12 tahun.

Kiai Abdurahman Hasan yang termasuk cucu dari Kiai Munir dalam kitab ringkas berjudul Tarjamatus Syaikh Munir Abdurahman Malik menceritakan bahwa, Kiai Munir di Mekah mengaji pada para Ulama-ulama masyhur Masjidil Haram. Seperti Syaikh Ahmad Rohn, Syaikh Hamdan At Tunisy, Syaikh Sa'id Al Yamani (yang termasuk salah satu Mufti Syafi'iyah di Mekah pada saat itu), juga pada Syaikh jamal Malik, dan para Aimmatul Ulama Mekah Al Harom dan Madinah Al Munawaroh.

Menyebarkan Ilmu di tanah air

Setelah belasan tahun menimba ilmu di Mekah, beliau membantu sang ayahanda menyebarkan ilmu Allah SWT. di Madura, khsusnya di Bangkalan. Kiai Munir baru mendirikan Pesantren ketika ayah beliau wafat di Harot Quban Mekah. Yang menarik, dalam membina santri beliau tidak sendirian, karena segenap keluarga turut membantu dalam mengembangkan pesantren. Seperti Syaikh Mukhtar Utsman dan Syaikh Subki. Prinsip dan semboyan beliau dan keluarga adalah:

بالاتحاد ينال المراد
“Dengan bersatu, apa yang diharapkan akan tercapai”

Pesantren didikan Kiai Munir itulah yang menjadi salah satu pesantren berpengaruh di bangkalan setelah Ponpes Syaikhona Kholil pada masa itu. Bahkan, menurut cerita dari keluarga, Soekarno sebelum menjadi Presiden, pernah ngaji kepada beliau setelah mereka bertemu di konferensi Ulama se Jawa yang diadakan di Jakarta.

Pujangga Pulau Seribu Langgar

Di samping mendidik para santri di pesantren yang terletak di depan masjid Jambu, Kiai Munir adalah seorang yang terkenal dengan kealiman, berbudi luhur dan ahli politik, beliau juga termasuk Ulama yang piawai membuat gubahan-gubahan syi'ir dalam bahasa Arab dan bahasa daerah. Tidak jarang masyarakat menyebut beliau sebagai satu-satunya sastrawan atau pujangga yang ada di Bangkalan pada saat itu.

Beliau adalah seorang yang terkenal dengan kealiman, berbudi luhur dan ahli politik, beliau juga termasuk Ulama yang piawai membuat gubahan-gubahan syi'ir dalam bahasa Arab dan bahasa daerah.

Sering kali beliau melagukan karya syi'irnya dalam irama-irama yang merdu di berbagai kesempatan. Semua itu beliau lakukan hanya untuk menyebarkan syiar agama dan menyerukan tegaknya panji-panji Islam. Karya-karya gubahannya yang mengajak ke jalan Allah-lah yang menegaskan bahwa, salah satu dakwah beliau terselip dalam keindahan-keindahan sastra.

Salah satu gubahan syi'ir terkenal beliau yang sampai saat ini sering dikumandangkan di setiap acara di Ponpes Nadwatul lshaqiyah, lebih-lebih ketika perayaan Haflah Akhirus Sanah salah satu pesantren tertua di Bangkalan itu adalah syiir berjudul Qodhana (Telah Tiba). Tidak jarang para alumni sepuh meneteskan airmata seakan Kiai Munir hadir di tengah-tengah hadirin yang semuanya berdiri ketika syiir itu terlantun. Bisa di katakan beliau termasuk salah satu Pujangga di Pulau Seribu Langgar Madura dari kalangan Ulama sepuh.

Produktivitas Ulama yang Allamah

Yang paling mengagungkan dari sosok Kiai Munir adalah, produktivitas beliau dalam menuangkan keilmuan dalam beberapa kitab yang ditulis. Karya-karya itu menunjukkan kalau tangan mulia beliau selalu bergerak seperti aliran sungai, tak berhenti menyumbangsih pengetahuan untuk generasi-generasi Islam setelah beliau.

Di Madura, hanya beberapa Ulama yang mengabadikan keilmuannya dalam sebuah kitab. Salah satunya adalah Kiai Munir yang karyanya sudah menjadi kurikulum di Madrasah Ibnu Malik Ponpes Nadwatul lshaqiyah, yang sekarang di asuh oleh dua cucu beliau. KHR. Lutfi Hasyim dan KHR. Abdul Malik Hasyim.

Beberapa karya beliau yang ditemukan adalah:
  • Shofwatul Jinan fi Fadhaili Dzikril Mannan
  • Isyraq Sana al Badr fi Mas'alah al Qadr
  • Tadzakkur al Khairah li Ahl al Khairah
  • Rafiq al Marfuq fi Ahkam al Masbuq
  • Nur al Wahhaj fi Qisshah al Isra' wa al Mi'raj
  • dan banyak lagi.

Robithotul lshaqiyah

Pada tahun 1357 H/1941 M. beliau mendirikan jam'iyah keluarga yang diberi nama Robithotul lshaqiyah. Ikatan keluarga itu memakai lshaqiyah, dikarenakan Kiai Munir masih keturunan dari Maulana lshaq ayahanda Sunan Giri.

Kiai Munir membentuk Jam'iyah ini semata-mata hanya untuk menghasilkan terbentuknya suatu perkumpulan yang saling bahu membahu menghidupkan ilmu-ilmu agama dan menegakkan perintah syari'at Allah dan RasulNya di tanah Bangkalan.

Kewibawaan beliau

Cucu beliau Kiai Malik Hasyim bercerita, “Saking tawadlu'nya orang-orang Burneh dan sekitarnya. Ketika melewati jalan raya Jambu, masyarakat turun dari kendaraannya mulai dari tengginah (tempat tinggi yang menjadi batas antara desa Jambu dan Langkap). Padahal, tempat itu berjarak kurang lebih setengah kilo meter. Tidak jarang sandal yang mereka kenakan akan dilepas. Ini tak lain karena wibawa dan kecintaan masyarakat kepada Kiai Munir.” Padahal lanjut beliau, itu adalah jalan desa, masih beberapa puluh meter dari dalem beliau.

Para Kiai pun Tersentak

Pada masanya, Kiai Munir memang sering melantunkan beberapa syi'ir dan lagu-lagu di atas panggung. Ini membuat beberapa Kiai di bangkalan merasa kurang setuju dengan yang beliau lakukan. Bahkan terkadang ada beberapa pernyataan yang mencolok dengan ketidak senangan dengan Kiai Munir. Para Kiai tersentak ketika pada peringatan wafatnya, Khadrotus Syaikh Muh. Utsman Al lshaqi mengatakan dengan tegas kalau, Syaikh Munir itu termasuk waliyullah.

Allah menyamarkan para waliNya diantara hamba-hambaNya. Sebagaimana Dia menyamarkan ridloNya disisi orang yang taat kepadaNya, dan menyamarkan murkaNya di sisi orang yang maksiat kepadaNya

Mungkin, patut kita renungkan salah satu perkataan beliau yang mengandung makna yang sangat dalam, maqolah beliau tertuang dalam kitab Tarjamatus Syaikh Munir Abdurahman Malik, beliau berkata : “Allah menyamarkan para kekasihNya (Wali) diantara hamba-hambaNya. Sebagaimana Dia menyamarkan ridloNya disisi orang yang taat kepadaNya, dan menyamarkan murkaNya di sisi orang yang maksiat kepadaNya”.

Karomah Kiai Munir Abdurrahman

Masyarakat Jambu dan sekitarnya dibikin terpukau bukan hanya karena kedalaman ilmu Kiai Munir. Tapi juga kemampuan satu-satunya Kiai di kecamatan Burneh selatan dalam hal-hal yang tak kasat mata, dibuktikan dengan karomah-karomah dan keanehan beliau yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Wajar bila kemudian banyak penduduk berkeyakinan bahwa beliau mempunyai maqom (derajat) tinggi.

Sering Kiai Minanurrohman Al lshaqi, mertua dari KH. Abdullah Munif Langitan bercerita, suatu ketika Kiai Munir dipanggil sang Ibu. “Cung, aku pingin jajan dari Mekah.” Kata Ibu beliau setelah kiai Munir menghadap. “Enggi.” (iya : Madura) jawab Kiai Munir penuh ta'dzim atas keinginan dari ibunda tercinta. Lantas Kiai Munir hanya berjalan mengelilingi dapur, dengan ijin Allah, di tangan beliau sudah ada Tamis, kurma dan makanan-makanan ringan dari Mekah yang masih hangat.

Mangkatnya generasi emas Bangkalan

Tanah Jambu bergetar dengan dzikir, berkelabu dengan isak tangis, berkabut dengan rasa sedih tak terkata ketika Al Karim dipanggil keharibaan Allah Ta'ala, pada hari Selasa ba'da Dhuhur jam Dua kurang seperempat (01:45), tanggal 25 RobiusTsani 1382 H. Yang bertepatan pada tahun 1962 M. Semoga Allah memperbanyak orang seperti beliau. Amin ya Robbal Alamin.

KakiLangit Edisi 38 (Juni-Juli) 2010

Sejak tahun 2015 lalu Presiden Jokowi meresmikan Hari Nasional Santri jatuh pada tanggal 22 Oktober, peresmian ini di gelar di Masjid Istiqlal Jakarta dengan disaksikan para kyai dan ribuan santri.

hari santri nasional
KH. Hasan Mutawakkil Alallah Memimpin Apel Hari Santri Nasional
di Pesantren Zainul Hasan Genggong

Dipilihnya tanggal 22 Oktober ini untuk mengenang jasa para ulama dan santri. Pada tanggal yang sama di tahun 1945, para ulama yang dipimpin oleh K.H Hasyim Asyari saat itu membuat sebuah gerakan yang disebut dengan Resolusi Jihad N.U tujuannya untuk mengusir tentara sekutu yang membonceng pasukan Belanda kembali ke Indonesia.

Dalam rangka mengenang jasa para ulama dan santri inilah, Presiden Jokowi resmi mendeklarasikan Hari Nasional Santri pada tanggal 22 Oktober.

Untuk merayakan Hari Santri, Pondok pesantren dari berbagai daerah menyelenggarakan berbagai macam acara, di antaranya dengan berziarah bersama, tahlil bersama dan Apel Santri.

Apel Santri adalah perkumpulan para santri dari satu daerah di suatu tempat dengan berbaris rapi dan membentuk sebuah lingkaran sambil membaca teks Resolusi Jihad NU dan mengucapkan ikrar santri. Berikut ini adalah isi dari Resolusi Jihad NU:

Resolusi Jihad NU

  1. Setiap muslim di Indonesia baik muda, tua bahkan miskin sekalipun wajib ikut berperang melawan tentara sekutu yang ingin merebut kemerdekaan Indonesia.
  2. Setiap orang yang mati dalam perang kemerdekaan adalah Syuhada' (mati syahid).
  3. Siapapun yang membantu dan menolong tentara sekutu di anggap memecah belah persatuan dan kesatuan indonesia oleh karena itu harus dihukum mati.

Dan dibawah ini adalah teks dari ikrar santri:

Ikrar Santri

بسم الله الرحمن الرحيم
اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Kami Santri Republik Indonesia, berikrar :
  1. Berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai dan tradisi islam ASWAJA.
  2. Bertanah air satu, tanah air Indonesia, berideologi negara satu, ideologi Pancasila, berkonstitusi undang-undang dasar 1945 dan berkebudayaan Bhineka Tunggal Ika.
  3. Selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.
  4. Ikut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, lahir dan batin untuk seluruh rakyat Indonesia
  5. Siap berdiri di depan melawan siapapun yang merongrong Pancasila serta pantang menyerah, pantang putus asa dalam mengawal cita-cita proklamasi kemerdekaan dan semangat resolusi jihad NU.

لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Nah sobat diatas adalah acara yang di selenggarakan Pondok Pesantren yang kami survey dari berbagai daerah, apa acara yang diselenggarakan pondok pesantrenmu dalam memperingati HSN??

Selamat Hari Santri Nasional!!! (Jbl)

Hari santri yang jatuh pada tanggal 22 0ktober kali ini sangatlah meriah sekali. Pasalnya selain harinya yang di“keramatkan” oleh warga nahdliyin, terutama kalangan santri juga kegiatannya kali ini sangatlah penuh dengan nuansa nasionalisme dan juga agamisme sekali.

hari santri nasional

Nasionalisme karena hari santri yang jatuh pada 22 0ktober ini diperingati dengan upacara di daerah-daerah di Indonesia. Ditambah lagi karena hari itu juga peringatan resolusi jihad yang dicetuskan oleh sang pioneer organisasi muslim terbesar didunia Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ary yang mewajibkan bagi seluruh warga Jawa-Madura agar berjihad segenap wujud Hubbul Wathan Minal Iman. Resolusi jihad tersebut berimplikasi pada hari nasional yang tak kalah penting yaitu hari pahlawan.

Kemudian dari sisi agamis, hari santri yang kedua kali ini (22 oktober 2016) juga diisi dengan gerakan 1 milyar lebih Shalawat Nariyah yang dilantunkan oleh kalangan nahdliyin serempak di Indonesia dan 24 negara cabang istimewa lainnya. Dan gerakan 1 milyar sholawat nariyah terbesar terjadi di Pon Pes. Lirboyo Kediri yang mana dihadiri oleh ketua umum PBNU pusat yaitu KH. Sa'id Agil Siroj. Tercatatlah 30.000 lebih jamaah yang turun kelapangan Pp. Lirboyo Kediri ini dari semua kalangan sehingga seakan-akan Lirboyo dibanjiri lautan manusia api / nariyah.

Dan pertanyaan yang terlintas dihati saya adalah mengapa gerakan untuk mengisi kegiatan hari santri kali ini adalah membaca shalawat nariyah yang mencapai jumlah yang jaripun tak sanggup menghitung? Dan kenapa juga kok tidak shalawat ibrahimiyah yang dirilis sendiri oleh rasulullah?. Setelah itu saya mencoba otak atik otak saya dengan mencari di berbagai leteratur yang ada dan hasilnya sungguh mengejutkan bagi saya.

Saya menemukan sebuah ungkapan bahwasannya shalawat nariyah merupakan sebuah shalawat yang nggak gemen-gemen. Dan hanya warga nahdliyin saja yang kental dengan jenis shalawat ini. Bukti yang nyata bahwa shalawat ini juga ikut andil dalam menghantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Melalui ijazah para kiai NU pada kegiatan gemblengan baik fisik maupun non fisik berisi agar membaca shalawat ini sebanyak banyaknya. “Wocoen sholawat iki cah kaping papat jejer papat” mungkin itu adalah suatu ungkapan dari salah seorang kiai yang pernah saya dengar. Maksudnya adalah agar membaca shalawat ini sebanyak 4 baris 4, yaitu 4444. Dan ijazah ini sangat masyhur sekali dikalangan warga nahdliyin terutama para anggota Banser, Anshor, Hizbullah dan sebagainya.

Selain itu, shalawat yang dirilis oleh as-Syaikh al-Imam al-Qurthubi ini juga mengandung khasiat yang banyak sekali. Sangking banyaknya sehingga ada oknum yang tidak suka sehingga mengklaim ada unsur kemusyrikan dalam shalawat yang memiliki nama lain shalawat tafrijiyyah ini. Tapi dengan adanya klaim itu tak melunturkan semangat bershalawat bagi warga Nahdliyin serta semangat gerakan mahabbah terhadap rasul.

penulis
Sirojul Azmin
Penulis adalah santri Pondok Pesantren. Al-Hikmah Purwoasri, Kediri.
# Dari Santri Untuk Santri Dalam Rangka Memperingati Hari Santri #

Alkisah ada seorang lelaki yang tinggal di kota Marwan bernama Nuh bin Maryam, dia adalah seseorang yang ditunjuk sebagai qodhi (hakim) di kota tersebut. Nuh bin Marwan adalah seseorang yang sangat beruntung, dia memiliki kekayaan yang melimpah dan memiliki seorang putri yang cantik jelita sehingga banyak pemuda dari berbagai daerah datang dengan maksud melamar putrinya hingga dia kebingungan pada lelaki mana putrinya akan ia nikahkan. Dia berkata dalam hati "Jika aku menikahkannya dengan salah seorang dari pelamar-pelamar itu, maka tentu yang lain akan marah dan merasa iri".

kisah tauladan

Nuh bin Maryam memiliki budak hindi bernama mubarok yang bertugas menjaga kebun miliknya. Dia adalah orang yang dapat dipercaya dan baik agamanya. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun tersebut. Suatu hari Nuh bin Maryam mengunjungi kebunnya, sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia ingin mencicipi hasil kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.

"Hai Mubarok, cepatlah kemari! Tolong petikkan untukku buah yang manis!" perintahnya.

Dengan cepat Mubarok segera memetik buah-buahan yang diminta, lalu diberikan kepada majikannya. Ketika sang majikan memakannya, ternyata rasanya masam sekali. Majikan Mubarok berkata, "Mubarok! Kenapa buah yang kau ambil sangat masam? Ambilkan lagi untukku buah yang manis!" perintah sang majikan lagi.

Untuk kedua kalinya, buah yang dipetik dan diberikan oleh Mubarok masih terasa masam. Sang majikan sangat terkejut, sudah sekian lama ia menugaskan Mubarok untuk menjaga kebunnya, tetapi mengapa ia masih tidak mampu membedakan antara buah masam dan manis? Ah, barang kali dia lupa, pikir sang majikan. Diperintahnya Mubarok sekali lagi untuk memetikkan buah yang manis. Ternyata hasilnya sama saja, buah ketiga masih terasa masam.

Sang majikan merasa penasaran sehingga dipanggillah Mubarok, ia bertanya "Bukankah kau sudah lama menjaga kebun ini? Lalu kenapa kamu tidak tahu mana buah yang manis dan mana buah yang masam?"

Mubarok menjawab, "Maafkan saya Tuan, saya tidak pernah mencicipi buah-buahan yang ada dikebun ini sehingga saya tidak tahu mana yang masam dan manis"

"Lucu sekali!! Bukankah amat mudah bagimu untuk memetik buah-buahan di sini, mengapa tidak kau petik untuk sekedar tahu bagaimana rasa buah-buahan disni?" tanya majikannya.

Mubarok menjawab "Saya tidak berani untuk memakan buah-buahan yang belum jelas kehalalannya. Saya tidak berhak memakan bahkan untuk sekedar mencicipi buah-buahan disini karena bukan milik saya. Saya hanya tuan perintah untuk merawat dan menjaganya bukan untuk memakanya"

Sang majikan sangat terkejut dengan penjelasan penjaga kebunnya itu. Dia tidak lagi melihat Mubarok sebagai tukang kebun, melainkan sebagai seseorang yang pandai, jujur dan tinggi kedudukannya di mata Allah SWT. Ia kemudian berpikir mungkin Mubarok bisa mencarikan solusi atas permasalahan rumit yang tengah dihadapinya.

Mulailah sang majikan bercerita tentang lamaran untuk putrinya. Setelah usai bercerita ia lalu bertanya kepada Mubarok, "Siapakah di antara mereka yang menurutmu cocok untuk menikahi putriku?"

Mubarok menjawab, "Dulu orang-orang jahiliah mencarikan calon suami untuk anak perempuan mereka berdasarkan nasab (keturunan), rumah dan kedudukan. Orang Yahudi dan Nasrani menikahkan anak perempuan mereka dengan melihat fisik dan wajah yang rupawan. Namun, Nabi Muhammad saw. mengajarkan sebaik-baiknya umat adalah yang menikahkan karena ketaqwaan dan agamanya. Namun pada zaman sekarang orang-orang lebih mengedepankan harta, pilih lah salah satu dari ke empat pilihan diatas wahai tuanku."

Sang majikan langsung tersadar akan kekhilafannya. Mubarok benar, mengapa tidak terpikirkan untuk kembali pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Islamlah solusi atas semua problematika umat manusia. Ia berkata pada budaknya "Aku telah memutuskan untuk menikahkan putriku denganmu".

Mubarok menjawab, "Duhai Tuanku, hamba hanyalah budak hitam yang engkau beli dengan uangmu, bagaimana bisa hamba menikah dengan putri Tuan?". Sang majikan berkata "Berdirilah wahai Mubarok, ikutlah denganku!".

Sesampai di rumah, Nuh menceritakan seluruh kejadian tadi kepada istrinya. "Menurutku Mobaroklah yang paling pantas menjadi pendamping putri kita," usulnya kepada sang istri. Lalu sang istri menjawab, "Semua tergantung keputusanmu suamiku, tapi sebentar biarlah aku memberitahukan hal ini pada putri kita lalu memberikan jawabanya untukmu."

Sang ibu pun menemui putrinya dan menanyakan perihal masalah tersebut, sang putri menjawab "Aku akan tunduk pada apa yang ayah dan ibu perintahkan."

Tak lama kemudian pernikahan bahagia dilangsungkan. Dari kedua pasangan ini lahirlah seorang anak laki-laki bernama Abdullah bin Mubarok. Ia adalah seorang ulama, ahli hadis, dan mujahid. Ya, pernikahan yang dirahmati Allah SWT. dari dua insan yang taat beribadah, insya Allah, akan diberi keturunan yang mulia. (Jbl)

Disarikan dari kitab at-Tibrul Masbuk karya Imam Ghozali bab 7 halaman 122.

Ana maa ziltu tholiban, seakan maqalahan (ungkapan) Imam Muhammad al-Hasanany al-Maliky inilah yang selalu terngiang dalam jati diri seorang santri sejati. “Selamanya aku tetap santri” ini menjadi sebuah dongkrak bagi setiap santri untuk senantiasa ingat bahwa dimanapun aku, kapanpun aku, siapapun aku, dan bagaimanapun aku harus selalu bersikap, berakhlaq, bergaya dan bertutur kata sebagaiman para santri.

aku ini santri
ilustrasi dari film Sang Kyai

Sejak pertama dilahirkan dari kaum santri dan dititahkan menjadi kaum santri, saya selalu diajarkan bagaimana adat serta budaya yang telah diwariskan para santri terdahulu. Saya diajarkan santun baik dalam tuturkata dan perbuatan dari kaum santri, saya juga diajarkan peduli dan gemar ta’awun juga dari santri, namun meskipun saya sekarang akhirnya bisa berbohong dan menyakiti orang lain, saya rasa ini bukan ajaran santri. Seolah kaum sarungan ini banyak dicap sebagai kaum yang kolot, tertutup oleh tahrif zaman, bahkan ada yang mengatakan mudah dibohongi karena keluguannya.

Ketahuilah, dibalik banyaknya opini-opini “jelek” tersebut sekarang kaum sarungan telah banyak membuktikan kehebatan dan berbagai peran utama yang dimainkan oleh kaum sarungan ini. Lihat saja dalam bidang pendidikan 50% bahkan lebih kaum santri berada di barisan terdepan dalam PTAIN/PTAIS (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri atau Swasta) di seluruh Indonesia. Dalam kancah birokrasi dan politik, kaum santri pun tak mau kalah dengan kaum non santri dan bukti nyatanya adalah banyak posisi gubernur, bupati, walikota, DPR, polisi, tentara, dan pejabat pemerintahan lain yang dipegang oleh kaum sarungan tersebut. Dan lain sebagainya, yang artinya masih banyak peran-peran penting yang turut dimainkan oleh para santri demi menjaga keutuhan dan ketertiban NKRI.

Kaum santri memiliki ciri khas dalam bertindak dan berpikir. Dalam budaya pesantren yang menjadi media pembelajaran para santri diajarkan sikap-sikap kemasyarakatan yang sampai saat ini belum dapat diajarkan melalui media pembelajaran lainnya. Gemar gotong royong misalnya, diajarkan melalui kegiatan kerja bakti (baca; ro’an), ada juga sikap kritis dan konsisten dalam berargumen dapat ditemukan melalui kegiatan syawir dan bahtsul masail, sikap sopan santun yang selalu dicontohkan oleh kyai juga menjadi nilai plus dalam media pembelajaran ini, namun yang tak kalah hebat dan penting santri harus mempunyai sifat yang satu ini, yakni sifat tunduk dan patuh yang dibalut sifat ikhlas kepada guru atau kyai.

Kita tahu bahwa orang tua kita adalah orang yang sangat berjasa, ibu yang mengandung, melahirkan, dan mendidik kita ayah juga berjasa menafkahi dan membesarkan kita. Begitupun guru dan para kyai, mereka telah mengajari, mendidik, dan mendo’akan sehingga kita bisa menjadi orang “yang benar-benar orang”, yang semoga kita menjadi orang yang selamat di dunia ini maupun di akhirat kelak. Telah kita ketahui pula perbedaan kedua manusia mulia di atas, yang satu berjasa kepada kita terkhusus secara jasmanai, yaitu orangtua kita dan yang satu lagi berjasa secara khusus dalam hal rohani kepada kita, yang pasti adalah guru atau kyai kita.

Dalam cuplikan redaksi kitab Manhaj al-Sawy terdapat sebuah maqalah yang berisi keutamaan guru dibandingkan orang tua “Orang tuamu merupakan orang yang menyebabkan kelahiranmu, segangkan guru adalah orang yang mengajarimu ilmu”, sedangkan ilmu itulah yang dapat mengantarkan kita pada kemurnian beribadah dan menjadi jiwa yang selamat. Dari sinilah, jelas terlihat sebuah cerminan betapa besar jasa kyai yang menjadi penyelamat dunia serta akhirat kita.

Sedangkan ilmu itulah yang dapat mengantarkan kita pada kemurnian beribadah dan menjadi jiwa yang selamat.

Sebuah cerita singkat, ketika seorang santri ditanyai oleh ayahnya, “Nak, mana yang kamu pilih antara aku sebagai ayahmu atau kyiamu?” santri menjawab “Kyaiku, Ayah” dengan rasa haru sang ayah menanyainya “Mengapa, nak?”, “Karena kyai-lah yang mengajariku banyak hal, ia juga mengajariku untuk selalu menghormati dan mendo’akanmu, maka orang yang mengajariku kebaikanlah yang lebih aku pilih” jawab si Anak tersebut.

Selamanya tetaplah menjadi santri dan berjiwa santri. Tidak ada yang namanya mantan santri karena sekarang sudah menjadi presiden, sekarang sudah menjadi kyai atau bahkan karena sekarang menjadi tukang becak, tidak!, jangan! Jangan pernah menghilangkan identitas kesantrian kita yang telah melekat dalam sanubari.

Sebuah nasihat yang paling saya ingat dari Hadrotusy Syekh K.H Maimoen Zubair Sarang, Jawa Tengah bahwa “Aku ini santri, meskipun aku kyai, aku presiden yang selalu dimulyakan orang dimana-mana tapi di hadapan kyai aku tetap santri, hanya seorang santri yang hina dan tunduk pada kyaiku” begitulah santri sesungguhnya.

Dari sinilah tersirat sebuah makna mendalam agar kita selalu menjadi santri, dalam arti kita harus membawa, menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter baik yang diajarkan dan dicontohkan kyai dan kaum santri terdauhlu. Sehingga sampai kapanpun jiwa-jiwa santri dengan segala kebaikannya tidak akan pernah terhapus oleh ombak perubahan zaman. Saya yakin jikalau bangsa ini dipegang oleh kaum santri yang berjiwa santri sejati dengan segala kebaikannya pasti akan jaya dan tegak berdiri serta menghantarkan pada pintu gerbang keridlaan Rabb, amiiin.

penulis
Ummu Malihatur Roihana
Penulis adalah santri Pondok Pesantren. Al-Hikmah Purwoasri, Kediri.
# Dari Santri Untuk Santri Dalam Rangka Memperingati Hari Santri #

Guru merupakan sosok yang paling berjasa dalam kehidupan ilmiah kita dan salah satu orang yang seharusnya kita jadikan teladan. Beliau dengan sabar bersedia mendidik dan membimbing kita sehingga kita yang dulu bodoh menjadi orang yang berilmu. Maka menghormati guru adalah sebuah keniscayaan.

Menghormati Guru
ilustrasi dari film Sang Kyai

Namun, Ironisnya banyak orang sukses, menyandang gelar, titel maupun status sosial yang tinggi dalam kehidupannya, terkadang melupakan jasa gurunya begitu saja. Padahal, mereka menjadi orang se-sukses itu tidak lain adalah berkat campurtangan, do'a dan jasa guru.

Seperti pepatah mengatakan: Sesuatu yang besar berawal dari yang kecil dan sederhana. Kita kadang tidak menyadari kesuksesan kita berawal dari hal-hal kecil. Sederhananya, seorang santri dapat membaca kitab kuning tentu terlebih dahulu di awali dengan didikan guru atau ustadz yang mengajar di taman pendidikan dasar, sehingga kita dapat mengenal dan mengerti huruf hijaiyah. Memang kelihatannya sepele, tapi bagaimanapun juga semua pencapaian yang besar berawal dari hal-hal kecil dan sederhana, karna segala sesuatu pasti butuh proses.

Oleh sebab guru merupakan sosok yang sangat berjasa, kita wajib menghormati guru, memuliakan dan ta'dhim pada mereka layaknya orang tua. Walaupun itu cuma guru di taman pendidikan dasar. Sayidina Ali ra. pernah berkata:

أنا عبد من علمني ولو حرفا واحدا، إن شاء باع وإن شاء إسترق
"Aku adalah budak bagi orang yang pernah mengajari ku walau hanya satu huruf, jika ia mau aku dijual ataupun di bebaskan, terserah padanya"

Mushonnif kitab Ta'lim Muta'allim Syaikh Zarnuji secara tegas mengatakan: seorang pelajar tidak akan dapat memperoleh kesuksesan dan manfaat ilmu jika tidak mau mengagungkan ilmu dan memuliakan gurunya.

إن المعلم والطبيب كلاهما .. لا ينصحان إذا هما لم يكرما
Guru layaknya seorang Dokter, keduanya tak akan dapat kita ambil manfaatnya andaikan kita tidak memuliakanya.

Artinya kita harus taat dan patuh pada perintah dan nasehat guru seperti halnya kita menuruti saran dan anjuran dokter. Sebab hakikatnya tidak ada dokter yang segaja "Gagal" dalam mengobati pasiennya.

Maka sesukses apapun kita sekarang jangan sampai menjadikan angkuh dan melupakan jasa guru kita, terlebih seorang santri kepada kiai-nya. (Mcl)

Saat ini banyak kita temui penghafal al Qur'an atau guru ngaji yang mengajarkan al Qur'an dengan sejumlah imbalan untuk tugas mulia tersebut. Apakah memang pantas mengajar al Qur'an atau membacakannya di majlis sema’an demi sejumlah rupiah? Bukankah panutan kita Nabi Muhammad saw. tidak pernah meminta upah untuk mengajarkan kalam Ilahi?

mengajar al qur'an
kegiatan mengajar al Qur'an di pesantren

Hukum meminta imbalan untuk mengajar al Qur'an itu sebenarnya ada di dalam ranah khilafiyah. Beberapa ulama mengharamkannya, diantaranya adalah Imam Zuhri dan Abu Hanifah. Sedangkan Imam Hasan Basri dan Ibnu Sirin memperbolehkan guru al Qur'an untuk menerima imbalan asalkan tidak ada permintaan dari sang guru kepada muridnya.

Adapun Imam Malik dan Imam Syafi’i memiliki pendapat yang lebih toleran. Menurut dua Immam madzhab ini diperbolehkan bagi guru al Qur'an untuk menerima dan meminta upah dari mengajarkan al Qur'an. Artinya, pendapat ini secara mutlak memperbolehkan adanya imbalan dari kegiatan mengajarkan al Qur'an. Baik imbalan itu diberikan secara sukarela oleh murid, atau atas permintaan guru.

Para ulama yang berpendapat boleh mengambil upah dari mengajar al Qur'an itu mengambil dalil dari hadits riwayat Ibnu Abbas.

عن ابن عبا س رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله. رواه البخا ري
Dari 'Abdullah bin 'Abbas ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya pekerjaan yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah (mengajar) Kitabullah." (HR Bukhori)

Ta'limul Qur'an baik dengan meminta sejumlah imbalan atau tanpa meminta imbalan duniawi adalah sebuah perbuatan yang mulia. Bagaimanapun mengajarkan al Qur'an adalah termasuk menolong dalam kebaikan. Allah swt. berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah:2)

Mengajarkan al Qur'an dengan syarat adanya imbalan atau tidak dengan adanya syarat upah adalah perbuatan tolong menolong, dan bukan termasuk menjual al Qur'an dengan tsamanan qolilan sebagaimana perbuatan kaum yahudi yang dicela Allah swt. dalam KitabNya. Karena perbuatan kaum yahudi yang dicela itu bukan mengajarkan Taurat, melainkan merubah keaslian Taurat demi mendapatkan sedikit harta duniawi dan meninggalkan janji pahala ukhrawi (andai disampaikan tanpa merubah keaslian Kitab suci itu).

Seorang ustadz maupun ustadzah yang mengajar al Qur'an tentu mengorbankan waktu luang, tenaga, kesabaran dan keletihan, maka sudah selayaknya mereka mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. Dan ini bukan termasuk ‘menjual’ Al-Qur'an demi harta duniawi yang dicela, tetapi merupakan perbuatan saling menolong atas kebaikan yang justeru diperintahkan. Wallohu a’lamubisshawab. (Byn)

Pondok pesantren memiliki tradisi yang mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lainya, di antaranya adalah: sowan kyai, ngerowot, jajan, setoran, khoyal dan makan bareng, yang in syaa Allah -jika ada kesempatan- akan penulis ceritakan keasyikannya satu persatu.

makan bareng mayoran

Tradisi makan bareng di pondok pesantren memiliki nama yang berbeda tergantung daerah mana pondok itu berasal, ada yang menyebut makan bareng di pesantren dengan sebutan 'kentongan', hal ini dikarenakan saat makanan sudah matang si tukang masak memberi tahu teman-temanya dengan memukul kentong agar mereka segera berkumpul. Ada pula yang menyebut makan bareng dengan sebutan lengseran atau mayoran.

Didunia pondok pesantren khususnya pondok salaf, mayoran adalah tradisi makan bersama yang biasa digelar pada hari-hari libur, misalnya malam jum'at atau ketika penutupan kegiatan pondok pesantren saat ujian semester telah berakhir.

Pada umumnya mayoran digelar oleh sekawanan santri yang tinggal di kamar/asrama yang sama. Mereka bermusyawarah untuk menentukan menu, besaran uang iuran dan tugas yang dilakukan oleh masing-masing personel. Dimulai dari belanja bahan makanan yang akan dimasak, mencari kayu bakar dan tentu saja tugas memasak.

Makan bareng ala anak pondokan ini tidak pernah pilih-pilih soal menu makanan dan minuman, karena tujuannya hanyalah kebersamaan. Malah pada umumnya kegiatan makan bersama ini memilih menu yang sederhana, seperti sayur kangkung atau pecel terong. Kendati demikian ada juga sekawanan santri yang memilih menu sedikit istimewa, misalnya ayam, lele dan daging. Namun menu istimewa ini umumnya hanya dimasak saat tasyakuran kelulusan atau kenaikan kelas.

Meskipun menu yang dimasak sangat sederhana dan kokinya adalah koki dadakan, namun mereka tetap makan dengan sangat lahap sampai jarang ada makanan yang tersisa. Mereka merasakan kenikmatan hidangan bukan dari sayur atau lauknya, melainkan dari kebersamaannya. Hal ini menjadi semacam pesta paling mewah di pondok pesantren.

Walaupun terlihat hanya sekedar ngumpul bareng untuk makan bersama, kegiatan mayoran ini memiliki banya manfaat untuk para santri. Diantaranya:

1. Melepas kepenatan
Dalam keseharianya para santri selalu memiliki aktifitas yang padat sehingga dituntut untuk disiplin mengatur waktu. Nah dengan menggelar mayoran setelah acara makan-makan selesai, santri bisa melepas kepenatan bersama teman-temanya, tertawa, bercanda, bercerita tentang kejadian-kejadian lucu di sekolah dsb.

2. Meningkatkan kesederhanaan
Mayoran yang di lakukan dengan memasak menu makan dan minum seadanya mengajarkan santri akan pentingnya hidup dalam kesederhanaan. Makan bareng ala pesantren tidak mengenal istilah potong tumpeng, kalaupun ada pling-paling hanya memotong buah jengkol.

Itulah kenapa kita tidak pernah mendengar ada tawuran santri antar pondok pesantren.

3. Mengajarkan betapa indah kebersamaan
Mayoran merupakan pelengkap dari kebersamaan yang ada di pondok pesantren, seperti ro'an bersama, belajar bersama, tidur bersama dsb. Dengan mayoran santri akan belajar untuk mencintai kerukunan dan kesederhanaan. Itulah kenapa kita tidak pernah mendengar ada tawuran santri antar pondok pesantren.

Seiring perkembangan zaman, mayoran bukan lagi cuma milik komunitas santri. Namun kegiatan semacam ini diyakini berasal dari pondok pesantren, dengan bukti bahwa golongan pesantren (santri, pengurus pondok dan kyai) adalah golongan yang palimg sering menggelar acara tersebut. (Jbl)

Seorang Kyai yang sedang disowani, menemui santrinya diruang tamu. Beliau berjalan dengan beralaskan bakiak coklat kesayangannya, langkahnya diiringi suara khas bakiak beradu dengan lantai paving, lalu duduk seraya berkata: "Monggo diunjuk, Gus" Beliau mempersilahkan santrinya untuk minum air yang telah tersedia.

KH. Mahfudz Siroj

"Alhamdulillah, kabare pripun, Gus?" Sang kyai memulai pertemuan itu dengan bersyukur disertai sapaan lembut akan hal ihwal santri. "Alhamdulillah, Kyai. Sehat wal afiat, Panjenengan kados pundi kesehatane? Kulo mireng mantun dawah" (Kesehatan anda bagaimana? Saya dengar anda habis jatuh)". Santri itu mencoba ganti bertanya akan kondisi kyai idolanya, yang ternyata sedang sakit.

Kyai tersenyum, beliau berkata "Sakit nopo to? Niku cuma dawah biasa" (Sakit apa? Itu hanya jatuh biasa). "Mboten nopo-nopo, Gus. Alhamdulillah, sae. Gusti Allah tasih maringi dawah (Tidak apa-apa, Gus. Alhamdulillah, Allah masih memberikan jatuh)". Santri itu pun mengerutkan dahi, dan musykil koq jatuh yg mengakibatkan sakit masih disyukuri, lalu dia memberanikan diri bertanya: "Sampun diperiksaaken teng dokter?" (sudah diperiksakan ke dokter?)". Kyai diam sepeminum teh, beliau dawuh singkat: "Sampun ikhtiar, Gus. Alhamdulillah. Monggo didahar jajane".(Sudah ikhtiar, gus. Alhamdulillah. Silahkan dimakan cemilannya)". Selanjutnya santri itu meminta barokah doa kepada Kyai teduh itu. Tiba-tiba beliau dawuh:" Kulo nggih didungakno nggih, supados istiqomah ngaos lan ngibadah," (Saya juga didoakan ya, agar bisa istiqomah ngaji dan ibadah). "Masyaallah. Luar biasa, sosok kyaiku ini tetap mengedepankan ngaji dan ibadah, meskipun dalam kondisi sakit" Batin santri itu. Tanpa terasa santri itu terkenang akan kenangan masa kecil kelas sifir (ibtidaiyyah), ketika Kyai masih sehat, beliau istiqomah mengimami sholat lima waktu di masjid, ngaji kitab dan beliau duduk diantara tangga masjid mendengarkan adzan jumat dikumandangkan seraya menyalami santri-santri kecil sifir yang duduk berjejer disitu.

Selang beberapa waktu, tepatnya minggu legi tanggal 19 Juli 2009, beredar kabar Kyai yangg lahir tahun 1939 ini wafat. Santri itu pun bergegas melayat. Selama perjalanan, teman sepondok saling berbagi kisah tentang kesabaran dan keikhlasan yangg beliau tanamkan untuk keluarga dan santri-santri. Dalam suasana bercerita itulah, teringat pula ketika sowan terakhir. Kyai pernah dawuh "Alhamdulillah, tasih diparingi dawah". Bagi teman-teman pesantren dawuh ini bermakna "dawah" (jatuh) yg mengakibatkan sakit sebagai salah satu bentuk wasilah (lantaran) untuk taqorrub ilallah, iling kaliyan Gusti Allah. Sebab seseorang yg telah bersih hatinya menilai Sakit adalah bentuk anugrah dan karunia. Baginya sakit dan sehat adalah istilah saja, hakikatnya tetaplah sama. Yakni sama-sama mengingatkan akan Dzat yang memberikan sakit dan sehat. Kita hanya meminta sehat dan kaya namun menafikan sakit dan miskin itu tidaklah fair. Jika kau sehat, maka songsonglah masa sakitmu, jika kau kaya, sambutlah masa miskinmu. Jika kau pandai, maka terimalah masa pikunmu. Dan kesemuanya adalah fitrah manusia yang takkan terlepas dari kesemua itu.

Walhasil, Pelajaran hidup dari Kyai adalah Usahakanlah tetap husnudzon (baik prasangka/positif thinking) terhadap siapapun dan Terimalah apapun yg terjadi dengan tetap melantunkan: Alhamdulillahi Robbil Alamin ala kulli haal.


#Rindu sosok Kyai Sae, KH. Mahfudz Siroj 1939- 2009#

penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Sowan merupakan tradisi silaturahmi santri kepada seorang kiai dengan tujuan sekedar meminta doa, atau meminta fatwa, solusi dan petunjuk atas permasalahan yang sedang dihadapi, atau bahkan hanya bertujuan berkunjung untuk sekedar bertatap muka saja.

sowan kiai

Lalu, apa sebenarnya manfaatnya? Dan haruskah kita sowan pada kiai? Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa silaturahmi dapat melapangkan rizki dan juga diberi umur panjang.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَه
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik ra. beliau berkata: Saya pernah mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda: Barang siapa yang ingin di lapangkan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, maka hendaknya menyambung tali silaturahmi. (HR. Bukhari & Muslim)

Bagi santri baru biasanya sowan kiai dengan di antar orang tuanya, yang tidak lain tentu untuk mencari restu dan doa dari sang kiai, sekaligus agar si Santri Baru dapat mengenal kiyai-nya lebih dekat.

Namun, pada kenyataanya tradisi sowan kiai ini tidak hanya berlaku bagi santri baru, santri yang masih menetap di pondok atau bahkan alumni juga sering berkunjung dan sowan ke ndhalem kiai.

Bagi alumni pondok pesantren yang telah lama meninggalkan pondok dan sudah berkelana jauh merasakan pahit-manisnya kehidupan, tentu sowan kiai sangatlah di anjurkan. Selain untuk menyambung tali silaturahmi, kembali ke pondok dan mencium tangan kiai ibarat recharge (isi ulang) kekosongan jiwa bagi alumni. Seolah yakin berkat do'a dari sang kiai semua masalah kehidupan akan mudah teratasi.

Dalam sebuah hadits shohih disebutkan:

قال رسول الله : الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ ، وَعِمَادُ الدِّينِ ، وَنُورُ السَّموَاتِ وَالأَرْض
Rasulullah saw. bersabda: Doa adalah pedang orang mu'min, tiang agama, dan merupakan cahaya langit dan bumi.

Dan Allah SWT berfirman:

أدعوني أستجب لكم
Berdoalah (mintalah) kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. (QS. Mu’min: 60)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sowan dan silaturahim kepada kiai dan meminta doa kepadanya tentu sangat di anjurkan, terlebih kiai merupakan orang yang zuhud dan taat beribadah, sehingga besar kemungkinan doanya akan di kabulkan oleh-Nya.

Dengan demikian kita dapat optimis dalam menjalani kehidupan berkat doa dari orang tua dan kiai. Inilah salah satu poin positif sowan kiai. (Mcl)

Cita-Cita bak navigator yang akan menentukan ke arah mana kita berjalan, seseorang yang tak memiliki himmah dalam hidupnya hanya akan berputar-putar tanpa tau ke arah mana dia harus melangkah.

Cita-cita Tinggi

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering mendengar orang mengatakan: “Ojo duwur-duwur yen ceblok loro” yang artinya jangan terlalu tinggi dalam bercita-cita kalau gagal pasti sakit. Terdengar seperti petuah yang cukup rasional. Namun benarkah demikian?

Sebenarnya, ini merupakan kata-kata yang hanya keluar dari orang pesimis yang takut gagal, tak mau berusaha dan tidak berani untuk menantang dirinya sendiri sehingga yang ia dapat justru kegagalan sebelum sempat untuk berusaha, ungkapan diatas bisa jadi merupakan rasa dengki yang diucapkan untuk mempengaruhi keyakinan pemilik cita-cita yang setinggi langit, setan akan selalu berusaha merayu dan membujuk para pemilik himmah 'aliyah agar berhenti bermimpi sehingga mereka jatuh dalam kegagalan.

Himmah 'aliyah (cita-cita tinggi) justru memiliki peran yang sangat penting untuk menggapai kesuksesan, karena himmah merupakan tujuan dan mimpi yang ingin diwujudkan oleh pemiliknya. Berbekal himmah seseorang akan mengerahkan kemampuan maksimalnya agar yang ia impikan menjadi nyata.

Kesuksesan bukanlah hal yang bisa diraih secara kebetulan, sekecil apapun kesuksesan yang didapat pasti didahului oleh keinginan, harapan dan sebuah himmah yang mengokohkannya. Para kyai pengasuh pondok pesantren selalu mengingatkan santrinya agar memiliki himmah 'aliyah mereka selalu berkata:

كن رجلا رِجله في الثرى وهامة همته في الثريا
"Jadilah laki-laki yang kakinya berada di bumi namun himmah-nya menggapai Kejora"

Berikut ini adalah alasan kenapa memiliki cita-cita yang tinggi sangat penting:

1. Cita-cita adalah sebuah harapan

Manusia tak akan mampu bertahan hidup lebih dari satu menit tanpa sebuah harapan. Dia akan berpikir untuk mengakhiri hidupnya saat yakin bahwa dalam kehidupanya sudah tidak ada harapan lagi. Dengan himmah, kita akan memiliki sebuah harapan yang akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita di masa depan.

2. Membantu kita menemukan tujuan

Orang yang tidak memiliki cita-cita, hanya akan berputar-putar tak tau kemana ia harus melangkah. Mengetahui tujuan sangatlah penting karena setiap arah yang berbeda akan memiliki hasil akhir yang berbeda pula oleh sebab itu kita harus tau tujuan kita sehingga tak salah arah. Dengan cita-cita kita bisa melangkah dan bertindak sesuai dengan apa yang kita impikan, apakah langkah dan tindakan kita sudah sesuai dengan impian kita ?

3. Membuat Kita Semangat

Setiap mimpi yang ingin kita wujudkan pasti memiliki nilai yang sangat. Nah, setiap orang akan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk dapat meraih sesuatu yang amat bernilai baginya. Oleh sebab itu, dengan memiliki cita-cita, orang jug akan memiliki semanga yang hebat. Dalam hal apa pun, cita-cita akan selalu memberikan semangat yang tinggi kepada pemiliknya. Hal ini yang menyebabkan orang yang memiliki cita-cita pasti juga memiliki semangat untuk mewujudkanya.

4. Menyebabkan kita fokus

Dengan cita-cita kita akan fokus pada apa yang harus kita lakukan untuk meraihnya. Setiap orang yang sudah tau apa yang difokuskan maka ia bisa menguatamakan serta konsisten untuk melakukanya. Tak hanya itu cita-cita juga bisa membantu kita untuk menyeleksi mana hal yang perlu dibuang dan mana hal yang perlu dipertahankan.

Oleh karena itu milikilah cita-cita yang tinggi dan jangan pernah takut terjatuh, walaupun seandainya kamu jatuh nanti kamu tidak akan pernah menyesal karna sudah berusaha dan akan selalu ada penolong yang menuntunmu pada jalan yang lebih baik, dialah Allah SWT. Wallahu a’lam Bisshowab. (Jbl)

Gudik atau juga dikenal dengan nama kudis (kudisan, gudikan), adalah penyakit yang paling sering di alami oleh para santri di pondok pesantren. Sejatinya gudik hanyalah penyakit kulit biasa, namun banyak dari para santri yang menganggapnya lebih dari sekedar penyakit kulit belaka.

santri gudikan

Secara medis kudis sebenarnya adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu scabies, oleh karenanya penyakit ini disebut scabies dalam istilah medis. Gudik pada umumnya muncul sebab kurangnya kepedulian para santri terhadap kebersihan diri dan kebersihan lingkungan mereka, meski gudikan hanyalah penyakit kulit biasa, tapi faktanya banyak dari para santri yang menganggapnya bukan sekedar penyakit kulit biasa.

Mitos-mitos yang bermunculan di kalangan pondok pesantren, terutama pondok pesantren yang memiliki ratusan santri, bahwa penyakit ini merupakan “simbol keabsahan” seorang santri. Artinya seseorang belum sah dikatakan sebagai santri jika belum merasakan penyakit kulit yang satu ini. Ada juga yang menganggap bahwa gudik merupakan penyakit kulit khas pondok pesantren artinya gudiken merupakan penyakit yang dianggap lumrah terjadi di pondok pesantren.

Mayoritas kyai yang mengasuh pondok pensantren biasa mengatakan pada santri-santri barunya, “Kalau kamu sudah terkena penyakit gudik di pondok, itu tandanya kamu sudah merasa betah tinggal di pondok dan ilmu yang kamu pelajari akan lebih mudah di pahami,”. Meskipun argumen ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi menurut pengalaman penulis, apa yang dikatakan para kyai ini ada benarnya. Beliau menganggap bahwa gudik yang diderita para santri adalah tanda awal turunnya berkah.

Santri sudah pasti akan tidur dan makan bersama temanya, memakai kamar mandi yang memiliki wadah besar seperti kolam, memakai pakaian bahkan handuk milik temanya dengan sukarela. Hal ini menyebabkan terlahirnya sikap tenggang rasa yang sangat mulia dan pengalaman semacam ini amat jarang didapatkan di sekolah-sekolah formal. Kendati demikian beberapa hal dia atas menyebabkan mudahnya penularan penyakit kulit semacam scabies yang dengan mudah menjangkiti para santri. Keakraban para santri ini menyebabkan berbagai kontak yang menjadikan penularan penyakit kulit semakin cepat.

Setelah penulis tela'ah ternyata apa yang dikatakan mayoritas kyai pengasuh pondok pesantren mengenai kudis merupakan awal mula turunnya berkah memiliki bukti baik secara sosiologis maupun psikologis.

Secara sosiologis, saat seorang santri sudah pernah merasakan penyakit gudik ini, berarti dia telah memiliki suatu hubungan sosial yang amat dekat dengan santri-santri lainya, yang mungkin juga seorang penderita. Kedekatan antar pribadi atau kelompok ini, menunjukkan adanya rasa nyaman dalam pergaulan, tentu hal ini akan sangat mendukung proses ngaji para santri untuk kedepannya.

Secara psikologis, santri baru yang terkena penyakit ini akan berlatih agar sabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi pada kebersihan pribadi. Umumnya santri yang sudah lama tinggal di pondok tidak terjangkit masalah penyakit gudik sebagaimana santri baru.

Selain dua anggapan di atas, ada juga yang menganggap bahwa gudikan merupakan penyakit ‘kutukan’ bagi para santri di pomdok pesantren khususnya santri baru. Anggapan itu muncul lantaran pengurus pondok telah berusaha dengan maksimal untuk menciptakan pola hidup bersih dan lingkungan yang sehat namun selalu gagal untuk mencegah santri terjangkit penyakit gudik. Pada umumnya santri yang gudikan akan sembuh jika sudah pulang ke rumah, tapi gudik akan kambuh lagi saat kembali ke pondok.

Nah bagaimana menurut kalian, apakah gudik merupakan berkah atau kutukan? (Jbl)

Diriwayatkan, sesungguhnya telah banyak dari para shahabat yang bertabarruk, atau mengharap barokah dari barang-barang peninggalan Rasululah Saw. Dan makna dari tabarruk ini tidak lain adalah merupakan bertawasul dengan atsar Rasul kepada Allah Swt. Dikarenakan pada dasarnya tawasul itu sendiri bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.

bertawassul dengan atsar nabi

Kemudian apakah para shahabat ketika bertawasul dengan atsar, lalu tidak bertawasul kepada Nabi? Sama sekali tidak. Pada dasarnya sebuah atsar itu tidak akan menjadi mulia dan agung, melainkan disebabkan sang pemilik atsar itu sendiri, yaitu Nabi Muhammad Saw. Sehingga merupakan kebohongan besar bagi orang yang mengatakan bahwa bertawasul dengan atsar itu tidak diperbolehkan.

Dari beberapa nash hadits yang ada, akan kami kemukakan beberapa di antara yang telah masyhur. Dimulai dari sayidina Umar bin al Khattab Amirul Mukminin ra. yang begitu bersemangat untuk bisa dimakamkan di samping Rasulullah ketika beliau telah wafat. Maka diutuslah putra beliau, Abdullah untuk meminta izin kepada sayidah 'Aisyah ra. atas keinginan sayidina Umar. Maka seketika itu sayidah 'Aisyah mengabarkan, bahwa sesungguhnya ia sendiri sangat mengharapkan tempat itu untuk dirinya. Tapi kemudian ia bertkata : “Sungguh aku mengharapkan tempat itu untukku, tetapi akan kupersilahkan tempat itu untuknya”.

Mendengar jawaban dari sayidah 'Aisyah, Abdullah bergegas pulang dan memberitahukan kabar gembira ini kepada sang Ayah. Dan seketika itu sayidina Umar mengatakan : “Segala puji bagi Allah, tidak ada suatu perkara yang lebih membahagiakanku selain itu”.

Kemudain alasan mendasar apakah yang dimiliki sayidina Umar, sehingga bisa dimakamkan di samping Rasulullah, merupakan hal terpenting dan paling disukai beliau? Tiada lain bahwa hal itu merupakan bentuk tawasul dengan Nabi setelah Nabi wafat, yaitu dengan mengharap barokah dengan berada di samping beliau.

Ada lagi shahabat yang bernama Ummu Sulaim ra. la mengambil mulut qirbah (tempat minum) yang biasa digunakan Rasulullah. Dan shahabat Anas mengatakan, “Ketika itu ia sedang bersamaku”. Diriwayatkan juga bahwasanya para shahabat saling berebut untuk mengambil sehelai rambut Rasulullah ketika beliau memotong rambut.

Ada juga yang bertawasul dengan menggunakan jubah peninggalan Rasulullah, seperti yang dilakukan Asma' putri sayidina Abu Bakar ra. Asma' mengatakan: "Kami membasuhnya untuk mengobati orang sakit, dan kami mengharap kesembuhan dengan perantaranya”.

Demikian pula dengan cincin Rasulullah yang terus dijaga secara turun temurun mulai Abu Bakar, Umar dan sampai pada akhirnya terjatuh ke dalam sumur pada masa Kholifah Utsman.

Setelah menyimak beberapa kisah yang bersumber dari riwayat hadits sahih di atas, maka yang ingin kami kemukakan adalah, bagaimnana apabila ada pertanyaan berupa; Untuk apa para shahabat menjaga barang-barang peninggalan Rasulullah, seperti mulut qirbah, rambut, jubah dan juga cincin beliau? Dan apa maksud dari semua itu? Apakah hanya sebagai alat pengingat, ataukah sekedar menjaga barang-barang peninggalan sejarah untuk diletakkan di museum?

Jika memang benar untuk alasan yang pertama (sebagai pengingat), lalu mengapa mereka begitu bersemangat untuk menggunakannya ketika berdoa dan menghadap kepada Allah tatkala mereka tertimpa musibah atau ketika sakit? Dan jika karena alasan yang ke dua, maka di manakah letak museumnya?

Sungguh kedua pernyataan itu sama sekali tidak benar, serta darimana datangnya pemikiran-pemikiran seperti itu, yaitu pemikiran para ahli bid'ah.

Sebagai penegasan, bahwasanya apa yang telah dilakukan oleh para shahabat itu tidak lain kecuali sebuah bentuk pengharapan barokah (tabarruk) dengan atsar Rasulullah Saw. dan sebagai kegiatan bertawasul dengannya ketika berdoa kepada Allah. Karena sesungghnya Allah-lah yang Maha Pemberi, dan Dzat yang dituju. Sehingga semua makhluk adalah hambaNya dan di bawah kekuasanNya. Dan sama sekali mereka tidak bisa memiliki sesuatu apapun bagi dirinya melebihi orang lain kecuali atas izin dari Allah Swt.

Tawasul dengan atsar para nabi, sebenarnya juga telah dilakukan oleh kaum-kaum terdahulu. Seperti halnya at Tabut (peti) yang Allah turunkan kepada nabi Adam As. dan terus terjaga sampai Nabi Ya'kub As. Bahkan keberadaannya masih terjaga sampai di tangan kaum bani Israil. Yang mana kaum bani Israil selalu membawanya dalam laga peperangan, dan selalu memperoleh kemenangan. Hingga pada akhirnya kaum bani Israil durhaka kepada Allah, dan dapat dikalahkan oleh kaum 'Amaliqah. Maka setelah itu at Tabut pun dicabut dari tangan kaum bani Israil.

Dan pada hakikatnya ini semua merupakan bentuk tawasul dengan atsar para nabi. Karena tidak ada maksud lain ketika kaum bani Israil membawanya dalam setiap peperangan, melainkan untuk mengharap barokah dan bertawasul kepada Allah. WallahuA'lam.

KakiLangit Edisi 38 (Juni-Juli) 2010

Berkah atau barokah merupakan kata yang sering kita dengar karena termasuk dari salam yang disunnahkan setiap kali kita bertemu dengan sesama muslim (assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh) tak jarang pula kita menemukan kata berkah pada doa-doa yang diajarkan nabi Muhammad saw pada kita. Lalu apa arti berkah itu ?

Arti Berkah

Arti berkah secara bahasa dan istilah

Dalam kamus besar bahasa indonesia berkah berarti karunia allah yang mendatangkan kebaikan pada kehidupan kita, sedangkan dalam kamus bahasa arab arti berkah adalah nikmat, oleh karena itu umumnya berkah hanya berkaitan pada hal-hal yang nikmat.

Secara istilah arti berkah ialah bertambahnya kebaikan. Maka boleh jadi, nikmat yang merupakan arti berkah secara etimologi itu tidak selalu disertai dengan keberkahan. Nikmat yang berlimpah pun bukan merupakan ciri dari berkah. Artinya nikmat yang membawa berkah tidak selalu melimpah bahkan sedikit nikmat pun bisa jadi membawa berkah.

Agar kenikmatan yang kita dapat diberkahi oleh Allah, nabi Muhammad saw senantiasa mengingatkan kita untuk berdoa dengan meminta berkah, seperti doa sebelum makan (allahumma barik lana fima rozaqtana waqina adzabannar) dan saat teman atau tetangga kita menikah pun nabi menyuruh kita mendoakan keberkahan pada mereka (barokallahu lakuma wa baroka alaikuma wa jama'a baynakuma fi khoir).

Begitu pula ketika kita mendapatkan kenikmatan apapun bentuknya kita dianjurkan berdoa supaya kenikmatan itu membawa berkah, semua itu menunjukkan bahwa berkah identik dengan sebuah kenikmatan. Nikmat yang membawa berkah akan meningkatkan kebaikan orang yang mendapatkanya, jangan sampai kenikmatan itu malah membuat orangnya merosot.

Kesalahan umum dalam memahami arti berkah

Orang-orang pada umumnya menganggap bahwa nikmat yang membawa berkah adalah nikmat yang melimpah. Pemahaman semacam itu perlu kita luruskan, sebagai contoh jaman dulu sebelum listrik ditemukan, pada saat ‎itu untuk penerangan orang-orang masih memakai lampu minyak, dengan lampu minyak itu kita memanfaatkan ‎kenikmatan sinar lampu itu untuk membaca Al-Quran dan mengaji kitab kuning. Ini jelas lampu minyak yang ‎berkah.

Lalu bagaimana dengan jaman sekarang? Sekarang dengan ditemukanya listrik penerangan jauh lebih enak dan lebih mudah, tak perlu lagi susah menyalakan lampu ‎minyak yang peneranganya tak seberapa. Sekarang lampu listrik jauh lebih terang dan lebih mudah menyalakannya. Lalu apakah lampu listrik ini berarti lebih membawa berkah dari pada lampu minyak karena melihat kenikmatan yang dibawa lampu listrik sangat melimpah ?

Berkah yang paling terlihat adalah pada ‎semua amal sholeh. ‎

Sekali lagi kami tegaskan bahwa berkah bukan identik dengan kenikmatan yang melimpah, jika dulu kita menggunakan lampu minyak untuk membaca Al-Quran mendapat 1 juz begitu lampu menjadi lebih mudah dengan listrik dan kita dapat membaca 2 juz ‎ini baru lampu listrik yang berkah namanya, namun bila tidak demikian berarti lampu listrik ini tidak ‎berkah meski kenikmatan yang didapat jauh lebih banyak dari kenikmatan lampu minyak, oleh karena itu para kyai mengatakan bahwa berkah yang paling terlihat adalah pada ‎semua amal sholeh. ‎

Barokah dan tabarrukan

Dalam pondok pesantren, kata berkah lebih karib disebut “barokah”, selain itu santri juga mengenal kata “tabarrukan” yang artinya ngalap barokah (mengambil berkah). ‎Lantas apa yang dapat kita ambil barokah-nya?

Tabarrukan atau mengambil berkah ini bisa dari amal sholeh apapun, seperti ketika kita baca Al-Quran mengambil berkah dari ‎ayat Quran, itu dipebolehkan, atau mengambil berkah dari para kyai dan wali dengan cara mencium tangan beliau saat bersalaman. ‎Dahulu sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw berebut rambut beliau ketika Beliau selesai bercukur;

“Ketika Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau sall-Allahu álayhi wasallam memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda: Anas! Bawalah ini ke Ummu Sulaym (ibunya). Ketika para shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in melihat apa yang Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau sall-Allahu álayhi wasallam yang berasal dari sisi kiri kepala beliau sall-Allahu álayhi wasallam, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (Hadits Riwayat Ahmad)

Dalam hadits lain disebutkan juga bahwa para sahabat ra berebut air bekas wudhu nabi saw, bahkan salah seorang sahabat nabi (Ukasyah bin Muhsyan) pernah mengambil berkah dengan menyentuh kulit nabi secara langsung, nah hal-hal inilah yang disebut tabarrukan.

Pada jaman sekarang boleh saja kita mengambil berkah dari ustadz, kyai atau bahkan para wali, namun yang lebih penting adalah bagaimana cara kita meniru amal sholeh yang mereka lakukan. (Jbl)

Imam Abu Hasan Al Asyari adalah ulama besar pendiri madzhab teologi Al As'ari yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, sejak dulu sampai sekarang. Ribuan ulama dari berbagai bidang keahlian telah mengakuinya sebagai aliran yang paling bisa diterima. Madzhab ini pula yang dipakai oleh Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia sebagai landasan teologis mereka. Tapi, belakangan ini, santer berhembus dari kalangan akademisi salafi (wahabi) sebuah klaim bahwa Imam Abu Hasan Al Asyari telah mencabut madzhabnya. Benarkah klaim tersebut sesuai dengan fakta sejarah dan bisa diterima oleh logika? Dalam ulasan singkat ini kita akan mencoba membahasnya bersama. Insya Allah.

Abu Hasan Al-Asy'ari
Universitas Zaitunah, Tunisia salah satu tempat penting penyebaran madzhab Asy'ariyah
ar.wikipedia.org

Tiga Fase Kehidupan Al Asy'ari

Belakangan muncul sebuah tesis yang dibuat oleh seorang akademisi beraliran wahabi yang begitu merisaukan. Tesis tersebut dengan cepat menyebar dan berkembang di kalangan pakar-pakar akademik. Masalahnya, dalam tesis tersebut tertulis, bahwa Imam Abu Hasan Al Asy'ari mengalami tiga fase perkembangan intelektualitas. Pertama, saat beliau menekuni aliran mu'tazilah dan menjadi tokoh sentral dalam aliran itu sampai usia 40 tahun. Kedua, saat Imam Al Asyari keluar dari Mu'tazilah dan mendirikan aliran teologis baru dengan bertendesi pada pemikiran Ibn Kullab. Dan, terakhir ketika Imam Al Asyari bertobat dan keluar dari aliran rintisannya sendiri lalu kembali pada madzhab salaf yang saleh (Aswaja). Hal itu dibuktikan dengan karangan beliau yang berjudul al Ibanah an Ushul al Diyanah.

Dengan menghembuskan wacana seperti itu, sama halnya mereka (baca: orang-orang wahabi) telah menyebar propaganda bahwa madzhab Asy'ariyah, yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia sampai saat ini, adalah pemikiran Imam Abu Hasan Al Asy'ari pada fase kedua perkembangan intelektulitasnya. Yakni fase dimana beliau merintis alirannya sendiri berdasarkan pemikiran Ibn Kullab yang kemudian beliau cabut dengan mengarang kitab al Ibanah an Ushul al Diyanah. Tentu saja wacana tersebut memantik kerisauan di hati warga nahdliyin yang menganut madzhab Asy'ariyah sebagai landasan teologis mereka.

Dengan tesis tersebut mereka, sekaligus, ingin mengklaim bahwa Imam Abdulah bin Sa'id bin Kullab bukan pengikut Ahlussunnah wal Jamaah dan kitab al Ibanah an Ushul al Diyanah adalah sebuah bukti intelektual bahwa Imam Abu Hasan Al Asy'ari telah mencabut madzhabnya.

Fakta Sejarah Membuktikan...

Imam Abu Hasan Al Asy'ari adalah pemikir yang sangat terkenal dan populer pada masanya. Beliau tidak pernah dikenal sebagai tokoh kontroversial dan misterius yang suka menyembunyikan profilnya dari publik. Sehingga, biografi dan sejarah kehidupan beliau sangat mudah dilacak dan dikaji secara umum. Oleh karenanya, bisa dibilang, tidak masuk akal jika peristiwa “pembatalan” madzhab tersebut tidak diketahui oleh pakar sejarah dan pemerihati profil beliau. Bahkan mungkin tersebar luas di kalangan umat Islam sebagaimana peristiwa naiknya beliau ke atas mimbar masjid Bashrah dan menyatakan keluar dari aliran Mu'tazilah.

Namun, pencabutan madzhab yang menjadi bagian dari tiga fase kehidupan Imam Al Asy'ari sebagaimana tertulis dalam tesis tersebut tidak pernah tercantum dalam buku sejarah yang ditulis pakar sejarah di manapun. Juga tidak pernah disebutkan oleh para pakar dan murid-murid beliau. Justru informasi yang banyak ditulis adalah peristiwa pindahnya beliau dari aliran mu'tazilah menuju madzhab salafus shalih dan membelanya mati-matian dengan hujah-hujah yang meyakinkan. Bahkan, kitab Ibanah ’an Ushul al Diyanah adalah salah satu karangan beliau yang menjelaskan hujah-hujah tersebut.

Oleh karenanya bisa kita simpulkan, bahwa tiga fase dalam tesis tersebut tidak lain adalah kebohongan yang sengaja dikarang-karang untuk mempropaganda Nahdliyin.

Ibnu Kullab Penganut Aswaja Tulen

Terkait dengan klaim wahabi, dalam tesis tersebut, bahwa setelah Imam Al Asy’ari keluar dari mu'tazilah kemudian mengikuti pemikiran Imam Abdullah bin Sa'id bin Kullab, memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Karena memang demikian adanya. Namun tersirat pula dalam tesis tersebut bahwa Ibnu Kullab bukan orang aswaja. Dan, pernyataan itulah yang akan menjadi pokok bahasan kita selanjutnya. Benarkah Ibnu Kullab bukan penganut faham Aswaja?

Tentu saja pernyataan tersebut salah besar. Karena, beliau adalah penganut aswaja tulen. Sebagaimana bila kita merujuk pernyataan-pernyataan para pakar berikut ini. Imam Tajuddin al Subki, secara jelas mengatakan, bahwa Ibnu Kullab adalah seorang yang berpandangan ahlussunah waljamaah. Sementara itu, disebutkan dalam bagian akhir kitab Ghoyat al Maram fi ilm al Kalam karangan Imam Dhiyauddin al Khathib, bahwa Ibnu Kullab adalah seorang pakar teologi pada masa Khalifah al Makmun. Bahkan beliau pernah mempermalukan pakar teologi dari Mu'tazilah dalam sebuah perdebatan di majlis al Makmun. Dan, tentu masih banyak lagi pendapat-pendapat pakar yang menyatakan bahwa Ibnu Kullab bukanlah teolog yang menyalahi ulama' salaf. Bahkan beliau termasuk ulama' salaf dan konsisten mengikuti metodologi mereka dalam masalah sifat Allah, yaitu metodologi tafwidh sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Lisan al-Mizan..

Al Ibanah yangAsli

Selanjutnya, yang perlu juga diluruskan adalah kitab al-ibanah yang mereka jadikan sebagai dasar bahwa al-Asyari telah mencabut pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab. Jika kita mengacu pada Kitab al-lbanah yang asli, justru akan semakin gamblang bahwa Al Asy'ari memang seorang teolog beraliran aswaja yang benar-benar briliant. Kitab al-lbanah adalah karya Al Asy'ari yang ditulis mengikuti metodologi Ibn Kullab, sehingga tidak mungkin diklaim bahwa al- Asy'ari telah mencabut pendapat tersebut.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqolani dalam Lisan al-Mizan menyatakan bahwa Al Asy'ari menulis kitab Al Ibanah berdasarkan pemikiran-pemikiran Ibn Kullab. Bukti lain yang mengukuhkan bahwa Al Ibanah memang ditulis berdasarkan pemikiran Ibn Kullab adalah ditolaknya kitab tersebut oleh Al Barbahari yang mewakili golongan Hanabila. Hal ini menunjukkan Al Ibanah Asli yang ditulis oleh Al Asy'ari tidak sejalan dengan paradigma Hanabila yang menjadi acuan kaum Wahabi. Jika memang saat ini ditemukan Kitab Al ibanah dalam versi yang berbeda, maka tentu kitab tersebut telah mengalami tahrif, penambahan dan pengurangan.

Dengan demikian maka tesis yang menyebut tiga fase kehidupan Imam Asy'ari adalah sekedar omong kosong yang tidak perlu ditanggapi dengan serius. Karena, tesis tersebut tidak didukung oleh dasar referensi yang valid. Wallahu A'lam.

KakiLangit Edisi 38 (Juni-Juli) 2010
Disarikan dari: Madzhab Al Asy'ari, Benarkah Ahlussunah wal Jama'ah? karya Ust. M Idrus Ramli

[youtube src="spIPTXNjEM4"/]

Abdullah Umar, santri Langitan yang wafat tenggelam di Sungai Bengawan Solo itu dikenal ayahnya sebagai sosok yang suka menolong dan pintar.

Terbukti selama menjadi santri Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Widang, Kabupaten Tuban, selama 4 tahun, putra KH Umar Thoha itu sudah menghafal 4 juz Al Quran dan telah menyelesaikan hafalan Imrithi.

"Setelah lulus madrasah ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Trate, (Kelurahan Trate, Kecamatan Gresik, Red), langsung mondok ke Langitan sudah 4 tahun ini. Sampai saat ini sudah 4 tahun. Sudah mampu menghafal Imrithi, Amtsilatut Tashrif, Alfiya, dan Al Quran 4 juz," jelas KH Umar Thoha, Minggu (9/10/2016), usai pemakaman putranya di pemakaman umum Kelurahan Telogopojok, Kecamatan Gresik. Seperti dilansir tribunnews.com.

Selain itu, sejak kecil, Abdullah Umar dikenal sebagai anak yang suka menolong.

"Anaknya suka menolong," imbuhnya sembari meneteskan air mata.

Almarhum Abdullah Umar, merupakan salah satu dari 7 santri Langitan yang tenggelam di sungai Bengawan Solo, Jumat (7/10/2016).

Kejadian tersebut ketika 25 santri Ponpes Langitan, menyeberang ke Pasar Babat, Lamongan tiba-tiba perahu terguling sehingga 25 santri tercebur di sungai dan 7 santri hanyut terbawa arus Sungai Bengawan Solo. (Elf)

Diduga karena kelebihan muatan dan derasnya arus sungai bengawan Solo, sebuah perahu kayu yang ditumpangi 25 Santri Pondok Pesantren Langitan, Tuban terbalik. Atas peristiwa tersebut, sebanyak 7 santri langitan dilaporkan meninggal dunia.

santri langitan tenggelam
Foto: Evakuasi jenazah korban detik.com

Peristiwa ini terjadi Jumat (7/10) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu 25 santri Langitan hendak menyebrang Kali Bengawan Solo di seberang Pondok Langitan Widang Tuban. Mereka menggunakan jasa penyebrangan perahu kayu yang dinahkodai Markat (61), Warga Dusun Selawe Desa Ngadirejo, Kecamatan Widang untuk menuju Babat, Lamongan.

Kronologi kejadian:

  1. 25 Santri Pondok Pesantren Langitan bersama-sama menyewa perahu yang semestinya untuk 21 orang menuju Pasar Babat, Desa Banaran, Babat, Lamongan.
  2. Mereka berangkat dari dermaga perahu di Desa Widang menuju dermaga Dusun Bubulan, Desa Banaran, Babat Lamongan.
  3. 10 meter menjelang sampai tujuan dan 5 meter dari tepi sungai, bagian depan perahu mulai tenggelam karena kelebihan beban. Para santri pun berhamburan.
  4. Nakhkoda perahu mengambil inisiatif cepat dengan membalikkan perahu agar bisa menjadi pegangan santri. 18 santri bisa terselamatkan, namun tujuh santri lainnya terseret arus hingga hilang.

Nama-nama korban hilang

Berikut ini adalah nama-nama korban hilang yang semuanya telah ditemukan wafat.
  1. Abdullah Umar (15), Bedilan Gresik
  2. M Afiq Fadlil (19), Bulak Paren, Bulukumba Brebes
  3. Moh Barikly Amry (12), Leran, Manyar, Gresik
  4. Muhammad Arif Mabruri (19), Ngampal Sumberejo Bojonegoro
  5. Muhsin (16), Pacar Kembang, Tambaksari, Surabaya
  6. Rizki Nur Habib (15), Cinta Rakyat, Percut Sei Tuan, Deli Serdang
  7. Lujaini Dani (13), Ganden, Manyar, Lamongan

Pemerintah Propinsi Jawa Timur lewat Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Jatim, Siti Nurahmi, telah memberikan santunan bagi 25 santri Langitan yang mengalami musibah perahu tenggelam di Bengawan Solo. Total santunan yang diberikan sebanyak Rp 95 juta. (Elf)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget