Kisah Penyesalan Sya'ban Sebelum Ajal Menjemputnya

Sya’ban tak menyesal atas perbuatannya, tapi mengapa ia tak mengoptimalkan perbutannya. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari kisah singkat ini.

Sya'ban ra. adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang kurang populer jika dibanding sahabat-sahabat beliau yang lain. Kisah ini bermula dari kebiasaan unik yang Sya'ban ra. lakukan, yakni setiap kali dia masuk ke masjid dia selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid guna beri'tikaf sambil menunggu sholat jama'ah dimulai. Hal ini ia lakukan bukan agar dia bisa duduk sambil bersandar (seperti yang biasa orang lakukan di jaman sekarang), melainkan karna ia tak mau ibadahnya diganggu orang lain atau takut mengganggu ibadah orang lain.

penyesalan sya'ban

Nabi Muhammad dan para sahabat sudah faham betul dengan kebiasaan unik Sya'ban yang selalu memilih tempat pojok bagian depan masjid setiap mau sholat berjamaah. Hingga suatu pagi saat Nabi Muhammad saw. mau sholat shubuh berjamaah beliau tak melihat Sya'ban diposisi biasanya, beliau bertanya pada sahabat yang hadir, adakah yang melihat Sya'ban?

Namun tak satupun dari sahabat yang hadir melihat Sya'ban. Nabi Muhammad menunda jamaah untuk menunggu kehadiran Sya'ban, namun karena lama ditunggu ia tak juga datang akhirnya beliau memutuskan untuk memulai jamaah sholat subuh karena takut kesiangan.

Setelah selesai jamaah, Nabi bertanya "Apa ada dari kalian yang mengetahui kabar Sya'ban?". Lagi-lagi tak satupun sahabat yang menjawab, Nabi pun bertanya lagi "Adakah dari kalian yang tau dimana Sya'ban tinggal?", salah seorang sahabat menjawab bahwa ia tau persis dimana Sya'ban tinggal.

Karena rasa khawatir Nabi Muhammad saw. meminta diantarkan ke rumah Sya'ban saat itu juga. Ternyata perjalanan yang beliau dan rombongan tempuh dengan berjalan kaki amat jauh hingga akhirnya beliau beserta rombonganya sampai kerumah Sya'ban.

Sesampainya di rumah yang dituju, Nabi Muhammad saw. mengucapkan salam lalu keluarlah seorang wanita membalas salam beliau.

"Apa benar ini rumah Sya'ban?" Tanya sang Rasulullah.
Wanita itu menjawab "iya benar, saya istrinya"
"Kalau boleh tau, dimana Sya'ban sekarang? Bisakah aku bertemu denganya?"

Dengan berlinangan air mata wanita tersebut menjawab: "Sya'ban baru saja meninggal ya Rasulullah". "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun". Subhanallah!, ternyata dia sudah meninggal, oleh karena itu dia tidak sholat shubuh berjamaah.

Setelah mempersilahkan Rasululloh saw. masuk, wanita itu bertanya, "Ya Rasululloh, kami terkejut saat sebelum Sya'ban menghembuskan nafas terakhirnya ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda-beda, kami sekeluarga tidak tau apa maksudnya.

“Apa saja kalimat yang Sya'ban ucapkan sambil berteriak?" tanya Rasululloh saw.
Wanita tersebut menjawab, dimasing-masing teriakannya ia mengucapkan:
“Ah, kenapa kurang jauh.”
“Ah, kenapa bukan yang baru.”
“Ah, kenapa tidak semuanya.”

Kemudian Rasululloh Saw membacakan ayat dalam surat Qaaf ayat: 22, yang artinya:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami angkat hijab yang menutupi matamu, hingga penglihatanmu pada saat itu sangat tajam” (Qs. Qaaf:22)

Ternyata, saat sebelum ajal menjemput Sya’ban ra, Allah mengangkat hijab yang menutupi matanya, sehingga ia dipertontonkan adegan kesehariannya saat dia pulang-pergi ke masjid guna sholat lima waktu berjamaah. Perjalanan yang ia tempuh sambil jalan kaki sekitar 3 jam jelas bukanlah suatu jarak yang dekat. Dalam tayangan itu ia juga diperlihatkan pahala yang ia dapat untuk setiap langkah kakinya menuju masjid. Ia dapat melihat seperti apa surga tempatnya kelak. Kemudian saat itu dia berkata: “Ah, kenapa kurang jauh”. Ada penyesalan dalam hati Sya’ban r.a, kenapa rumahnya kurang jauh hingga pahala yang ia peroleh dan surga tempatnya tinggal lebih indah.

Kemudian Sya’ban ra. melihat adegan dimana ia hendak keluar ke masjid untuk sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia baru membuka pintu, tiba-tiba angin yang sangat dingin berhembus seolah menusuk tulak rusuknya. Setelah itu ia masuk lagi ke kamarnya untuk memakai satu baju lagi agar tidak kedinginan di perjalananya.

Sya’ban r.a dengan sengaja memakai pakaian yang bagus di bagian dalam dan pakaian yang jelek di bagian luar. Ia berpikir dalam hati, seandainya nanti diperjalanan ia terkena kotoran maka sudah tentu pakaian luarnya yang terkena, sehingga saat sampai dimasjid ia bisa melepasnya dan sholat berjamaah dengan menggunakan baju bagian dalam yang bersih dan lebih bagus.

Namun di tengah perjalanannya ke masjid, ia melihat seseorang yang sedang telentang sambil menggigil kedinginan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia pun tak tega melihatnya, lalu bergegas membuka baju bagian luarnya dan dipakaikan pada orang tersebut serta menolongnya untuk bersama-sama ke masjid guna melaksanakan sholat berjamaah.

Lalu Sya’ban ra. diperlihatkan keindahan surga yang ia dapat sebagai ganjaran dari baju jeleknya yang ia pakaikan pada orang tersebut. Kemudian saat itu dia berteriak dan berkata lagi: “Ah, kenapa bukan yang baru!" Sesalnya. Jika baju jelek yang ia pakaikan saja bisa mendapat pahala yang begitu besar sebagai balasanya, apalagi jika baju yang baru.

Kemudian, Sya’ban ra. diperlihatkan lagi sebuah adegan saat ia mau sarapan dengan roti yang biasa dimakan dengan cara mencelupkanya ke secangkir susu hangat. Yang sudah pernah Haji mungkin sudah tau ukuran roti Arab sekitar 3 kali lipat ukuran roti di Indonesia pada umumnya. Saat ia baru saja mau melahap roti tsb, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pengemis yang muncul di depan pintunya meminta agar diberi sedikit roti karena lebih dari 3 hari perutnya belum terisi makanan. Tak tega melihat pengemis tersebut kelaparan, Sya’ban ra. lalu memotong roti itu menjadi 2 bagian dan secangkir susu itupun ia bagi dua.

Akhirnya mereka berdua makan dan minum dengan roti dan susu itu. Allah swt. memperlihatkan pahala dan ganjaran dari perbuatan itu serta surga yang indah tempat ia tinggal kelak. Saat melihat semua itu, Sya'ban lagi-lagi berteriak sambil berkata: “Ah, kenapa tidak semuanya.” rasa sesal kembali dirasakan oleh Sya’ban ra. jika saja ia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, sudah pasti ia akan mmemperoleh surga yang jauh lebih indah.

Masyaallah!, Sya’ban tidak menyesal atas perbuatannya, tapi ia menyesal mengapa tidak mengoptimalkan perbutannya. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah singkat ini, sehingga bisa lebih optimal dalam mengisi dan menggunakan sisa waktu yang diberikan oleh Allah swt. Aamiin.. (Jbl)
Labels:

Poskan Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget