Da'wah ala KH Manshur Kalipucung Blitar

Sekarang terbukti, bahwa dawuh KH Manshur diijabahi Allah, anak keturunan PKI disini semua masuk Islam dan Nyantri pada KH. Manshur.

Sore itu, saya sowan kepada salah satu santri Alm KH Manshur (1885-1964), beliau ipar Kyai abdul karim lirboyo, sekaligus guru Gus Maksum. Saya didongengi kiprah KH Manshur ketika mbabat alas, syiar agama dan bermasyarakat. Santri itu bernama Mbah Zaenuri usianya sekarang 70an.

KH Manshur Kalipucung Blitar
Makam KH Manshur Kalipucung Blitar

"Mbah, bagaimana kisah KH Manshur bermasyarakat?" tanyaku.
Mbah zen dengan menyulut rokoknya lalu berkata:" Kyai Manshur hidup dengan masyarakat biasa-biasa saja, meskipun kala itu ada Abangan dan PKI".
Aku pun bertanya dengan penasaran:" Biasa-biasa bagaimana? Koq terkesan mboten berjuang atau melawan?!" Mbah zen tersenyum, lalu berkisah:

"Doeloe, Dikampung Kalipucung ini ada tiga kelompok, pertama Santri, kedua PKI, ketiga Abangan. Nah, yang sering "melecehkan dan menghina" islam adalah PKI. Semisal, ketika santri berangkat sholat atau ngaji, dihadang lalu dilecehkan (bahasa sekarang dinistakan) dengan ucapan-ucapan merendahkan Islam yg membangkitkan amarah para santri. Selanjutnya santri-santri ini lapor KH Manshur yang dikenal suwuk serta gemblengannya. Bagaimanakah sikap KH Manshur?! Marahkah beliau, Islam dilecehkan oleh PKI?". "Lantas bagaimana Mbah?! Tanyaku semakin penasaran dan berharap KH. Manshur mengobrak abrik sarang PKI dengan kesaktiannya.

Mbah zen, sejenak nyeruput kopinya, sambil menghela nafas, dia lanjutkan: KH. Manshur dawuh: "biarkan saja, tidak perlu diurusi, yang penting kalian tetap istiqomah sholat berjamaah dan mengaji. Semoga mereka (PKI) mendapatkan hidayah atas kejahilannya, dan jika memang tidak mendapatkan hidayah, semoga anak keturunannya mendapat hidayah, sehingga nyantri disini". Mbah zen menambahkan: " Sekarang terbukti, bahwa dawuh KH Manshur diijabahi Allah, anak keturunan PKI disini semua masuk Islam dan Nyantri pada KH. Manshur." Mungkin ini yang dimaksud "Innal hasanaat yudzhibna assayyiaat (perbuatan baik bisa menghapus keburukan) dengan cara yang elegan tanpa melancarkan jurus silatnya."

penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.
Labels:

Poskan Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget