Januari 2016

hikmah hikam ke 2

Iradatuka al-tajrid ma'a iqamatillahi iyyaka fi al-asbab minas syahwah al-khafiyyah.
Wa iradatuka al-asbab ma'a iqamatillahi iyyaka fi al-tajrid inhithat an al-himmah al-aliyyah.

Kehendakmu untuk berada dalam maqam tajrid ketika Allah menempatkanmu dalam maqam asbab adalah termasuk syahwat yang tersamar.
Dan kehendakmu kepada asbab ketika Allah menempatkanmu pada maqam tajrid adalah terperosok jatuh dari cita-cita luhur.


Syarah / Penjelasan

Asbab adalah melakukan kasab untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan duniawi. Sedangkan tajrid adalah meninggalkan kasab dan usaha memperoleh kebutuhan dan keinginan duniawi.

Barang siapa ditempatkan oleh Allah dalam maqam asbab (tempat di mana ia harus bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan duniawi), kemudian ia ingin keluar dari maqam tersebut, maka keinginan itu adalah syahwat yang tersamarkan.

Disebut "syahwat" karena ia tidak merasa tentram dan tidak menerima tempat/maqam yang telah dipilih Allah untuknya. Dan dikatakan "tersamar" karena sebenarnya ia bermaksud taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah, namun yang terjadi malahan ia melancangi kehendak Allah dan kurang tata krama dalam menginginkan tempat yang tidak patut bagi derajatnya.

Tanda bahwa Allah telah menempatkan seseorang dalam maqam asbab ialah dia berdiam lama (mudawamah) di tempat itu dan telah menghasilkan buah dari maqam asbab tersebut. Dengan sekira dalam kesibukan-kesibukan kasab ia menemukan keselamatan agamanya, ia terselamatkan dari rasa menginginkan harta benda orang lain, menjadi ringan baginya untuk menolong fakir miskin, dan faedah-faedah harta lainnya yang berhubungan dengan kemaslahatan agama.

Dan barang siapa berada dalam maqam tajrid -tempat di mana ia mencurahkan waktu-waktunya untuk mengingat Allah dan beribadah pada-Nya tanpa terganggu dengan kesibukan kasab dan mencari nafkah-, kemudian ia berkeinginan meninggalkan maqam tersebut untuk menempati maqam asbab, maka ia telah jatuh terperosok dari cita-cita luhur (himmah aliyah) dan juga berbuat lancang kepada Allah.

Ibnu Ata'illah As Sakandari menyebut orang ini jatuh terperosok dari himmah aliyah karena sesungguhnya tajrid itu adalah derajat yang tinggi. Allah SWT hanya menempatkan orang-orang khawas (spesial) dari hamba-hambaNya yang telah ma'rifat dan bertauhid saja di tempat ini. Maka keluar dari tajrid merupakan kejatuhan dari sebuah martabat tinggi yang hanya mampu dicapai orang-orang tertentu menuju tempat umum yang bisa dicapai siapapun.

Di antara tanda-tanda bahwa Allah telah menempatkan seorang hamba di maqam tajrid adalah: hatinya tetap merasa tenang di saat dalam keadaan kekurangan, dan Allah memudahkan baginya pintu rezeki dari jalan yang tak disangka.

Dalil al-Qur'an

Kewajiban seorang salik adalah berdiam diri di tempat di mana Allah SWT menempatkannya di sana, dan seyogyanya ia tidak keluar dari maqam itu dengan menuruti nafsunya belaka sehingga ia terjatuh dalam keputus asaan. Na'udzu billah.

Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS Al-Israa': 80)

Wallahu a'lamu bis shawab.

penulis
Syamsurrijal Ahmad
Penulis adalah khadimul ma'had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

K.H. Sirajuddin bin Abbas bin Abdil Wahab, lahir di Bengkawas, kabupaten Agam, kota Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Mei 1905 – meninggal 5 Agustus 1980 pada usia 75 tahun, adalah seorang ulama, politisi dan menteri Republik Indonesia.

K.H. Sirajuddin Abbas

Sirajuddin Abbas dikenal sebagai seorang ulama madzhab Syafi'i dan tokoh penting Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Beliau juga sempat menerima amanah sebagai Menteri Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I dengan masa bakti mulai tanggal 30 Juli 1953 hingga 12 Agustus 1955.

Sebagai seorang alim ulama, beliau dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan aqidah mazhab Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni) dan mazhab Syafi'i dalam bidang furu' (ilmu fikih).

Sejak usia 5 tahun di tahun 1910-1913, Sirajuddin Abbas memulai pendidikan agamanya dari orangtuanya sendiri. Beliau belajar membaca Al-Qur'an kepada ibunya, yang kemudian dilanjutkan belajar kitab berbahasa arab kepada ayah beliau, Syeikh Haji Abbas di Ladang Lawas. Di antara tahun tersebut, dituturkan bahwa beliau juga belajar di pesantren-pesantren Syeikh Haji Husein Pakan Senayan, dan Tuanku Imran Limbukan Pajakumbuh, Sumatera Barat.

Pada usia 15 tahun (1920 M hingga 1923), beliau mendalami ilmu agama di pesantren Syeikh Haji Abdul malik, Gobah Ladang Lawas, Bukit Tinggi.

Rasa dahaga pada pengetahuan agama yang lebih mendalam menuntun beliau pergi merantau di kota suci Makkah. Selama enam tahun (1927 - 1933) beliau mendalami ilmu agama di Makkah. Dalam kesempatan itu beliau juga memanfaatkan sela-sela waktu belajar untuk menunaikan ibadah haji di tiap tahunnya hingga 7 kali berturut-turut. Kemudian Pada tahun 1930 beliau diangkat menjadi staf sekretariat pada konsulat Belanda di Mekkah.

Di antara guru-guru beliau selama belajar di Makkah adalah:

  1. Syeikh Sa'id Yamani, Mufti Mazhab Syafi'i. Kitab yang dipelajari adalah Kitab al-Mahalli.
  2. Syeikh Husein al Hanafi, Mufti Mazhab Hanafi. Darinya beliau mempelajari kitab Shahih Bukhari.
  3. Syeikh Ali al Maliki, Mufti Mazhab Maliki. Kitab yang dikaji adalah Kitab Al Furuq, merupakan kitab di bidang Ushul Fiqih.
  4. Syeikh Umar Hamdan, seorang ulama Mazhab Maliki. Kitab yang dipelajari adalah Al Muwatta, karya Imam Malik.
  5. Beliau juga belajar Bahasa Inggris dari guru asal Tapanuli bernama Ali Basya.
Sepulang dari Makkah pada tahun 1933, Sirajuddin Abbas menimba pelbagai ilmu kepada Guru Besar Maulana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukit Tinggi. Kemudian beliau pulang ke kampung halamannya di Minangkabau untuk meneruskan perjuangan ayahnya, mengajar di pesantren-pesantren yang ada di Minangkabau.

Tiga tahun setelah kepulangannya dari Mekkah K.H. Sirajuddin Abbas mulai dikenal sebagai muballigh muda yang potensial sehingga memikat hati para ulama Tarbiyah Indonesia, sebuah organisasi keagamaan yang ada di Bukittinggi. Tak berselang lama, beliau pun terpilih sebagai ketua umum Tarbiyah Indonesia dalam kongres ketiga organisasi tersebut di Bukittinggi pada tahun 1936.

Karya tulis K.H. Sirajuddin Abbas

K.H. Sirajuddin Abbas sangat aktif menulis, banyak judul buku yang telah beliau hasilkan. Sebagian karya beliau ditulis dalam bahasa Arab dan sebagian dalam bahasa Indonesia.

Karya-karya beliau yang berbahasa Arab adalah:
  1. Sirajul Munir, (Fiqih 2 jilid).
  2. Bidayatul Balaghah, (Bayan).
  3. Khulasah Tarikh Islami, (Sejarah Islam).
  4. Ilmul Insya'.
  5. Sirajul Bayan fi Fihrasati Ayatil Qur'an.
  6. Ilmun Nafs.
Karya-karya tersebut beliau tulis dari tahun 1933-1937, kitab No.2 dan No.3 sudah dicetak berulang-ulang.

Dalam bahasa Indonesia antara lain
  1. I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah.
  2. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i.
  3. 40 masalah agama-Jilid I.
  4. 40 masalah agama-Jilid II.
  5. 40 masalah agama-Jilid III.
  6. 40 masalah agama-Jilid IV.
  7. Kumpulan soal jawab keagamaan.
  8. Kitab fiqih ringkas.
  9. Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.
  10. Thabaqatus Syafi'iyah.
Setelah cukup banyak mewariskan ilmu sepanjang masa hidupnya dalam buku-bukunya, K.H. Sirajuddin Abbas menutup usianya yang telah mencapai 75 tahun. Beliau wafat pada 5 Agustus 1980 setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo akibat serangan jantung yang ia derita. Saat pemakaman tampak perhatian warga yang begitu besar. Jasad beliau dimakamkan di pemakman Tanah Kusir Jakarta Selatan, yang dihadiri wakil presiden Republik Indonesia Adam Malik. Semoga Allah merahmati beliau dan memberikan manfaat ilmu beliau untuk kita semua. Amin.

Sumber. id.wikipedia.org

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget