September 2016

Imam Sibawaih, santri mana yang tak kenal dengan beliau? Setiap santri yang belajar ilmu gramatika arab pasti tau nama besar itu, bahkan beliau sering kali disebut dalam kitab Nahwu dan Shorof. Ya, itu karna beliau adalah pakar ilmu Nahwu. Jika diminta menyebutkan nama-nama ulama ahli nahwu, maka Imam Sibawaih-lah yang akan disebut pertama kali.

imam sibawaih
makam Imam Sibawaih di Shiraz

Untuk lebih mengenal siapakah Imam Sibawaih ini? Team AlaSantri telah menuliskan biografi singkat beliau di bawah ini.

Biografi singkat Imam Sibawaih

Beliau memiliki nama lengkap Amr bin Utsman bin Qanbar. Dilahirkan di daerah Baidha (desa di Persia berdeketan dengan Shiraz) pada tahun 148 H (sekitar 765 M). Meski dilahirkan di Baidha namun beliau tumbuh besar di Bashra, Iraq, dan menjadi salah satu ulama Bashra terpopuler kala itu.

Amr bin Utsman muda lantas mendapatkan laqob (julukan) Sibawaih. Julukan ini diambil dari bahasa Persia, "Sib" artinya buah apel, dan "Waih" artinya wangi. Jadi Sibawaih artinya wangi buah Apel. Konon menurut cerita yang penulis dengar sangat masyhur di kalangan pesantren, laqob ini diberikan karena beliau memiliki aroma wangi seperti buah apel pada tubuhnya.

Guru-Guru beliau antara lain adalah Syaikh Hammad bin Salmah bin Dinar (pakar Hadits). Imam Sibawaih pernah menyalahkan sebuah hadits yang disampaikan oleh Syaikh Hammad dan mengkritiknya dari sisi kaedah Nahwu, namun teryata beliau-lah pada waktu itu yang salah sehingga membuat guru beliau marah "wahai Sibawaih, kamu telah salah besar. Hadits ini tidak seperti yang kamu kira" kata Syaikh Hammad, lalu Imam Sibawaih berkata "Sungguh, mulai sekarang aku akan belajar ilmu nahwu sehingga aku tak lagi mudah disalahkan".

Dari kesalahan itu, Amr bin Utsman memutuskan untuk mempelajari ilmu tentang gramatika arab pada Imam Kholil bin Ahmad Al-Farohidi (pakar Nahwu dan pencetus ilmu Arudl/Wazan Syi'ir). Beliau berguru pada Imam kholil dengan suka cita dan tekat yang bulat sehingga beliau selalu mengikuti gurunya bak bayangan yang selalu mengikuti sebuah benda.

Tak puas hanya berguru pada Imam Kholil beliau melanjutkan belajar ilmu gramatika arab pada Syaikh Yunus bin Habib, Syaikh Isa bin Umar, Syaikh Abul Khottob yang terkenal dengan julukan Imam Akhfas, dan banyak lagi.

Kisah Imam Sibawaih

Berikut ini adalah sepenggal kisah populer yang penulis dapat dari Hasiyah Syarwani Hal 8 Juz 1;

فقد حكي أن سيبويه رئي في المنام فقيل له ما فعل الله بك فقال خيرا كثيرا لجعلي اسمه أعرف المعارف نهاية

Dikisahkan bahwa salah seorang sahabat Imam Sibawaih bermimpi bertemu dengan beliau, kemudian terjadilah dialog :

Sahabat: apa yang Allah beri untukmu ?
Imam Sibawaih: Sungguh Allah telah memberiku Kebaikan yang tak terhitung, hal ini bukan karna karya-karyaku, bukan karna amal ibadahku, melainkan karna aku telah berpendapat bahwa lafadz Jalalah (Allah) adalah lafadz paling makrifat.

NB: Makrifat dalam ilmu Nahwu adalah setiap kalimat isim yang hanya menunjukkan individu tertentu, seperti lafadz Zaidun lafadz ini disebut makrifat karna hanya menunjukkan 1 individu tertentu karna merupakan sebuah nama (Alam).

Kitab Nahwu Paling Kuno

Karya Imam Sibawaih dalam bidang nawu adalah Al-Kitab. Sebuah kitab Nahwu paling kuno yang hari ini sampai kepada kita. Al-Kitab merupakan karya nahwu yang tak ternilai harganya, ditulis dengan bahasa yang singkat namun padat akan makna.

Dalam karya ini, pembahasan belum dikelompokkan dalam bab, fasal dan furu'. Mungkin ulama' di masa itu belum sepiawai ulama' muta'ahhirin dalam membukukan sebuah pengetahuan. Walaupun demikian, karya besar ini memperoleh gelar Al-Kitab dikarenakan menjadi rujukan utama bagi perkembangan ilmu nahwu selanjutnya.

Duka mendalam pecinta nahwu

Dalam ilmu nahwu hanya dikenal dua madzhab. Yaitu madzhab Basra yang disebut Bashriyyun, dan Kufah yang dikenal dengan sebutan Kufiyyun. Di masa itu, Sibawaih adalah syaikh (grand master) ulama Basra, sedangkan kubu Kufah memiliki Imam Al-Kisa'i sebagai syaikh mereka.

Saat berhijrah ke Baghdad, Imam Sibawaih berjumpa dengan Imam Kisa'i. Sebuah momen fenomenal yang mempertemukan dua Imam Nahwu dari dua kubu yang sering berbeda pandangan. Mereka berdua beradu argumen di hadapan khalifah Harun al-Rasyid. Khalifah mengundang orang-orang Arab asli untuk menunjuk siapa diantara dua imam agung ini yang benar. Dan akhirnya orang-orang Arab itu memenangkan imam al-Kisa'i.

Detail kisah perdebatan dua petinggi nahwu ini insya Allah akan AlaSantri ceritakan di lain kesempatan.

Kekalahan ini menjadi duka bagi Sibawaih, hingga beliau memutuskan untuk meninggalkan kota dan kembali ke Baidha, desa tempat beliau dilahirkan. Beliau tetap tinggal di Baidha hingga wafat pada tahun 180 H/796 M dalam usia belum genap 33 tahun. Semoga Allah merahmatinya dan memberikan manfaat ilmu beliau kepada kita semua. Amin. (Jbl)

Sebelum lebih jauh kita ulas tips agar betah mondok, terlebih dulu kita harus mengerti arti dari kata “Mondok”. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia tidak ditemukan kata “Mondok”, mondok adalah sebutan untuk kegiatan seseorang yang sedang menimba ilmu jauh dari keluarga dan menetap dalam waktu yang lama dengan tujuan khidmat (mengabdi) kepada Kyai yang disertai dengan menjauhi keinginan hawa nafsu tentunya dengan harapan semoga mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dan orang yang sedang mondok dikenal dengan sebutan “Santri”.
tips agar betah mondok
Anak-anak zaman sekarang pada umumnya merasa tidak betah mondok, mungkin karena mereka belum mengenal pondok atau tidak hidup dilingkungan pondok pesantren, sehingga mereka susah beradaptasi dengan kegiatan pesantren yang penuh dengan aturan serta larangan yang hanya ditemukan dipondok. Seperti larangan memegang hp, nonton tv dan bahkan hanya sekedar mendengar musik.

Kali ini AlaSantri akan membagikan kiat serta tips agar betah mondok dan ngaji di pesantren. Jika Anda, putra Anda, kerabat atau kenalan Anda merasa tidak kerasan di pondok, maka Anda harus membaca tips berikut ini.

1. Jangan terlalu sering minta dikunjungi ortu/izin pulang ke rumah

Santri yang keseringan pulang kampung atau dikunjungi orang tuanya acap kali tidak lagi betah di pondok. Saat santri pulang tentu akan menyebabkan ia lupa segala larangan yang ada di pesantren. Misalnya, bermain HP, nonton TV, dsb.

Nah, saat pulang para santri biasanya melakukan segala kegiatan dan permainan yang dilarang di pondok, hingga akhirnya akan membuat santri malas untuk untuk kembali lagi ke pondok, karena merasa di pondok segala kesenangan yang ada di rumah akan hilang.

Oleh karna itu kebanyakan orang memilih untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh dari rumah, agar tidak mudah untuk pulang.

Begitu juga terlalu sering dijenguk orang tua itu merupakan hal yang kurang baik (terutama bagi santri cilik/santri baru mondok) karena akan mengganggu kosentrasi santri, dan membuat santri ingin ikut pulang bersama orangtuanya saat dijenguk. Saran terbaik dari penulis bagi ortu adalah untuk tidak terlalu sering menjenguk, jenguklah putra Anda maximal sebulan sekali.

2. Minta doa dari Kyai supaya betah mondok

Minta barokah do'a dari kyai adaalah cara yang ampuh untuk membuat hati betah dan kerasan di pondok. Selain itu, sebelum berangkat ke pesantren, mintalah doa restu dari orang tua, kakek, nenek, kerabat maupun tetangga. Apalagi umumnya pada saat pamitan mau berangkat ke pondok biasanya kerabat tak sedikit yang memberikan tambahan uang saku, lumayan buat nambah uang jajan.

Selain do'a dengan bertawassul, berdo'alah sendiri dengan sepenuh hati. Dari pengalaman penulis biasanya santri baru selalu diajarkan doa ini oleh seniornya supaya tenang dan betah di pondok.

Do’a supaya sabar dan betah mondok:

رَبَّناَ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَبِّتْ أَقَدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْن. رَبَّنَا لاَتُزِعْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب. اَللَّهُمَّ ثَبِّتْنِى أَنْ اَزِلَّ وَهْدِنِى اَنْ اَضِلَّ. اَللَّهُمَّ كَمَا حُلْتَ بَيْنِى وَبَيْنَ قَلْبِى فَحُلْ بَيْنِى وَبَيْنَ الشَّيْطَانِ وَعَمَلِهِ. اَللَّهُمَّ اِنِّى اْسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَ بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

3. Berbaur dan mencari teman, jangan suka menyendiri

Santri baru yang susah bergaul atau pendiam pada umumnya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan pondok. Apalagi di pondok teman-teman yang akan ditemui semuanya belum dikenal. Oleh karna itu calon santri baru harus memiliki keberanian dan kemampuan untuk bergaul, memperkenalkan diri dan membaur bersama yang lain.

Untuk permulaan, santri baru bisa mencatat nama-nama teman barunya beserta alamatnya, sehingga ia lebih cepat dalam menghafal nama-nama teman barunya. Kegiatan mencatat nama-nama ini sangat ampuh mencairkan kebosanan dan suasana asing saat pertama nyantri.

Jika santri baru suka menyendiri, ia pasti melamun dan makhluk dunia lain dengan mudah dapat menggelitik hatinya agar ia tidak betah di pondok. Oleh karnanya ceriakan diri sobat dengan canda tawa, tangisan, keluh kesah bersama kawan. Dengan ini rasa bimbang, resah, gelisah insya Allah sirna.

Saran dari penulis, ajaklah kerabat, sahabat dan saudara untuk mondok bersama-sama supaya rasa sepi itu akan sirna.

4. Memiliki pengetahuan tentang pondok

Calon santri sebelum mondok harus terlebih dahulu mengetahui tentang kegiatan dan kehidupan pesantren, mulai dari pagi sampai malam. Calon santri juga harus memahami tata tertib dan disiplin yang berlaku di pondok, sehingga saat pertama kali menjalaninya ia tidak merasa kaget, karena sebelumnya telah mafhum dan mempersiapkan mental.

Saat memutuskan untuk mendaftar di pondok pesantren, saran dari penulis adalah untuk melakukan survey dan kunjungan terlebih dahulu ke lokasi pondok yang akan dipilih, agar semakin yakin dan mantap.

5. Bertawakkal kepada Allah SWT

Jika santri telah melakukan tips agar betah mondok yang telah penulis sebutkan di atas, insya Allah 99% bakal kerasan dan betah ngaji di pondok. Namun jika masih saja belum betah, maka bertawakkallah.

Tawakkal ini adalah jalan terakhir yang harus di tempuh calon santri baru jika ingin betah di pondok, berserah dirilah kepada Allah SWT. karena Dialah sebaik-baik dzat yang mengatur makhluknya, serahkan segala urusan kepadaNya seorang.

Penulis mengenal beberapa sahabat yang selama ada di pesantren mereka tidak merasa kerasan, bahkan sampai dinyatakan lulus. Namun mereka tetap berusaha memerangi nafsunya dengan cara tawakkal. Mereka mengerti bahwa berada di pondok pesantren membawa kebaikan untuk jiwa dan ruh mereka. Karena itu, meskipun mereka merasa tidak nyaman bertahun-tahun, mereka tetap bertahan. Hasilnya, mereka menjadi ulama sukses setelah menamatkan pelajaran.

Sekian tips agar betah mondok dari penulis, semoga bisa membuat sobat calon santri baru betah di pondok. Teruslah belajar dan teruslah mengaji, agar sekembali Anda dari pondok Anda dapat menularkan manfaat ilmu itu di kampung halaman Anda sebagaimana dawuhnya Kanjeng Nabi saw yang diriwayatkan oleh imam Bukhori; “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”. (Jbl)

Kebanyakan pesantren tahfidz Qur'an tidak pernah mempersulit calon santri yang berminat menghafalkan al-Qur'an untuk masuk. Memang ada tes khusus bagi calon santri, namun tes ini sebenarnya hanya untuk mengelompokkan santri di kelas yang sesuai. Masalah diterima tidaknya seorang calon santri, maka pesantren pasti akan menerimanya asalkan calon santri bersedia mentaati peraturan pondok pesantren yang bersangkutan. Adapun kemampuan membaca dan hafalan yang dimiliki tidak menjadi pertimbangan pokok.

tes pesantren tahfidz qur'an indonesia
credit gambar: darulquran.sch.id

Alhamdulillah, dewasa ini kami perhatikan calon santri yang berminat menghafalkan al-Qur'an di pesantren tahfidzul Qur'an kian meningkat. Salah satunya adalah pesantren tahfidz Qur'an yang ada di Mojokerto, Jawa Timur. Hampir tiap hari, ada saja calon santri yang mendaftar masuk dan menghadapi ujian.

Waktu alasantri.com berkunjung dan soan ke pesantren tersebut ba'da lebaran haji kemarin, terlihat pak kyai sedang menguji tiga orang calon santri yang sudah mendaftar. Sebagaimana yang telah kami ceritakan, tes masuk ini sebenarnya hanya formalitas saja, namun para calon santri tidak mengetahui hal itu sehingga mereka terlihat begitu tegang dan grogi saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan kyai.

Dari belasan peserta, kala itu tinggal tiga orang tersisa. Pak kyai tampak mulai lelah, namun beliau tetap memanggil seorang peserta untuk diuji.

“Siapa nama kamu?” tanya kyai.
“Nama saya Anas yai” jawab pemuda itu.
“Baik, coba kamu bacakan surat An-Nas” uji pak yai. Pemuda itu pun lantas membacakan surat An-Nas dengan lancar dan fasih.
“Selamat, Kamu lulus dan diterima masuk pesantren ini.” ucap kyai yang disambut dengan sujud syukur oleh pemuda itu.

Lalu kyai memanggil peserta ke-dua. Beliau bertanya “Siapa nama kamu?”.
“Nama saya Kausar pak yai” jawabnya dengan lantang.
“Oke Kausar, coba kamu bacakan surat Al-Kautsar” perintah yai. Pemuda itu juga lancar membaca surat Al-Kausar dengan suara merdu yang khas syaikh Sudais.
“Selamat Kausar, Kamu lulus dan diterima masuk pesantren ini.” ucap kyai yang disambut sujud syukur dan tepuk tangan meriah suporter yang sudah ikut tegang menonton jalannya ujian masuk itu.

Tinggal seorang pemuda yang terlihat pucat dan gemetaran menunggu panggilan bapak kyai. Dalam hati, pemuda itu berfikir; peserta pertama bernama Anas dan diuji membacakan surat An-Nas. Peserta kedua bernama Kausar dan diuji membacakan surat Al-Kausar. Keduanya adalah surat pendek yang sudah pasti dihafal oleh muslim manapun. Sedangkan dia sendiri bernama Ali Imron, sama dengan nama surat terpanjang kedua dalam al-Qur'an yang tentu saja belum mampu ia hafalkan.

Lamunannya dikejutkan oleh panggilan pak yai. “Ayo, kamu peserta terakhir. Silahkan maju menghadap.” pinta kyai. Pemuda itupun memberanikan diri maju menghadap pak yai.

“Nama Kamu siapa?” tanya kyai.
Si santri itu tak mau memalsukan identitasnya, ia memberanikan diri menjawab dengan jujur pertanyaan kyai: “Nama saya Ali Imron pak yai, tapi di rumah, saya biasa dipanggil Qulhu”. Hahaha. (elf)

Rumah Rasulullah saw (alasantri.com) - Keberhasilan nabi Muhammad saw sebagai panutan ummat bukan sekedar dalam peranannya sebagai pemimpin agama, namun Rasulullah saw adalah pribadi yang dapat ditauladani dalam semua bidang yang pernah beliau jalani. Beliau adalah saudagar yang sukses, guru penyayang, panglima yang gagah berani, hakim yang adil, dan negarawan yang cakap.

rumah rasulullah
Replika rumah Rasulullah saw

Nabi Muhammad saw merupakan personifikasi dari al-Quran, karenanya Aisyah ra ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, beliau menjawab:

كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak Rasulullah saw adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Nabi Muhammad saw memiliki kepribadian istimewa yang membedakannya dengan orang lain. Kepribadian itu disebabkan pada diri beliau telah terhimpun semua keutamaan dan Allah swt melindungi beliau dari segala sifat nista. Allah berfirman dalam al-Qur'an:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sungguh engkau (Muhammad) berada di atas tataran akhlak yang agung.” (Al-Qalam. 68:4)

Al-Abrasyi menjelaskan karakteristik idealitas nabi, bahwa: “Dalam hal keberaniannya, beliau seperti Nabi Musa as, beliau penuh kasih sayang bagaikan Nabi Harun as, penyabar seperti Nabi Ayyub as, pelopor seperti Nabi Daud as, agung bagaikan Nabi Sulaiman as, sederhana seperti Nabi Yahya as, cinta kasih beliau seperti Nabi Isa as.”.

Kini setelah 1400 tahun berlalu, umat Islam tak lagi bisa bermuwajahah dan melihat langsung sosok paling agung yang pernah berjalan di muka bumi ini. Kita hanya mampu berimajinasi membayangkan wajah mulia beliau ketika sirah dan sejarah beliau dibacakan. Sabda-sabda beliau memang masih dapat kita baca, namun kerinduan akan tuntunan visual yang menggambarkan kehidupan mulia Nabi saw tak bisa terpenuhi.

Dalam upaya untuk mengobati kerinduan kita pada Nabi saw juga untuk memberikan gambaran kesederhanaan hidup beliau, sebuah lembaga di Arab Saudi membangun replika rumah Rasulullah saw di Madinah. Replika rumah Rasulullah ini dibuat berdasarkan petunjuk dari sejumlah hadist dan kitab-kitab, hingga menjadi sepersis mungkin dengan keadaan aslinya ketika Nabi dan ummul mu'minin A'isyah ra hidup di dalamnya.

[youtube src="ImHj6IfGaAg"/]

Seluruh dinding rumah itu terbuat dari bata mentah yang direkatkan dengan lempung, atap terbuat dari pelepah daun kurma. Dan perabot di dalamnya jauh dari kesan mewah. Lebih jelasnya, silahkan lihat video yang kami sematkan di atas. (elf)

Kegunaan utama kosmetik tentu untuk berhias. Seorang muslimah sangat dianjurkan berhias dan tampil cantik di depan suaminya. Namun apakah perlu menggunakan kosmetik saat sholat? Benarkah kosmetik berbahaya untuk keabsahan sholat? Insya Allah artikel berikut akan menjawabnya.

kosmetik berbahaya untuk sholat

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa sholat adalah tiang Agama. Tidak sempurna iman seseorang ketika ia tidak mengerjakan sholat, karena sholat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Allah berfirman dalam surah al-Ankabut ayat 45:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Lantas apa hubungannya dengan kosmetik berbahaya bagi keabsahan sholat atau tidaknya? Sebenarnya memang sangat erat kaitan kosmetik dengan sah tidaknya sholat Anda. Pertama, karena sebagian kosmetik menggunakan bahan yang dilarang dalam Islam. (Baca: Fiqih Kosmetik: Cantik dengan Cicak, Bolehkah?). Maka seorang muslimah harus selektif dalam memilih kosmetik yang ia kenakan. Karena jika menggunakan zat dan bahan-bahan yang najis, maka haram digunakan berhias dan membuat sholat tidak sah. Baginda nabi saw bersabda:

لا تُقْبل صلاةٌ بغير طهور
Tidaklah diterima sholat tanpa bersuci (HR. Muslim)

Ke-dua, jika pun kosmetik Anda berbahan dasar zat yang suci dan halal, maka terkadang kosmetik Anda dapat mencegah datangnya air ke kulit saat berwudhu.

Kulit wajah, kedua tangan hingga siku-siku termasuk kuku jari-jari Anda, rambut kepala dan kedua kaki Anda adalah bagian yang harus tersentuh air saat berwudhu.

Penggunaan kosmetik yang tebal, atau berbahan dasar minyak yang berlawanan dengan air berpotensi menghalangi air untuk menyentuh bagian-bagian itu. Ini akan menyebabkan wudhu Anda tidak sah.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan masalah ini dalam kitab al-Majmu':
إذا كان على بعْضِ أعضائِه شمعٌ أو عجينٌ أو حنَّاء أو أشباه ذلك، فمنع وصولَ الماء إلى شيْءٍ من العضو - لَم تصحَّ طهارتُه، سواءٌ كثُر ذلك أم قلَّ
Jika di atas anggota badan yang wajib dibasuh ketika wudhu terdapat resin, adonan tepung, daun inai atau benda semisalnya, sehingga dapat mencegah bertemunya air dengan anggota tersebut, maka tidak sah wudhunya. Baik benda yang menempel pada anggota wudhu itu sedikit atau banyak, hukumnya sama.

Bukan berarti muslimah dilarang berhias ketika sholat. Larangan berhias itu hanya ketika ditujukan untuk lelaki selain suami. Jika Anda merasa perlu berhias, maka pakailah kosmetik halal yang tidak mengandung bahan-bahan najis, dan berhiaslah setelah Anda berwudhu bukan sebelumnya. Allahu a'lamu bis shawab. (elf)

Musibah bajir Garut telah mengejutkan kita beberapa hari yang lalu? Sekali lagi, bangsa ini diuji oleh Allah swt, akankah kita semakin dekat dan mengingatNya, ataukah malah menjauh dariNya (na'udzubillah). Semoga Allah memberikan pahala bagi mereka yang terkena musibah dan menggantikan kehilangan mereka dengan yang lebih baik.

pon pes al qodar pasca banjir Garut

Di balik musibah banjir bandang Garut, tentu akan banyak kisah keajaiban yang menunjukkan kebesaran Allah swt. Dan diantaranya adalah kisah pon pes salaf Al-Qodar yang tetap berdiri di tengah-tengah bangunan dan infrastruktur lain yang ambruk diterjang air.

Bangunan pondok pesantren salaf Al-Qodar berlokasi kurang lebih 10 meter dari bibir sungai Cimanuk, tepatnya di Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota Teu Regrog-regrog.

Dinukil dari Poros Garut, Rabu (21/9/2016), pendiri dan pemimpin Pon Pes Al-Qodar KH. Abdul Qadar Rusman (54) mengatakan “Berkat pertolongan Allah SWT, pesantren kami tidak tersentuh bencana banjir bandang sungai Cimanuk.”

Pengasuh dan santri Al-Qodar memang patut bersyukur lantaran pesantren itu tetap berdiri tegak, padahal suasana di sekitarnya sudah porak poranda. Bahkan sebuah jembatan yang menjadi penghubung ke pesantren pun ambruk tak tahan derasnya air banjir Garut itu.

Kyai Abdul Qodar mengimbau masyarakat untuk bersikap arif dalam menghadapi musibah ini. “Allah sedang menegur kita, dan pasti ada hikmahnya.” jelas pak kyai.

Ketika ditanya apa hikmah di balik musibah banjir Garut ini, kyai Abdul Qodar menjawab “Agar kita peduli terhadap alam, terutama untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, menggalakkan reboisasi agar hutan tetap rimbun dan ijo-ijo royo.”

KH. Abdul Qodar lantas menandaskan dengan membacakan firman Allah swt, Ayat 23 surat Thaha,
لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى
“Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

Subhanallah. Sungguh Allah telah memperlihatkan pada kita sebagian tanda-tanda kuasaNya. Banjir Garut dan selamatnya Pon Pes Al-Qodiriyah merupakan salah-satu bukti kuasaNya. (Elf)

Kitab kuning adalah simbol dari tradisi intelektual pondok pesantren, bagi para kyai dan santri yang pernah belajar dipesantren terutama pesantren salaf kitab klasik ini sudah tidak asing lagi.

kitab kuning

Jenis kitab ini sudah diajarkan sejak dahulu oleh pemuka-pemuka Islam di Indonesia bahkan saat pertama kali Islam masuk Indonesia. Kitab kuning merupakan sebuah istilah untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang hanya berlatar belakang Ahlu Sunnah Waljamaah (ASWAJA) dan biasa digunakan sebagai mata pelajaran oleh beberapa pesantren salaf atau madrasah Diniyah. Dan bukan sembarang orang bisa menulis kitab ini, kitab kuning merupakan karya Para Ulama Salafus Shalih yang sangat ahli dalam mentafsiri Al-Qur'an dan Hadits tak hanya itu beliau juga jago dalam bidang gramatika Arab dan ilmu fiqh.

Kitab klasik ini disebut kitab kuning karna kertasnya berwarna kuning. Hanya kebetulan saja pada waktu itu kertasnya berwarna kuning, lantaran zaman dahulu mungkin belum ada jenis kertas seperti zaman sekarang yang beraneka ragam warna. Barang kali di masa lalu yang tersedia memang warna kuning saja. Kemudian dicetak dengan alat cetak sederhana jika dibandingkan dengan mesin cetak zaman sekarang sudah jauh berbeda, dengan lay-out dan tata letak yang monoton, kaku dan sangat tidak nyaman dibaca. Bahkan kitab-kitab itu seringkali kita temukan tanpa dijilid, melainkan hanya dilipat saja dan diberi sampul dengan kertas yang lebih tebal yang biasa kita sebut dengan kurasan.

Para pemerhati pesantren pada umumnya mendefinisikan kitab kuning dengan definisi lebih rinci, mereka mengatakan bahwa termasuk kitab-kitab kuning adalah:

  1. Ditulis oleh ulama-ulama luar dan dijadikan pedoman oleh ulama-ulama Indonesia secara turun temurun.
  2. Ditulis oleh ulama-ulama indonesia sebagai karya tulis yang tidak dikomersialkan
  3. Ditulis oleh para ulama sebagai syarah atau hasiyah dari kitab karya ulama terdahulu

Dewasa ini, kitab-kitab klasik sudah banyak ditemukan memakai kertas putih dan dicetak dengan rapi namun soal harga tentu kitab klasik dengan kertas putih relatif mahal karna lebih nyaman dibaca. Dari segi tampilan, kitab kuning zaman sekarang tidak kalah menariknya dengan penampilan buku-buku yang lain, seperti kitab kuning yang dicetak dari percetakan Dar al Fikri, Dar al Kutub dan Haramain.

Sebutan kitab kuning hanya bisa ditemukan di Indonesia di negara lain kitab kuning disebut dengan kitab qodimah dan kitab yang baru ditulis oleh ulama zaman sekarang disebut kitab ashriyah.

Di beberapa pesantren kitab kuning juga dikenal dengan sebutan “kitab gundul”. Ini karena lafadz-lafadz yang ada dalam kitab tersebut tidak memiliki harakat, bahkan tidak ada maknanya sama sekali. Tidak seperti kitab sekarang yang sudah banyak kita temukan diberi makna dan harakat sampai terjemahan dengan menggunakan bahasa jawa yang ditulis dengan Arab pegon.

Karena saking kunonya, model kitab dan gaya penulisannya kini hanya bisa ditemukan di pesantren yang masih kental dengan kesalafanya seperti pondok Ploso, Lirboyo, Sarang dan Sidogiri.

Karena kitab kuning ini tidak berharakat dan tidak memiliki makna gandul untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan tentang ilmu gramatika Arab (Nahwu dan Shorof). Dan pada akhirnya, kita akan mudah memahami sumber pokok hukum Islam, ya'ni al-Quran dan al-Hadist. (Jbl)

Pondok pesantren adalah tempat mempelajari ilmu-ilmu agama, namun tak sedikit pesantren yang menerapkan sistem kekinian yang diadopsi dari pendidikan modern. Dari dua latar belakang pendidikan yang umum ada pada pesantren itu, pondok pesantren terbagi menjadi 2, pesantren salaf dan pesantren modern.

pesantren salaf dan pesantren modern

Pesantren salaf ialah pesantren yang memakai sistem tradisional yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama sama sekali tidak mengajarkan ilmu umum. Sedangkan pesantren modern ialah pesantren yang menerapkan sistem pendidikan yang diadopsi dari sistem pendidikan modern dan materi yang diajarkan merupakan kombinasi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Biasanya pondok modern lebih menekankan pada kemampuan berbicara dengan bahasa asing sedangkan pesantren salaf lebih menekankan pada kemampuan penguasaan kitab kuno atau kitab kuning (karya ulama-ulama salaf). Contoh pesantren salaf yang masih menerapkan sistem tradisional adalah Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri, Sedangkan contoh pondok modern adalah Pondok pesantren Gontor.

Pondok Pesantren Salaf

Pondok pesantren salaf adalah format pendidikan asli dari pesantren sejak Wali Songo pertama kali mendirikanya. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف yang artinya kuno (tradisional) karna metode yang dipakai diadopsi dari ulama-ulama shalihin terdahulu (salafunas shalihin) yang juga merupakan metode yang diterapkan oleh wali songo.

System Belajar Mengajar

Pondok pesantren salaf pada umumnya memiliki 2 metode yaitu metode sorogan dan metode klasik. Sorogan adalah metode belajar mengajar dengan cara santri membaca kitab yang dikaji di depan ustadz atau kyai. Sedangkan weton adalah kyai atau ustadz membaca kitab yang dikaji dengan bahasa jawa sedang santri menyimak, mendengarkan dan memberi makna pada kitab tersebut. Metode sorogan ini merupakan metode klasik dan paling tradisional yang ada sejak pertama kali lembaga pesantren didirikan oleh Wali Songo dan masih tetap eksis dan ada sampai detik ini.

Selain dua metode di atas, pesantren salaf juga menerapkan sistem madrasah diniyah. Metode pembelajaran dalam madrasah diniyah hampir sama dengan sistem belajar yang diterapkan oleh sekolah modern. Hanya saja ilmu yang diajarkan mayoritas adalah tentang agama.

Daftar pondok pesantren yang masih menggunakan metode salaf

Beberapa di antara pondok yang menggunakan sistem salaf ini adalah:
  1. Pondok pesantren Lirboyo Kediri, Jatim
  2. Pondok pesantren Al-Falah Ploso, Kediri
  3. Pondok pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jateng.
  4. Pondok pesantren MIS, Sarang, Rembang.
  5. Pondok pesantren MUS, Sarang, Rembang.
  6. Pondok pesantren Langitan, Tuban
  7. Pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan
  8. Pondok pesantren Cidahu, Pandeglang, Banten
  9. Pondok pesantren Putri Salafiyah, Bangil, Jatim

Anda bisa membantu kami dengan menambahkan di kotak komentar apabila ada pon pes salaf murni yang belum masuk daftar di atas.

Pondok Pesantren Modern

Pondok modern adalah cabang dari pondok salaf. Metode ini pertama kali dipopulerkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo yang kemudian oleh pesantren lain diduplikasi dengan memakai label modern. Pondok Modern disebut juga dengan Pondok kholaf (modern) sebagai cabang dari pondok salaf.


System Belajar Mengajar

Pondok modern pada umumnya juga memakai sistem klasik (salaf). Namun, ilmu agama dan umum sama-sama dipelajari. Selain itu, pesantren modern lebih menekankan santrinya pada penguasaan dialog (muhadasah) berbahasa asing (Arab dan Inggris). Adapun penguasaan kitab kuning kurang ditekankan.

Sebagian dari pesantren modern ada yang memakai kurikulum sendiri seperti pesantren Gontor. Sedangkan sebagian yang lain memakai kurikulum pemerintah.

Daftar pondok pesantren modern

Pondok pesantren yang mengadopsi sistem kholaf (modern) antara lain:
  1. Pondok pesantren. Gontor, Ponorogo
  2. Pondok pesantren. Queen Ploso, Kediri
  3. Pondok pesantren. Ar-Risalah, Lirboyo, Kediri
  4. Pondok pesantren. Tebu-ireng, Jombang
  5. Pondok pesantren. An Najiyah, Sidosermo, Surabaya

Anda bisa membantu kami menambahkan nama pondok modern lain dengan cara menulis dikolom komentar. (Jbl)

Kisah tentang Mbah Dalhar ini saya dapatkan dari Kyai Zaimudin Badrussoleh, Purwoasri, Kediri. Mbah kyai Dalhar Watucongol Magelang, ketika itu menjadi salah satu "jujugan ngaji santri doeloe," sebab termasuk salah satu Kyai ahli hikmah dari jawa tengah yang sangat dihormati dan disegani.

mbah kyai dalhar
Mbah Kyai Dalhar Watucongol

Menurut penuturan Kyai Zaimuddin, Mbah Dalhar yg merupakan Abahnya Mbah Mad Watucongol ini termasuk kyai yang galak dan tegas. Banyak santri yg takut menatap wajah mulia beliau, karena kuatir disorot oleh "Ketajaman mata hati" beliau. Namun sikap galak dan tegas itu tidak menyurutkan semangat para santri untuk "tabarrukan" pada Mbah Kyai Dalhar. Bahkan dalam tradisi pesantren ada istilah semakin sering dimarahi dan ditegur oleh Kyai, sama halnya diiringi doa oleh Kyai.

Konon disamping beliau jago ngaji kitab juga pakar ilmu hikmah, riyadloh, thoriqoh. Ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah Mbah Kyai Dalhar peroleh dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Tak mengherankan jika banyak kalangan pesantren baik kyai maupun santri yang mengambil sanad ijazah dalail, hizb, wirid, bahkan sanad thariqah Syadzali dari Mbah Dalhar Nahrowi ini.

Tercatat beberapa santri yang menimba ilmu di Gunungpring ini diantaranya Kiai Ma'shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek (Ploso).

Keteladanan yang bisa diambil dari sosok mbah Dalhar adalah beliau termasuk darah biru kraton yogyakarta tapi tak pernah "kemaruk/sombong" dengan kebangsawanannya. Kiai Dalhar lahir di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang. Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H / 12 Januari 1870. Nama kecilnya adalah Nahrowi, nama pemberian orang tuanya. Nasab Mbah Kiai Dalhar tersambung pada trah Raja Mataram, Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Beliau termasuk kyai yang istiqomah mulang ngaji seperti leluhurnya di Mlangi (Mbah Nur Iman). Termasuk tidak suka menonjolkan darah ningratnya juga nitis dari Mbah Nur Iman. Sehingga tidak mengherankan jika prinsip laku ngaji ini dilestarikan oleh putra dan santri-santri beliau. Hidupnya diabdikan untuk melayani ummat dan membantu para pejuang kemerdekaan.

Ketika era perjuangan melawan kompeni, selain Kyai Subchi parakan, peran Kiai Dalhar juga sangat vital. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma', doa dan ijazah kekebalan, serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa.

Ketika beliau wafat para peziarah berebut menandu keranda hingga naik ke atas gunung pring. Mbah Kiai Dalhar wafat tanggal 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959. Beliau dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol Magelang, berdekatan dengan Mbah Gus Jogorekso.


penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Nadhom Alfiyah Ibnu Malik merupakan sebuah nadhom yang sangat populer di kalangan penuntut ilmu Bahasa Arab dalam dunia Islam terutama para santri, sehingga banyak ulama-ulama besar sesudahnya yang menulis syarah dan hasiyah-nya.

Nadhom Alfiyah Ibnu Malik

Nadham Alfiyah ini merupakan maha karya cemerlang dari Ibnu Malik dalam bidang ilmu Nahwu meski banyak sekali karya beliau dalam bidang lain. Diantara karya-karya beliau yang juga cukup dikenal adalah Al-Kafiyah asy-Syafiyah, dalam bidang kaidah Sharaf.

Beliau memiliki nama lengkap al-Imam al-Allamah Abu Abdillah Muhammad Jamaluddin bin Abdullah bin Malik al-Tha’iy al-Syafi’i al-Jayany. Lahir di Jayan, sebuah tempat di Andulusia. Beliau wafat di Damaskus, Syam (sekarang Syiria) pada tahun 672H / 22 February 1274M dalam usia 75 (tujuh puluh lima) tahun.

Ada cerita populer mengenai usaha beliau dalam menulis nadhom Alfiyah ini. Diceritakan ketika Ibnu Malik menulis nadham dalam Alfiyah dan sampai pada bait:

فائقة ألفية ابن معطي
“(Nadhom Alfiyah Ibnu Malik ini) mengungguli nadhom Alfiyah karya Ibnu Mu'thi”

Dalam kitab Ibnu Hamdun Hal 16 Juz 1 dijelaskan bahwa setelah bait diatas beliau menambahkan bait :

فائقة لها بألف بيت
“(Mengungguli Alfiyah Ibnu Mu'thi dengan 1000 bait)”

Beliau menulis demikian bukan tanpa alasan, pasalnya dalam Hasiyah Khudori Hal 13 Juz 1 dijelas bahwa siapapun yang sudah membaca Alfiyah Ibnu Malik dan Alfiyah Ibnu Mu'thi pasti tau bahwa Alfiyah Ibnu Malik jauh lebih unggul baik dari segi lafadz (dikarenakan Alfiyah Ibnu Malik hanya terdiri dari 1 bahar, sedangkan Ibnu Mu'ti 2 bahar), maupun ma'na (dikarenakan kaedah nahwu yang terdapat di Alfiyah Ibnu Malik lebih banyak dari Ibnu Mu'thi meski hanya dengan 1000 bait).

Setelah menulis penggalan bait tersebut anehnya beliau tak mampu melanjutkan menulis nadham-nya, sehingga suatu malam beliau tertidur dan mimpi bertemu dengan seorang yang lanjut usia, orang tua itu bertanya pada beliau, dan terjadilah dialog:

“Aku dengar kamu menulis kitab Alfiyah dalam bidang ilmu Nahwu?”

Lalu beliau menjawab: “Iya, benar.” Orang tua itu bertanya lagi: “Sampai pada bait mana engkau menulisnya?”

Beliau menjawab: “Sampai pada 'fa'iqatan....”

“Apa yang membuatmumu tidak mampu menyelesaikanya?” tanya orang tua itu.

Beliau menjawab: “Sudah beberapa hari aku tidak mampu melanjutkan tulisanku.”

Orang tua itu berkata lagi: “Apa kamu ingin menyelesaikanya?”

“Tentu saja” jawab Ibnu Malik.

Orang tua itu berkata: “Orang yang masih hidup bisa dengan mudah mengalahkan seribu orang yang sudah mati.”

Terperangah dengan ucapan kakek itu, Ibnu Malik bertanya: “Apakah anda Ibnu Mu'thi?”

“Iya” jawab orang tua itu.

Ibnu Malik merasa malu kepada beliau. Begitu bangun di pagi harinya, beliau menghapus bait tersebut (فائقة لها بألف بيت), kemudian setelah itu beliau menambahkan bait pujian untuk Imam Ibnu Mu'thi dalam nadhamnya sebagai penghormatan pada beliau, bait yang beliau tambahkan :

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

“Beliau (Ibnu Mu’thi) lebih memperoleh keutamaan karena lebih dahulu. Beliau berhak mendapatkan pujian yang indah
Semoga Allah memberikan karunianya yang tak terbatas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi di akhirat.”

Catatan:
Ibnu Mu’thi memiliki nama lengkap al-Imam al-allamah Abu Zakariya Yahya bin Mu’thi al-Zawawy al-Magribi. Lahir di Magribi, menetap dalam waktu yang cukup lama di negeri Syam (Syiria), kemudian beliau hijrah ke Mesir sehingga beliau wafat pada tahun 628 H, ketika itu usia beliau 64 (enam puluh empat) tahun dan dimakamkan dekat makam Imam Syafi’i di Mesir. (Jbl)

Tepat di bulan Haji kemarin, seorang santri pulang kampung. Karena di kampungnya belum ada kiai, ia pun diminta tolong untuk mengerjakan dan memimpin berbagai tugas keagamaan, seperti menjadi imam, menjadi khatib jum'at ataupun sholad ied, menyembelih hewan kurban, dsb.

tips cepat berangkat haji

Sebenarnya, dalam hati santri itu merasa ragu. Maklumlah, di pondok ia termasuk type santri mbeling yang sering absen mengaji dan lebih sering nongkrong di warung kopi. Jarang sekali ia mutholaah.

Namun karena permintaan masyarakatnya yang disampaikan penuh dengan ta'dzim, dia jadi gengsi menolak. Pikirnya, di zaman digital seperti ini, informasi bisa dicari dengan cepat dan tepat. Hampir segala problematika keagamaan dapat di baca di situs alasantri.com atau searching mbah google. Lagian, dia juga punya banyak kenalan santri-santri alim yang bisa dihubungi via telepon atau whatsapp.

Dalam satu kesempatan pada acara takbiran di musholla, masyarakat sekitar guyup berkumpul dan mulai bertanya banyak hal. Salah seorang hadirin spontan mengajukan pertanyaan.

“Haji itu ada berapa macam dan kriterianya pak ustadz?”

Karena pertanyaan itu datang mendadak, ia tidak sempat googling atau bertanya pada teman-teman santrinya yang alim. Dia berpikir keras dan berusaha mengingat-ingat bagaimana penjelasan pak yai waktu ngaji dulu. Tapi karena waktu itu dia absen dan malah khoyal bersama teman-temannya di warung, yang ia ingat malah omongan ngawur temannya.

“Ada haji mansur, haji abidin, haji abu bakar, dan haji kosasih,” dia menjelaskan.

“Apa maksudnya macam-macam haji tersebut?” tanya salah seorang hadirin.

“Haji mansur adalah seseorang yang naik haji karena halamannya digusur. Sementara haji abidin adalah orang yang berhaji atas biaya dinas,” jelasnya. Lalu ia mengisap kretek dan menyeruput kopi hitamnya sambil mengingat-ingat.

“Haji abu bakar adalah haji atas budi baik golkar. Sementara haji kosasih adalah haji karena ongkosnya dapat dikasih.”

Orang-orang di sekitarnya manggut-manggut menerima penjelasan baru yang belum pernah mereka dengar itu.

“Lalu bagaimana tips cepat berangkat haji?” satu orang lagi bertanya.

Santri itu diam sejenak. Lalu akhirnya menjawab juga. “Baca surat Al-Hajj 1000 kali setiap malam Jumat.”

“Kalau gagal bagaimana?”

“Buka surat-surat tanah dan motor. Terus jual. Insyallah berhasil.” Hahaha.

Disadur dari cerita Abdullah Alawi
NU.or.id

Bagi ummat Islam, sunnah Nabi saw tak akan pernah diragukan manfaatnya. Apakah manfaat itu sudah dibuktikan secara ilmiah atau belum, kaum muslimin selalu yakin akan adanya hikmah yang tersembunyi.

Sunnah Nabi

Di antara sunnah-sunnah Nabi yang selalu diamalkan oleh salafunas shalihin adalah qaylulah. Dalam hal ini kanjeng Nabi saw bersabda:

قيلوا فإن الشياطين لا تقيل
“Berqailulah-lah kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah (melakukan) qaylulah.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb)

Arti qaylulah yang disepakati ulama adalah tidur sejenak di paruh siang. Para ulama hanya memperselisihkan waktu tepatnya qaylulah itu, misalnya al Khatib al Syarbini yang mengatakan secara spesifik bahwa qaylulah itu adalah tidur siang sebelum zawal (sebelum waktu shalat dzuhur), sedangkan al Munawi dalam kitab Subulus Salam mengatakan “qaylulah adalah tidur siang di waktu yang mendekati zawal, baik setelah zawal atau sebelum zawal.”

Para pendahulu kita yang salih, termasuk para sahabat Nabi saw, adalah orang-orang yang sangat dikenal gemar mengamalkan sunnah ini. Diantaranya adalah sayyidina Umar ra. Amirul mu'minin bergelar al Faruq penguasa 1/8 bola dunia yang mashur akan kebiasaan qaylulahnya.

Di saat kebanyakan umat Islam mulai meninggalkan sunnah ini, beberapa penelitian modern mengungkapkan manfaat qaylulah untuk kesehatan maupun performa kerja. Seperti hasil penelitian NASA yang menyatakan, tidur siang selama 26 menit bisa mendongkrak performa kerja hingga 34 persen. Berbanding terbalik dengan karyawan yang tetap melanjutkan kerja di siang hari.

Perusahaan-perusahaan besar di Jepang, pada umumnya mengizinkan karyawannya tidur 30 menit pada siang hari. Di Jepang kebiasaan ini disebut ‘Inemuri’. Ini bagian dari bentuk penghargaan pada karyawan dan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Tidak hanya Jepang, perusahaan-perusahaan besar di China rata-rata memberlakukan hal serupa. Bahkan, pihak manajemen perusahaan memastikan tersedianya bantal dan kasur di kantor supaya karyawannya bisa tidur siang.

Hootsuite, perusahaan manajemen dashboard sosial media, juga melakukan kebijakan yang sama. Seluruh kantor Hootsuite memiliki ruangan tidur siang untuk karyawannya. Perusahaan ini menilai kemampuan berinovasi tidak mudah muncul jika para karyawan kurang tidur.

Menurut seorang ilmuwan terkemuka, Sara C. Mednick, tidur siang mampu meningkatkan persepsi sensorik. Sekurang-kurangnya tidur siang selama 30 menit bisa meningkatkan kreatifitas dan daya ingat karena otak Anda kembali fresh.

Bila hasil riset dan penelitian perusahaan-perusahaan top dunia ini baru saja terungkap dalam waktu belum lama ini, maka Rasulullah SAW sudah menganjurkan pada ummatnya sejak 1400 tahun silam. (elf)

Hasyiah Qalyubi wa 'Umairah (حاشيتا قليوبي وعميرة على شرح المحلى) adalah gabungan dua kitab yang disusun oleh dua tokoh ulama mazhab Syafi’i yang sangat terkenal, yaitu; al-Imam Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qalyubi al-Mishri (1069 H), dan Imam Syihabuddin Ahmad al-Burullusi al-Mishri (907 H) yang juga dikenal dengan gelar 'Umairah.


Kedua kitab ini merupakan hasyiah (komentar) untuk kitab Syarh al-Mahalli ‘ala Minhaj al-Thalibin yang diberi nama Kanz al-Raghibin Syarh Minhaj al-Thalibin, yaitu buah karya al-Imam al-Hafiz Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Syafi’i (864 H). Beliau menulis kitab ini sebagai syarah (uraian) untuk kitab Minhaj al-Thalibin, karya Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi. Seorang ulama terkenal yang menjadi rujukan utama dalam fiqh mazhab al-Syafi’i ra.

Dalam Islam seorang suami adalah pemimpin rumah tangga, hingga tak mengherankan jika kedudukan seorang suami memiliki beberapa keutamaan sebagaimana ungkapan surga istri ridho suami yang sebenarnya berasal dari hadits Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridho padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Senada dengan hadits di atas, Abdurrahman bin Auf berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan padanya (di akhirat kelak), “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
surga istri ridho suami
Hanya dengan dua hadits tersebut sebenarnya sudah cukup bagi seorang muslim untuk berhenti bertanya. Namun tidaklah bersalah jika kita terus menggali hikmah yang tersembunyi dibalik sabda “surga istri tergantung pada ridho suami.”

Apa alasan surga istri pada ridho suami?

Beberapa ulama dan ahli hikmah berupaya mencari jawaban dari pertanyaan ini. Alasantri.com berhasil merangkum dan memilih beberapa jawaban mereka untuk Anda. Inilah alasannya:

  1. Seumur hidupnya, seorang suami dibesarkan penuh cinta oleh ibu kandungnya. Namun saat ia dewasa, mencintai istri yang belum pasti akan mencintainya seumur hidup lebih ia pilih dari pada ibu kandungnya. Malah acap kali perasaan cinta pada istri melebihi cinta kepada ibunya sendiri.
  2. Sejak kecil suami dibesarkan dengan nafkah yang dipikul oleh ayah dan ibunya sampai dia beranjak dewasa. Namun sebelum sempat ia membalasnya, dia bertekad untuk menanggung nafkah istrinya, perempuan asing yang belum lama ia kenali dan hanya terikat dengan tali nikah tanpa ada ikatan darah dan rahim seperti ayah dan ibunya.
  3. Sebagai suami, pria rela menghabiskan waktu guna mencukupi keperluan anak-anak dan istrinya. Padahal dia mengerti bahwa di sisi Allah, istri lebih berhak dihormati anak-anaknya tiga kali lebih besar dibandingkan dirinya. Namun tidak sedikitpun suami merasa iri hati, semata-mata karena suami mencintai istrinya dan mengharapkan sang istri memperoleh yang lebih baik dari dirinya di sisi Allah.
  4. Sering kali suami tak ingin mengusik istrinya dengan menutup-nutupi permasalahannya di depan istri dan berusaha mencari penyelesaian sendiri. Sedangkan kebiasaan seorang istri ialah mengadukan masalah pada suami dan berharap suami membantu menyelesaikan masalah-masalahnya. Padahal mungkin saja saat itu suami juga sedang memikul masalah yang lebih besar.
  5. Dengan segenap hati seorang suami akan berusaha memahami bahasa diam istri dan bahasa tangisan istri. Sedangkan seorang istri hanya bisa memahami bahasa lisannya saja. Terkadang itupun jika suami telah mengulanginya berkali-kali.
  6. Jikalau seorang istri bermaksiat, maka suami akan ikut terseret ke neraka. Karena sebagai imam ia bertanggung jawab akan perbuatan maksiat istrinya. Namun bila suami melakukan dosa, istri tidak akan pernah dituntut ke neraka. Sebab segala apa perbuatan suami adalah pertanggung jawabannya sendiri.

Demikianlah alasan mengapa surga istri tergantung pada ridho suami yang berhasil kami rangkum. Semoga memberikan manfaat bagi kita dan menjadi motifasi wanita muslimah untuk berbakti pada suaminya. Wallahu a'lamu bisshowab. (elf)

Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok berusaha bunuh diri dengan terjun dari lantai lima di sebuah hotel kawasan Tamansari, Jakarta Barat. Wanita yang kemudian dikenali bernama Liu Yabin (25) itu mengaku frustasi karena keadaannya yang mufrod mabni.

mufrod mabni bunuh diri
gambar okezone.com

Dikutip dari Okezone, Minggu (18/9/2016), Kapolsek Metro Tamansari AKBP Nasriadi mengatakan "Ya, Petugas kepolisian Polsek Metro Tamansari dan tim Resque Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Barat telah menyelamatkan seorang WNA asal Tiongkok."

Menurut Nasriadi, petugas terus berkomunikasi dengan korban untuk membuat korban tersadar sehingga mengurungkan niatnya. Korban nekat hendak bunuh diri diduga karena frustasi akibat mufrod mabni.

"Berkat koordinasi dan kerjasama yang baik sehingga tercipta sinergitas yang mantap di lapangan. Saat ini korban di RS Husada untuk mendapatkan perawatan," sambung Nasriadi.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tamansari Kompol Guruh Chandra Permana menambahkan, Sari, seorang petugas hotel memberikan keterangan bahwa Liu Yabin sudah cukup lama tinggal di hotel. "Sudah dua bulan dia tinggal di hotel," ujar Guruh.

Ketika kejadian, seorang wanita yang diduga temannya terlihat histeris. "Ada seorang wanita yang diduga sebagai agen yang mengurus kedatangan Liu Yabin. Ia terlihat menangis saat mengetahui Liu Yabin mencoba bunuh diri. Setelah berhasil dievakuasi petugas, Liu Yabin langsung dibawa ke rumah sakit terdekat guna menjalani pemeriksaan kejiwaannya," tutur Guruh.

Saat berita ini kami liput, kasus percobaan bunuh diri ini sedang dalam penanganan Polsek Metro Tamansari guna penyelidikan lebih lanjut. (elf)

Popularitas hijab syar'i kian hari kian melambung. Semarak muslimah anggun yang bergaya khas perkotaan mulai banyak memakainya di tempat-tempat keramaian dan pusat perbelanjaan menambah syi'ar pakaian Islami ini. Tak terpungkiri, sebagai muslim kami sangat bangga melihatnya.
hijab syar'i
Akan tetapi, Iblis sang musuh bebuyutan manusia tampaknya tak mau tinggal diam menonton kebaikan ini berlangsung. Dia akan terus berupaya menyesatkan. Walaupun muslimah telah berhijab syar'i, muslihat setan untuk menyeretnya ke jurang maksiat pun tidak berhenti.

Dosa-dosa hijab syar'i

Wahai muslimah yang telah berhijab syar'i, tetaplah waspada akan tipu-daya setan untuk membuatmu terjauhkan dari ridhaNya. Na'udzubillah. Tetaplah berhijab syar'i, namun waspadai akan dosa-dosa yang mungkin bisa timbul karena hijabmu itu seperti rangkuman alasantri.com berikut ini:

1. Jumlah koleksi berlebihan

Ketika hatimu telah mantap untuk menutup aurat, maka setan tak lagi berani mengusik keyakinanmu itu. Namun setan akan menumbuhkan rasa cinta yang berlebihan pada pakaian itu. Sehingga hatimu mulai tertawan dengan beragam model hijab yang bagus, kamu lebih bersemangat menumpuk koleksi demi koleksi tanpa henti.

Sesungguhnya prilaku tersebut adalah israf yang dilarang. Nabi Muhammad saw bersabda:

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: كُلْ وَاشْرَبْ وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَأَحْمَدُ وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ
Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda: “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sikap sombong.” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Haditsmu’allaq menurut Bukhari.

2. Keindahan hijabmu bisa jadi kesombonganmu

Semangat untuk tampil cantik dan trendi dalam nuansa yang tetap syar'i kadang menjadi jerat setan tuk menuntun muslimah dalam dosa yang tidak ia sadari, yaitu kesombongan.

Kesombongan adalah dosa yang hampir mustahil terdeteksi pelakunya. Ketika Anda menunjukkan koleksi hijab pada sahabat karib Anda, besar kemungkinan setan akan mencemari niatan tulus Anda. Prilaku Anda mulai mengerdilkan orang lain, tanpa sadar Anda bersikap lebih unggul dari pada teman-teman Anda.

Mengobati penyakit hati yang satu ini sebenarnya tidaklah sulit. Karena Anda tidak mungkin bisa menilai diri, maka carilah guru atau teman yang tulus dan jujur. Mintalah mereka untuk tak sungkan menegur Anda jika tanda-tanda kesombongan itu mulai ada. Dan jika mereka menegur, maka dengarkanlah dan renungkan baik-baik teguran mereka. Jika teguran mereka benar, maka mulailah perbaiki sikap Anda.

3. Bukan syar'i bila boros

Pemborosan atau tabzir adalah prilaku yang terlarang. Dalam hal ini Allah swt berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. al Isra:27)

Ibnu Abidin menjelaskan; التبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي. Tabzir (pemborosan) adalah membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak patut.

Banyak muslimah yang berhijab syar'i adalah mereka yang dianugerahi Allah swt dengan harta yang berkecukupan. Namun bukan berarti mereka boleh membelanjakan hartanya dengan berlebihan, walaupun itu untuk sepotong kain hijab penutup aurat.

Banyak kita jumpai hijab syar'i modis dibanderol over price dengan berbagai dalih. Karena membawa nama desainer lah, dipakai oleh artis tertentu, dsb. Ketika Anda membelanjakan harta untuk kain segi empat itu, ingatlah bahwa Anda berkesempatan menambah pahala dengan berkurban, ingatlah untuk mengunjungi Ka'bah dan makam Nabi, ingat pula bahwa kaum fakir-miskin juga punya hak atas harta Anda.

Semoga sedikit penjelasan ini bisa memberikan manfaat untuk kita. Wallahu a'lamu bis shawab. (elf)

Jika kamu sudah cukup usia, maka segeralah manut dawuh kanjeng Nabi saw untuk segera menikah. Dalam rangka menyelesaikan misi mencari jodoh ini, sebenarnya gak sulit-sulit amat kok. Coba aja dolan ke pesantren, lirik kanan dan kiri pasti akan segera ada yang nyantol di hati.

santri mantuable

Bukan berarti kamu bisa pilih calon pendamping hidup tanpa pertimbangan macam-macam. AlaSantri.com menyarankan supaya kamu cari jodoh di pesantren, karena memang santri itu mantuable atau sangat cocok dijadikan mantu dan pendamping hidup. Pingin tau alasannya? Ini dia:

1. Santri biasa mandiri

Yang namanya mondok di pesantren itu yah jauh dari ortu. Santriyin dan santriyat biasanya pulang ke rumah hanya beberapa hari dalam setahun. Malah kadang ada yang lupa jalan pulang sampai gak pulang-pulang bertahun-tahun. Lha kok mirip bang Toyyib? Maksudnya bukan seperti bang Toyyib gitu. Karena kebiasaan santri yang jauh dari rumah, maka mereka telah terbiasa ngapa-ngapain sendiri alias mandiri dan gak terlalu manja. Kalo punya pasangan yang seperti ini, enak tho?

2. Hidup sederhana

Tirakat atau riyadhoh sudah mendarah daging dalam kehidupan santri sehari-hari. Di pesantren gak ada bedanya antara anak pejabat dan anak jelata. Mereka semua diharuskan hidup mengusung tenggang rasa tinggi dalam kesederhanaan. Gaya hidup santri gak neko-neko, menu makan mereka hampir tiap hari seragam. Walau begitu coba tanyakan pada para santri; apakah di pesantren mereka bahagia? Jawabannya sudah pasti BAHAGIA.

Nah, apakah kamu gak pingin punya pasangan yang tetap tersenyum ketika menghadapi masa-masa sulitnya kehidupan? Kalo pingin, ya cepet bilang sama bapak kamu kalo kamu itu ingin kawin sama santri saja. Baca juga: Jika Suami Sering Mandi Bersama Isteri Cinta Kan Abadi.

3. Santri itu penyabar

Ini juga sifat terpuji yang harus dimiliki calon mantunya ortu kamu. Dan sifat penyabar ini gak bisa pisah sama kepribadian santri. Mereka sudah terlatih menghadapi sesuatu tidak dengan nafsu. Ini karena mereka telah terbiasa hidup berdampingan dengan banyak orang, sehingga santri sudah terbiasa berbagi dan mengerti kapan harus ngalah.

4. Santri itu gaul coy

santri gaul

Santri itu bukan anak kuper coy! Mereka anak gaul. Maksudnya, di dalam sebuah pesantren pastinya tinggal puluhan hingga ribuan santri. Karena seringnya mereka berinteraksi. mereka sudah bisa mengenali karakter orang dan tau bagaimana harus bersikap. Bukankah ini modal penting bagi calon imam rumah tangga? Hal ini juga penting dimiliki oleh calon ibu yang akan mengasuh anak-anak ente nanti.

5. Pintar mengatur uang

Ini juga salah satu kecakapan yang lazim dimiliki sesosok mahluk yang bernama santri. Dalam pesantren, santri terbiasa mendapatkan jatah uang makan bulanan dari orang tua mereka. Sehingga menjadi keharusan bagi santri untuk bisa mengatur pengeluarannya. Jika sampai kedodoran dalam pengeluaran, resikonya laper berhari-hari kang!

6. Pengetahuan agama yang mumpuni

Menimba ilmu, khususnya ilmu agama, adalah niat pokok santri mondok di pesantren. Pengasuh pesantren juga tidak main-main dalam menggembleng mereka dengan pendidikan agama. Maka jadilah santri itu pribadi yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama.

7. Santri itu pecinta sejati

santri pecinta

Kehidupan santri putra dan putri itu terpisah. Mereka tidak berinteraksi dengan lawan jenis, dan menghabiskan masa remaja dalam pengabdian ilmu demi meraih bahagia di masa depan. Paling banter, hanya 2% saja santri yang pernah tau bagaimana rasanya berpacaran, dan yang 98% dari mereka belum pernah terjamah.

Artinya, jika kamu menjadi suami atau istri seorang santri, maka kamu adalah cinta pertama bagi mereka. Sebagaimana telah dikatakan para pecinta; tiada cinta yang mampu mengalahkan cinta pertama. (elf)

Sebenarnya bagaimanakah hukum istri minta duluan kepada suami menurut Islam? Apakah pantas? Atau haruskah istri merasa malu di depan suaminya sendiri? Anda akan mengetahui bagaimanakah Islam memberikan jawaban untuk masalah ini dari petuah ulama dan kisah sahabat Nabi saw berikut ini.

istri minta duluan
ilustrasi #alasantri

Nasihat ulama

Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Muhammad Al-Baqir pernah berpesan kepada kaum wanita. Beliau mengatakan, “Wanita yang terbaik di antara kalian adalah dia yang membuang perisai malu ketika membuka pakaian untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia mengenakan baju lagi.”

Jadi, bukanlah hal tabu jika dalam urusan keintiman pernikahan istri mengungkapkan hasratnya kepada suami. Bahkan sikap ini adalah sebuah anjuran. Bukankah sangat manusiawi jika seorang wanita memiliki hasrat? Dan diantara faedah perkawinan itu adalah menyalurkan syahwat.

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa keagresifan istri adalah tips yang dapat menolong suami dari permasalahan lemah syahwat. Baca juga: Bahagiakan Istri, Ilmu Amalan Memperlancar Rezeki.

Kisah istri minta duluan pada suaminya

Al-Khara’ithy mengisahkan, “Ammarmah bin Watsi-mah memberitahu kami, bapakku bercerita padaku, dia berkata, ‘Abdullah bin Rabi’ah adalah lelaki yang di kalangan kaum Quraisy terkenal sebagai orang yang baik dan selalu menjaga kehormatannya. Kejantanannya tidak mampu bangun. Sementara orang-orang Quraisy tidak pernah ada yang memberi kesaksian tentang kebaikan atau keburukannya dalam masalah ini.

Dia pernah menikahi seorang wanita. Tapi dalam beberapa waktu berselang, istrinya lari darinya dan kembali ke keluarganya. Begitu seterusnya. Lalu Zainab binti Umar bin Salamah bertanya, ‘Mengapa para wanita itu lari dari Abdullah?’

“Ada yang menjawab, ‘Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tak mampu membuat Abdullah melaksanakan tugas sebagai suami.’

‘Tak ada yang menghalangiku untuk membuat (kejantanannya)-nya bangkit,’ kata Zainab. ‘Demi Allah, saya adalah wanita berperawakan besar dan bergairah tinggi.’

“Maka akhirnya Zainab menikah dengannya, ia pun selalu sabar meladeninya dan akhirnya mereka dikaruniai enam anak.”

Hasrat seorang suami bisa surut karena istri yang bersikap dingin dan menahan kemesraan kepada suami. Sikap dingin ini bisa jadi dikarenakan rasa malu yang menguasai, sementara hakekatnya ia juga berhasrat meneguk kehangatan belaian cinta suaminya.
Laksana minuman hangat yang didekatkan pada segelas es, kehangatan gairah dan kemesraan suami akan cepat surut oleh dinginnya sikap istri.
Laksana minuman hangat yang didekatkan pada segelas es, kehangatan gairah dan kemesraan suami akan cepat surut oleh dinginnya sikap istri. Janganlah bersikap dingin dalam menanggapi cinta suami. Jika perlu, bersikaplah agresif untuk mengobarkan tali mawaddah wa rahmah pernikahan Anda.

Elfakhira
Disarikan dari Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin

Remaja muslimah berusia 15 tahun mengusulkan emoji hijab ke Unicode Consortium, organisasi yang bertanggung jawab mengelola emoji. Usulan itu dia kirimkan karena ia merasa perlu akan keberadaan emoji yang menggambarkan pribadi santun seorang muslimah.

emoji hijab
ilustrasi

Walau ratusan emoji yang menggambarkan orang dari berbagai kebudayaan, etnis, hingga pekerjaan telah tersedia dalam semua aplikasi perpesanan masa kini. Namun emoji hijab hingga sekarang belum tersedia.

Dia adalah seorang muslimah kelahiran Berlin bernama Rayouf Al Humedhi. Rayouf sangat berharap organisasi emoji itu mengabulkan permintaannya untuk membuat emoji hijab bagi wanita muslimah seperti dia.

Melansir informasi Washington Post, Kamis (15/9/2016), Rayouf merasa "terasingkan" ketika teman-temannya yang kebanyakan non-muslim menggunakan emoji untuk mengekspresikan diri dan pribadi mereka saat berkirim pesan di WhatsApp.

"Aku ingin sesuatu untuk mewakili saya, begitu juga dengan jutaan wanita yang mengenakan jilbab setiap harinya, dan bangga mengenakan jilbab," ujar remaja muslimah itu.

Meskipun kampanye anti Islam sedang digalakkan di Amerika. Tetapi berkat niatnya yang tulus, tak butuh lama baginya mendapat dukungan luar biasa dari netizen. Salah satu dukungan datang dari seorang co-founder Reddit, Alexis Ohanian.

Bersama Alexis, Rayouf akhirnya bekerja sama membuat sebuah petisi online di Change.org. Hingga berita ini kami turunkan, petisi mereka berdua sudah berhasil mendulang dua ribu lebih suara dukungan.

Kamu juga bisa mendukung Rayouf. Klik saja Please add a Hijab emoji for Muslims! dan berikan dukungan kamu di sana. Share juga berita ini pada teman sosmed yang Kamu rasa bersedia memberikan dukungan. (elf)

Tahun 2016 ini jemaah haji Indonesia di Filipina yang berangkat dengan paspor ilegal mencapai 700 orang. Demikianlah yang disampaikan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal.

Jemaah Haji Indonesia di Filipina

Dilansir dari merdeka.com, Kamis (15/9), Iqbal mengatakan "Jemaah haji Filipina akan kembali ke Manila pada periode 19 September hingga 1 Oktober ada sekitar 7.052 orang. Perkiraan ada 700 orang Indonesia dari angka tersebut".

Pada kepulangan tanggal 19 September nanti akan datang 1.049 jemaah haaji di Manila. Di antara jamaah-jamaah itu diperkirakan juga akan ada jemaah haji dari luar Filipina, yaaitu dari Malaysia dan Indonesia.

Dalam rangka mengantisipasi terulangnya peristiwa haji Indonesia yang berangkat secara ilegal dari Filipina, pemerintah Indonesia sudah mengirim tim khusus melalui Kementrian Luar Negeri ke Manila.

Kasus paspor palsu yang berujung tertangkapnya 177 jemaah Haji Indonesia di Filipina oleh aparat setempat beberapa waktu yang lalu menjadi pelajaran pahit bagi pemerintah.

Tim utusan itu nantinya akan melakukan pelbagai persiapan dan menjalin kerjasama dengan otoritas di Filipina.

Kesamaan pandangan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menyatakan bahwa para jemaah haji tersebut cuma korban, menjadi bekal utama tim tersebut untuk menggalang kerjasama. Untungnya, pandangan ini dibenarkan oleh Satgas yang dipimpin oleh Kementerian Kehakiman Filipina dan beranggotakan seluruh instansi terkait.

Dari lobi-lobi ini, mulai tampak alur kesepakatan dalam upaya penanganan jemaah haji Indonesia yang tiba di Manila. Harapan kita, jamaah haji Indonesia di Filipina akan segera dipulangkan ke tanah air tanpa ada kesulitan.

"Pihak Filipina juga sudah mengakomodir semua perhatian kita. Sebaliknya kita juga sudah mencatat kepentingan dan harapan mereka," terang Iqbal melalui pesan singkat yang ia kirim.

Bagi kaum muslimah tuntutan untuk selalu tampil memesona dalam setiap kesempatan selalu mendorong mereka mencari sebuah produk kosmetik halal yang sesuai dengan tuntutan kecantikan modern dan dinilai mampu untuk memenuhi impian mereka.

kosmetik cicak

Fenomena di atas mendorong para pelaku bisnis memunculkan terobosan-terobosan baru guna menghasilkan produk-produk yang dapat memenuhi selera konsumen dan punya daya saing tinggi. Termasuk yang mutakhir adalah produk kosmetik yang dibuat dari bahan dasar cicak. Konon bahan dasar yang didatangkan dari para pengusaha cicak ini sudah dalam bentuk cicak kering.

Hal ini membuat tanda tanya besar bagi kita semua, terutama bagi kalangan yang selalu eksis berpegang teguh terhadap hukum Islam. Apakah praktek dan model transaksi di atas selaras atau malah berseberangan dengan koredor yang telah ditetapkan oleh syariat Islam?

Pandangan Umum Islam Terhadap Cicak.

Dalam terminologi Islam Wazaghoh, yang dalam terjemah diartikan cicak, atau menurut versi lain menyebutnya dengan tokek, tergolong spesies hasyarot (hewan melata) dan masuk dalam kategori fuaisiqoh (hewan jahat). Penamaan fuaishiqoh ini mungkin tidak lepas dari sisi historisnya. Pada saat raja Namrud membakar Nabi Ibrohim as, cicak malah ikut andil dalam meniup api di saat hewan-hewan lain yang ada di bumi sibuk untuk membinasakan api tersebut.

Oleh sebab itu, banyak riwayat hadits maupun atsar yang secara eksplisit menganjurkan untuk membunuhnya, diantaranya:

“Diriwayatkan dari Sa'id bin abi Waqqos bahwasanya Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk membunuh cicak (muttafaq alaih ), Imam Bukhori menambahkan dalam periwayatanya: "Dan ia (cicak) ikut meniupi api untuk membakar Nabi Ibrohim as"

“Dari Abu Hurairoh, Nabi Muhammad saw bersabda:"Barang siapa membunuh cicak dengan pukulan yang pertama maka baginya seratus kebaikan. Barang siapa membunuhnya dengan pukulan yang kedua maka baginya kebaikan kurang dari yang pertama dan barang siapa membunuhnya dengan pukulan yang ketiga maka baginya kebaikan kurang dari kebaikan yang kedua".

Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarah Muslim bahwa kebaikan yang lebih banyak akan diperoleh saat cicak berhasil dibunuh dalam pukulan pertama. Hal ini dimaksudkan bila kita menjumpai cicak, untuk sesegera mungkin membunuhnya agar si cicak tidak lolos. Sahabat Abdulloh bin umar berkata: "Bunuhlah cicak karena ia laksana syaitan".

Para ulama' ahli atsar menyebukan bahwa cicak adalah hewan yang 'ashom (dungu) karena ulahnya yang membantu meniupi api saat pembakaran Nabi Abrohim as dan sebagian dari tabiatnya yang tak mau masuk rumah jika terdapat minyak za'faron didalamnya. (Syarah Muslim 14/236, Fathul Bari 6/354, Umdatul Qori' 16/62)

Hukum Memakan Cicak

Karena cicak tergolong al Hasyarot (hewan melata), maka ia juga termasuk al muhtabast (hewan yang menjijikan) sehingga haram untuk dimakan. Dari dasar hukum haram tersebut Imam Rafi'i dari kalangan syafi'iyyah melakukan istidlal yang berkesimpulan dengan keharaman membunuh cicak. Namun pendapat ini menurut Imam Ibnu Hajar dan ulama' madhab syafi'i yang lainya dinilai sabqul qolam karena bertentangan dengan nash-nash hadits yang telah banyak disebutkan seperti di atas. (Majmu'syarah Muhaddab 9/15, Tuhfatul Muhtaj 9/383)

Hukum Budi Daya Cicak

Literatur-literatur klasik dari madhab Syafi'i mecatat bahwa tidak diperbolehkan membudidayakan hewan-hewan yang tidak bermanfaat secara syar'i (muntafa'an bih syar'an) walaupun kadang dari sisi lain punya khasiat (khowwas) yang terkandung di dalamnya seperti cicak. Karena membudidayakan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah tindakan bodoh. Faktor lain yang menyebabkan tidak dilegalkannya usaha pembudidayaan cicak, karena ia termasuk spesies binatang yang sunah untuk dibunuh. Namun hukumnya diperbolehkan jika hanya menimbun atau menyimpannya untuk tujuan diperjual-belikan . (Hasyiyah Jamal 1/171, Al Majmu' 9/ 222, Tuhfatul Muhtaj/26).

Menjual Cicak

Menyikapi fenomena di atas maka praktek jual beli cicak harus diperinci apakah dalam kondisi hidup atau sudah berbentuk bangkai (mati)? Memandang dari aturan ketat fiqh syafi'iah yang mensyaratkan obyek transaksi (mabii') harus bermanfaat, maka menurut qoul adhar menjual cicak yang masih hidup tidak diperbolehkan. Namun menurut qoul muqobilul adhar diperbolehkan ketika ada manfaat, sedangkan hukum menjualnya ketika sudah mati adalah boleh menurut Hanafiyah jika ada manfaat, sementara menurut imam Al Qoffal dari madhab syafi'i dan ulama1 yang selaras dengan pemikirannya menghukumi boleh jika berpijak pada ulama' yang tidak mensyaratkan manfaat barang harus menurut penilaian masyarakat umum. (Hasyiyah As-Syarwani 4/239 & 26, Al Fiqh Al Islami 4/447 & 181-182, Hasyiyah Jamal 3/26, Fathul Mu'in 1/108).

Memakai Kosmetik Cicak

Jika mengikuti pendapat bahwa bangkai cicak hukumnya najis, maka menggunakan kosmetik yang berbahan cicak hukumnya boleh dengan syarat bangkainya sudah istihlak (larut) dengan benda lain yang cair sehingga menghilangkan rasa, bau dan warna. Namun jika tidak istihlak, maka haram, kecuali ada tujuan berobat dengan syarat tidak ditemukan obat suci yang bisa menggantinya atau dalam rangka untuk mempercepat penyembuhan serta sudah mendapatkan rekomendasi dari tim medis (dokter) yang adil. Dan bila berpijak kepada pendapat yang menyatakan bangkai cicak itu hukumnya suci seperti qoulnya Imam Al qoffal maka boleh secara mutlak. (I'anatut Thalibin 1/42 & 175 & 176, Roudhotut Tholibin 1/108, Fawaidul Janniyah 2/245-246, Asnal Matholib 7/402, Hasyiyah As-Syarwani 4/239 & 26).

Tohier
KakiLangit edisi 38 (Juni-Juii) 2010

Puncak ibadah haji yaitu wukuf di Arafah telah sukses dijalani oleh 150 ribu jamaah haji Indonesia dan jutaan jamaah haji manca negara. Setelah mabit (bermalam) di Muzdalifah, Senin (12/9), seluruh jamaah haji lantas pergi ke Mina guna menunaikan ritual lontar jumroh dan mabit di Mina hingga 14 untuk nafar awwal, dan 15 September bagi yang mengambil nafar tsani.

jamaah haji indonesia meninggal dunia

Laporan dari Daker Mekah menyebutkan; Hingga hari ini (13/09), tercatat total 100 jamaah haji Indonesia telah wafat di Saudi. Data Sistem Informasi Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan, pada pukul 07.00 waktu Arab Saudi, hari ini mencatat, delapan orang jamaah Indonesia meninggal dunia di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah kemarin.

"Kalau jamaah haji yang meninggal dunia di Arafah ada delapan orang, tapi yang wafat pada hari Arafah (9 dzulhijjah) hanya lima, yang tiga wafat di pemondokan Arafah pada 8 Dzulhijjah," demikian keterangan Penghubung Kesehatan dr. Ramon Andreas di Daker Makkah seperti lansiran di halaman Kemenag.go.id.

Delapan orang jamaah yang wafat di Arafah adalah: Sanipah binti Kawi Soleh (76), Sarah binti Marjuki Sere (84), Sukro bin Gimin Sali (71), Roemijatoen binti Mariso Kromorejo (69), Djumirah binti Karto Temon (82), Dimanto bin Sono Dikromo (72), Mani binti Mamak Isma (49), dan Moh. Choliq Atmowisastro bin Hanafi (71).

Menanggapi pertanyaan apakah ada penurunan jumlah jamaah haji Indonesia yang meninggal dunia di Arafah, Ramon tidak bisa memberikan kepastian. Namun Petugas Penghubung Kesehatan itu menilai kalau tahun ini jemaah haji cukup disiplin dan hampir semuanya tetap berada di tenda saat menjalani proses wukuf. Ini dapat dibuktikan dengan menurunnya angka layanan antar jemaah yang tersesat untuk kembali ke tenda maktabnya.

"Kalau melihat kemarin, kelihatannya jamaah kita lebih disiplin. Di tenda penerangan tidak banyak orang kesasar. Selain itu, keberadaan petugas sektor adhoc cukup efektif menjaga jemaah agar tetap berada di tendanya," terang Ramon.

Ramon juga menjelaskan, adanya water fan dirasa cukup membantu melembabkan udara dan mendinginkan suhu di tenda. Per hari ini, suhu udara Mekah dan sekitarnya mencapai angka 42 derajat celcius, sementara real feelnya hingga 52 derajat.

Berikut ini data lengkap 100 jamaah haji Indonesia yang wafat di tanah suci:

Daftar nama jamaah haji Indonesia 2016 yang wafat di tanah suci

  1. Senen bin Dono Medjo (79). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 007.
  2. Siti Nurhayati binti Muhammad Saib (68). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 002.
  3. Martina binti Sabri Hasan (47). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 006.
  4. Khadijah Nur binti Imam Nurdin (66). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 004.
  5. Dijem Djoyo Kromo (53). Perempuan. Embarkasi Solo (SOC) Kloter 018.
  6. Sarjono Bin Muhammad (60). Laki-laki. Embarkasi Batam (BTH) Kloter 006.
  7. Oom Eli Asik (66). Perempuan. Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) Kloter 003.
  8. Nazar Bakhtiar bin Batiar (82). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 001.
  9. Juani bin Mubin Ben (61). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 006.
  10. Asma binti Mian (78). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 001.
  11. Tasniah binti Durakim Datem (73). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 003.
  12. Jamaludin bin Badri Kar (58). Embarkasi Palembang (PLM) Kloter 005.
  13. Abdullah bin Umar Gamyah (68). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 001.
  14. Rubiyah binti Mukiyat Muntari (71). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 020.
  15. Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 011.
  16. Siti Maryam binti Ismail (60). Embarkasi Solo (SOC) Kloter 001.
  17. Misnawar bin Kasimo Kamujo (76). Embakarsi Surabaya (SUB) Kloter 015
  18. Din Azhari Nurina bin Sadid (73). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 005.
  19. Noorsi Fatimah binti M Saleh Mardiwiyono (60). Embarkasi Balikpapan (BPN) Kloter 009.
  20. Muhammad Nasir bin Abdul Hamid (64). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 010.
  21. Manih binti Siyan Muhammad (71). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) Kloter 006.
  22. Joko Pramono bin H Ali Pramono (41). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 26.
  23. Wahono Wilik bin Walijo Kartodimejo (65). Embarkasi Batam (BTH) kloter 002.
  24. Udju Sumiati binti Marhati (62). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) Kloter 038.
  25. Siti Fatonah Binti Supangat Kasmungin (68). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 028.
  26. Imam Rifai bin Ngali (60). Embarkasi Palembang (PLM) Kloter 005.
  27. Suhaimi bin kadir Abdillah (62). Embarkasi Medan (MES) Kloter 005.
  28. Siti Maskanah binti Djumri (66). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) Kloter 013.
  29. Zainabon binti Umar Muhammad (71). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 008.
  30. Awaludin bin Abu Sahar Tanjung (58). Embarkasi Medan (MES) Kloter 011.
  31. Kadiran bin Molyadi Sokaryo (71). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 022.
  32. Yudha Arifin bin Kasah (55). Jemaah haji khusus.
  33. Abdul Hamid bin Lapewa Palewa (53). Jemaah haji khusus.
  34. Roman bin H. Maeji Suhaedi (58). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 020.
  35. Mochamad Subarjah bin Sumawinata R (64). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 048.
  36. Taggi bin Haseng Maggu (57). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 048
  37. Saifuddin bin Buchori Abdullah (64). Embarkasi Solo (SOC) kloter 003.
  38. Semi Parsinah binti Wamu Adam (65). Embarkasi Aceh (BTJ) loter 002.
  39. Siti Maryam binti Haram (79). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 020.
  40. Aceng bin Nuroddin Hasyim (58). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 018.
  41. Adisman Rasidin Salin bin St. Salam (63). Jemaah haji khusus.
  42. Warniti binti Samadi Rimin (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 051.
  43. Sukardi As Haryanto bin Abu Bakar (78). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 009.
  44. Rukiyah bt Muhammad Arif Pane (62). Embarkasi Medan (MES) kloter 011.
  45. Sumin Adinoto bn Suto Karso (73). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 028.
  46. Zahadi bin Muhayadin Asir (58). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 007.
  47. Imo binti Ahmad Umar (73). Embarkasi Lombok (LOP) kloter 006.
  48. Carwit binti Karjani Sarip (51). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 037.
  49. Mukijan bin Sodimejoh Muhammad (62). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 032.
  50. Siti Sarah binti Abdul Kapi (53). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 014.
  51. Abdul Sani bin H Hayani (59). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 026.
  52. Emuh Sutrisna Atmadja bin Wardi (79). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 008.
  53. Ali bin Lapantje Lakoro (77). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 011.
  54. Cholik bin Aguscik Usman (65). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 005, B3343307.
  55. Marfuah Amina Toyib binti Mustofa (76). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 34.
  56. Nipi binti Mad Ambri Mungkar (69). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 34.
  57. Hawang binti Bungku Ilham (59). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 007.
  58. Boniatun binti Dulkahir Kartak (60). Embarkasi Batam (BTH) kloter 17.
  59. Hariri bin Mustafa M. Soleh (73). Embarkasi Jakarta - Pondok Gede (JKG) kloter 37.
  60. Dain Nariya bin Satimin (69). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 29.
  61. Rosid bin Kamadi Rani (63). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 061.
  62. Muhammad Arifin bin Ambo Angka (58). Jemaah haji khusus
  63. Zuri Mukanan bin Muhrin Kasrih (66). Jemaah haji khusus
  64. Wawan Barnawi K bin Casmita (62). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 036.
  65. Sikan bin Bait Sabut (59). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 005.
  66. Nana Supena bin Uba R (64). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 010.
  67. Budiyanto bin Lihan Suliman (57). Embarkasi kloter Surabaya (SUB) kloter 026.
  68. Suhaimi bin Jamain Abdul Gafur (62). Embarkasi Padang (PDG) kloter 009.
  69. Agus Slamet Riyadi bin Cokrowasito (62). Jemaah haji khusus.
  70. Munawwaroh binti Muslih Simin (66). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 020.
  71. Darmuya bin Jabar Bila (79). Embarkasi Padang kloter 011.
  72. Sofyan Soleh Jamhari binti H.M Sohe (74). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 007.
  73. Sumi binti Sahrul Towasi (80). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 003.
  74. Nur Wachid bin Abdul Majid Samsul (68). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 025.
  75. Sahriye binti Sulaiman Kaima (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 017.
  76. Sulkan bin Satiman Lasijah (57). Embarkasi Solo (SOC) kloter 063.
  77. Sariyana Ganing P binti Laganing (73). Jemaah haji khusus.
  78. Djunaide bin Masse Bandu (71). Jemaah haji khusus.
  79. Sawi bin Saidin Armidin (73). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 017.
  80. Jamhari bin Arip Ardiah (83). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 021.
  81. Endah Wirdah binti Sukemi Harja. Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 038.
  82. Mariyah Komar binti Umar Martawidjaja. Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 031.
  83. Aen Harmaen bin Suhandi Suhatma (66). Jemaah haji khusus.
  84. Ripah binti Ardja Semita (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 056.
  85. Sumitro bin Chambali Moh. Sidik (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 036.
  86. Nur Pudjimas Saleh bin Muhammad Nur (70). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 027.
  87. Rasta Wangsa Mihardja bin P Sayan (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 053.
  88. Namin bin Artamin Senang (79). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 013.
  89. Badrijanto bin Darmodipuro Kartowijoto (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 008.
  90. Sanipah binti Kawi Soleh (76). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 030.
  91. Sarah binti Marjuki Sere (84). Embarkasi Jakarta Pondok (JKG) kloter 033.
  92. Sukro bin Gimin Sali (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 039.
  93. Sangkut bin Yasin Saguk (60). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 023.
  94. Sutadji bin Taredjo Sabar (85). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 034.
  95. Roemijatoen binti Mariso Kromorejo (69). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 028.
  96. Djumirah binti Karto Temon (82). Embarkasi Solo (SOC) kloter 024.
  97. Dimanto bin Sono Dikromo (72). Embarkasi Medan (MES) kloter 017.
  98. Mani binti Mamak Isma (49). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 016.
  99. Jukih binti Tiyul Kemat (72) Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 029.
  100. Moh. Choliq Atmowisastro bin Hanafi (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 057.

Allahumma igfirlana walahum. Amin.

Saat sedang mandi seorang santri Aceh, NF 12 tahun, diterkam buaya sungai Lembang yang terletak di Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan. Jasad NF ditemukan 3 hari kemudian setelah sempat menghilang.

buaya makan manusia
buaya yang ditangkap warga. sumber: merdeka.com

Menurut keterangan Martuis, mantan sekretaris Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, jasad korban yang telah dievakuasi tim SAR dan BPBD itu ditemukan masih dalam keadaan utuh.

"Jasad korban langsung ke Puskesmas Kluet Selatan untuk divisum. Dan jenazah korban sudah dimakamkan di kompleks pondok Pesantren Darusy-Syuhada di Desa Pasie Lembang," terang Martunis, Minggu (11/9). Dilansir dari Antara.

Santri yang masih belum berusia baligh tersebut hilang setelah diterkam buaya ketika sedang mandi bersama teman santri lainnya di sungai Lembang, yang kebetulan lokasinya berada persis di belakang pesantren, Jumat pagi (9/9) sekitar jam 8.00 WIB.

Jasad korban yang masih utuh itu pertama kali dilihat mengapung di sela-sela rumput, seorang warga setempat yang kebetulan melintas melihatnya.

Laporan dari warga tersebut kemudian diteruskan oleh aparat desa setempat kepada tim gabungan yang terus melakukan pencarian di sekitar tempat kejadian.

Martunis menuturkan, lokasi penemuan jasad korban dengan tempat kejadian perkara berjarak sekitar 500 meter.

"Kuat dugaan, jasad korban yang sebelumnya telah disembunyikan oleh buaya yang telah memangsanya, pada Minggu pagi telah dilepaskan oleh buaya dimaksud, semua itu berkat doa-doa yang dipanjatkan para santri dan ulama di pesantren tersebut sejak hari pertama kejadian," ucap Martunis.

Martunis menjelaskan, selain melepas korban, buaya besar pemangsa manusia tersebut ternyata juga tidak merusak tubuh korban. Terbukti dari kondisi jenazah NF yang ditemukan terapung itu masih dalam keadaan utuh, kecuali ada luka bekas gigitan buaya di bagian tulang kaki bawah lutut dan di bagian wajah.

"Celana pendek warna hitam yang dipakai korban saat mandi dengan teman-temannya juga masih melekat di tubuh korban tanpa ada kerusakan," ujar Martunis. (elf)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget