November 2016

Senin 12 Rabiul Awal 14 abad silam. Lahir sosok termulia pembawa agama Islam. Kehadirannya sebagai rahmat bagi semesta alam. Mengentas manusia dari era jahiliyah suram. Era di mana manusia tenggelam dalam kelam. Era ketika kekejian mangakar akut kuat menghujam. Ketika kejahatan membudaya merajalela siang dan malam. Dialah Muhamad sang cahaya yang tak akan pernah padam.
Nama-nama Nabi
Rasulullah saw. memiliki beragam nama nan indah. Beragamnya nama ini menunjukkan kemuliaan Baginda Nabi saw, tersebab beliau memiliki sedemikian banyak sifat-sifat agung lagi terpuji. Al-Imam an-Nawawi dalam karya beliau, Tahdzibul-Asma' wal-Lughat, mengutip penjelasan dari Ibnul-'Arabi dalam karya beliau ‘Aridhatul-Ahwadzi fi Syarhit-Tirmidzi, yang mengutip pernyataan sebagian ahli sufi, bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Baginda Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Keindahan Nama-nama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

Edisi Cinta Nabi


Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im bin Adiy ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku memiliki beberapa nama: Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “al- Mahi”, di mana melalui aku Allah menghapuskan kekafiran, aku adalah “al-Hasyir”, di mana mandsia digiring ke padang mahsyar setelah aku, dan aku adalah “al-‘Aqib”, di mana tak ada nabi lagi setelah aku.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ia berkata: Aku berjumpa dengan Nabi saw. dijalan Madinah, lalu beliau bersabda: “Aku adalah “Muhammad”, aku adalah “Ahmad”, aku adalah “Nabi Rahmat”, “Nabi Tobat”, aku adalah “al-Muqaffi” (mengikuti jejak langkah para nabi sebelumnya), aku adalah “al-Hasyir”, dan “Nabi al-Malahim” (Nabi yang suka berjihad)”.

Dalam at-Tahdzib juga diterangkan, bahwa dalam al-Quran, Allah swt. menyebut Nabi saw. dengan nama “Rasul”, “Ummi”, “Syahid”, “Mubasysyir”, “Nadzir”, “Da'iyan Ilallahi biidznihi”, “Sirajan Munira”, “Ra'ufan Rahima”, “Mudzakkir”, “Ja'alahu Rahmatan wa Ni'matan wa Hadiya”.

Al-Imam an-Nawawi berkata, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Namaku di dalam al-Quran ialah “Muhammad”, di dalam Injil ialah “Ahmad”, di dalam Taurat ialah “Uhid”. Disebut Uhid karena aku menjauhkan umatku dari neraka Jahanam”.

Dalam kitab yang sama, al-Imam an-Nawawi menambahkan keterangan dengan menukil dari Ibnu Asakir, bahwa nama Baginda Nabi yang lain adalah “al-Fatih”, “Thaha”, “Yasin”, '“Abdullah”, “Khatimul-Anbiya”.
[next]
Al-Imam al-Qusthulani dalam al-Mawdhib dan al-Bajuri dalam Hasyiyah asy-Syama’il mencatat keterangan Syekh Husain bin Muhammad ad-Damaghani dalam karyanya Syauqul-Arus wa Unsun-Nuqus, yang mengutip dari Ka'b al-Ahbar, bahwa ia berkata: “Nama Nabi bagi penduduk surga adalah “Abdul-Karim”. Nama Nabi bagi penduduk Arasy adalah “Abdul-Hamid”. Nama Nabi bagi para malaikat adalah “Abdul-Majid”. Nama Nabi bagi para nabi adalah ‘“Abdul-Wahhab”. Nama Nabi bagi kalangan setan adalah “Abdul-Qahhar”. Nama Nabi bagi kalangan jin adalah “Abdur-Rahim”. Nama Nabi di gunung adalah “Abdul-Khaliq”. Nama Nabi di daratan adalah “Abdul-Qadir”. Nama Nabi di lautan adalah “Abdul-Muhaimin”. Nama Nabi bagi ikan-ikan adalah “Abdul-Quddus”. Nama Nabi bagi serangga adalah “Abdul-Ghiyats”. Nama Nabi bagi binatang liar adalah “Abdur-Razzaq”. Nama Nabi bagi binatang buas adalah “Abdus-Salam”. Nama Nabi bagi binatang ternak adalah “Abdul-Mu’min”. Nama Nabi bagi burung-burung adalah “Abdul-Ghaffar”. Nama Nabi dalam kitab Taurat adalah “Mu’dzu-mu’dzu” (konon artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam kitab Injil adalah “Thaba-thaba” (artinya adalah “baik, baik”). Nama Nabi dalam Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebelum diturunkan kitab Taurat adalah “Aqib”. Nama Nabi dalam kitab Zabur adalah “Faruq”. Nama Nabi bagi Allah adalah “Thaha” dan “Yasin”. Nama Nabi bagi orang-orang mukmin adalah “Muhammad” saw.

Al-Imam Khatimatul-Huffazh Jalaluddin as-Suyuthi menulis risalah khusus bertajuk “al-Bahjah as-Saniyyah fil-Asma’ an-Nabawiyyah". Dalam karyanya tersebut, as-Suyuthi mencatat sekitar lima ratus nama bagi Baginda Nabi saw. Sedangkan al-Imam al-Qusthulani dalam “al-Mawabib al-Ladunniyyah” yang mengutip dari “Ahkamul-Our’an” karya Ibnul-Arabi, menyatakan bahwa Allah swt. memiliki seribu nama, sedangkan Nabi saw. juga memiliki seribu nama.

Namun, sesungguhnya yang dimaksudkan oleh al-Qusthulani di atas adalah sifat-sifat. Karena setiap sifat yang dimiliki oleh Baginda Nabi secara otomatis juga menjadi nama bagi beliau. Jika demikian halnya, maka tidak terlalu berlebihan jika disebutkan bahwa Nabi saw. memiliki banyak nama, bahkan sampai seribu nama atau lebih sekalipun.

Dalam kitab yang sama, al-Qusthulani mencatat ulang penjelasan al-Imam as-Sakhawi dalam “al-Qaul al-Badi”, Qadhi 'Iyadh dalam “asy- Syifa”, Ibnu al-'Arabi dalam “al-Qabas” dan “al-Ahkam”, Ibnu Sayyidin-Nas dan para ulama lain berkenaan dengan nama-nama Nabi, maka diketahui ada lebih dari empat ratus nama yang kemudian beliau susun sesuai dengan huruf hijaiyah. Dua ratus satu nama di antaranya juga dikutip oleh al-Imam al-Juzuli (nisbat pada desa Juzulah, termasuk bagian dari suku Barbar) dalam “Dala’ilul-Khairat”.

Adapun nama Baginda Nabi saw. yang paling utama adalah “Muhammad”. Al-Qusthulani mengatakan, bahwa Allah menamai Nabi dengan nama “Muhammad” ini dua ribu tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam as, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Anas ra.
[next]
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ka‘b al-Ahbar, bahwa Nabi Adam as berwasiat kepada putra beliau, Syits as: “Putraku, kamu adalah khalifah penggantiku sepeninggalku. Laksanakan tugas kekhilafahan ini dengan penuh ketakwaan dan berpeganglah pada tali yang kokoh. Dan setiap kali kamu berzikir kepada Allah, sebutlah pula nama ‘Muhammad’ di sisi nama-Nya. Karena aku melihat nama ‘Muhammad’ tertulis di tiang-tiang Arasy. Kemudian aku mengelilingi langit-langit, dan tak kutemukan satu tempat pun di langit yang tak tertulis nama ‘Muhammad’. Tuhanku juga telah menempatkan aku di surga, lalu aku tak melihat gedung dan kamar di surga itu melainkan tertulis pula nama ‘Muhammad’. Aku juga melihat nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat. Maka perbanyaklah menyebut namanya, karena para malaikat menyebut namanya di setiap saat.”

Nama ‘Muhammad’ tertulis pada mata para bidadari, di ranting-ranting pohon surga, di dedaunan pohon-pohon surga, pada satir-satir di surga, dan juga tertulis pada mata para malaikat

Maka para ulama mengatakan, bahwa semestinya umat Islam tidak melewatkan pemberian nama “Muhammad” atau “Ahmad” pada nama-nama mereka. Karena dalam sebuah Hadis Qudsi Allah berfirman yang artinya, “Aku bersumpah atas Diri-Ku sendiri, bahwa Aku tidak akan memasukkan orang yang bernama ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’ ke dalam neraka.”

Al-Imam ad-Dailami juga meriwayatkan dari Sayyidina Ali bahwa “Tidaklah setiap hidangan dihidangkan di sebuah rumah, lalu dihadirkan pada hidangan itu orang yang bernama Muhammad atau Ahmad, melainkan Allah akan mensucikan rumah itu dua kali sehari.”

Moh. Achyat Ahmad
BuletinSidogiri Edisi 99 Rabiul Aawal 1436 H.

Sore itu, saya sowan kepada salah satu santri Alm KH Manshur (1885-1964), beliau ipar Kyai abdul karim lirboyo, sekaligus guru Gus Maksum. Saya didongengi kiprah KH Manshur ketika mbabat alas, syiar agama dan bermasyarakat. Santri itu bernama Mbah Zaenuri usianya sekarang 70an.

KH Manshur Kalipucung Blitar
Makam KH Manshur Kalipucung Blitar

"Mbah, bagaimana kisah KH Manshur bermasyarakat?" tanyaku.
Mbah zen dengan menyulut rokoknya lalu berkata:" Kyai Manshur hidup dengan masyarakat biasa-biasa saja, meskipun kala itu ada Abangan dan PKI".
Aku pun bertanya dengan penasaran:" Biasa-biasa bagaimana? Koq terkesan mboten berjuang atau melawan?!" Mbah zen tersenyum, lalu berkisah:

"Doeloe, Dikampung Kalipucung ini ada tiga kelompok, pertama Santri, kedua PKI, ketiga Abangan. Nah, yang sering "melecehkan dan menghina" islam adalah PKI. Semisal, ketika santri berangkat sholat atau ngaji, dihadang lalu dilecehkan (bahasa sekarang dinistakan) dengan ucapan-ucapan merendahkan Islam yg membangkitkan amarah para santri. Selanjutnya santri-santri ini lapor KH Manshur yang dikenal suwuk serta gemblengannya. Bagaimanakah sikap KH Manshur?! Marahkah beliau, Islam dilecehkan oleh PKI?". "Lantas bagaimana Mbah?! Tanyaku semakin penasaran dan berharap KH. Manshur mengobrak abrik sarang PKI dengan kesaktiannya.

Mbah zen, sejenak nyeruput kopinya, sambil menghela nafas, dia lanjutkan: KH. Manshur dawuh: "biarkan saja, tidak perlu diurusi, yang penting kalian tetap istiqomah sholat berjamaah dan mengaji. Semoga mereka (PKI) mendapatkan hidayah atas kejahilannya, dan jika memang tidak mendapatkan hidayah, semoga anak keturunannya mendapat hidayah, sehingga nyantri disini". Mbah zen menambahkan: " Sekarang terbukti, bahwa dawuh KH Manshur diijabahi Allah, anak keturunan PKI disini semua masuk Islam dan Nyantri pada KH. Manshur." Mungkin ini yang dimaksud "Innal hasanaat yudzhibna assayyiaat (perbuatan baik bisa menghapus keburukan) dengan cara yang elegan tanpa melancarkan jurus silatnya."

penulis
Ahmad Karomi
Penulis adalah anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget