Februari 2017

Alkisah pada suatu malam, Syaikh Jalaluddin Ar-Rumi mengundang Gurunya, Syaikh Syamsuddin At-Tabrizi ke rumahnya. Syaikh Syamsuddin yang merupakan seorang Mursyid pun menerima undangan tersebut dan segera pergi menuju kediaman Maulana. Setelah semua hidangan makan malam disuguhkan, Syaikh Syams berkata pada Maulana Rumi;
Jalaluddin Ar-Rumi
“Apakah kau menyediakan untukku sebuah minuman ?”. (yang beliau maksud : khamr / arak )

Maulana Rumi terkejut mendengar permintaan gurunya, “apa anda menyukai arak?’ tanya beliau.
“Iya”, jawab Syaikh Syamsuddin.

Maulana Rumi kaget mendengar jawaban Gurunya itu lalu berkata ,”maaf, saya tidak mengetahui tentang hal ini”.

“karena kau sudah mengetahuinya. Maka segera sediakan arak untukku”.

“Saat waktu malam seperti ini, dari mana saya bisa mendapatkan arak untuk anda?” tanya Maulana Rumi.

“Mintalah salah satu khadammu membelinya untukku” perintah Syaikh Syamsuddin .

“Kalau seperti itu kehormatanku di depan para hadamku akan hilang” terang Maulana Rumi.

“Kalau memang begitu, maka kau pergilah sendiri keluar membeli arak untukku ” pintanya lagi.

“Semua orang dikota ini mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli arak sendiri?”.

“Kalau kau masih menganggapku aku sebagai gurumu, kau harus segera menyediakan arak yang aku inginkan. Tanpa arak, aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur malam ini”.

Karena kecintaan Maulana Rumi pada gurunya, akhirnya beliau segera memakai jubahnya sambil menyembunyikan sebuah botol di balik jubahnya dan pergi menuju ke tempat pemukiman kaum Nasrani.

Saat sebelum beliau masuk ke pemukiman Nasrani, tidak ada satu orang pun yang berpikir macam-macam terhadap beliau, namun ketika beliau masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang yang ada disekitar beliau terkejut dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti beliau dari belakang.

Orang-orang itu melihat Maulana Rumi memasuki sebuah kedai arak. Beliau terlihat mengisi arak pada sebuah botol minuman kemudian beliau sembunyikan botol tersebut di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu beliau terus diikuti oleh orang-orang yang jumlahnya semakin banyak. Hingga beliau sampai di depan masjid tempat dimana beliau menjadi imam sholat masyarakat kota setempat.

Tiba-tiba salah satu dari orang-orang yang mengikuti beliau berteriak dengan lantang; "Ayyuhan Nas, Maulana Jalaluddin Ar-Rumi yang setiap hari menjadi imam shalat kalian baru saja menuju kedai dari perkampungan Nasrani dan membeli arak!!!”.

Orang itu mengatakan itu sambil menyingkap jubah yang dikenakan oleh Maulana Rumi. Orang-orang yang melihat botol itu dikeluarkan dari jubah Maulana terkejut sambil berkata. “Orang yang selama ini mengaku sebagai ahli zuhud dan kalian menganggapnya sebagai panutan ini telah membeli arak dari permukiman Nasrani dan hendak membawanya pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang mulai bergantian meludahi muka Maulana Rumi dan memukulinya hingga serban yang beliau kenakan di kepala jatuh ke leher.

Melihat Maulana Rumi hanya diam saja saat dipukuli tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini Maulana Rumi telah menipu dan membohongi mereka tentang takwa dan zuhud yang diajarkannya. Mereka tanpa kasihan terus dan terus memukuli Maulana Rumi sampai ada yang berniat untuk membunuhnya.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Syaikh Syamsuddin Tabrizi; “Wahai orang-orang yang tak tahu malu. Kalian telah mefitnah seorang yang alim, faqih dan zuhud dengan tuduhan minum arak, ketahuilah bahwa isi dari botol yang dibawa oleh Rumi dari pemukiman Nasrani adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih tidak percaya:

“isi botol ini bukan cuka, ini jelas arak”. Syaikh Syams segera mengambil botol dan membuka penutupnya. Beliau meneteskan isi dari botol tersebut di tangan orang-orang supaya menciumnya. Mereka sangat terkejut karena isi dari botol itu memang cuka. Mereka langsung memukuli kepala mereka sendiri sambil bersimpuh di kaki Maulana Rumi. Mereka saling berebut untuk meminta maaf dan menciumi tangan Maulana Rumi hingga dengan pelan-pelan satu demi satu dari mereka.

Maulana Rumi berkata pada Syaikh Syamsuddin, “Malam ini anda telah membuatku terjebak dalam masalah yang sangat besar sampai kehormatan dan nama baikku rusak. Apa maksud dari semua ini?”.

“Agar kau tau bahwa kehormatan yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan dari orang-orang awam seperti mereka ini adalah sesuatu yang abadi? Padahal kau tau sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman berisi arak saja semua penghormatan itu lenyap dan mereka langsung meludahi dan memukuli kepalamu bahkan hampir saja salah seorang dari mereka membunuhmu. Inilah kehormatan yang selama ini selalu kau perjuangkan dan pada akhirnya lenyap dalam waktu yang singkat.

Maka dari itu bertawakkallah pada yang tidak tergoyahkan oleh zaman dan tidak terpatahkan oleh perubahan waktu. (Jbl)

Da'i asal Indonesia, Shamsi Ali yang merupakan imam masjid di New York Amerika menginisiasi dan mengkordinasi 'Aksi Bela Islam' di kota New York, Senin (20/2/2017) kemarin. Aksi Bela Islam New York ini untuk menentang kebijakan Presiden Trump yang anti-Islam.
Aksi Bela Islam New York
Dalam pesan di fb-nya Imam Shamsi Ali menuliskan kesuksesan aksi tersebut. "Alhamdulillah, dengan izin Allah dan kerja keras semua yang terlibat, rally dengan tema 'Hari ini saya juga seorang Muslim' (I AM A MUSLIM TOO) berjalan dengan sukses di New York. Peserta yang membludak di lima blok di Time Square, jantung kota New York itu diperkirakan mencapai 7 - 10 ribu peserta. Selain tokoh-tokoh agama besar New York, hadir juga tokoh-tokoh Hollywood seperti Russell Simmons, juga anggota dewan kota New York, bahkan Walikota New York de Blasio."

"Sebagai koordinator utama pelaksanaan acara ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada saudara-saudara non Muslim yang dengan tegas dan tanpa ragu memberikan dukungan dan pembelaan terhadap komunitas Muslim. Saya menyebutkan dukungan mereka sebagai bentuk wajah konstitusi yang sesungguhnya. Alhamdulillah!"

#AksiBelaIslam di New York ini didukung walikota Bill de Blasio dan tokoh lintas agama.

Insya Allah polisi New York tidak akan mengkriminalisasi Imam Shamsi Ali. Uang donasi juga tak akan dipermasalahkan...

Beda cerita dengan sebuah negeri antah-berantah.

Sumber: Portal Islam

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar menyebut ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang mengutip Surat Al Maidah ayat 51 saat kunjungan ke Kepulauan Seribu, terindikasi penyesatan terhadap umat Islam.
KH. Miftachul Akhyar - sidang Ahok
“Ada kata-kata jangan percaya, artinya orang yang sudah percaya diajak tidak percaya terhadap ayat ini. Sehingga ada penyesatan terhadap umat yang semula beriman meyakini, berakibat tidak beriman dan tidak meyakini,” kata Kyai Miftach saat memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan penodaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 21 Februari 2017.

Ahok mengutip Surat Al Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Saat itu, Ahok menyampaikan kepada penduduk setempat bahwa program budidaya ikan kerapu akan terus berjalan meskipun ia tidak lagi menjadi gubernur. Berikut petikan kalimat Ahok.

“Kan, bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem gitu loh. Itu hak Bapak-Ibu, ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa. Karena ini kan hak pribadi Bapak-Ibu. Program ini jalan saja. Jadi Bapak-Ibu enggak usah merasa enggak enak. Dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok,” ujar Ahok dalam pidatonya.

Dalam sidang Ahok ke-11 itu, KH. Miftachul Akhyar mengatakan, ucapan Ahok tersebut juga terindikasi hukum penistaan terhadap Al Quran dan ulama. Sebab, menurut dia, kata ‘pakai’ dalam pidato Ahok ditujukan kepada ulama yang biasa menyampaikan penafsiran Surat Al-Maidah. “Bagi mereka yang bukan ulama ya mendapat ilmu dari ulama,” kata ahli agama itu.

Selain itu, menurut Kyai Miftach, Ahok dianggap melakukan penistaan karena dalam ucapannya ada kata-kata ‘jangan percaya’, ‘dibodohi’, dan ‘dibohongi pakai Surat Al-Maidah’. Kyai Miftach juga menyatakan bahwa Ahok tidak boleh menafsirkannya lantaran tidak memiliki kompetensi dan bukan beragama Islam. “Jelas tidak boleh karena bukan ahlinya,” ujarnya. Di persidangan, Miftahul Ahyar juga menyebut kata ‘aulia’ dalam Surat Al-Maidah ayat 51 dapat diartikan sebagai pemimpin.

Sumber: Panjimas

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget