Hikmah 1: Tanda Manusia Bergantung Pada Amal

من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
Sebagian dari tanda-tanda manusia yang mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan ketika berbuat kesalahan.

Syarah / Penjelasan

Bergantung dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah adalah sifat arifin (orang-orang yang mengenal Allah), sedangkan bergantung dan mengandalkan sesuatu pada selain Allah adalah sifat orang-orang bodoh yang lupa kepada Allah.

Hikmah 1
Laysa li al-insan

Hamba Allah yang ma’rifat itu tenggelam dalam lautan tauhid. Sehingga bagi mereka, khauf (takut pada Allah) dan raja’ (berharap pada rahmat Allah) selalu sama dalam keadaan apapun. Ketika mereka beramal dan beribadah, maka yang mereka saksikan adalah jalannya ketentuan takdir dan campur tangan Allah, sehingga ibadah mereka tidak akan mampu menambah pengharapan pada rahmat Allah (raja’). Pun demikian ketika mereka terperosok dalam sebuah kesalahan. Yang mereka saksikan adalah kuasa Allah, sehingga kesalahan itu tak akan menambah rasa khauf dan tidak pula mengurangi rasa raja’.

Bukan berarti arifun itu tidak takut berbuat dosa, atau tidak berharap akan pahala. Mereka pun punya perasaan khauf dan raja’. Namun, ketakutan mereka pada siksa Allah sama besarnya ketika mereka berbuat dosa atau sedang melaksanakan ibadah. Dan harapan mereka (akan rahmat Allah) tidak akan berkurang ketika terjadi salah, sebagaimana juga tidak bertambah ketika mereka beramal kebaikan.

Dalil al-Qur’an dan Hadits

Maksud dari Ibnu Athaillah rahimahullah dalam kata hikmah ini adalah mendorong hamba Allah untuk tidak berpegang pada amal perbuatannya, namun melihat segala sesuatunya sebagai anugerah Allah. Sehingga seorang pendosa tidak akan mudah berputus asa pada rahmat Allah, tetapi selalu berharap akan kasih sayang Allah SWT.

Yang demikian itu sebagaimana firman Allah “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy Syura: 25)

Nabi bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga dikarenakan amal perbuatan kalian. Sahabat bertanya, apakah engkau juga ya rasul Allah? Nabi berkata; Aku juga. Tetapi Allah telah meliputi diriku dengan rahmat-Nya”. (HR. Bukhari Muslim).

Wallahu a’lamu bis shawab.

Syamsurrijal Ahmad

Penulis adalah khadimul ma’had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.