Pedahuluan Terjemah Hikam Ibnu Athaillah As Sakandari

Bismillahirahmanirrahim,

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ala rasulillah, wa ala alihi wa shahbihi wa man walah. Wa ba’du.

Setelah saya mengikuti sawir Hikam yang rutin diadakan ORISSA (Oganisasi Remaja Islam Sidosermo SurabayA) dua minggu sekali, ada terbesit keinginan untuk menulis apa yang saya dapatkan dari kegiatan sawir tersebut. Mulanya, saya ingin asatidz dan kiai yang saya anggap lebih ahli untuk menuliskan terjemah Hikam sebagai hasil dari kegiatan sawir itu. Namun rasa sungkan kepada mereka dan takut mengganggu waktu beliau-beliau yang sudah cukup padat itulah yang membuat saya memberanikan diri menuliskan terjemah Hikam di blog komunitas santri ini. Toh jika ada dirasa salah dan kurang tepatnya, mereka dengan ringan hati akan memberikan koreksi.

Harapan saya, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, santriyin santriyat, kaum muslimin, serta pembaca yang mencari pencerahan yang terkandung dalam untaian kata-kata bijak ulama’ sufi. Semoga pula usaha menerjemahkan kitab Hikam ini menjadi amal kebajikan yang berbalas berlipat-lipat kebaikan di akhirat kelak. Amin.

Sekilas tentang penulis Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

Nama lengkap beliau adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athaillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili (1260 M – 1309 M / 658 H – 709 H). Mulanya, karena kefanatikan Ibnu Athaillah pada ilmu fiqih, beliau mengingkari kebenaran tasawuf dan memusuhi ulama-ulama sufi. Hingga pada suatu kesempatan, Ibnu Athaillah bertemu dengan sayyidi Abul Abbas al-Mursi. Pertemuan itu sangat berkesan bagi Ibnu Athaillah hingga beliau menyadari kebenaran ilmu tasawuf dan menjadi murid kesayangan al-Mursi.

Sepeninggal gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi tahun 686 H, Ibnu Athaillah menggantikannya sebagai mursyid tariqah Syadziliah. Tugas ini beliau emban tanpa meninggalkan tugas mengajar di kota Iskandariah. Setelah pindah ke Kairo, beliau bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Dan termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah.

Murid dan kitab karangan Ibnu Athaillah

Beliau mempunyai banyak murid yang kemudian menjadi ahli fiqih dan tasawwuf, di antaranya adalah Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah syaikh Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro.

Sebagai seorang ulama, Ibn Athaillah meninggalkan banyak karangan kitab. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Sayangnya, beberapa kitab karangan beliau hilang jejaknya. Namun di antara kitab karya beliau, kitab Hikam yang paling masyhur dan banyak dikenal.

Hikam Ibnu Athaillah

Sesuai namanya yang berarti beberapa hikmah, kitab Hikam berisi kumpulan kata mutiara (hikmah) yang keseluruhannya berjumlah 264 hikmah (selain tulisan Ibnu Athaillah yang ditujukan untuk sahabat-sahabat beliau, dan do’a serta munajat beliau yang juga mengandung banyak sekali hikmah).

Untaian kata hikmah dalam kitab ini begitu indahnya, sehingga Ibnu Ajibah dalam kitab Iyqadh al-Himam menceritakan bahwa seorang faqih yang dikenal dengan nama Al Banani berkata: “Hikam Ibnu Athaillah laksana wahyu. Andai sholat diperkenankan menggunakan selain al Qur’an, tentu akan dibacakan kata-kata Hikam.”

Terjemah Hikam dalam blog AlaSantri.com

Dalam terjemahan kitab Hikam ini, saya banyak merujuk keterangan dari syarah Hikam karya Ibnu Abbad ar Rundi dan Abdullah bin Hijazi al Syarqawi sebagai rujukan utama. Opini dan pendapat pribadi saya tekan seminimal mungkin, sehingga maksud dari pesan-pesan Ibnu Athaillah tetap terjaga keasliannya.

Saya menyadari bahwa penelitian saya yang singkat menyimpan berbagai kekurangan. Karenanya, komentar, saran dan masukan berbagai pihak sungguh sangat saya harapkan.

Akhir kata, wa billahi at-taufiq wa al-hidayah.
Wassalamu’alaikum wr wb.

sumber:
Muhammad Abdul Maqsud Haykal dalam pengantar Syarah Hikam li Ibn Abbad ar Rundi, Markaz al-Ahram cet. 1, Kairo 1988 M. | WikiWand.com | ar.wikipedia.org | en.wikipedia.org

Syamsurrijal Ahmad

Penulis adalah khadimul ma’had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.