Bertawassul dengan Atsar Rasulullah SAW

Edisi Cinta Nabi

Diriwayatkan, sesungguhnya telah banyak dari para shahabat yang bertabarruk, atau mengharap barokah dari barang-barang peninggalan Rasululah Saw. Dan makna dari tabarruk ini tidak lain adalah merupakan bertawasul dengan atsar Rasul kepada Allah Swt. Dikarenakan pada dasarnya tawasul itu sendiri bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.


Kemudian apakah para shahabat ketika bertawasul dengan atsar, lalu tidak bertawasul kepada Nabi? Sama sekali tidak. Pada dasarnya sebuah atsar itu tidak akan menjadi mulia dan agung, melainkan disebabkan sang pemilik atsar itu sendiri, yaitu Nabi Muhammad Saw. Sehingga merupakan kebohongan besar bagi orang yang mengatakan bahwa bertawasul dengan atsar itu tidak diperbolehkan.

Dari beberapa nash hadits yang ada, akan kami kemukakan beberapa di antara yang telah masyhur. Dimulai dari sayidina Umar bin al Khattab Amirul Mukminin ra. yang begitu bersemangat untuk bisa dimakamkan di samping Rasulullah ketika beliau telah wafat. Maka diutuslah putra beliau, Abdullah untuk meminta izin kepada sayidah ‘Aisyah ra. atas keinginan sayidina Umar. Maka seketika itu sayidah ‘Aisyah mengabarkan, bahwa sesungguhnya ia sendiri sangat mengharapkan tempat itu untuk dirinya. Tapi kemudian ia bertkata : “Sungguh aku mengharapkan tempat itu untukku, tetapi akan kupersilahkan tempat itu untuknya”.

Mendengar jawaban dari sayidah ‘Aisyah, Abdullah bergegas pulang dan memberitahukan kabar gembira ini kepada sang Ayah. Dan seketika itu sayidina Umar mengatakan : “Segala puji bagi Allah, tidak ada suatu perkara yang lebih membahagiakanku selain itu”.

Kemudain alasan mendasar apakah yang dimiliki sayidina Umar, sehingga bisa dimakamkan di samping Rasulullah, merupakan hal terpenting dan paling disukai beliau? Tiada lain bahwa hal itu merupakan bentuk tawasul dengan Nabi setelah Nabi wafat, yaitu dengan mengharap barokah dengan berada di samping beliau.

Ada lagi shahabat yang bernama Ummu Sulaim ra. la mengambil mulut qirbah (tempat minum) yang biasa digunakan Rasulullah. Dan shahabat Anas mengatakan, “Ketika itu ia sedang bersamaku”. Diriwayatkan juga bahwasanya para shahabat saling berebut untuk mengambil sehelai rambut Rasulullah ketika beliau memotong rambut.

Ada juga yang bertawasul dengan menggunakan jubah peninggalan Rasulullah, seperti yang dilakukan Asma’ putri sayidina Abu Bakar ra. Asma’ mengatakan: “Kami membasuhnya untuk mengobati orang sakit, dan kami mengharap kesembuhan dengan perantaranya”.

Demikian pula dengan cincin Rasulullah yang terus dijaga secara turun temurun mulai Abu Bakar, Umar dan sampai pada akhirnya terjatuh ke dalam sumur pada masa Kholifah Utsman.

Setelah menyimak beberapa kisah yang bersumber dari riwayat hadits sahih di atas, maka yang ingin kami kemukakan adalah, bagaimnana apabila ada pertanyaan berupa; Untuk apa para shahabat menjaga barang-barang peninggalan Rasulullah, seperti mulut qirbah, rambut, jubah dan juga cincin beliau? Dan apa maksud dari semua itu? Apakah hanya sebagai alat pengingat, ataukah sekedar menjaga barang-barang peninggalan sejarah untuk diletakkan di museum?

Jika memang benar untuk alasan yang pertama (sebagai pengingat), lalu mengapa mereka begitu bersemangat untuk menggunakannya ketika berdoa dan menghadap kepada Allah tatkala mereka tertimpa musibah atau ketika sakit? Dan jika karena alasan yang ke dua, maka di manakah letak museumnya?

Sungguh kedua pernyataan itu sama sekali tidak benar, serta darimana datangnya pemikiran-pemikiran seperti itu, yaitu pemikiran para ahli bid’ah.

Sebagai penegasan, bahwasanya apa yang telah dilakukan oleh para shahabat itu tidak lain kecuali sebuah bentuk pengharapan barokah (tabarruk) dengan atsar Rasulullah Saw. dan sebagai kegiatan bertawasul dengannya ketika berdoa kepada Allah. Karena sesungghnya Allah-lah yang Maha Pemberi, dan Dzat yang dituju. Sehingga semua makhluk adalah hambaNya dan di bawah kekuasanNya. Dan sama sekali mereka tidak bisa memiliki sesuatu apapun bagi dirinya melebihi orang lain kecuali atas izin dari Allah Swt.

Tawasul dengan atsar para nabi, sebenarnya juga telah dilakukan oleh kaum-kaum terdahulu. Seperti halnya at Tabut (peti) yang Allah turunkan kepada nabi Adam As. dan terus terjaga sampai Nabi Ya’kub As. Bahkan keberadaannya masih terjaga sampai di tangan kaum bani Israil. Yang mana kaum bani Israil selalu membawanya dalam laga peperangan, dan selalu memperoleh kemenangan. Hingga pada akhirnya kaum bani Israil durhaka kepada Allah, dan dapat dikalahkan oleh kaum ‘Amaliqah. Maka setelah itu at Tabut pun dicabut dari tangan kaum bani Israil.

Dan pada hakikatnya ini semua merupakan bentuk tawasul dengan atsar para nabi. Karena tidak ada maksud lain ketika kaum bani Israil membawanya dalam setiap peperangan, melainkan untuk mengharap barokah dan bertawasul kepada Allah. WallahuA’lam.

KakiLangit Edisi 38 (Juni-Juli) 2010

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.