Bolehkah Meminta Imbalan Mengajar al Qur’an?

Saat ini banyak kita temui penghafal al Qur’an atau guru ngaji yang mengajarkan al Qur’an dengan sejumlah imbalan untuk tugas mulia tersebut. Apakah memang pantas mengajar al Qur’an atau membacakannya di majlis sema’an demi sejumlah rupiah? Bukankah panutan kita Nabi Muhammad saw. tidak pernah meminta upah untuk mengajarkan kalam Ilahi?


Hukum meminta imbalan untuk mengajar al Qur’an itu sebenarnya ada di dalam ranah khilafiyah. Beberapa ulama mengharamkannya, diantaranya adalah Imam Zuhri dan Abu Hanifah. Sedangkan Imam Hasan Basri dan Ibnu Sirin memperbolehkan guru al Qur’an untuk menerima imbalan asalkan tidak ada permintaan dari sang guru kepada muridnya.

Adapun Imam Malik dan Imam Syafi’i memiliki pendapat yang lebih toleran. Menurut dua Immam madzhab ini diperbolehkan bagi guru al Qur’an untuk menerima dan meminta upah dari mengajarkan al Qur’an. Artinya, pendapat ini secara mutlak memperbolehkan adanya imbalan dari kegiatan mengajarkan al Qur’an. Baik imbalan itu diberikan secara sukarela oleh murid, atau atas permintaan guru.

Para ulama yang berpendapat boleh mengambil upah dari mengajar al Qur’an itu mengambil dalil dari hadits riwayat Ibnu Abbas.

عن ابن عبا س رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله. رواه البخا ري

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pekerjaan yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah (mengajar) Kitabullah.” (HR Bukhori)

Ta’limul Qur’an baik dengan meminta sejumlah imbalan atau tanpa meminta imbalan duniawi adalah sebuah perbuatan yang mulia. Bagaimanapun mengajarkan al Qur’an adalah termasuk menolong dalam kebaikan. Allah swt. berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah:2)

Mengajarkan al Qur’an dengan syarat adanya imbalan atau tidak dengan adanya syarat upah adalah perbuatan tolong menolong, dan bukan termasuk menjual al Qur’an dengan tsamanan qolilan sebagaimana perbuatan kaum yahudi yang dicela Allah swt. dalam KitabNya. Karena perbuatan kaum yahudi yang dicela itu bukan mengajarkan Taurat, melainkan merubah keaslian Taurat demi mendapatkan sedikit harta duniawi dan meninggalkan janji pahala ukhrawi (andai disampaikan tanpa merubah keaslian Kitab suci itu).

Seorang ustadz maupun ustadzah yang mengajar al Qur’an tentu mengorbankan waktu luang, tenaga, kesabaran dan keletihan, maka sudah selayaknya mereka mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. Dan ini bukan termasuk ‘menjual’ Al-Qur’an demi harta duniawi yang dicela, tetapi merupakan perbuatan saling menolong atas kebaikan yang justeru diperintahkan. Wallohu a’lamubisshawab. (Byn)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.