Karena Mecari Salah Amr, Ratusan Ulama Turki Dipenjara

Suatu ketika, kelas 2 Ibtida’ di mana saya berkhidmat untuk menyampaikan materi Nahwu menjadi heboh dan ramai sekali. Masalahnya, sebuah pertanyaan iseng berubah menjadi teka-teki yang hampir mustahil dijawab oleh Santriyat yang baru saja mengenal Nahwu itu.


Pertanyaannya: Mengapa Zaid selalu jadi fa’il, dan Amr terus menjadi maf’ul? Pertanyaan ini sudah mengundang berbagai macam jawaban yang sebenarnya tidak salah juga. Namun, dalam tradisi pesantren, menjawab sebuah so’al yang dilontarkan dalam kelas diniyah harus didasari oleh sebuah ibarot (referensi), sehingga santri terbiasa berpendapat tidak sekedar menggunakan ra’yu pribadi namun juga berpedoman pada qaul para ulama’.

Sayangnya, santriyat Hikmatul Banat li Ahlin Najiyah kelas 2 ibtida’ ini belum menemukan referensi kuat. Sehingga belum ada jawaban yang disepakati kebenarannya.

Mereka belum mengetahui bahwa pertanyaan serupa pernah dilontarkan seorang menteri Turki, dan mengakibatkan ratusan ulama’ dipenjara sehingga madrasah-madrasah pun menjadi sepi.

Ratusan ulama’ Turki dibui

Dalam kitab An-Nadharat karya Syaikh Musthafa Luthfi Al-Manfalti (I/307), disebutkan bahwa Daud Pasya, seorang menteri dalam pemerintahan Daulah Utsmaniyah Turki, ingin belajar Bahasa Arab. Lalu dia mendatangkan salah seorang ulama untuk mengajarinya. Setiap kali sang guru menjelaskan i’rab rafa’ dan nashab atau fa’il dan maf’ul, ia mencontohkan dengan lafadz “Dharaba Zaidun Amran”, yang berarti Zaid memukul Amr.

Sang Menteri lalu bertanya: “Apa salah Amr sampai-sampai Zaid memukulnya tiap hari?, Apakah Amr punya kedudukan lebih rendah dari pada Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan Amr tidak bisa membela diri?”. Daud Pasya menanyakan ini sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan sangat marah.

Guru menjawab :”Tuanku, tidak ada yang memukul dan tidak ada yang dipukul!. Ini hanya contoh saja yang dibuat ulama Nahwu untuk memudahkan belajar kaidah-kaidah Nahwu”.

Sang Menteri tidak puas dengan jawaban tersebut. Di puncak kemarahannya, ia perintahkan ulama yang telah menjadi gurunya itu untuk dikurung dalam penjara.

Kemudian Daud Pasya memerintahkan bawahannya untuk memanggil ulama Nahwu lainnya. Ia menanyakan pertanyaan tersebut kepada mereka. Jawaban mereka sama, hingga banyak ulama’ Turki dipenjara akibat jawaban yang tidak dapat memuaskan hatinya. Tak seberapa lama kemudian penjara pun menjadi penuh oleh para ulama, dan madrasah-madrasah semakin sepi ditinggal pengajar.

Permasalahan ini membuat Daud Pasya melalaikan tugas-tugas kenegaraan yang seharusnya mengedepankan kemaslahatan masyarakat umum, hingga akhirnya ia berfikir untuk mengutus anak buahnya mengundang ulama-ulama Nahwu dari Baghdad. Mereka pun datang menghadiri udangan Menteri dipimpin seorang ulama yang paling alim, cerdas, cakap, dan cerdik.

Di hadapan para ahli Nahwu Baghdad ini, Daud Pasya kembali bertanya: “Wahai ulama’ Baghdad, apa salah Amr hingga ia selalu dipukul Zaid?”

Ulama yang paling alim dari para ulama Baghdad tersebut tanpa gentar maju menjawab pertanyaan sang Menteri: “Kesalahan Amr adalah karena ia telah mencuri wawu yang seharusnya menjadi milik Anda”.

Ia menunjuk huruf wawu dalam lafadz Amr setelah huruf ro’ (عمرو). Ia menjelaskan jawabannya: “Dan huruf wawu ini lah yang saharusnya ada dalam lafadz Daud. Lihat! Wawu lafadz Daud hanya satu (داود), yang seharusnya ada dua (داوود)!”. Karena itu, ulama Nahwu memberikan wewenang pada Zaid untuk memukul Amr sebagai hukuman atas perbuatan nya.

Mendengar jawaban itu, Sang menteri benar-benar puas dan memuji ulama tersebut. Ia menawarkan hadiah, apa saja yang anda kehendaki. Namun ulama itu menjawab: “Aku hanya memohon agar para ulama yang anda penjarakan segera dibebaskan”.

Sang Menteri mengabulkannya, seluruh ulama’ Turki dibebaskan dari penjara. Ia juga memberikan banyak hadiah kepada para ulama Baghdad yang dianggap sudah berjasa tersebut.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Syamsurrijal Ahmad

Penulis adalah khadimul ma’had dan pengajar di pesantren Al Ahih dan Madrasah Hikmatul Banat Li Ahlin Najiyah, Surabaya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.