Ketika Para Sufi Terjerat Cinta

Mengaruh Bahtera Meredam Asmara


Cinta adalah penyakit murahan, namun obatnya sangatlah mahal. Sajak dari al-Buhturi, pujangga legendaris Dinasti Abbasiyah itu, dikutip oleh Ibnul Jauzi saat menguraikan kiat-kiat untuk menyembuhkan penyakit asmara. Cukup panjang lebar Ibnul Jauzi menulis tema tersebut dalam kitabnya Dzammul-Hawa. Namun, inti dari uraian beliau bermuara pada satu hal, yaitu: putuskanlah mata rantai sebab yang menumbuhkan benih-benih cinta itu.

Sebagaimana lumrahnya penyakit-penyakit yang lain, asmara yang sudah sampai ke tingkat akut juga sangat sulit disembuhkan. Biasanya, asmara yang seperti ini berakhir dengan kegilaan atau bahkan berujung pada kematian. Misalnya, yang terjadi dalam kisah Qais al-Majnun dan Laila dari Bani Amir.

Cinta yang masih baru tumbuh atau masih berwujud benih-benih, cenderung lebih mudah dihentikan. Jika dipelihara, maka akan semakin mengakar dan semakin sulit dihilangkan. Ada hal-hal yang menyebabkan cinta makin menguat, sebagaimana ada pula hal-hal yang menyebabkan cinta makin melemah. Maka, hindarilah yang pertama dan lakukanlah yang kedua.

Pada umumnya, mula-mula cinta tumbuh dari pandangan mata. Tandanya adalah munculnya perasaan berbungah-bungah ketika mata melihat obyek yang dianggap indah. Menurut ajaran syariat, pandangan pertama yang tidak disengaja memang tidak termasuk dosa, namun bila pandangan tersebut dilanjutkan, maka dicatat sebagai dosa dan keburukan. Sebab, pandangan pertama yang Langsung dihentikan memang jarang sekali menimbulkan ketertarikan. Lain halnya jika pandangan tersebut dilanjutkan. Kalaupun ada perasaan tertarik saat pandangan pertama, maka hal itu sangatlah mudah dihentikan. Perasaan tersebut akan hilang secara otomatis dengan cara tidak mengulanginya dengan pandangan kedua, ketiga dan seterusnya.

Namun, jika pandangan mata tersebut dibiarkan berlarut-Larut, maka ketertarikan asmara akan terus berlanjut. Semakin sering diulangi, maka akan semakin mengakar di dalam hati. Pada tingkat ini, cinta lebih sulit dihentikan. Diperlukan sedikit pemaksaan untuk ghadhdhul-bashar atau menjauhkan pandangan mata darinya, seraya terus menghadirkan perasaan dan pikiran mengenai akibat buruk yang akan ditanggung di kemudian hari.

Jika asmara itu telah menjadi bagian inti dari isi hati dan pikiran, sehingga bayangan orang yang dicintai terpahat dengan sangat kuat, selalu hadir dalam setiap waktu dan sangat sulit dihilangkan dari benak, maka cara penyembuhannya adalah dengan tauthinun-nafsi alal-ya’si minhu (membuat hatimu putus asa untuk bertemu atau mendapatkan sesuatu darinya). Caranya dengan menjauh sejauh-jauhnya. Sebab, dengan menjauh, maka akan muncul perasaan sulit untuk memiliki, bertemu dan semacamnya.

Perlu diketahui bahwa unsur dasar dari cinta adalah perasaan ingin memiliki. Sangat jarang, ada orang yang ingin memiliki sesuatu yang tidak mungkin atau sangat sulit dia peroleh. Oleh karena itu, sangat jarang ada orang yang jatuh cinta kepada putri raja, karena mereka punya pikiran tidak mungkin memilikinya. IniLah yang dimaksud oleh Ali bin Sahi al-Ashbihani, salah satu pemuka sufi di Isfahan, dalam ucapannya:

التمست الراحة فوجدتها في اليأس

Aku mencari ketenangan, ternyata aku temukan dalam keputus-asaan.

Pertemuan ibarat tetesan air yang terus menyuburkan pohon asmara. Maka, menjauh merupakan solusi paling tepat untuk membuat pohon itu menjadi kering, sedikit demi sedikit, lalu mati. Sebagai sebuah perasaan, cinta tak ubahnya kesedihan, kemarahan, dan lain sebagainya. Perjalanan waktu akan membuat perasaan-perasaan tersebut menjadi semakin mengecil, hari demi hari, asalkan tidak ada hal-hal yang menyulutnya untuk berkobar kembali.

Ada sebagian orang beranggapan bahwa pertemuan dengan orang yang dicintai merupakan obat penyembuh kepedihan asmara. Nalar yang mereka gunakan adalah kenyataan bahwa perpisahan justru membuat rindu semakin membara; berarti bertemu merupakan cara untuk memadamkan rindu.

Sepintas, pandangan ini sepertinya benar, namun hakikatnya sangatlah salah. Memang benar, bertemu dengan orang yang dicintai dapat menenangkan gejolak rindu, tapi itu hanya untuk sementara. Pertemuan ibarat candu. Fungsinya bukanlah untuk menyembuhkan luka, tapi hanya membuat luka itu tidak terasa. Setelah ‘candu’ itu habis, maka sakitnya akan terasa kembali, malah ditambah dengan sakitnya ketagihan terhadap ‘candu’ tersebut. Dan, begitulah seterusnya. Ibarat orang haus, lalu dia meminum tuak. Hausnya hilang untuk sementara. Namun, setelah itu dia akan semakin haus, ditambah dengan dahaga kecanduan terhadapnya.

Pernikahan merupakan ikatan yang paling jitu untuk semakin mempererat cinta dan mengabadikannya

Imam al-GhazaLi menyatakan dalam Ihya’ Ulumiddin: “Sifat kikir hanya bisa hilang dengan cara memaksakan diri untuk bersedekah. Hal itu sebagaimana asmara, tidak akan bisa hilang kecuali dengan cara menjauhi orang yang dicintai dan pergi dari tempat tinggalnya. Ketika sudah memaksakan diri untuk pergi menjauh serta sabar menahan diri dalam jangka waktu tertentu, maka lambat laun hatinya akan merasa tenang (dan tidak sedih berpisah) dari dia.”

Jika cara menjauh masih belum bisa memadamkan gejolak asmaranya, maka satu-satunya cara adalah menikahi dia jika memungkinkan. Bahkan, menikah bisa dijadikan sebagai pilihan pertama, jika segala sesuatunya sudah kondusif. Nikah adalah obat yang paling manjur untuk memadamkan asmara. OLeh karena itu, Rasulullah swa bersabda: “Bagi dua orang yang saling mencintai, tidak ada sesuatu yang melebihi pernikahan.” (HR Ibnu Majah)

Ada dua pendapat mengenai maksud dari Hadis ini. Al-Munawi dalam at-Taisir menyatakan bahwa maksud sabda tersebut adalah “Tidak ada obat bagi asmara yang lebih baik daripada pernikahan”. Sedangkan, Mulla Ali al-Qari dalam Misykat dan as-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Ibni Majah berpendapat bahwa maksud dari Hadis tersebut adalah “Pernikahan merupakan ikatan yang paling jitu untuk semakin mempererat cinta dan mengabadikannya.”

Jika menikah masih sangat sulit diwujudkan, maka saran dari Ibnu al-Jauzi adalah memohon kepada Allah agar memudahkan jalannya menuju pelaminan, seraya bersungguh-sungguh menahan diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Jika bersungguh-sungguh insya Allah akan ada jalan keluar. Boleh jadi, Allah akan memberikan jalan yang tidak disangka-sangka, jalan yang tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran. Dalam Dzammul-Hawa, Ibnul Jauzi menyuguhkan banyak bukti sejarah. Ia menuliskan berlembar-lembar kisah tentang keajaiban doa dari orang-orang yang bersabar menahan asmara. Wa man sya’a fal-yuraji’hu.

Ahmad Dairobi/BS
Buletin Sidogiri Edisi 99, Rabiul Awal 1436 H.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.