Benarkah Abu Hasan Al-Asy’ari Mencabut Madzhab-nya?

Imam Abu Hasan Al-Asyari adalah ulama besar pendiri madzhab teologi Al As’ari yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, sejak dulu sampai sekarang. Ribuan ulama dari berbagai bidang keahlian telah mengakuinya sebagai aliran yang paling bisa diterima. Madzhab ini pula yang dipakai oleh Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia sebagai landasan teologis mereka. Tapi, belakangan ini, santer berhembus dari kalangan akademisi salafi (wahabi) sebuah klaim bahwa Imam Abu Hasan Al Asyari telah mencabut madzhabnya. Benarkah klaim tersebut sesuai dengan fakta sejarah dan bisa diterima oleh logika? Dalam ulasan singkat ini kita akan mencoba membahasnya bersama. Insya Allah.

Tiga Fase Kehidupan Al-Asy’ari

Belakangan muncul sebuah tesis yang dibuat oleh seorang akademisi beraliran wahabi yang begitu merisaukan. Tesis tersebut dengan cepat menyebar dan berkembang di kalangan pakar-pakar akademik. Masalahnya, dalam tesis tersebut tertulis, bahwa Imam Abu Hasan Al Asy’ari mengalami tiga fase perkembangan intelektualitas. Pertama, saat beliau menekuni aliran mu’tazilah dan menjadi tokoh sentral dalam aliran itu sampai usia 40 tahun. Kedua, saat Imam Al Asyari keluar dari Mu’tazilah dan mendirikan aliran teologis baru dengan bertendesi pada pemikiran Ibn Kullab. Dan, terakhir ketika Imam Al Asyari bertobat dan keluar dari aliran rintisannya sendiri lalu kembali pada madzhab salaf yang saleh (Aswaja). Hal itu dibuktikan dengan karangan beliau yang berjudul al Ibanah an Ushul al Diyanah.

Dengan menghembuskan wacana seperti itu, sama halnya mereka (baca: orang-orang wahabi) telah menyebar propaganda bahwa madzhab Asy’ariyah, yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia sampai saat ini, adalah pemikiran Imam Abu Hasan Al Asy’ari pada fase kedua perkembangan intelektulitasnya. Yakni fase dimana beliau merintis alirannya sendiri berdasarkan pemikiran Ibn Kullab yang kemudian beliau cabut dengan mengarang kitab al Ibanah an Ushul al Diyanah. Tentu saja wacana tersebut memantik kerisauan di hati warga nahdliyin yang menganut madzhab Asy’ariyah sebagai landasan teologis mereka.

Dengan tesis tersebut mereka, sekaligus, ingin mengklaim bahwa Imam Abdulah bin Sa’id bin Kullab bukan pengikut Ahlussunnah wal Jamaah dan kitab al Ibanah an Ushul al Diyanah adalah sebuah bukti intelektual bahwa Imam Abu Hasan Al Asy’ari telah mencabut madzhabnya.

Fakta Sejarah Membuktikan…

Imam Abu Hasan Al Asy’ari adalah pemikir yang sangat terkenal dan populer pada masanya. Beliau tidak pernah dikenal sebagai tokoh kontroversial dan misterius yang suka menyembunyikan profilnya dari publik. Sehingga, biografi dan sejarah kehidupan beliau sangat mudah dilacak dan dikaji secara umum. Oleh karenanya, bisa dibilang, tidak masuk akal jika peristiwa “pembatalan” madzhab tersebut tidak diketahui oleh pakar sejarah dan pemerihati profil beliau. Bahkan mungkin tersebar luas di kalangan umat Islam sebagaimana peristiwa naiknya beliau ke atas mimbar masjid Bashrah dan menyatakan keluar dari aliran Mu’tazilah.

Namun, pencabutan madzhab yang menjadi bagian dari tiga fase kehidupan Imam Al Asy’ari sebagaimana tertulis dalam tesis tersebut tidak pernah tercantum dalam buku sejarah yang ditulis pakar sejarah di manapun. Juga tidak pernah disebutkan oleh para pakar dan murid-murid beliau. Justru informasi yang banyak ditulis adalah peristiwa pindahnya beliau dari aliran mu’tazilah menuju madzhab salafus shalih dan membelanya mati-matian dengan hujah-hujah yang meyakinkan. Bahkan, kitab Ibanah ’an Ushul al Diyanah adalah salah satu karangan beliau yang menjelaskan hujah-hujah tersebut.

Oleh karenanya bisa kita simpulkan, bahwa tiga fase dalam tesis tersebut tidak lain adalah kebohongan yang sengaja dikarang-karang untuk mempropaganda Nahdliyin.

Ibnu Kullab Penganut Aswaja Tulen

Terkait dengan klaim wahabi, dalam tesis tersebut, bahwa setelah Imam Al Asy’ari keluar dari mu’tazilah kemudian mengikuti pemikiran Imam Abdullah bin Sa’id bin Kullab, memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Karena memang demikian adanya. Namun tersirat pula dalam tesis tersebut bahwa Ibnu Kullab bukan orang aswaja. Dan, pernyataan itulah yang akan menjadi pokok bahasan kita selanjutnya. Benarkah Ibnu Kullab bukan penganut faham Aswaja?

Tentu saja pernyataan tersebut salah besar. Karena, beliau adalah penganut aswaja tulen. Sebagaimana bila kita merujuk pernyataan-pernyataan para pakar berikut ini. Imam Tajuddin al Subki, secara jelas mengatakan, bahwa Ibnu Kullab adalah seorang yang berpandangan ahlussunah waljamaah. Sementara itu, disebutkan dalam bagian akhir kitab Ghoyat al Maram fi ilm al Kalam karangan Imam Dhiyauddin al Khathib, bahwa Ibnu Kullab adalah seorang pakar teologi pada masa Khalifah al Makmun. Bahkan beliau pernah mempermalukan pakar teologi dari Mu’tazilah dalam sebuah perdebatan di majlis al Makmun. Dan, tentu masih banyak lagi pendapat-pendapat pakar yang menyatakan bahwa Ibnu Kullab bukanlah teolog yang menyalahi ulama’ salaf. Bahkan beliau termasuk ulama’ salaf dan konsisten mengikuti metodologi mereka dalam masalah sifat Allah, yaitu metodologi tafwidh sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Lisan al-Mizan..

Al Ibanah yang asli

Selanjutnya, yang perlu juga diluruskan adalah kitab al-ibanah yang mereka jadikan sebagai dasar bahwa al-Asyari telah mencabut pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab. Jika kita mengacu pada Kitab al-lbanah yang asli, justru akan semakin gamblang bahwa Al Asy’ari memang seorang teolog beraliran aswaja yang benar-benar briliant. Kitab al-lbanah adalah karya Al Asy’ari yang ditulis mengikuti metodologi Ibn Kullab, sehingga tidak mungkin diklaim bahwa al- Asy’ari telah mencabut pendapat tersebut.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqolani dalam Lisan al-Mizan menyatakan bahwa Al Asy’ari menulis kitab Al Ibanah berdasarkan pemikiran-pemikiran Ibn Kullab. Bukti lain yang mengukuhkan bahwa Al Ibanah memang ditulis berdasarkan pemikiran Ibn Kullab adalah ditolaknya kitab tersebut oleh Al Barbahari yang mewakili golongan Hanabila. Hal ini menunjukkan Al Ibanah Asli yang ditulis oleh Al Asy’ari tidak sejalan dengan paradigma Hanabila yang menjadi acuan kaum Wahabi. Jika memang saat ini ditemukan Kitab Al ibanah dalam versi yang berbeda, maka tentu kitab tersebut telah mengalami tahrif, penambahan dan pengurangan.

Dengan demikian maka tesis yang menyebut tiga fase kehidupan Imam Asy’ari adalah sekedar omong kosong yang tidak perlu ditanggapi dengan serius. Karena, tesis tersebut tidak didukung oleh dasar referensi yang valid. Wallahu A’lam.

KakiLangit Edisi 38 (Juni-Juli) 2010

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.