Konsep Sekuler Menebar Ideologi Materialistis

Sekuler merupakan sebuah ideology yang memisahkan antara daulah (negara) dengan kanisah (gereja). Ya, awal mulanya sekuler terjadi di dunia barat. Bagi sang Sekuler, ada ‘terbesit’ tidak puas dengan otoriter gereja (pada waktu itu). Pihak Kristen yang terus ‘bergandengan’ tangan dan menjadi landasan kebijakan pihak daulah (kenegaraan, red). Hal ini, yang menjadi benih sekuler ditumbuhkan. Rasa tidak puas dan merasa paling benar dan tidak butuh patuh pada petuah kanisah.

Sekuler

Gerakan penebaran benih pemisahan ini sangat bergejolak, baik memunculkan ideology yang sangat bertentangan dengan gereja seperti Aristoteles yang menyatakan bumi itu bulat karena (bagi gereja) bumi itu datar, atau pun berbagai macam ideology lainnya. Tidak cukup disitu, gerakan pemisahan ini pun direalisasikan dalam bentuk lain, baik itu menghasut dan sebagainya.

Kemudian apa yang terjadi? Mereka berhasil. Coba kita menilik Turki, Kemal Attaturk berhasil meruntuhkan Turki Ottoman, Dia pun menebarkan sekularisme. Rakyat dihasut agar membenci kerajaan, umat muslim pun dipecah belah.

Kalau kita teliti, sebenarnya Sekularisme itu dibangun dengan ambisi yang besar. Ambisi berdasarkan ideologi materialistis yang bertujuan untuk memiliki kuasa dan harta. Ambisi ini tidak akan padam meskipun kekuasaan dan harta itu telah terkumpul. Sekularisme juga dibangun dari ‘gerakan bawah tanah’. Ya, sebuah gerakan protes rakyat yang anti pemerintahan.

Lantas, apa dampak dari pemisahan antara pemerintahan dengan gereja? Dampaknya sungguh sangat luar biasa. Diantaranya adalah:

1. Pemisahan individu dari individu lainnya

Sekuler ‘sukses’ menumbuhkan benih egois antara satu individu dengan individu lain. Ya, bahkan kita tidak jarang menyaksikan ‘pemandangan’ ini atau ‘bed view’ pada masyarakat perkotaan modern.

Pemukiman kota tidak mengenal satu tetangga ke tetangga lain. Ya, memang suatu pemandangan yang tidak wajar dan jauh dari ‘ruh keindonesiaan’ yaitu ruh gotong royong, dan jelas jauh dari ruh keislaman, Allah berfirman, “Sesungguhnya mukmin adalah bersaudara, dan perbaikilah persaudaraan kalian” (QS. alhujurat:10).

Tidak cukup disitu, ada lagi yang baru yaitu ‘generasi merunduk’. Yups, generasi pemuda yang hanya mencatut matanya di depan layar ponsel. Entah, merunduk itu membaca SMS, mengupdate status FB, mentweet temannya dan sebagainya. Ya, merunduk tentunya tidak akan menghiraukan satu sama lain. Sebuah pemandangan aneh bukan? Lantas, siapakah yang menciptakan mereka menjadi generasi merunduk? Ataukah rakyat kota benar-benar berubah menjadi masyarakat egois?

2. Pemisahan lawan jenis

Pergerakan sekuler tidak cukup disitu, mereka mencoba memisahkan satu lawan ke lawan jenis yang lainnya. Kaum Adam dipisahkan dengan kaum Hawa. Maksud pemisahan disini adalah pemisahan dari arti ‘ruh kemanusiaan’ dan fitrah manusia. Kalaupun kedua jenis ini berinteraksi, mereka hanya berinteraksi dengan dasar syahwat belaka. Ketika hal ini dijadikan mainpoint, maka hanya interaksi yang dilandaskan kenikmatan duniawi saja yang dipikirkan. Kenikmatan yang hanya sekejap. Hubungan bebas, pacaran dan interaksi haram lainnya akan tumbuh subur. Dampak negatif dari fenomena ini sangatlah jelas dan mencengangkan, HIV, AIDS, broken home dan seterusnya. Dampak yang tentu sangat tidak kita inginkan.

Hal ini sangat berbeda dengan teori Islam tentang interaksi Adam-Hawa. Dr. Muhammad Said Ramdlan Buti dalam karyanya “Al Mar’ah” menyebutkan, bahwa tujuan yang lebih penting dalam interaksi Adam-Hawa (dalam hal ini adalah menikah) ialah tercapainya kehidupan terarah, kedewasaan, menciptakan ‘hawa’ mawaddawah wa rahmah, serta menumbuhkan benih-benih yang ‘siap’ menjadi estafet Adam-Hawa itu sendiri.

3. Dan terakhir, Pemisahan agama dan negara

Ini adalah rentetan sebuah gerakan ‘non interaksi’ yang digairahkan oleh kaum sekuler. Mereka mencoba menggiring kesebuah ‘peradaban’ yang memaksakan pemisahan antara negara dan agama. Agama dan negara dijadikan seolah bertentangan, yang berakibat dikotomi dan pengkotakan satu sama lain. Agama hanya mempunyai wilayah di masjid, surau, madrasah, atau pun wilayah lainnya yang sangat jauh dari wilayah negara. Negara hanya berdiri dengan undang-undang kenegaraan bukan undang-undang keagaaman.

Yang pasti akan terjadi adalah; negara menjadi ‘liar’ dengan undang-undang dan logika manusia. Sementara agama hanya terbatas berkutat di urusan surau, masjid dan madrasah. Undang-undang pun dibuat jauh dari undang-undang syariat Islam. Maka, tidak jarang yang dicetuskan adalah undang-undang yang bertolak belakang dengan agama. Misal, undang-undang larangan poligami bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Padahal, agama tidak pernah melarang itu, baik PNS atau pun Non PNS, iya bukan?

Lantas timbul sebuah pertanyaan, “Kenapa sekuler terus menggurita dan merambah dunia Islam, toh padahal ideology sekuler muncul di dunia Kristen?”. Tentu ini adalah sebuah fenomena tersindiri. Ya, fenomena tertular virus sekuler. Sebenarnya, umat Islam tidak harus mengikuti ‘trend’ sekuler yang sudah menggurita itu, tapi lebih dari itu, umat muslim harus bersatu padu untuk saling mengingatkan satu sama lain. Watawashoubil haqqi watawashoubisshobr.

Fenomena sekuler memaksa kita untuk menela’ah pedoman hidup kita, Alqur’an. Allah berfirman, “Mereka melupakan Allah, dan Allah telah melupakan mereka” (QS. Attaubah: 67), atau pun ayat yang lainnya, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, Karena lantas Allah melupakan diri kalian” (QS. Alhasyr:19). Dua ayat ini jelas memberikan indikasi bahwa sebenarnya bukan kita yang melupakan Allah, tapi Allah lah yang akan meninggalkan kita. Berbanding lurus bukan? Ya, Sebuah pemandangan ‘lurus’. Jika kita melupakan Allah, maka Allah pun akan melupakan kita.

Jadi, dengan kita melupakan dan meninggalkan Allah, maka Allah lah yang akan meninggalkan kita. Dan setelah kita meninggalkan Allah, yang terjadi kita akan menjadi terasing. Terasing dengan terisolasi antar individu, terisolasi antar Adam-Hawa, dan terisolasi antara korelasi agama-negara.

Dan terakhir, setelah kita melihat berbagai macam fenomena sekuler yang menggurita, Alqur’an pun menyindirnya. Maka, untuk menanggulanginya adalah hanya dengan mendekatkan diri pada Allah, patuh pada perintah dan laranganNya. Dan jimat terpenting adalah, “tidak pernah menganggap ideology itu bagus selain ideology Islam, dan tidak lupa terus menfilterisasi berbagai macam ideology yang ada”. Allah berfirman, “Hari ini, aku telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan bagi kalian nikmatku, dan aku rela islam menjadi agama kalian” (QS. Almaidah:3). Wallahu a’lam bisshowab.

Nb. Artikel ini ditulis setelah mengikuti kuliah umum Alhabib Prof. Abdullah Baharun (Rektor Al-Ahgaf). Tentunya dengan perubahan dan penambahan.

Muhammad Ufi Ishbar Naufal

Penulis adalah khadimul ma’had dan pengajar di Madrasah Diniyah, Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.