Meluruskan Paham Masyarakat Tentang Arti Berkah

Berkah atau barokah merupakan kata yang sering kita dengar karena termasuk dari salam yang disunnahkan setiap kali kita bertemu dengan sesama muslim (assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh) tak jarang pula kita menemukan kata berkah pada doa-doa yang diajarkan nabi Muhammad saw pada kita. Lalu apa arti berkah itu?

Arti berkah secara bahasa dan istilah

Dalam kamus besar bahasa indonesia berkah berarti karunia allah yang mendatangkan kebaikan pada kehidupan kita, sedangkan dalam kamus bahasa arab arti berkah adalah nikmat, oleh karena itu umumnya berkah hanya berkaitan pada hal-hal yang nikmat.

Secara istilah arti berkah ialah bertambahnya kebaikan. Maka boleh jadi, nikmat yang merupakan arti berkah secara etimologi itu tidak selalu disertai dengan keberkahan. Nikmat yang berlimpah pun bukan merupakan ciri dari berkah. Artinya nikmat yang membawa berkah tidak selalu melimpah bahkan sedikit nikmat pun bisa jadi membawa berkah.

Agar kenikmatan yang kita dapat diberkahi oleh Allah, nabi Muhammad saw senantiasa mengingatkan kita untuk berdoa dengan meminta berkah, seperti doa sebelum makan (allahumma barik lana fima rozaqtana waqina adzabannar) dan saat teman atau tetangga kita menikah pun nabi menyuruh kita mendoakan keberkahan pada mereka (barokallahu lakuma wa baroka alaikuma wa jama’a baynakuma fi khoir).

Begitu pula ketika kita mendapatkan kenikmatan apapun bentuknya kita dianjurkan berdoa supaya kenikmatan itu membawa berkah, semua itu menunjukkan bahwa berkah identik dengan sebuah kenikmatan. Nikmat yang membawa berkah akan meningkatkan kebaikan orang yang mendapatkanya, jangan sampai kenikmatan itu malah membuat orangnya merosot.

Kesalahan umum dalam memahami arti berkah

Orang-orang pada umumnya menganggap bahwa nikmat yang membawa berkah adalah nikmat yang melimpah. Pemahaman semacam itu perlu kita luruskan, sebagai contoh jaman dulu sebelum listrik ditemukan, pada saat ‎itu untuk penerangan orang-orang masih memakai lampu minyak, dengan lampu minyak itu kita memanfaatkan ‎kenikmatan sinar lampu itu untuk membaca Al-Quran dan mengaji kitab kuning. Ini jelas lampu minyak yang ‎berkah.

Lalu bagaimana dengan jaman sekarang? Sekarang dengan ditemukanya listrik penerangan jauh lebih enak dan lebih mudah, tak perlu lagi susah menyalakan lampu ‎minyak yang peneranganya tak seberapa. Sekarang lampu listrik jauh lebih terang dan lebih mudah menyalakannya. Lalu apakah lampu listrik ini berarti lebih membawa berkah dari pada lampu minyak karena melihat kenikmatan yang dibawa lampu listrik sangat melimpah ?

Berkah yang paling terlihat adalah (yang ada) pada ‎semua amal sholeh. ‎

Sekali lagi kami tegaskan bahwa berkah bukan identik dengan kenikmatan yang melimpah, jika dulu kita menggunakan lampu minyak untuk membaca Al-Quran mendapat 1 juz begitu lampu menjadi lebih mudah dengan listrik dan kita dapat membaca 2 juz ‎ini baru lampu listrik yang berkah namanya, namun bila tidak demikian berarti lampu listrik ini tidak ‎berkah meski kenikmatan yang didapat jauh lebih banyak dari kenikmatan lampu minyak, oleh karena itu para kyai mengatakan bahwa berkah yang paling terlihat adalah pada ‎semua amal sholeh. ‎

Barokah dan tabarrukan

Dalam pondok pesantren, kata berkah lebih karib disebut “barokah”, selain itu santri juga mengenal kata “tabarrukan” yang artinya ngalap barokah (mengambil berkah). ‎Lantas apa yang dapat kita ambil barokah-nya?

Tabarrukan atau mengambil berkah ini bisa dari amal sholeh apapun, seperti ketika kita baca Al-Quran mengambil berkah dari ‎ayat Quran, itu dipebolehkan, atau mengambil berkah dari para kyai dan wali dengan cara mencium tangan beliau saat bersalaman. ‎Dahulu sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw berebut rambut beliau ketika Beliau selesai bercukur;

“Ketika Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau sall-Allahu álayhi wasallam memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda: Anas! Bawalah ini ke Ummu Sulaym (ibunya). Ketika para shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in melihat apa yang Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau sall-Allahu álayhi wasallam yang berasal dari sisi kiri kepala beliau sall-Allahu álayhi wasallam, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (Hadits Riwayat Ahmad)

Dalam hadits lain disebutkan juga bahwa para sahabat ra berebut air bekas wudhu nabi saw, bahkan salah seorang sahabat nabi (Ukasyah bin Muhsyan) pernah mengambil berkah dengan menyentuh kulit nabi secara langsung, nah hal-hal inilah yang disebut tabarrukan.

Pada jaman sekarang boleh saja kita mengambil berkah dari ustadz, kyai atau bahkan para wali, namun yang lebih penting adalah bagaimana cara kita meniru amal sholeh yang mereka lakukan. (Jbl)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.