Menghormati Guru Adalah Sebuah Keniscayaan

Guru merupakan sosok yang paling berjasa dalam kehidupan ilmiah kita dan salah satu orang yang seharusnya kita jadikan teladan. Beliau dengan sabar bersedia mendidik dan membimbing kita sehingga kita yang dulu bodoh menjadi orang yang berilmu. Maka menghormati guru adalah sebuah keniscayaan.

Namun, Ironisnya banyak orang sukses, menyandang gelar, titel maupun status sosial yang tinggi dalam kehidupannya, terkadang melupakan jasa gurunya begitu saja. Padahal, mereka menjadi orang se-sukses itu tidak lain adalah berkat campurtangan, do’a dan jasa guru.

Seperti pepatah mengatakan: Sesuatu yang besar berawal dari yang kecil dan sederhana. Kita kadang tidak menyadari kesuksesan kita berawal dari hal-hal kecil. Sederhananya, seorang santri dapat membaca kitab kuning tentu terlebih dahulu di awali dengan didikan guru atau ustadz yang mengajar di taman pendidikan dasar, sehingga kita dapat mengenal dan mengerti huruf hijaiyah. Memang kelihatannya sepele, tapi bagaimanapun juga semua pencapaian yang besar berawal dari hal-hal kecil dan sederhana, karna segala sesuatu pasti butuh proses.

Oleh sebab guru merupakan sosok yang sangat berjasa, kita wajib menghormati guru, memuliakan dan ta’dhim pada mereka layaknya orang tua. Walaupun itu cuma guru di taman pendidikan dasar. Sayidina Ali ra. pernah berkata:

أنا عبد من علمني ولو حرفا واحدا، إن شاء باع وإن شاء إسترق

“Aku adalah budak bagi orang yang pernah mengajari ku walau hanya satu huruf, jika ia mau aku dijual ataupun di bebaskan, terserah padanya”

Mushonnif kitab Ta’lim Muta’allim Syaikh Zarnuji secara tegas mengatakan: seorang pelajar tidak akan dapat memperoleh kesuksesan dan manfaat ilmu jika tidak mau mengagungkan ilmu dan memuliakan gurunya.

إن المعلم والطبيب كلاهما .. لا ينصحان إذا هما لم يكرما

“Guru layaknya seorang Dokter, keduanya tak akan dapat kita ambil manfaatnya andaikan kita tidak memuliakanya.”

Artinya kita harus taat dan patuh pada perintah dan nasehat guru seperti halnya kita menuruti saran dan anjuran dokter. Sebab hakikatnya tidak ada dokter yang segaja “Gagal” dalam mengobati pasiennya.

Maka sesukses apapun kita sekarang jangan sampai menjadikan angkuh dan melupakan jasa guru kita, terlebih seorang santri kepada kiai-nya. (Mcl)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.