Metode Rantai Emas Untuk Pengentasan Kemiskinan

Identitas terkadang penting dan memberikan dampak ‘positif’ pada sebuah revolusi. Tapi, tidak pada santri. Dan santri layak untuk tetap ‘PeDe’ dengan identitasnya dan terus melaju ikut membangun sebuah roda emas dari kemiskinan. Dan dari pesantren, kita berjaya! (penulis)

Pengentasan Kemiskinan

A. Prolog

Manusia lahir di dunia ini lengkap dengan berbagai macam kebutuhan. Dan kebutuhan itu menjadi lazim adanya. Mulai kebutuhan yang bersifat primer (kebutuhan pokok) seperti sandang, pangan dan papan (tempat tinggal), kebutuhan sekunder, dan ada kebutuhan tersier.

Semenjak bayi, manusia membutuhkan bubur sebagai konsumsinya, baju, pampers dan sebagainya. Pelajar membutuhan uang saku, buku, dan ada yang lainnya. Orang tua dan semua manusia membutuhkan sesuatu yang disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

Alqur’an ‘menyindir’ hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Ali-Imron (14):
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dr. Isa Abduh membagi kebutuhan (Need) manusia menjadi dua. Yaitu kebutuhan umum (hajah ammah) dan kebutuhan tertentu (Hajah Khossoh). Hajah Khossoh adalah kebutuhan yang diperlukan bagi individu atau anggota keluarga tertentu, seperti makanan pokok, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Adapun Hajah ammah merupakan sebuah kebutuhan yang lingkupnya lebih luas lagi. Seperti menjaga keamanan sebuah negara dan atau sebuah populasi, kesehatan umum, menyeimbangkan harga pasar dan sebagainya.1Abduh, Dr. Isa. Iqtishod al islamiy madhal wa manhaj. Hal 65.

Setelah secara ‘emosi’ manusia itu membutuhkan banyak hal untuk memenuhi kebutuhannya, maka tidak dapat memungkiri mereka akan bertindak ‘anarkis’ dan bahkan jahat untuk memenuhi kebutuhannya tadi. Maka tidak asing kita melihat pencurian, perampokan, dan sikap anarkis lainnya yang didasari untuk memenuhi ambisinya dalam mencapai tarjetnya.2Alkharsyi, Abdussalam. Fiqh al fuqoro wal masakin vi alkitab wa alsunnah. Hal.470. cet. Dar el muayad.1423 H.

Abu Zidan Elmakarim menuturkan bahwa harta bisa merusak diri seseorang, imannya, dan lain sebagainya.3Elmakarim, Zidan Abul. Binaul iqtishod vi el-islam min elqur’an wa elsunnah. Hal. 67. Cet. Dar elturots. 1378H/1959M. Allah menjelaskan tentang hal ini dengan menuturkan cerita tentang Karun yang diadzab dengan dibenamkan ke dalam bumi4Q.S. Al-Qashash : 76 – 82., dan atau kisah-kisah yang lainnya. Begitu pula sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh albazzaz. Nabi menuturkan akan bahaya fakir, tapi beliau pun lebih mengkhawatirkan umatnya yang berkecukupan. Karena beliau tidak mau fenomena adzab di jaman terdahulu menimpa pada umatnya.5Tatay, Muhammad. Idlohul ma’aniy alkhofiyyah vi al-arba’in annawawiyah. Hal. 395. Dar el wafa. 1998 M.

Setelah kita menyadari akan bahaya sebuah kemiskinan, maka kita akan mencoba untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengidentifikasikan sumber kemiskinan itu sendiri. Karena kemiskinan bukan sebuah ‘harga mati’ yang tidak bisa dirubah. Tapi kita harus selalu berupaya untuk mengubahnya dengan terus bertawakal dan berdoa.6Elawadliy, Dr. Raf’at elsayyid. Al-Dlowabit elsyar’iyah lil iqtishod. Hal. 34 Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur arab badui setelah diketahui menelantarkan untanya, dia berkomentar tentang tawakkal pada unta tadi. Dan nabi menegurnya dengan mengikat untanya dulu kemudian bertawakal.7Idem. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

A.1. Studi Kasus

Indonesia adalah negara kaya. Mempunyai berbagai jenis pepohonan, perkebunan, perhutanan, dan sebagainya. Indonesia pun diapit oleh dua samudera, hindia dan pasifik. Dan tentunya, kekayaan laut pun sangat melimpah.

Akan tetapi, masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th. XIV, 1 Juli 2011 Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen). Adapun No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 persen).8Menurut BPS (Badan Pusat Statistik).

Dan sekitar 88 persen penduduk Indonesia adalah muslim. Dari data tersebut, sekitar 35 persen diantaranya adalah jamaah Nahdatul Ulama’ (NU). Dengan kata lain, jumlah warga NU sebanyak 71,14 juta jiwa dari populasi penganut Islam sebanyak 203,28 juta jiwa.9http://masjidjami.com/info/pbnu-targetkan-1000-bmt-di-seluruh-indonesia.html

Diasumsikan, sekitar 30% dari warga NU atau sebanyak 21,34 juta berada dalam kategori miskin. Angka kemiskinan warga NU tersebut paling tidak mencapai 65,6% dari jumlah penduduk miskin yang diklaim pemerintah pada tahun 2009 yaitu sebesar 32,53 juta jiwa.10Idem

Dari problem view tadi, kita bisa melihat betapa ‘mirisnya’ kaum nahdliyyin, yang lumrahnya diasumsikan sebagai kaum santri. Tentunya, problem view ini tidak bisa dibiarkan menggelinding dan pasrah begitu saja atas nama tawakal. Namun kita sendiri yang harus berusaha sekuat tenaga untuk mengubah, sementara setelah itu, kita akan tawakal dan pasrah padaNya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Arra’d : 11). Dengan tegas, Allah menyindiri akan perintah untuk berusaha, tapi tidak lupa untuk tidak menyampingkan berdoa.

A.II Faktor Penyebab Kemiskinan

Faktor penyebab kemiskinan, diantaranya adalah:

  • Sumber Daya Manusia (SDM) yang lemah
    SDM sangat dibutuhkan seseorang dalam pengentasan kemiskinan. Karena, ide, kreasi, inovasi dan sebagainya itu muncul dari potensi seseorang. Dan SDM yang lemah ini mempengaruhi untuk bersikap ‘bodoh’ dan acuh tak acuh akan situasi dirinya. SDM lemah juga mendorong seseorang untuk bersikap pasrah dan tawakal. Dan tentunya dengan gaya pikir lemah akan menimbulkan gaya hidup pasrah dan acuh tak acuh akan kemiskinan. Ini berakibat sulit untuk keluar dari kubang kemiskinan.
  • Produktivitas dan gairah kerja rendah
    Diantara penyebab kemiskinan adalah produktivitas dan etos kerja yang rendah. Indonesia memiliki banyak sumber daya alam. Akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan produktivitas dan etos kerja yang tinggi, maka sumber daya alam itu pun tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Dan jelas, maka pengentasan kemiskinan akan jauh dari harapan.
  • Kurangnya lapangan pekerjaan
    Lapangan pekerjaan menjadi mutlak dibutuhkan. Karena dengan tersedianya lapangan pekerjaan maka seseorang mempunyai ‘harapan’ dan ‘andaian’ untuk bangkit dari keterpurukan. Apalagi, bagi seseorang yang kurang memiliki berbagai macam kreativitas. Dan kurangnya lapangan pekerjaan menjadi salah satu penyebab merebaknya kemiskinan.

Silakan klik nomor di bawah untuk membuka halaman lain dari artikel “Metode Rantai Emas Untuk Pengentasan Kemiskinan”!

halaman 1 halaman 2 halaman 3
Muhammad Ufi Ishbar Naufal

Penulis adalah khadimul ma’had dan pengajar di Madrasah Diniyah, Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.