Kisah Menteri Yang Meremehkan Keutamaan Sholat Tahajjud

Seorang menteri kabinet Kerja yang cukup kondang datang memenuhi undangan di sebuah acara halaqah yang diadakan di sebuah pesantren besar di Jawa Timur. Bapak menteri tersebut diharapkan untuk berkenan memberikan sambutan atas selesainya pembangunan gedung laboratorium komputer yang dibangun dari dana bantuan pemerintah pusat.


Setelah satu persatu sambutan disampaikan oleh mereka yang mendapatkan kehormatan, kini tibalah saatnya pemandu acara mempersilahkan Bapak Menteri untuk memberikan sambutannya. Sebagai mana acara-acara formal lainnya, Pak Menteri memulai sambutannya dengan salam, hamdalah, dan sholawat. Cukup lancar hingga beliau sampai pada kalimat yang sangat menarik perhatian hadirin.

“Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,” katanya. “Meskipun para Kiai yang hadir di sini ahli tahajjud siang-malam, belum tentu lebih mulia dari seorang geek yang ahli di bidang teknologi,” lanjutnya dengan sangat berapi-api. Parahnya, seolah tidak merasa sungkan, pernyataan itu terus diulang-ulang oleh Pak Menteri.

Kontan, hadirin menjadi sedikit geger dengan pernyataan yang seolah meremehkan keutamaan sholat tahajjud tersebut. Menit berikutnya para Kiai satu persatu meninggalkan ruang undangan. Mereka enggan mendengarkan sambutan Pak Menteri yang konon rajin puasa Senin-Kamis itu.

Setelah diselidiki, ternyata para Kiai bukannya merasa tersinggung karena Pak Menteri seolah sudah meremehkan keutamaan sholat tahajjud, ataupun peranan para kiai dalam memajukan kualitas pendidikan anak bangsa. Para Kiai tak mampu lagi menahan tawa karena Pak Menteri salah ucap. “Mana ada Tahajjud siang-malam,” ujar seorang Kiai sambil tertawa terpingkal-pingkal. (Elfa)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.