Kisah Teladan Budak Penjaga Kebun dan Majikanya

Alkisah ada seorang lelaki yang tinggal di kota Marwan bernama Nuh bin Maryam, dia adalah seseorang yang ditunjuk sebagai qodhi (hakim) di kota tersebut. Nuh bin Marwan adalah seseorang yang sangat beruntung, dia memiliki kekayaan yang melimpah dan memiliki seorang putri yang cantik jelita sehingga banyak pemuda dari berbagai daerah datang dengan maksud melamar putrinya hingga dia kebingungan pada lelaki mana putrinya akan ia nikahkan. Dia berkata dalam hati “Jika aku menikahkannya dengan salah seorang dari pelamar-pelamar itu, maka tentu yang lain akan marah dan merasa iri”.


Nuh bin Maryam memiliki budak hindi bernama Mubarok yang bertugas menjaga kebun miliknya. Dia adalah orang yang dapat dipercaya dan baik agamanya. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun tersebut. Suatu hari Nuh bin Maryam mengunjungi kebunnya, sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia ingin mencicipi hasil kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.

“Hai Mubarok, cepatlah kemari! Tolong petikkan untukku buah yang manis!” Perintahnya.

Dengan cepat Mubarok segera memetik buah-buahan yang diminta, lalu diberikan kepada majikannya. Ketika sang majikan memakannya, ternyata rasanya masam sekali. Majikan Mubarok berkata, “Mubarok! Kenapa buah yang kau ambil sangat masam? Ambilkan lagi untukku buah yang manis!” perintah sang majikan lagi.

Untuk kedua kalinya, buah yang dipetik dan diberikan oleh Mubarok masih terasa masam. Sang majikan sangat terkejut, sudah sekian lama ia menugaskan Mubarok untuk menjaga kebunnya, tetapi mengapa ia masih tidak mampu membedakan antara buah masam dan manis? Ah, barang kali dia lupa, pikir sang majikan. Diperintahnya Mubarok sekali lagi untuk memetikkan buah yang manis. Ternyata hasilnya sama saja, buah ketiga masih terasa masam.

Sang majikan merasa penasaran sehingga dipanggillah Mubarok, ia bertanya “Bukankah kau sudah lama menjaga kebun ini? Lalu kenapa kamu tidak tahu mana buah yang manis dan mana buah yang masam?”

Mubarok menjawab, “Maafkan saya Tuan, saya tidak pernah mencicipi buah-buahan yang ada dikebun ini sehingga saya tidak tahu mana yang masam dan manis”

“Lucu sekali!! Bukankah amat mudah bagimu untuk memetik buah-buahan di sini, mengapa tidak kau petik untuk sekedar tahu bagaimana rasa buah-buahan disni?” tanya majikannya.

Mubarok menjawab “Saya tidak berani untuk memakan buah-buahan yang belum jelas kehalalannya. Saya tidak berhak memakan bahkan untuk sekedar mencicipi buah-buahan disini karena bukan milik saya. Saya hanya tuan perintah untuk merawat dan menjaganya bukan untuk memakanya”

Sang majikan sangat terkejut dengan penjelasan penjaga kebunnya itu. Dia tidak lagi melihat Mubarok sebagai tukang kebun, melainkan sebagai seseorang yang pandai, jujur dan tinggi kedudukannya di mata Allah SWT. Ia kemudian berpikir mungkin Mubarok bisa mencarikan solusi atas permasalahan rumit yang tengah dihadapinya.

Mulailah sang majikan bercerita tentang lamaran untuk putrinya. Setelah usai bercerita ia lalu bertanya kepada Mubarok, “Siapakah di antara mereka yang menurutmu cocok untuk menikahi putriku?”

Mubarok menjawab, “Dulu orang-orang jahiliah mencarikan calon suami untuk anak perempuan mereka berdasarkan nasab (keturunan), rumah dan kedudukan. Orang Yahudi dan Nasrani menikahkan anak perempuan mereka dengan melihat fisik dan wajah yang rupawan. Namun, Nabi Muhammad saw. mengajarkan sebaik-baiknya umat adalah yang menikahkan karena ketaqwaan dan agamanya. Namun pada zaman sekarang orang-orang lebih mengedepankan harta, pilih lah salah satu dari ke empat pilihan diatas wahai tuanku.”

Sang majikan langsung tersadar akan kekhilafannya. Mubarok benar, mengapa tidak terpikirkan untuk kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islamlah solusi atas semua problematika umat manusia. Ia berkata pada budaknya “Aku telah memutuskan untuk menikahkan putriku denganmu”.

Mubarok menjawab, “Duhai Tuanku, hamba hanyalah budak hitam yang engkau beli dengan uangmu, bagaimana bisa hamba menikah dengan putri Tuan?”. Sang majikan berkata “Berdirilah wahai Mubarok, ikutlah denganku!”.

Sesampai di rumah, Nuh menceritakan seluruh kejadian tadi kepada istrinya. “Menurutku Mobaroklah yang paling pantas menjadi pendamping putri kita,” usulnya kepada sang istri. Lalu sang istri menjawab, “Semua tergantung keputusanmu suamiku, tapi sebentar biarlah aku memberitahukan hal ini pada putri kita lalu memberikan jawabanya untukmu.”

Sang ibu pun menemui putrinya dan menanyakan perihal masalah tersebut, sang putri menjawab “Aku akan tunduk pada apa yang ayah dan ibu perintahkan.”

Tak lama kemudian pernikahan bahagia dilangsungkan. Dari kedua pasangan ini lahirlah seorang anak laki-laki bernama Abdullah bin Mubarok. Ia adalah seorang ulama, ahli hadis, dan mujahid. Ya, pernikahan yang dirahmati Allah SWT. dari dua insan yang taat beribadah, insya Allah, akan diberi keturunan yang mulia. (Jbl)

Disarikan dari kitab at-Tibrul Masbuk karya Imam Ghozali bab 7 halaman 122.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.