Gudik, Sebuah Berkah atau Malah Kutukan?

Gudik atau juga dikenal dengan nama kudis (kudisan, gudikan), adalah penyakit yang paling sering di alami oleh para santri di pondok pesantren. Sejatinya gudik hanyalah penyakit kulit biasa, namun banyak dari para santri yang menganggapnya lebih dari sekedar penyakit kulit belaka.


Secara medis kudis sebenarnya adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu scabies, oleh karenanya penyakit ini disebut scabies dalam istilah medis. Gudik pada umumnya muncul sebab kurangnya kepedulian para santri terhadap kebersihan diri dan kebersihan lingkungan mereka, meski gudikan hanyalah penyakit kulit biasa, tapi faktanya banyak dari para santri yang menganggapnya bukan sekedar penyakit kulit biasa.

Mitos-mitos yang bermunculan di kalangan pondok pesantren, terutama pondok pesantren yang memiliki ratusan santri, bahwa penyakit ini merupakan “simbol keabsahan” seorang santri. Artinya seseorang belum sah dikatakan sebagai santri jika belum merasakan penyakit kulit yang satu ini. Ada juga yang menganggap bahwa gudik merupakan penyakit kulit khas pondok pesantren artinya gudiken merupakan penyakit yang dianggap lumrah terjadi di pondok pesantren.

Mayoritas kyai yang mengasuh pondok pensantren biasa mengatakan pada santri-santri barunya, “Kalau kamu sudah terkena penyakit gudik di pondok, itu tandanya kamu sudah merasa betah tinggal di pondok dan ilmu yang kamu pelajari akan lebih mudah di pahami,”. Meskipun argumen ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi menurut pengalaman penulis, apa yang dikatakan para kyai ini ada benarnya. Beliau menganggap bahwa gudik yang diderita para santri adalah tanda awal turunnya berkah.

Santri sudah pasti akan tidur dan makan bersama temanya, memakai kamar mandi yang memiliki wadah besar seperti kolam, memakai pakaian bahkan handuk milik temanya dengan sukarela. Hal ini menyebabkan terlahirnya sikap tenggang rasa yang sangat mulia dan pengalaman semacam ini amat jarang didapatkan di sekolah-sekolah formal. Kendati demikian beberapa hal dia atas menyebabkan mudahnya penularan penyakit kulit semacam scabies yang dengan mudah menjangkiti para santri. Keakraban para santri ini menyebabkan berbagai kontak yang menjadikan penularan penyakit kulit semakin cepat.

Setelah penulis tela’ah ternyata apa yang dikatakan mayoritas kyai pengasuh pondok pesantren mengenai kudis merupakan awal mula turunnya berkah memiliki bukti baik secara sosiologis maupun psikologis.

Secara sosiologis, saat seorang santri sudah pernah merasakan penyakit gudik ini, berarti dia telah memiliki suatu hubungan sosial yang amat dekat dengan santri-santri lainya, yang mungkin juga seorang penderita. Kedekatan antar pribadi atau kelompok ini, menunjukkan adanya rasa nyaman dalam pergaulan, tentu hal ini akan sangat mendukung proses ngaji para santri untuk kedepannya.

Secara psikologis, santri baru yang terkena penyakit ini akan berlatih agar sabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi pada kebersihan pribadi. Umumnya santri yang sudah lama tinggal di pondok tidak terjangkit masalah penyakit gudik sebagaimana santri baru.

Selain dua anggapan di atas, ada juga yang menganggap bahwa gudikan merupakan penyakit ‘kutukan’ bagi para santri di pomdok pesantren khususnya santri baru. Anggapan itu muncul lantaran pengurus pondok telah berusaha dengan maksimal untuk menciptakan pola hidup bersih dan lingkungan yang sehat namun selalu gagal untuk mencegah santri terjangkit penyakit gudik. Pada umumnya santri yang gudikan akan sembuh jika sudah pulang ke rumah, tapi gudik akan kambuh lagi saat kembali ke pondok.

Nah bagaimana menurut kalian, apakah gudik merupakan berkah atau kutukan? (Jbl)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.