Mayoran, Sebuah Tradisi Makan Bareng Ala Santri

Pondok pesantren memiliki tradisi yang mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lainya, di antaranya adalah: sowan kyai, ngerowot, jajan, setoran, khoyal dan makan bareng atau mayoran. In syaa Allah -jika ada kesempatan- akan penulis ceritakan keasyikannya satu persatu.

Tradisi makan bareng di pondok pesantren memiliki nama yang berbeda tergantung daerah mana pondok itu berasal, ada yang menyebut makan bareng di pesantren dengan sebutan ‘kentongan’, hal ini dikarenakan saat makanan sudah matang si tukang masak memberi tahu teman-temanya dengan memukul kentong agar mereka segera berkumpul. Ada pula yang menyebut makan bareng dengan sebutan lengseran atau mayoran.

Di dunia pondok pesantren khususnya pondok salaf, mayoran adalah tradisi makan bersama yang biasa digelar pada hari-hari libur, misalnya malam jum’at atau ketika penutupan kegiatan pondok pesantren saat ujian semester telah berakhir.

Pada umumnya mayoran digelar oleh sekawanan santri yang tinggal di kamar/asrama yang sama. Mereka bermusyawarah untuk menentukan menu, besaran uang iuran dan tugas yang dilakukan oleh masing-masing personel. Dimulai dari belanja bahan makanan yang akan dimasak, mencari kayu bakar dan tentu saja tugas memasak.

Makan bareng ala anak pondokan ini tidak pernah pilih-pilih soal menu makanan dan minuman, karena tujuannya hanyalah kebersamaan. Malah pada umumnya kegiatan makan bersama ini memilih menu yang sederhana, seperti sayur kangkung atau pecel terong. Kendati demikian ada juga sekawanan santri yang memilih menu sedikit istimewa, misalnya ayam, lele dan daging. Namun menu istimewa ini umumnya hanya dimasak saat tasyakuran kelulusan atau kenaikan kelas.

Meskipun menu yang dimasak sangat sederhana dan kokinya adalah koki dadakan, namun mereka tetap makan dengan sangat lahap sampai jarang ada makanan yang tersisa. Mereka merasakan kenikmatan hidangan bukan dari sayur atau lauknya, melainkan dari kebersamaannya. Hal ini menjadi semacam pesta paling mewah di pondok pesantren.

Walaupun terlihat hanya sekedar ngumpul bareng untuk makan bersama, kegiatan mayoran ini memiliki banya manfaat untuk para santri. Diantaranya:

1. Melepas kepenatan
Dalam keseharianya para santri selalu memiliki aktifitas yang padat sehingga dituntut untuk disiplin mengatur waktu. Nah dengan menggelar mayoran setelah acara makan-makan selesai, santri bisa melepas kepenatan bersama teman-temanya, tertawa, bercanda, bercerita tentang kejadian-kejadian lucu di sekolah dsb.

2. Meningkatkan kesederhanaan
Mayoran yang di lakukan dengan memasak menu makan dan minum seadanya mengajarkan santri akan pentingnya hidup dalam kesederhanaan. Makan bareng ala pesantren tidak mengenal istilah potong tumpeng, kalaupun ada pling-paling hanya memotong buah jengkol.

Itulah kenapa kita tidak pernah mendengar ada tawuran santri antar pondok pesantren.

3. Mengajarkan betapa indah kebersamaan
Mayoran merupakan pelengkap dari kebersamaan yang ada di pondok pesantren, seperti ro’an bersama, belajar bersama, tidur bersama dsb. Dengan mayoran santri akan belajar untuk mencintai kerukunan dan kesederhanaan. Itulah kenapa kita tidak pernah mendengar ada tawuran santri antar pondok pesantren.

Seiring perkembangan zaman, mayoran bukan lagi cuma milik komunitas santri. Namun kegiatan semacam ini diyakini berasal dari pondok pesantren, dengan bukti bahwa golongan pesantren (santri, pengurus pondok dan kyai) adalah golongan yang palimg sering menggelar acara tersebut. (Jbl)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.