Selamanya Aku Ini Tetap Santri

Dari Santri Untuk Santri Dalam Rangka Memperingati Hari Santri

Ana maa ziltu tholiban, seakan maqalahan (ungkapan) Imam Muhammad al-Hasanany al-Maliky inilah yang selalu terngiang dalam jati diri seorang santri sejati. “Selamanya aku tetap santri” ini menjadi sebuah dongkrak bagi setiap santri untuk senantiasa ingat bahwa dimanapun aku, kapanpun aku, siapapun aku, dan bagaimanapun aku harus selalu bersikap, berakhlaq, bergaya dan bertutur kata sebagaiman para santri.


Sejak pertama dilahirkan dari kaum santri dan dititahkan menjadi kaum santri, saya selalu diajarkan bagaimana adat serta budaya yang telah diwariskan para santri terdahulu. Saya diajarkan santun baik dalam tuturkata dan perbuatan dari kaum santri, saya juga diajarkan peduli dan gemar ta’awun juga dari santri, namun meskipun saya sekarang akhirnya bisa berbohong dan menyakiti orang lain, saya rasa ini bukan ajaran santri. Seolah kaum sarungan ini banyak dicap sebagai kaum yang kolot, tertutup oleh tahrif zaman, bahkan ada yang mengatakan mudah dibohongi karena keluguannya.

Ketahuilah, dibalik banyaknya opini-opini “jelek” tersebut sekarang kaum sarungan telah banyak membuktikan kehebatan dan berbagai peran utama yang dimainkan oleh kaum sarungan ini. Lihat saja dalam bidang pendidikan 50% bahkan lebih kaum santri berada di barisan terdepan dalam PTAIN/PTAIS (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri atau Swasta) di seluruh Indonesia. Dalam kancah birokrasi dan politik, kaum santri pun tak mau kalah dengan kaum non santri dan bukti nyatanya adalah banyak posisi gubernur, bupati, walikota, DPR, polisi, tentara, dan pejabat pemerintahan lain yang dipegang oleh kaum sarungan tersebut. Dan lain sebagainya, yang artinya masih banyak peran-peran penting yang turut dimainkan oleh para santri demi menjaga keutuhan dan ketertiban NKRI.

Kaum santri memiliki ciri khas dalam bertindak dan berpikir. Dalam budaya pesantren yang menjadi media pembelajaran para santri diajarkan sikap-sikap kemasyarakatan yang sampai saat ini belum dapat diajarkan melalui media pembelajaran lainnya. Gemar gotong royong misalnya, diajarkan melalui kegiatan kerja bakti (baca; ro’an), ada juga sikap kritis dan konsisten dalam berargumen dapat ditemukan melalui kegiatan syawir dan bahtsul masail, sikap sopan santun yang selalu dicontohkan oleh kyai juga menjadi nilai plus dalam media pembelajaran ini, namun yang tak kalah hebat dan penting santri harus mempunyai sifat yang satu ini, yakni sifat tunduk dan patuh yang dibalut sifat ikhlas kepada guru atau kyai.

Kita tahu bahwa orang tua kita adalah orang yang sangat berjasa, ibu yang mengandung, melahirkan, dan mendidik kita ayah juga berjasa menafkahi dan membesarkan kita. Begitupun guru dan para kyai, mereka telah mengajari, mendidik, dan mendo’akan sehingga kita bisa menjadi orang “yang benar-benar orang”, yang semoga kita menjadi orang yang selamat di dunia ini maupun di akhirat kelak. Telah kita ketahui pula perbedaan kedua manusia mulia di atas, yang satu berjasa kepada kita terkhusus secara jasmanai, yaitu orangtua kita dan yang satu lagi berjasa secara khusus dalam hal rohani kepada kita, yang pasti adalah guru atau kyai kita.

Dalam cuplikan redaksi kitab Manhaj al-Sawy terdapat sebuah maqalah yang berisi keutamaan guru dibandingkan orang tua “Orang tuamu merupakan orang yang menyebabkan kelahiranmu, segangkan guru adalah orang yang mengajarimu ilmu”, sedangkan ilmu itulah yang dapat mengantarkan kita pada kemurnian beribadah dan menjadi jiwa yang selamat. Dari sinilah, jelas terlihat sebuah cerminan betapa besar jasa kyai yang menjadi penyelamat dunia serta akhirat kita.

Sedangkan ilmu itulah yang dapat mengantarkan kita pada kemurnian beribadah dan menjadi jiwa yang selamat.

Sebuah cerita singkat, ketika seorang santri ditanyai oleh ayahnya, “Nak, mana yang kamu pilih antara aku sebagai ayahmu atau kyiamu?” santri menjawab “Kyaiku, Ayah” dengan rasa haru sang ayah menanyainya “Mengapa, nak?”, “Karena kyai-lah yang mengajariku banyak hal, ia juga mengajariku untuk selalu menghormati dan mendo’akanmu, maka orang yang mengajariku kebaikanlah yang lebih aku pilih” jawab si Anak tersebut.

Selamanya tetaplah menjadi santri dan berjiwa santri. Tidak ada yang namanya mantan santri karena sekarang sudah menjadi presiden, sekarang sudah menjadi kyai atau bahkan karena sekarang menjadi tukang becak, tidak!, jangan! Jangan pernah menghilangkan identitas kesantrian kita yang telah melekat dalam sanubari.

Sebuah nasihat yang paling saya ingat dari Hadrotusy Syekh K.H Maimoen Zubair Sarang, Jawa Tengah bahwa “Aku ini santri, meskipun aku kyai, aku presiden yang selalu dimulyakan orang dimana-mana tapi di hadapan kyai aku tetap santri, hanya seorang santri yang hina dan tunduk pada kyaiku” begitulah santri sesungguhnya.

Dari sinilah tersirat sebuah makna mendalam agar kita selalu menjadi santri, dalam arti kita harus membawa, menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter baik yang diajarkan dan dicontohkan kyai dan kaum santri terdauhlu. Sehingga sampai kapanpun jiwa-jiwa santri dengan segala kebaikannya tidak akan pernah terhapus oleh ombak perubahan zaman. Saya yakin jikalau bangsa ini dipegang oleh kaum santri yang berjiwa santri sejati dengan segala kebaikannya pasti akan jaya dan tegak berdiri serta menghantarkan pada pintu gerbang keridlaan Rabb, amiiin.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren. Al-Hikmah Purwoasri, Kediri.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.