Berkenalan dengan Ibnu Khaldun

Pendiri Awal Ilmu Historiografi, Sosiologi dan Ekonomi

Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي) dilahirkan di Tunisia 27 Mei 1332. Keluarganya berasal dari Hadramaut, Yaman. Karena itulah Hadrami dinisbatkan kepada beliau.

Keluarga Khaldun pindah ke Spanyol pada saat permulaan penaklukan Islam. Selama empat abad setelah itu, keluarga Khaldun menetap di Seville dan dalam kondisi kaya raya.

Namun, penaklukan oleh orang-orang Kristen menyebabkan banyak orang Arab Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Afrika. Dan beberapa waktu sebelum penguasaan Seville oleh Ferdinand III atas Leon dan Castille, keluarga Khaldun pindah ke Tunisia.

Pengungsi-pengungsi dari Spanyol jauh lebih berbudaya dan berpendidikan daripada penduduk asli Afrika Utara. Ayah sang ahli sejarah ini segera menjadi ahli hukum dan bekerja dengan tekun mempelajari fiqh, Ketuhanan serta sastra, hingga ia menjadi kurban dari wabah yang sangat ditakuti, Kematian Hitam (Black Death).

Setelah beliau mendapatkan pendidikan cukup yang berupa menghafal Al-Quran, bahasa Arab, puisi dan ilmu hukum, Ibnu Khaldun mulai terjun ke dalam kehidupan masyarakat pada usia dua puluh tahun. Ia menjadi sekretaris Sultan Fez di Maroko.

Beberapa tahun kemudian, Ibn Khaldun pergi ke Spanyol dan bekerja pada Sultan Granada (غرناطة) yang kemudian mengirimnya sebagai duta kepada Pedro yang kejam, raja Castille (Peter the Cruel).

Di Seville beliau sangat tersentuh hingga menangis ketika melihat monumen kekuasaan nenek moyangnya. Karena cerdas, maka raja Kristen menawarkan padanya bahwa ia akan mengembalikan wilayah keluarganya bila Ibnu Khaldun bersedia bekerjasama dengan raja itu. Ibn Khaldun menolak, ia mengatakan: “Aku akan selalu setia kepada nenek moyangku, adat-istiadat mereka, kaumku dan kepada Islam. Aku tak akan pernah menjadi Kristen dan tidak pula aku mengharap anak-anak dan cucu-cucuku tumbuh sebagai orang-orang Kristen!”

Kemudian Ibnu Khaldun kembali ke Afrika Utara bersama keluarganya dan berkhalwat hidup menyendiri di Qal’at Ibn Salamah, istana yang terletak di Tehret, Algeria. Selama empat tahun beliau berkhalwat untuk menulis Kitab Mukaddimah dan sejarah umum dunia, yang kemudian dirampungkan penulisannya di Tunisia. Berbarengan dengan itu ia menyibukkan diri belajar dan memberi kuliah di masjid Universitas Zaituna, Tunisia.

Ibnu Khaldun kemudian memutuskan untuk pergi haji ke tanah suci Makkah ketika tragedi terbesar dalam hidup beliau memukulnya; kapal yang membawa keluarganya dari Tunisia menuju Mesir hancur karena badai di laut dan memusnahkan segala miliknya, yaitu “kekayaan, kebahagiaan dan anak-anak.”

Gagal melaksanakan ibadah haji di tahun itu, beliau bermukin di Mesir dan bekerja sebagai ketua pengadilan di pengadilan hukum Maliki. Ibnu Khaldun banyak mencari kedamaian dalam salat-salat yang dilakukannya, dan dengan membaca Al-Quran. Setelah bekerja tiga tahun sebagai ketua pengadilan, beliau melanjutkan hajinya yang tertunda. Kemudian kembali dari Arab menuju Mesir, dengan maksud ingin hidup tenang.

Tetapi, kesedihan kembali menjumpainya, paling menyedihkan di antara semuanya. Ketika Damaskus diancam serangan Mongol yang liar itu, Ibn Khaldun termasuk salah satu yang terdaftar untuk diikat di tembok kota untuk memperundingkan perjanjian dengan Timurlane.

Raja penakluk itu heran melihat penampilan ahli sejarah ini dan sangat terkesan ketika Ibn Khaldun membacakan beberapa bagian dari sejarah umumnya yang menyangkut pengisapan liar oleh tentara Timurlane, dan memintanya memeriksa bila ada kesalahan yang mungkin telah dibuatnya dalam catatan sejarahnya! Timurlane bahkan menawarkan pada Ibn Khaldun sebuah kedudukan yang kemudian ditolaknya. Ketika bangsa Mongol menguasai Damaskus, dialah yang menyelamatkan banyak jiwa tak bersalah.

Setelah pulang ke Mesir, Ibn Khaldun sekali lagi ditunjuk sebagai Ketua Pengadilan di Pengadilan Syari’ah di Kairo, kedudukan yang masih dipegangnya ketika beliau meninggal dunia pada usia 73 tahun (19 Maret 1406). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan manfaat ilmunya kepada kita semua.

Tuduhan Kritikus kepada Ibnu Khaldun

Karena perasaan iri dan dengki serta perpindahan kerja yang sering terjadi pada Ibnu Khaldun dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya, beberapa kritikus modern tertentu telah menuduhnya kurang patriotis. Tetapi, pembaca harus ingat bahwa patriotisme, seperti yang dimengerti oleh umumnya masyarakat di zaman ini, tidak dikenal dalam Islam. Untuk satu tanah air, Ibn Khaldun pasti selalu setia, yaitu “Darul Islam” atau tempat kebudayaan Islam. (Elfa)

Sumber. WikiPedia, Pengantar dalam kitab Mukaddimah

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.